Assistant Love

Assistant Love
Itu hal kecil



Persiapan pernikahan yang sempat tertunda akhirnya kembali di kerjakan, hampir semua telah selesai, dan hubungan Dinda dengan Alan pun semakin membaik, ditambah dukungan dari seluruh keluarga besar Adhinata terhadap mereka.


Kondisi Sisilia pun semakin membaik, namun dia belum dapat keluar dari rumah sakit, dan kabar pernikahan putri mereka pun sudah sampai pada mereka, Alan juga sudah berbicara melalui sambungan telepon dan meminta maaf.


Pramudya menerima dengan lapang dada, sementara Sisilia masih ragu akan kebahagian putrinya, ditambah kehadiran dokter Kemal yang mencuri perhatiannya.


Dokter Kemal sendiri pun sudah mengetahui kabar itu, dia juga tidak bisa melakukan sesuatu untuk berjuang sekali lagi.


"Dokter tidak apa-apa kan?"


Kemal memperlihatkan seutas senyum, "I'm oke Miss ... walaupun aku belum pernah sekalipun berjuang! Tapi rasanya itu terlalu sulit, dan aku hanya bisa mendoakan yang terbaik baginya."


"Terima kasih dokter!" ujar Sisilia.


Penghalang terbesar nya yang jelas bukan karena pria itu, melainkan hati nya Dinda sendiri, dia tidak memberikan kesempatan untukku berjuang.


Dokter Kemal pun mengangguk, lalu kembali memeriksa kesehatan Sisilia, "Aku tidak apa-apa, sebagai dokter aku bisa menyembuhkan hatiku sendiri." kelakarnya.


"Dokter!!"


"Kondisi mu semakin bagus, jangan terlalu banyak bergerak dulu ya."


Dokter Kemal pun akhirnya keluar dari ruangan dimana Sisilia dirawat.


Pramudya yang baru saja masuk pun tersenyum melihat Dokter Kemal yang baru saja keluar, "Bagaimana keadaannya dok?"


"Semakin baik, tapi kita akan tunggu laporan lab selanjutnya, semoga semua ok dan Miss Sisilia diperbolehkan pulang."


"Syukurlah kalau begitu, karena kita berdua harus segera pulang untuk persiapan pernikahan."


Dokter Kemal tersenyum getir, rasanya masih tidak percaya, rasa yang baru saja muncul tiba-tiba harus layu kembali.


.


.


Seminggu kemudian


Kondisi Sisilia tiba- tiba menurun, berapa kali profesor Belatric mengecek kesehatannya kesehatannya yang selalu tiba- tiba memburuk, dengan denyut nadi yang melemah.


"Bagiamana dok? Apa istri saya baik-baik saja, sore ini kita harus kembali ke Indonesia."


Dokter Belatric menggelengkan kepalanya, "Untuk sementara kalian tidak bisa kemana-mana dulu, kondisinya semakin memburuk, sepertinya tubuhnya menolak benda baru yang datang. Sehingga keadaannya semakin memburuk!"


Pramudya terbelalak mendengar penjelasan dari profesor Belatric. "Bukankah sudah seminggu ini keadaannya membaik? Kenapa sekarang malah memburuk prof?"


Profesor yang didampingi oleh Dokter Kemal pun menghela nafas, "Banyak faktor yang mempengaruhi Mister, salah satunya karena pembekuan darah, Miss Sisilia memang mengalami hal tersebut dari sejak di operasi, dan harus nya seminggu ini baik- baik saja, namun ternyata tubuhnya masih menolak,"


Tubuh Pramudya luruh ke kursi panjang di depan ruangan, entah harus berbuat apa, saat ini fikirannya terbagi, putri mereka akan menikah, bagaimana jadinya jika dia tahu keadaan Maminya.


Dokter Kemal pun ikut menguatkan Pramudya, "Kita berdoa yang terbaik Mister, semoga kondisi Miss Sisil kembali pulih!"


Aku harus merahasiakan hal ini dari Dinda, kalau dia dan Alan tahu, mereka pasti akan kembali menunda pernikahan mereka, dan ini akan membuat kondisi Mami semakin memburuk karena memikirkannya.


"Dokter ... tolong rahasiakan hal ini pada putriku, jangan biarkan dia tahu kondisi ibunya saat ini."


"Bagaimana dengan pernikahannya, apa Mister tidak akan pulang untuk menyaksikannya?"


Pramudya sendiri masih bingung harus menjawab pertanyaan tersebut,


"Apa kau bisa membantuku?"


.


.


"Enak banget sih kamu, dulu aku tidak sempat melakukan hal-hal begini! Tahu- tahu sah dan aku tiba-tiba jadi pengantin!" gerutu Metta dengan bibir yang mengerucut.


"Ah ... iya aku juga ingat hari itu, beneran ikut kaget dan tidak menyangka! Sampai aku harus melajukan mobil dengan cepat karena khawatir pada Andra! Suami mu emang konyol Sha." ujar Dinda dengan tergelak.


"Yang kalian bicarakan itu anak Bunda, huuh ... dia memang begitu, bunda heran kenapa sifatnya tidak seperti bunda atau Ayahnya yang kalem."


Dinda maupun Metta terkekeh, "Maaf Bun, aku tidak bermaksud untuk membicarakannya, bagaimanapun juga dia sekarang adalah suamiku, dan aku bersyukur karenanya." tukas Metta.


Dinda menganggukkan kepalanya tanda setuju, "Kedua anak Bunda memang juara!" ucapnya mengacungkan ibu jari ke arah Ayu.


Ayu terkekeh, "Bagaimana dengan kedua orang tua mu? Apa kondisi Mami mu sudah membaik dan bisa pulang?"


"Hm ... Ayah bilang kondisi Mami baik, tapi masih belum selesai masa pemulihan, jadi kemungkinan hanya Ayah saja yang bisa pulang."


"Ya sudah tidak apa-apa, kasian Mami mu jika memaksakan dirinya sendiri,"


Dinda mengangguk, Aku ingin kedua orang tuaku hadir di pesta pernikahanku, tapi apa boleh buat, kondisi Mami lebih penting.


Mereka pun masuk kedalam klinik kecantikan, dan mulai memanjakan diri.


Sementara Alan berada di rumah untuk mengurus baby Shena yang selalu anteng saat bersamanya, namun karena tidak terbiasa, dia sedikit uring-uringan karena Leon dan Jerry hanya merecokinya.


"Diamlah, suara kalian akan membuat keponakanku terbangun dan menangis!" serunya saat Leon dan Jerry sibuk berbicara tentang pekerjaan mereka.


"Kita sedang mengobrol masalah kerjaan Al, sudah berapa lama kita menganggur dan hanya diam di rumah ini! Aku mulai bosan, dan aku butuh biaya besar untuk biaya pernikahanku juga!" tukas Leon.


"Memangnya tuan Fierro sudah memberikan lampu hijau untukmu? Malah sudah membicarakan biaya pernikahan...!" jawab Jerry mencibirnya.


Alan melemparkan sendal rumah ke arah Mereka, "Kalau kalian mau ribut, sana ribut diluar jangan di kamarku!!" ujar Alan datar.


Tiba-tiba Farrel membuka pintu, "Heh ... pemuda pengangguran, kalian mengganggu putriku yang sedang tidur?"


Alan berdecak, "Biarkan dia menginap sehari lagi di sini ... dia tidak rewel! Atau kau buat lagi saja sana, biar aku yang mengasuhnya!"


Farrel mendekati baby Shena yang tengah terlelap dalam kasur, "Enak saja, kau saja yang buat, sebentar lagi kau harus berkerja keras agar bisa punya anak lucu seperti ini!" ujarnya mengelus lembut pipi gembil baby Shena.


Alan menepiskan tangan Farrel, "Kau membuatnya bangun nanti! Sudah sana jangan banyak bicara!"


"Sayang ... uncle Al posesif sekali! Apa boleh Papa kasih Uncle pelajaran?" ujarnya mengajak bicara bayi yang masih tertidur itu.


Alan bangkit dari ranjang dan menarik bahu Farrel, hingga ke arah pintu.


"Lebih baik kau keluar dari kamarku!"


"Kau ... dan kau juga! Keluar ...." tunjuknya pada Leon dan juga Jerry.


"Hey ... dia anakku!! Kenapa kau mengusir ku?! Aku harus membawa Baby Shena."


"Nanti saja, kau jemput lagi besok atau kau tidak usah menjemputnya juga tidak masalah, aku bisa menghandle nya."


"Kau gila Al ... benar- benar gila! Dia bukan boneka, setiap malam akan menangis meminta susu."


Alan menutup pintu kamar dan menguncinya, " Itu hal kecil, sudah sana pergi! Kau bisa terlambat."


Kedua sahabatnya itu dibuatnya bingung, mereka pun turun, menyusul Farrel yang sudah terlebih dahulu.