Assistant Love

Assistant Love
Here she is 2



"Here she is."


"Benarkah?" tanya Alan yang juga penasaran.


"Ada nih, Akira Dinda Pramudya, 1 januari 26 tahun yang lalu, lulusan Managemen, wow ... Tebak Al apa yang aku temukan?"


Jadi benar apa yang dikatakan Mac ditelepon tadi.


Halo Mac...."


"Periksa divisi umum Mas, orangku sudah 2 kali menyelidiki gadis itu, dia bahkan bekerja di perusahaan, di divisi umum Mas,"


"Benarkah? Kau yakin...."


"Orangku bilang dia dapat perintah yang sama 2 kali dari kita, ARR. corps juga Adhinata group. Apa Mas menyuruh orang lain juga selain saya."


"Periksa sekali lagi,"


"Sudah ku pastikan, dia orang yang sama. Akira Dinda kirani."


"Hmm...."


Kini dia yakin info dari Mac pun benar adanya, Mac orang kepercayaannya nomor 1 jadi dia tidak mungkin mengada-ngada, semua sudah sudah sesuai dengan data-data yang dipastikan akurat.


Farrel terus berceloteh, membicarakan hal lainnya yang bahkan tidak masuk sama sekali dikepalanya, hingga Farrel mendongkak pada Alan yang tidak bersuara sedikitpun,


"AL, denger gak sih?"


Hening


"AL...Sialan nih orang, malah bengong!" ujar Farrel sambil meremas kertas lalu dilemparkan padanya, dan mengenai keningnya.


"Hah... apaan?"


Farrel mendecih, "Makanya dengerin, bengong begitu mikirin apa hah, males kan jadinya mau kasih info!"


Alan mendecak, "Tinggal ngomong aja, cepat katakan! Aku mendengarnya sekarang."


Farrel melemparkan kembali remasan kertas kedua padanya, kali ini Alan dapat menghindar dan melemparkannya kembali. "Cepat katakan, jangan main-main!"


"Dengarkan baik-baik!!"


"Hmm...."


Alan memiringkan kepalanya, melihat kearah Farrel yang tengah duduk dikursinya itu.


"Satu frekwensi nih hobinya," Ujar Farrel dengan tetap menatap ipad.


"Apa memangnya?"


Farrel tergelak, "Sama-sama tukang halu ..., romance, Fanfic, hahaha...hobi nya sama, hahaha...."


Alan mendecak, "Sialan, apa maksud mu, bicara yang jelas!"


"Hobi membaca, salah satunya novel, baik novel versi cetak dan versi online," Farrel membaca data milik gadis yang ditanyakan oleh kakaknya itu,


"Bisa sama yaa, apa kalian berjodoh,"


"Dan nanti kalian akan membaca bersama alias sama-sama menghalu," ucap Farrel lagi.


Alan terperangah, " Baca yang benar!!"


Kini Alan bangkit dan berjalan mendekati meja kerja Farrel, dan merebut ipad itu darinya. Masa iya sama


"Gak percayaan banget sih, tuh tertera di bawahnya, ada kan...ada...." ujarnya dengan menopang tangannya diatas meja.


"Ketemu gak, ada di paling bawah, nah ada, iya kan ... benar ada kan?" Ucapnya pada Alan yang masih terus menggulir layar ponsel.


"Belum ada, jangan-jangan kau mengada-ngada,"


"Cari yang benar!"


Namun Alan mematung, "Karyawan disini memang banyak, dan perasaan ku, aku tidak pernah melihatnya!"


"So bawa-bawa perasaan, memangnya pernah kau berjalan melihat orang lain? Huh... kalaupun iya bakal ada angin topan." Farrel bergidik.


Jari tangan Alan yang bergulir sesuai layar di ipad itu terhenti, saat nama gadis yang dia cari ada disana. Lembar CV dan biodata lengkap. Meskipun fotonya masih menggunakan foto lama, sepertinya foto saat pertama melamar ke perusahaan.


"Astaga, aku mencarinya kemana-mana sampai menyuruh orang mencari. Ternyata dia disini, dasar gadis bodoh!"


"Memangnya siapa dia Al?"


"Gadis penguntit...."


Farrel tergelak, "Wow... ada juga ternyata yang diam-diam mendekatimu, sepertinya matanya bermasalah, kenapa dia bisa melihat patung manekin seperti kau ini bahkan sampai rela menjadi penguntit,"


Farrel tergelak, "Hahahah...."


"Kau ingin bertemu dengannya? Biar kita doble date kayak orang-orang." Farrel menaik turunkan kedua alisnya.


"Cih...Jangan harap aku mengikuti jejak bodohmu itu!"


"Bahkan dia sangat dekat, apa perlu aku panggil dia kesini?" tawar Farrel.


"Tidak usah!"


"Ya sudah, selamat berjuang kalau begitu."


Alan mendengus kasar, "Memang nya aku mau berjuang apa? aku hanya memeriksa saja, ada informan ku yang mengatakan ada penguntit yang sering mengikutiku setiap hari, bukankah itu sangat menganggu?"


"Kalau begitu habisi saja dia," Farrel terkekeh.


Alan bangkit dari duduknya, dengan gerakan cepat dia mengunci leher Farrel dari belakang. Hingga Farrel tersentak.


"Jangan bicara macam-macam, kau mau aku patahkan lehermu!"


Namun dengan cepat Farrel menyikut dada Alan dari depan seraya memutar tubuhnya, lalu menekankan telapak tangan kirinya tepat di dada dengan tangan yang lain menarik bahu Alan dan membalikkan tubuhnya hingga jatuh dilantai.


"Kau yang jangan macam-macam denganku," ujar Farrel berkacak pinggang.


Alan yang masih terlentang di bawah menarik kaki Farrel lalu dengan cepat dia bangkit dan memutarkan tubuhnya kembali mengunci tangan Farrel kebelakang hingga jatuh tengkurap.


""Bagaimana kalau begini?" ujar Alan dengan berseringai.


Farrel membenturkan kepalanya tepat di hidung Alan hingga dia meringis, saat itu dia memutar tubuhnya hingga terlentang dan mengunci tangan Alan dengan cara menjepitnya diantara kedua kakinya lalu diputarkannya hingga Alan jatuh terduduk.


"Doble kill." ujar Farrel dengan nafas terengah-engah.


Mereka sama-sama jatuh terduduk dan tergelak bersama. "Sudah lama kita tidak bertarung seperti ini."


Farrel membaringkan tubuhnya dilantai dengan bertumpu pada kedua tangan, "Hmm...sudah lama sekali,"


Dengan nafas terengah-engah mereka tertawa bersama,


"Bunda pasti memarahi setelahnya," ujar Alan dengan menatap langit-langit.


"Iya... dan ayah membelamu, mereka yang jadi ribut sementara kita hanya menonton saja." Tukas Farrel lalu mereka kembali tergelak.


Seaat kemudian Alan bangkit dan mengulurkan tangannya pada Farrel, "Sudah ayo kembali bekerja, aku juga akan pergi!"


Farrel meriah tangan Alan yang digunakan nya untuk bangkit, "Hmm..bersihkan dulu kemejamu, bisa repot kalau keluar dari sini kau berpapasan dengan gadis penguntit itu,"


"Jangan salahkan aku yaa...." imbuhnya lagi.


Alan berdecak, "Sialan...."


Namun juga merapikan kemeja dan celananya yang kotor. "Ini semua gara-gara kau!"


Tak lama Alan keluar dari ruangan Farrel setelah mendapat apa yang dia cari, dengan ekor matanya dia mencari Akira di ruangan itu namun tak juga melihatnya. Hingga dia keluar dari gedung divisi umum melalui jalan depan.


Jam kerja malah keluyuran, dasar bodoh!


Ucap Alan dengan melirik jam tangannya, masih ada beberapa jam lagi waktu mereka bekerja namun Dinda tidak ada ditempat. Kemana dia saat jam kerja.


Alan kembali ke gedung utama, entah kenapa ada rasa yang semakin menggelitik di dalam hatinya, saat mengetahui gadis bodoh itu berada di perusahaannya.


Dia kembali berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk, setelah hampir 1 minggu dia tinggal untuk mengurus perusahaan ARR Corps miliknya dan segala permasalahan.


Dreet


Dreet


Alan mengangkat ponsel tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


"Hey...Bisakah kau kemari?"


Alan mengernyit, lalu menatap layar benda pipih yang masih menyala itu,


"Siapa kau?"


"Haduuhh... masih saja bertanya!"


"Aku tidak mengenalmu."


Tut


Alan mematikan sambungan teleponnya.


"Orang aneh, siapa yang menyebarkan nomor ponselku sembarangan seperti ini."