
Alan merengkuh pinggang Dinda, " Mulai sekarang, saat kau menginginkan sesuatu, mintalah padaku. Hanya aku, kau paham!"
Cup
Dinda mengangguk dan mencium pipi Alan tiba-tiba, membuat Alan membulatkan mata namun juga senyum terukir indah, apalagi disana ada Leon.
Leon berdecak, "Kalian ini memang sengaja melakukan itu didepanku? Tidak punya perasaan sama sekali."
"Maaf Leon,"
"Hei, tidak perlu meminta maaf padanya!" ujar Alan dengan berseringai.
"Ck... kau ini memang tidak peka! Jiwa jomblo ku meronta -ronta."
Alan mendelik pada Leon, sedangkan Leon menatap Dinda dengan menaik turun kan kedua alisnya.
"Aku senang melihatmu menjadi manusia Al, kau ada kemajuan, setidaknya kau bisa bersikap manis juga didepan gadis yang benar-benar kau suka." bisik Leon ditelinga sahabatnya.
"Jangan bicara sembarangan Le, kau ingin aku hajar?"
Leon tergelak, "Kau memang tiada duanya, Al"
"Ada masalah apa Al?" imbuhnya kemudian.
Alan menoleh pada Dinda, "Bisakah aku bicara berdua dengan Leon?"
"Bicara saja, anggap aku tidak mendengarnya." ujar Dinda memperlihatkan deretan gigi nya.
Alan menatapnya, "Berdua Dinda, sebentar saja!"
"Baiklah... baiklah, tapi jangan sampai berkelahi ya! Aku tidak mau hal itu terjadi." tunjuk Dinda pada mereka berdua.
Leon terkekeh, "Kau tenang saja Dinda, dia tidak akan berani padaku!"
"Kau benar, dia sangat menyayangi mu." ucap Dinda tertawa.
Sementara Alan hanya berdecak lalu menggelengkan kepalanya. "Leon, kita bicara disana."
"Wah, kau sudah paham letak setiap sudut plat ini dengan cepat. Aku bangga padamu!" ujarnya dengan menepuk-nepuk bahu Alan.
"Singkirkan tanganmu dari bahu ku Le, kau menyebalkan!" Menepis tangan Leon
Alan menarik kursi yang terdapat di balkon plat itu. Balkon yang tidak terlalu besar namun cukup lumayan untuk dijadikan tempat mengobrol, ditambah suasana malam yang mulai sepi.
"Sepertinya ini sangat serius, ada apa?" ujar Leon yang sudah bisa melihat dari sikap Alan.
"Aku sudah mengirimkan file ke emailmu, periksa semuanya. Pastikan perusahan mereka bekerja sama dengan kita, buat perusahaan lain menolak mereka, hingga satu-satunya pilihan, adalah perusahaan kita."
Leon merogoh ponselnya, lalu memeriksa surel yang Alan kirimkan padanya. Dia tampak mengernyit, dengan bibir yang mengatup.
"Tapi kita berbeda bidang Al, mereka cocok bekerja sama dengan perusahaan Adhinata, bukan bidang pengamanan!"
"Kau cari celah agar mereka bekerja sama dengan kita, aku tidak mau bagaimana cara mu, itu tugas mu Le!"
Alan mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusannya, lalu membakarnya. Kepulan asap kini terlihat di udara saat Alan menghembuskannya.
"Pastikan kerja sama ini, aku harus mempersiapkan dia agar nanti dia siap nanti."
"Aku tidak mengerti Al, apa yang kau maksudkan dengan dia?" Leon menengok kearah belakang, melihat Dinda yang tengah memakai headphone.
"Apa yang kau maksud dia? itu dia?"
Alan mengangguk, "Aku ceritakan nanti, yang pasti buat mereka bergantung pada kita."
Leon menatap Alan dengan lekat, lalu dia mengangguk, dia mulai paham apa yang tengah direncanakan sahabatnya itu.
"Satu lagi, jangan sampai dia tahu. Sebelum saat nya tiba, aku ingin mereka terkejut." ujarnya lagi.
"Oke, aku akan secepatnya bergerak."
"Bagus, aku mengandalkanmu Le!" ujar Alan kembali mencecap rokok.
"Baiklah aku pergi dulu,"
Alan mengangguk, "Kau tahu diri juga rupanya,"
"Sialan, aku hanya tidak ingin melihat kau lebih bodoh lagi Al." ujarnya kemudian terkekeh.
Leon masuk kembali ke dalam, menatap Dinda yang seketika berdiri saat mereka berdua masuk kembali.
"Leon, kau mau langsung pulang?" ujarnya.
Leon mengangguk, "Pacarmu baru saja mengusirku, dia tidak ingin aku menjadi nyamuk,"
Dinda menoleh pada Alan, "Ish, kau ini keterlaluan, kau tidak kasian pada temanmu! Kenapa mengusirnya?"
Alan menatap tajam ke arah Leon yang saat ini terkikik, Kurang ajar kau Le
"Bukan begitu, dia harus mengurus sesuatu, jadi harus segera pergi,"
Dinda yang merasa bingung kembali menatap Leon, "Kalian membuat ku bingung, terserahlah dasar pria-pria aneh!"
Dinda berlalu dari sana, dan keluar menuju balkon. Memilih untuk menikmati hamparan bintang yang tampak indah malam itu.
"Kau lihat? Kau membuatnya kesal, kau memang gila," ujar Leon kesal.
Dan Itu urusan mu Al, aku tidak ikut-ikutan." imbuhnya lagi.
"Segera angkat kaki dari sini Le, kau sangat menyebalkan."
Leon tergelak dan keluar dari sana, sementara Alan sendiri mulai kebingungan dengan sikap Dinda yang kesal.
Dia berjalan keluar menyusul Dinda, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu perlahan mendekati gadisnya.
"Aku minta maaf! katakan apa yang harus aku lakukan agar kau tidak lagi kesal." ujar Alan dari belakang.
Dinda menarik tipis bibirnya, lalu dia berbalik, dengan memasang wajah yang datar.
"Benar kau ingin aku tidak kesal lagi?" ucapnya datar.
"Tentu saja, katakan saja padaku, asal jangan membuatku harus menebak-nebak."
Dasar manusia kaku,
"Oke, kemari lah ... mendekat ke arah sini!"
Alan melangkah maju dan menjadi sejajar disamping Dinda. Dia menatap Dinda dengan lekat.
"Berteriak lah! Katakan kau mencintaiku."
"Kau gila apa? Kenapa harus melakukan hal seperti itu, semua orang akan terganggu dengan kita!"
"Ya sudah, kalau gitu aku akan terus kesal." Dinda mendekap kedua tangannya di dada.
"Oke, siapa takut! Aku akan melakukannya, setelah itu kamu juga harus melakukannya! Deal?" selorohnya.
Dia mengambil ancang-ancang dengan menarik nafas panjang, namun seketika Alan menariknya masuk dengan cepat.
"Jangan lakukan hal bodoh seperti itu, aku minta maaf. Sekarang katakan apa yang kau inginkan dari ku, asal bukan hal bodoh seperti itu!" ujar Alan panjang lebar.
Dinda tergelak melihat wajah Alan yang sedikit pucat pasi, dia menutup mulutnya menahan tawa.
"Kau mempermainkanku? Kau berani mempermainkanku sekarang? hem."
"Rasakan ini," Ujar Alan yang meraup wajah Dinda lalu mencubit pelan kedua pipinya bersamaan.
"Aahhh...sakit! Kau membuat pipiku menjadi lebar!" ucap Dinda dengan suara yang tertahan.
"Kau keterlaluan, sangat bodoh, dasar!"
"Tapi kan kau mencintaiku! Kau yang mengatakannya sendiri padaku!" ujarnya dengan kedua pipi terasa panas.
"Sudah lepas, pipiku sudah panas." ujarnya lagi.
Alan melepaskannya, namun tangan nya masih terulur di kedua pipi Dinda dan mengelusnya lembut. "Kau menyebalkan sekali Akira!"
"Tapi kau mencintaiku kan?" ujarnya dengan menjumput hidung Alan lalu berlari menuju ruang tamu.
Alan menatapnya, dengan seutas senyum di bibirnya, Kau membuatku kesal dan senyum dalam waktu bersamaan, dan itu benar-benar bodoh!
Dinda masih tergelak, dia menggosok pipinya yang masih terasa panas itu. Alan menghempaskan tubuhnya di sofa, dengan melipat satu kakinya yang dinaikan dan ditindihnya kemudian.
"Apa kau sebahagia ini hanya karena berhasil mengerjai kekasihmu sendiri?"
Hah
"Apa yang kau katakan? Apa aku tidak salah dengar?"
"Memangnya apa yang aku katakan? Aku tidak mengatakan apapun. Mungkin kau salah dengar!" kata Alan dengan menggeser tubuhnya.
"Ih kau ini jelas-jelas kau memanggil ku dengan panggilan kekasih." Dinda terkikik.
"Kau lucu saat kau meengatakannya!"
"Benarkah? Kau ingin aku mengatakannya lagi?"
ujarnya berharap Dinda tak lagi kesal padanya.
Dinda mengibas-ngibas tangannya, "Tidak usah! nada bicaramu seperti depkolektor!"
"Dinda astaga..., hanya kau yang berani kurang ajar padaku!"
"Itu karena aku mencintaimu Alan, sangat mencintaimu! Sampai-sampai aku lupa caranya mengikat tali sepatu." ujar Dinda dengan tertawa.
Alan mengernyit, "Kau jangan mengada-ngada, mana mungkin sampai lupa caranya mengikat tali sepatu, anak TK saja sudah lebih pintar darimu."
"Iya, benar! Kau tahu kenapa?"
Alan yang kebingungan hanya mengerdik, "Aku tidak tahu!"
"Karena aku terlalu sibuk mengikat hatimu." ujarnya tertawa terpingkal.
Hah
Alan yang belum connec pun hanya menatap Dinda yang terpingkal, lalu setelah beberapa detik dia baru tahu artinya apa, lalu ikut tergelak.
"Kau benar-benar bodoh!" ujarnya dengan menarik tubuhnya kedalam dekapannya.
"Eeh...."
Dinda yang tergelak pun terhenti begitu saja, dia membenamkan kepalanya di dada bidang Alan.
"Aku mencintaimu Dinda." gumamnya pelan.
"Aku tidak mendengarnya, tapi aku bisa mendengar jantungmu berdetak dengan kencang, dan aku tahu kau memang mencintaiku."
"Jangan menyuruhku melakukan kebodohan Dinda, cukup kau tahu aku mencintaimu, walau aku sangat jarang mengatakannya."
"Aku tahu, kau ini cerewet sekali."
Dinda menengadahkan kepalanya. " Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
"Apapun, mintalah padaku."
"Kau janji akan memberikan nya untukku?"
"Tergantung permintaanmu, jika aku bisa berikan sekarang. Aku pasti memberikannya, kalau cukup sulit dan butuh waktu, ya beri aku waktu akan aku usahakan!"
"Ya...ya Baiklah, tapi Kau terlalu serius sayang!" Kembali terkekeh.
"Memangnya apa yang kau minta? hem?" tanya Alan.
"Aku ingin menciummu,"
Glek
"Permintaanmu konyol sekali!" ujar Alan menelan saliva, sementara Dinda hanya terkekeh.
Alan menatap Dinda yang masih terkekeh, dia lantas menyambar kembali bibir Dinda dan melu matt nya lembut, menyisir rongga dalam dengan perlahan - lahan dan membuat Dinda terbuai kembali, sentuhan Alan yang berbanding terbalik membuatnya merasa kan udara yang berbeda.
"Kenapa kau selalu memancing ku Dinda!" ujar Alan dengan suara serak,
"Karena aku menyukai sisi lembutmu!" jawab Dinda dengan kembali melu matt bibir Alan.
"Aku mencintaimu Al ... sangat!" ujar Dinda di sela ciuman panasnya.
"Aku juga mencintaimu, gadis bodoh!"
Pertukaran saliva mereka tak berhenti begitu saja, Alan mulai berkeringat, dia menarik tubuh Dinda ke atas pangkuannya, sedangkan Dinda mengalungkan tangannya pada leher Alan.
Terbuai dengan sentuhan kedua benda kenyal yang terus saling melu matt lembut, semakin lama dan semakin dalam. Dinda menyusuri leher Alan, membuatnya memejamkan mata.
Ada sesuatu yang menyeruak tiba- tiba, dan itu sangat berbahaya. Perlahan Alan menarik bahu Dinda.
"Hei, tenang kan dirimu!" ujarnya dengan suara yang berat.
"Dinda... sialan!" Alan menegang karena sentuhan di cuping telinganya membuat senjatanya terbangun.
Dia menahan tangan Dinda, "Kendalikan dirimu bodoh! Atau kau akan menyesal memancingku!"
.
.
Dinda jangan nakal yaa, jangan bikin author pusing😂 Maafkan kalau banyak typo bertebaran, maaf juga gak sempet balas komeng..lope lope you all