Assistant Love

Assistant Love
Keputusan yang sudah bulat



Sepasang suami istri kini duduk bersampingan, dihadapannya pria tegap dan dingin itu menundukan kepalanya, Pramudya menghela nafasnya berat saat Alan menceritakan tentang dirinya di masa lalu. Begitupun Sisilia yang shock mendengarnya hingga harus memakai alat bantu pernafasan karena merasakan sesak didadanya.


"Aku minta maaf Paman, Tante. Keputusan ini saya ambil setelah memikirkan banyak hal yang mengganggu fikiranku." kata Alan dengan kepala yang semakin menunduk.


Dengan kedua mata yang berkaca-kaca, Pramudya kembali menghela nafas, " Sejujurnya bukan seperti ini yang kita mau! Sebagai orang tua, kami ingin yang terbaik buat putri kami satu-satunya. Tapi setelah mendengar semua yang kau katakan, tentang masalalu mu, kemudian bagaimana nasib ke depannya. Ay-- eeh ... maksudku paman akan menerima keputusan yang kau ambil."


"Persiapan pernikahan juga hampir selesai, apa kau yakin Nak?"


"Sebenarnya aku juga tidak mau mengambil keputusan ini, tapi Dinda yang kepalang emosi mengatakan ingin menunda pernikahan, atau bahkan pembatalan pernikahan! Dengan mendengar hal itu, akhirnya aku juga harus punya keputusan bukan paman?"


Sisilia hanya menatap nanar ke arah pintu kamar Dinda, malam itu hanya mereka bertiga yang bicara, sementara Dinda tidak tahu-menahu jika ayahnya mendengar perdebatan mereka tanpa sengaja.


Pramudya mengangguk, "Apa tidak bisa difikirkan lagi?"


"Keputusan sudah bulat, aku menyetujui semua keputusan Dinda,"


Pramudya dan juga Sisilia menghela nafasnya berat, "Semoga ini yang terbaik untuk kalian!"


Malam yang semakin larut, tidak menjadikan alasan Alan untuk kembali ke kota, setelah memikirkan banyak hal, hingga menghabiskan sebungkus rokok. Akhirnya keputusan Alan sudah bulat.


Setelah berbicara pada orang tua Dinda, Alan pergi dari rumah mereka, dia masuk ke dalam mobil dan mengangguk ke arah Pramudya dan Sisilia yang menatapnya dari pintu rumah.


Mereka kembali masuk, setelah mobil yang dikemudian Alan sudah tidak terlihat.


"Yah ... apa anak kita akan shock besok pagi?"


"Entahlah bun, sepertinya akan shock sekali."


.


.


Dinda terbangun keesokan paginya, dengan kedua matanya terlihat bengkak setelah menangis semalaman. Dia keluar dari kamar dan menatap pintu kamar yang ditempati oleh Alan.


"Dia sudah pergi tadi malam!" ujar Pramudya yang tengah menyisir rambut coklat istrinya.


Dinda terperanjat, namun tidak mengatakan apa-apa, dia duduk di kursi meja makan dan memilih menyantap sarapan pagi yang sudah tersedia untuknya.


"Sayang...."


Dia mengenadah, "I'm fine Mam! It's oke." ucapnya dengan intonasi tinggi.


Kedua orang tuanya tahu kalau Dinda pasti merasa kecewa, namun mereka juga tidak bisa berbuat banyak, apalagi menceritakan alasan kenapa Alan pergi.


"Berarti benar, dia memang tidak serius denganku, dengan hubungan kami dan dengan pernikahan ini!"


Kedua orang tuanya saling menatap, lalu kembali melihat ke arah Dinda yang sudah berlinang air mata, Sisilia menarik kursi roda dan mendekati putrinya, "Berbaik sangka lah, Alan melakukan ini karena menurutnya ini yang terbaik, dia akan melakukan apapun untuk mu Nak, percayalah!"


"Tapi kenapa dia pergi! Kenapa tidak menjelaskan apapun padaku?" ucapnya dengan terisak.


"Sayang, sudahlah!"


"Aku akan kesana dan meminta penjelasan padanya." ucapnya dengan beranjak dan masuk kembali ke kamarnya.


Namun, Pramudya melarangnya pergi, dia tidak ingin membuat Dinda semakin kecewa dengan apa yang dia dengar nantinya. Dinda memeluk kedua lututnya, dengan kepala yang menelengkup diatasnya, hatinya terasa perih, rencana demi rencana yang sudah tersusun rapi itu kini berantakan, hanya karena ketidak jelasan.


"Apa aku terlalu jahat? Mengatakan hal itu? Hingga dia marah dan memilih pergi, dan dia setuju begitu saja apa yang aku katakan! Kenapa dia tidak berusaha menjelaskan, jika aku tidak paham. Dia tidak berusaha ... tidak pernah berusaha meyakinkanku!"


"Sabar sayang!" Kedua orangtuanya memeluknya, mereka berusaha menenangkan putrinya.


Ayu menangis dipelukan Alan, dengan kedua tangan yang melingkari pinggang anak yang sudah dia rawat dari kecil, anak kebanggaannya, dialah pahlawan keluarga baginya, yang selalu memberikan yang terbaik bagi keluarga, walau dia tahu, dia bukanlah bagian dari keluarga kandungnya.


"Yah apa sudah tidak ada cara lain lagi?" ucap Ayu.


Arya yang juga menahan air matanya itu menggelengkan kepalanya. Membuat Ayu semakin menenggelamkan kepalanya di dada Alan.


"Sudah bun, ini memang sudah jalanku! Tidak apa-apa...."


"Lalu bagaimana dengan pernikahanmu?"


"Dinda pasti kecewa sekali sama kamu Nak!"


Alan terus mengelus punggung sang bunda, dan berharap dia akan sedikit tenang. Pria tegap itu menghela nafas, "Dinda ingin menunda pernikahan, atau membatalkannya, dan aku menyetujuinya.


Ayu semakin histeris, dia memukul-mukul dada Alan, dan berharap ini semua hanya mimpi.


"Kenapa kau tidak membawanya kembali kesini, keluarganya pasti sedang kecewa, bunda tidak bisa membayangkan betapa kecewanya mereka.


Brakk


"Apa? Kau apa? Membatalkan pernikahan? Kenapa?"


Ketiganya menatap ke arah pintu, dan melihat Farrel yang sudah tersulut emosi.


"Benarkah itu Al?"


Alan tidak menjawab, dia hanya menatap wajah sanh bunda. Farrel melangkah maju dan merangsek kerah bajunya.


"Kau memang bodoh! Seharusnya kau membawanya kemari, dan nikahi dia sekarang juga!"


"Aku tidak mau memaksanya, dia yang menginginkannya."


"Tapi kau seorang pria Al, seharusnya kau tidak menerima begitu saja keinginannya, apa kau tidak bisa bertindak!" Farrel melepaskan cengkeraman nya dengan kasar.


"Semua terlambat Al, aku harus pergi! Dan membatalkan pernikahan menjadi jalan terbaik untuknya, agar dia tidak kecewa kedepannya."


"Terbaik untuknya? Lalu bagaimana denganmu? Apa semua ini juga terbaik untukmu? Apa kau merelakannya begitu saja."


"Kau tidak akan mengerti El ... ini semua tidak mudah untukku, tapi aku harus menerima segala konsekwensi tanpa harus melibatkannya."


"Kau memang bodoh Al!"


Farrel keluar dengan membanting pintu, dia snagat marah karena Alan menerima keputusan Dinda begitu saja.


"Sudah saatnya aku melakukan sesuatu."


Arya menyusul Farrel yang pergi dengan marah, dia berteriak memanggil sang putra.


"El... ayah mohon jangan melakukan hal-hal konyol! Apalagi merusak."


"Aku akan menemui pak Ilham!"


.


.


.