
Ya, aku memang tidak peka, aku tidak tahu apa yang kau fikirkan, jika bukan karena kau sendiri yang mengatakannya. Kau fikir aku cenanyang yang bisa menebak orang? Aku ini bekerja dengan data dan fakta."
"Jadi kamu mengumpulkan data-data keluargaku?"
Alan mengangguk, "Makanya mulai sekarang kau harus giat belajar, kau harus mempelajari semua nya!"
"Ta--pi aku tidak bisa, kenapa juga kau memberikan saham enam puluh persen itu padaku. Dasar aneh, pria lain akan memberikan tas branded, berlian, apartemen mewah pada kekasihnya." Ucap Dinda dengan jari tangan yang dilipat saat menyebutkan barang-barang yang di sebutkan satu persatu.
"Kamu malah memberi ku saham itu. Kau memang ingin aku terus bekerja keras iya kan?" lanjut Dinda dengan merekatkan kedua tangan di dadanya.
Alan tergelak, dia menggeleng kan kepalanya. "Kau memang payah, yang kau fikirkan sebatas benda-benda yang tidak berguna,"
Dinda menolehkan kepalanya,
"Eeh ... tidak berguna bagaimana? Semua benda itu yang ingin dimiliki semua wanita di muka bumi ini, pria akan memberikan kemewahan pada wanitanya, dan itu tidak harus membiarkan wanita yang dia sayang bekerja keras, dasar manusia tidak peka, kau malah sebaliknya!" sungut Dinda dengan mulut yang mencebik, dan kedua mata yang membulat, bak siap untuk mencekik leher Alan.
Membuat Alan semakin terbahak, dengan tingkah Dinda, juga pemikiran pendeknya.
"Dasar kau bodoh!" ujarnya dengan terus terbahak.
"Memangnya apa yang fikirkan dengan memberiku saham itu. Dasar kau--."
Alan tidak menjawabnya, dia menghidupkan mesin mobil dengan masih terkekeh.
"Pasang selt belt mu dengan benar!" ujarnya tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya, masih dengan gelakan yang mulai ditahannya.
Dasar bodoh, aku memberikan lebih dari pada sekedar barang-barang yang dia sebutkan itu.
"Heh ... aku kan belum selesai bicara! Aku masih kesal!"
"Kau selalu seenaknya begitu!" ucapnya lagi.
"Sudahlah, kau ini cerewet sekali, aku menjelaskan pun kau tidak akan mengerti, nanti saja, kau akan lihat sendiri!" tukas Alan yang mulai melajukan kendaraannya.
Dinda terdiam, mulutnya mengerucut dengan sekali-kali melirik Alan yang kembali fokus dengan jalanan.
Mereka kembali ke kantor Adhinata,
Dreet
Dreet
Ponsel Dinda berdering, dia merogoh ponselnya didalam tas, melihat dengan mengernyitkan dahinya, nomor yang tidak terdaftar di kontaknya.
Deg
Deg
Merasa hatinya tiba-tiba saja berdetak dengan kencang. Dengan ragu dia mengangkat sambungan telepon itu.
Dinda menempelkan ponselnya ditelinga, Alan hanya melirik sebentar lalu kembali melihat ruas jalan.
'Halo....'
Hening, tidak ada suara dari ujung sana, hanya hembusan nafas yang terdengar lembut.
Deg
Mama
Isak tangis kini terdengar, lemah namun sangat menyayat hati.
'Ha--halo ....'
Dinda kembali bersuara, kali ini terdengar pelan.
'Aa--aakira....'
Deg
'Mama ...'
Air matanya runtuh begitu saja, saat mendengar suara lemah dari sang ibu, yang selama ini dia rindukan. Tidak ... dia tidak merindukannya, karena mereka membuangnya begitu saja, membiarkan nya hidup sendiri dan terasingkan.
'Akira,'
Suara nya semakin melemah, nyaris tidak terdengar. Hanya isak tangis saja yang dia dengar.
'Bicaralah, kalau tidak aku akan menutupnya.'
'Bibi...?'
'Iya Non, ini bibi.'
'Ada apa bi? Apa yang terjadi?'
'Pulanglah, Non akan tahu sendiri.'
Sambungan telepon terputus, Dinda menatap Alan, begitu juga Alan.
"Ada apa?"
"Entahlah aku tidak tahu, mungkin mereka membuat drama agar aku pulang, pasti ayah sudah menceritakan perihal aku yang datang ke kantor," ujarnya dengan mengherdikkan bahu.
"Kau tidak ingin kesana? Mungkin mereka membutuhkan mu?" ujarnya, memperlambat laju kendaraannya.
" Tidak, untuk apa? Mereka hanya baik pada saat tahu kita hendak membantu perusahaan, lalu kemana saja mereka selama ini?" ujarnya menggigit bibir bagian dalamnya, menahan agar tidak lagi menitikkan air mata.
"Lebih baik kau kesana, aku akan menemanimu, kita akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalau tidak, mungkin kau akan menyesal nanti." ujar Alan menohok.
Dinda terdiam dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu, dia juga tidak menjawab saat Alan memutar balikkan laju kendaraan nya. Membawanya untuk melihat rumahnya.
"Kau tahu dimana rumahku?" Tanya Dinda.
"Aku tidak tahu alamat lengkap nya, yang aku tahu hanya di daerah B, aku melihatnya di berkas kontrak,"
Dinda hanya mengangguk dan beroh-ria saja. Namun hatinya merasakan keresahan yang teramat besar, Apa yang sebenarnya terjadi, apa yang terjadi pada mama. Apa yang terjadi selama ini,
Berbagai pertanyaan melintas begitu saja di fikirannya, membuat nya semakin resah, Sementara Alan semakin melajukan mobilnya dengan cepat.
Hening
Tidak ada yang berbicara diantara mereka, hanya hembusan nafas Dinda yang terasa sesak. Ada sesuatu yang terganjal di dalam sana,
"Kira- kira apa yang terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dinda memecah keheningan.
"Kamu akan tahu nanti, setelah kita sampai di sana." ujar Alan tanpa mengubah pandangannya.
Jarak tempuh mereka cukup jauh, dan rumah Dinda terletak di luar kota, waktu yang dibutuhkan juga cukup lumayan, mereka melakukan perjalanan selama hampir satu jam untuk sampai di sana.
Kini mobil Alan masuk kedalam sebuah area perumahan, Dinda mengenali tempat ini, disinilah masa kecil yang dilewatinya dengan bahagia, penuh kasih sayang hingga dia beranjak remaja, suasana perumahan yang membuat hatinya semakin resah.
Apa yang terjadi.
Mobil berbelok, melewati beberapa rumah, bayangan Dinda kembali ke masa silam, berlarian dengan teman sebaya nya, tertawa, bahkan teman itu menjadi sahabatnya di sekolah, sampai kejadian itu terjadi, dia tidak lagi ingin berteman dengan Dinda. Mereka menjauhi Dinda, meninggalkannya sendiri melewati semua fitnahan dan cacian seorang diri.
Tak terasa air matanya kembali menitik, mengalir begitu saja tanpa bisa di tahan lagi.
Hingga mobil berhenti disebuah rumah, rumah bercat putih bersih, Dinda menatapnya dari balik kaca mobil, tidak ada yang berubah, bahkan susunan pot bunga nya pun masih sama, kursi santai yang diletakkan di halaman, bahkan ayunan yang dibuat Ayahnya masih terpasang disana. Tidak ada yang berubah sama sekali. Hanya saja keheningan yang terasa sesak dirasakannya.
"Ayo kita turun." ucap Alan membuyarkan ingatan Dinda.
"Aa--aku takut," lirihnya.
"Tidak apa, aku akan menemanimu."
Alan membuka seat belt nya, begitu juga Dinda yang membukanya perlahan, lalu membuka pintu mobil dengan ragu.
Mereka akhirnya keluar dari mobil, lalu berjalan masuk kedalam gerbang yang ternyata tidak dikuncinya. Dan berjalan hingga mereka berada di depan pintu.
Aroma udara terasa sama, suasana yang dia rindukan selama ini sebenarnya. Kerinduan yang selama ini dia sembunyikan, kesedihan yang dia tutupi dengan berpura-pura bahagia, yang hanya menonjolkan sisi ceria nya saja.
Perlahan- lahan Dinda mengetuk pintu berwarna coklat itu, mengetuk nya pelan. Namun tidak ada jawaban dari dalam.
Hingga Alan yang menggenggam tangannya itu mengangguk, seolah menyuruhnya lebih keras lagi mengetuk pintu.
Tok
Tok
Ceklek
Pintu terbuka, seseorang kini berada di hadapannya. Kedua mata Dinda membulat menatapnya. Sesosok perempuan dengan rambut yang hampir memutih semuanya, dan tak kalah kaget dengannya.
"Nona Akira!?"