Assistant Love

Assistant Love
Tak perlu berubah



'Hubungi aku segera!!'


Alan pun terlihat gusar, dia terus mengotak ngatik ponselnya, mengirim pesan pada Leon lalu pada pengacara yang mengurus kasus yang menimpa Jerry.


"Al ... kau tenang saja! Biarkan orang lain yang mengurusnya, kau fokus saja dengan pernikahanmu!"


Alan hanya mengangguk, namun jemari dan kedua manik sipitnya terus tertuju pada layar ponsel yang menyala itu, hingga Farrel mendengus kasar.


"Kau ini! Keras kepala sekali."


Tak lama kemudian Arya datang, dia baru saja pulang mengurus kantor ARR. corps yang akan bergabung dengan F&M Empire milik Farrel.


"Kalian ada disini rupanya?" ujarnya dengan air muka yang keruh, lau menghempaskan bokongnya di sofa dihadapan kedua putranya itu.


"Ayah...." sapa keduanya berbarengan.


"Yah ... benarkah yang di katakan Farrel? Jerry sudah ditetapkan sebagai tersangka?"


Arya menghela nafas, "Benar, tadi siang sidang tertutupnya!"


Alan menegakkan tubuhnya dalam posisi duduk, "Kenapa Ayah tidak memberi tahuku!"


"Ayah ingin memberitahu mu, namun Jerry tidak mengijinkan Ayah melakukannya, dia tidak ingin kau maupun Leonard melihatnya, dan tim pengacara kita akan upayakan agar hukuman nya diperingan."


"Lalu bagaimana denganku? Cepat atau lambat...."


Arya kembali menghela, "Bukti tidak ada mengarah padamu, dan itu berkat bantuan Don Salendro, dan juga Omar, kau tenang saja! Urusi pernikahanmu dengan baik, jangan mengecewakannya."


Farrel ikut mengangguk, dia faham ayahnya melakukan segala cara untuk Alan, "Ayah benar Al ... kalau bisa acaranya dipercepat saja, kalau perlu besok juga tidak masalah, benarkan Yah?"


"El ... jangan mengajak kakakmu untuk berbuat konyol sepertimu!" seru Metta dari arah belakang, disusul oleh Ayu yang membawa nampan berisi teh untuk suaminya.


Farrel terkekeh, "Enggak sayang, kalaupun aku ajak dia tidak akan mau melakukannya, bahkan dia terlihat tidak semangat mengurusi pernikahannya."


Alan mendelik ke arahnya, "Lebih baik kau diam anak nakal!"


Jari telunjuk Farrel bergerak ke kiri dan ke kanan, "No... no...aku sudah bukan anak-anak, sebentar lagi aku akan menjadi papa! Benarkan sayang?"ujarnya menunjuk perut besar Metta.


"El ... jangan mulai deh!" sahut Metta.


Ayu menggelengkan kepalanya pada kedua putranya yang selalu meributkan sesuatu jika bertemu, dia lantas berjalan menghampiri suaminya,


"Yah ... sudah selesai?" tanyanya dengan meletakkan cangkir teh itu di atas meja.


Arya mengangguk ke arah sang istri yang kini duduk disampingnya. "Bunda tenang saja, tugas bunda membantu Alan menyiapkan pernikahannya, biar urusan lain jadi tugas Ayah."


"Dan aku tentunya!" timpal Farrel yang langsung mendapat tatapan tajam dari Alan.


"Jangan melakukan apa-apa tanpa seiijinku!" ujar Alan ketus.


Arya dan Ayu saling menatap, "Sepertinya kita memang harus mempercepat acara pernikahan Alan, bun!" bisiknya ditelinga sang istri.


.


.


Leon menerima pesan yang di kirimkan Alan, setelah mengantarkan Tasya kembali ke rumahnya, dia menghubungi Alan dan menanyakan yang terjadi.


Dan segera menghubungi pengacara yang dia kirimkan untuk membantu kasus Jerry.


Alan menghela nafas, "Aku pun berfikir begitu, walau Jerry tertangkap tangan karena kepemilikan senjata, tapi kemungkinan besar, polisi sudah mengantongi nama kita Le!"


"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?"


"Kau tenang saja, sudah tidak ada bukti apa-apa lagi!" ujarnya datar.


Namun tetap saja, Leon merasa khawatir, terlebih memikirkan Tasya yang tidak tahu sama sekali kalau dirinya pernah berkecimpung di dunia gelap, tidak seperti Dinda yang sudah mengetahuinya dan juga tidak masalah akan hal itu.


"Kau harus mempercepat pernikahanmu Al,"


Alan menghela nafas, "Apa hubungan nya bodoh!"


"Aku juga akan mempercepat pernikahanku, lebih cepat lebih baik sepertinya!"


"Terserah kau saja!"


Leon menatap sahabatnya itu, dia menepuk bahu Alan, "Santai sedikit, hidupmu sudah terlalu berat! Saatnya memikirkan kebahagian mu sendiri Al...."


"Huum ... pasti akan aku lakukan! Kau tenang saja!"


.


Setelahnya, Leon dan Alan keluar dari Kafe itu dan menuju mobilnya masing-masing, Leon terus meyakinkannya agar dia selalu bahagia, Alan hanya mengangguk dan menyuruh Leon pergi.


"Sudah kau pergi sana, jangan banyak bicara!"


Leon berdecak, "Baiklah, aku pulang Al...."


"Ingat pesanku! Berbahagialah...."


Alan menghela nafas berkali-kali, dia masuk ke dalam mobil dan melaju dari sana, dan tanpa sadar di berhenti di depan gedung Apartemen.


Alan merogoh ponselnya dan menghubungi Dinda.


'Turunlah ... aku ada di depan lobby! Dan jangan buru-buru.'


Alan langsung mematikan ponselnya, "Tetap saja aku tidak bisa, kebiasaan ini sudah melekat dalam diriku, aku tidak bisa menjadi seperti orang lain."


"Aku tidak minta kau menjadi orang lain, dari awal aku menyukaimu dengan dirimu yang seperti ini! Jadi jangan terlalu membebani dirimu sendiri! Aku mencintai semua yang ada dalam dirimu!"


Dinda berdiri disampingnya, dia bahkan tidak tahu sejak kapan gadis itu berada disana.


Alan mengernyit, "Sedang apa kau di sini? Ku kira kau di atas!"


"Aku baru saja pulang, saat kau meneleponku, aku baru saja tiba disini, dan aku melihatmu calon suami!"


"Kau ini!"


Dinda terkekeh, dan melingkarkan tangannya pada lengan Alan, "Walau aku ingin kau seperti orang lain yang memperlihatkan perasaannya, tapi aku tidak mau kau berubah!"


"Kenapa?"


"Nanti banyak yang suka kalau kau berubah, lebih baik kau begini saja, kaku, datar, tidak peka, tidak sabaran,"


"Kenapa sikapku tidak ada yang bagus!"