Assistant Love

Assistant Love
Jangan Buang Waktu



Alan mendengus seraya menutupi leher dengan mengangkat T-shirt yang dikenakannya sementara Dinda mengulum senyuman karena mendengar penuturan Farrel dengan suara stereo.


"Ternyata kau nakal juga!" Gumam Metta ditelinga Dinda membuatnya semakin tertunduk malu.


Ayu dan Arya hanya saling menatap lalu mengulas senyuman, "Anak anak kita sudah besar ya yah! Sekarang keluarga kita semakin lengkap."


"Iya bunda ...!" keduanya melihat ke arah Farrel dan juga Alan yang masih memperebutkan baby Shen, lalu beralih menatap kedua anak menantunya yang terkikik kikik.


"Sudah ayo sini makan, jangan terus ribut, kalian juga dewasa, sudah jadi kepala rumah tangga, bersikaplah sepantasnya." Seru Ayu memanggil kedua putranya.


Mereka berjalan ke arah meja makan, saat semua makanan sudah tersaji. Kedua istri melayani suami masing masing begitu juga dengan Ayu. Sedangkan baby Shen, Farrel baringkan di stoler bayi.


Semuanya menyantap makanannya dengan hikmat, saking bersenda gurau menceritakan lelucon lelucon walaupun Alan tetap terlihat datar.


"Kalian tidak berencana bulan madu?" Tanya Farrel menyuapkan sepotong ayam kedalam mulutnya.


"Tidak ... dua hari lagi produk terbaru perusahan diluncurkan, aku akan sibuk mengurusnya." jawab Alan datar. Sementara Dinda mendengus pelan.


"Kau mau membuat malu keluarga mu sendiri ya! Tidak pergi honey moon malah mengurus pekerjaan, apa yang difikirkan ibu dan ayah mertuamu hah!"


"Sayang ... tidak perlu berteriak begitu kan!"


"Aku kesal padanya kak, bagaimana bisa dia melakukan hal itu!" ujarnya lagi diakhiri dengan gelengan kepala.


"El benar Al ... pergilah, biar perusahaan El yang urus! Kau pergi bawa istrimu honey moon. Jangan begitu," timpal Ayu.


"Ayo sayang ... kau mau kemana? Katakan pada suamimu ... kalau dia bersikeras tidak membawamu pergi honeymoon katakan pada bunda, Bunda akan menjewer telinganya!" sambung Ayu pada Dinda.


Gadis berambut coklat itu tersenyum, lalu menatap Alan yang menyuap makanannya dengan datar.


"Iya bunda ... nanti aku akan mengatakannya!"


"Kelamaan! Kenapa tidak pergi besok atau hri ini juga?"


"Kenapa kau ini ribut sekali! Siapa yang menikah siapa yang repot, menyebalkan!" tukas Alan kesal. Pasalnya Farrel terus saja mendesaknya pergi honey moon.


"Kau baru saja mengancamku? Dasar bodoh ... kalau pun aku pergi besok, toh aku juga memang tidak akan bisa hadir di sana." ketua Alan lalu menenggak segelas air putih.


Tak lama setelah mengantarkan semua anggota keluarga Adhinata pulang, Alan kembali masuk ke unit milik nya, dan mendapati sang istri tengah melakukan video call bersama kedua orang tuanya.


"Mommy baik baik saja kan?"


"Tentu sayang, kesehatan mommy mu semakin membaik," jawab sang Ayah, sementara Sisilia mengangguk lemah.


Alan menatapnya dari sofa, melihat sang istri yang memperlihatkan wajah kesedihan karena sangat merindukan sang ibu.


Setelah selesai dengan sambungan telepon dengan kedua orang tuanya, Dinda kembali ke kamar, tanpa menoleh pada Alan yang dia lewati begitu saja.


Alan menyusulnya ke kamar, dan melihat istrinya itu menelengkupkan badannya diatas ranjang berukuran king tersebut.


"Ada apa? Kenapa kau menangis?"


"Tidak apa apa, aku hanya merindukan orang tuaku saja." jawab Dinda dengan membenamkan kepalanya diatas bantal.


"Kau ingin kita pergi kesana?"


Dinda menoleh, "Hah?"


"Iya ... kalau kau mau! Kita pergi kesana saja."


Dinda beranjak dari ranjang, dengan wajah berseri seri seraya melompat memeluk Alan.


"Kau serius?"


"Hem ...aku serius! Kemasi barangmu, kita pergi sekarang."


"Hah? Sekarang?"


"Memangnya kau tunggu apa lagi? Jangan membuang waktu. Kita pergi sekarang."