
"Cubit aku ...cepat cubit aku!" ujar Dinda saat mengurai pelukan Alan.
"Kau gila, mana mungkin aku menyakitimu!" ucap Alan yang merekatkan kembali pelukannya itu.
Dinda mendelik kearah Alan, dengan mulut komat-kamit " Dasar bodoh, bukan menyakiti ku seperti itu juga!"
"Lalu apa? Begini...?" Ujarnya dengan mencubit lengan Dinda.
"Awss...sakit! tidak sekeras itu juga, dasar!" Ucaonya mengurai pelukan Alan.
"Biarkan begini sebentar," ucapnya dengan meletakkan dagu pada bahu Dinda.
Dinda terus melengkungkan bibirnya penuh, Semudah ini ternyata, semua kekesalan hilang seketika.
"Aku sadar, aku bukan pria seperti di luaran sana, aku berbeda, tapi asal kau tahu. Aku mencintaimu dengan caraku sendiri, aku juga tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu,"
"Iya, dan aku yang harus mengatakan nya duluan, bagaimana kalau aku tidak mengatakannya? Bagaimana?"
"Mungkin kau akan bersama Leon, dan aku hanya bisa melihatmu dari jauh, cukup melihatmu bahagia. Itu sudah cukup!"
Dinda melepaskan tangan yang melingkar di perutnya, " Benar begitu, kau akan bahagia walau hanya melihatku dengan Leon? Jadi aku boleh pergi bersama Leon yaa!"
Alan menarik lengan Dinda yang hendak melangkah, "Jangan bodoh, aku tidak akan mengijinkannya, menyebutkan namanya saja aku tidak ijinkan." ucap nya.
Dinda berdecak, "Ish, kau ini ... tidak boleh dengan yang lain, tapi kau sendiri tidak melakukan apa-apa!"
Alan menggaruk kepalanya nya yang tidak gatal, memang benar, apa yang di katakan Dinda, tapi dia juga tidak ingin mengambil resiko, di kemudian hari, mengingat Leon juga menyukainya.
"Aku tidak ingin kau membantah!kau dengar aku kan!"
"Menyeramkan sekali, pacarku yang bodoh ini!" gumam Dinda.
"Aku mendengarmu Dinda!!"
Dinda terkekeh, "Aku bercanda, mana mungkin aku melihat yang lain, kau tahu sendiri perjuanganku seperti apa?"
Alan menarik pinggang Dinda, "Aku tahu segalanya,"
"Aku bahkan tahu kau menyamar menjadi pohon!" imbuhnya lagi.
"Ish, kau ini...!"
"Tapi kan setidaknya aku sudah berusaha, salah satunya ya melakukan itu, agar aku bisa melihatmu, walau dari jauh! Kau kan tidak pernah melihatku, sangat menyebalkan." Ujarnya lagi.
Dinda menatap lekat wajah Alan yang dulu selalu ingin dia lihat, bahkan sekarang bisa melihat dengan puas.
Tangannya terulur menyentuh rahang keras milik Alan, menyusuri garis tegas yang terlihat di wajahnya dengan lembut,
"Aku selalu ingin melakukan hal ini dari dulu, menyentuhnya sendiri tanpa kau marah padaku." ujar nya.
"Kau bisa melakukan sepuasnya sekarang, tapi kalau untuk marah, aku tidak janji!" tangan Alan menangkup jemari Dinda yang berada di wajahnya, lalu mengecupnya lembut.
"Aku mencintai mu Al...."
Dinda menyambar bibir Alan, dengan kedua tangan yang berada di kedua pipinya, namun Alan melepaskan tangan Dinda dan tautan di bibirnya.
"Kau tidak perlu melakukan hal ini!"
Glek
"Maaf ...." gumam Dinda dengan menahan malu.
"Biar aku yang melakukan nya duluan," ucap Alan dengan menyambar bibir Dinda dengan lembut, menarik tubuhnya perlahan hingga merekat dengan menyelipkan tangan di sela pinggangnya.
Sangat lembut, lebih lembut daripada terakhir dia melakukannya dengan marah dan kesal, kali ini tautan mereka dilandasi oleh perasaan yang saling berbalas.
Hangatnya sentuhan Alan yang baru dirasakannya saat ini, membawanya merasakan atmosfir berbeda, dari sisi lain seorang Alan.
Hingga akhirnya mereka melepas tautan di bibirnya karena mulai kehabisan pasokan udara. Alan menyeka bibir merah merona milik Dinda dengan ibu jarinya, lalu menangkup kedua pipinya, dan menariknya kedalam rengkuhannya.
Dinda berjalan mendekati sofa dan mengambil air minum. Namun dengan cepat Alan mengambil botol itu dari tangannya,
"Hei, aku mau minum!"
Alan tidak menggubris, dia melangkah kan kaki nya ke sudut ruangan dan mengambil botol mineral dari lemari es. Setelah membuka tutup botol yang masih tersegel itu, dia berikan pada Dinda yang dari tadi hanya melihat pergerakan yang dilakukan oleh Alan tanpa bicara.
"Itu bekas Tasya, nih yang baru, punya mu!"
Dinda menggaruk kepalanya, "Ooohh... aku kira itu baru, soalnya masih penuh! Makasih My Sweety ice," ucapnya dengan terkikik.
Alan menatap lekat gadis dengan iris mata coklat itu, bibir nya tersungging membentuk ukiran paling indah yang pernah di tunjukan. Atau mungkin yang dia tunjukan selama hidupnya. Namun seketika kembali datar tanpa ekspresi,
"Aku tidak suka dipanggil seperti itu, kau bisa menggantinya kan Ak --emmpphh maksud ku Dinda!"
"Sayang, panggil aku sayang! Bisa kan? Harus bisa, aku tidak mau tahu!" ujarnya dengan menatap kearahnya dengan tersenyum.
Lalu Dinda menenggak air dalam kemasan itu dengan ujung mata yang mengarah pada Alan yang masih terlihat salah tingkah.
Alan menggaruk belakang kepalanya, "Akan aku coba! Tapi...."
Dinda tergelak, " Aku bercanda, aku tidak akan memaksa mu melakukan itu." ujarnya dengan tangan yang dipakai menyeka bibirnya.
Alan meraih tangan Dinda, "Terima kasih."
"Hei, tanganku basah!" ujar Dinda menarik tangan yang sebelumnya dipakai mengelap bibirnya.
"Maaf...."
Dinda mengangguk, "Dasar kaku!" cibirnya.
"Sekali lagi kau mengatakan hal itu aku akan...."
"Akan apa? Mencium Ku?" ujar nya dengan terkikik, lalu menyimpan botol air diatas meja.
Pletak
Alan menyentil kening Dinda, "Dasar gadis mesum!"
"Hei, aku ini pacarmu!" teriaknya dengan menggosok keningnya
Alan menoleh, "Pacar mesum!"
Kemudian Alan kembali berjalan menuju kursi kebesarannya, sementara Dinda masih terkikik-kikik di sofa dan kembali membereskan meja.
Mengatakan pacar mesum saja kaku sekali, seperti sedang pembukaan meeting.
"Huh...." Alan menghembuskan nafasnya kasar.
Dia tidak pernah mengira gadis bodoh dan ceroboh itu membuatnya hatinya bak naik roller coaster, menegangkan sekaligus memicu adrenalin, namun hatinya bahagia. Aneh bukan?
Tindakan yang seharusnya dilakukan oleh dirinya sebagai seorang pria, namun malah terbalik, Alan masih belum menyangka, apa yang baru saja terjadi.
Sementara Dinda masih mendudukkan dirinya disofa, masih membereskan berkas dan juga paper bag yang sengaja diperlambatnya pula, karena dia ingin berlama-lama di ruangan Alan yang baru saja menjadi pacarnya.
Pacar? Rasanya tidak percaya, dengan terkikik-kikik. lalu mencuri pandang dengan malu-malu ke arah Alan. Sementara Alan yang salah tingkah hanya bisa menggaruk tengkuknya.
"Em... aku keluar dulu!" ujar Dinda dengan melangkah kearah pintu.
"Baiklah, pekerjaan ku juga masih banyak." ucapnya tanpa basa basi.
Ih ... larang kek, kan baru jadian! Peluk-pelukan gitu, aah dasar punya pacar kaku kebangetan. batinnya namun juga terkikik dalam hati.
Dinda keluar dari ruangan Alan dan kembali mendudukkan diri di meja kerja miliknya. Dengan semangat yang baru dia memulai kembali pekerjaan nya yang sempat terbengkalai.
Senyuman tak lepas dari bibirnya, terus membayangkan apa yang terjadi hingga akhirnya mereka hari ini menyandang status yang baru, berpacaran.
"Aku harus memberitahu si Shaun, kabar gembira ini, semua harus tahu!"