Assistant Love

Assistant Love
Kembali Pulang



Setelah memikirkan banyak hal, akhirnya Dinda memutuskan untuk kembali, selain desakan kedua orang tuanya, agar dia memperbaiki hubungannya dengan Alan atas semua kesalah fahaman yang terjadi, diantara mereka.


Siang itu dia pergi ke rumah sakit, untuk berpamitan dengan ayah dan ibunya.


"Dinda!" seru Kemal.


Dinda menoleh, "Kenapa?"


"Benar kamu akan pulang ke indonesia? Kau mau meninggalkanku begitu saja?"


Dinda mengangguk, "Aku memang harus kembali! Aku meninggalkan banyak pekerjaan disana!"


"Apa aku tidak punya harapan untuk mengejarmu?" Kemal menyamai langkah kaki Dinda.


"Aku tidak merasa mempunyai hutang padamu! Kenapa kau mau mengejarku."


Kemal berdecak, ingin sekali dia mencubit kedua pipi Dinda yang menggemaskan, namun dia menahannya, karena sudah pasti ada sosok Mac yang mengawasinya.


"Aku menyukaimu Dinda! Andai saja kau masih bisa memilih, aku akan menunggu."


Dinda menghentikan langkahnya, dan menatap nanar pada Kemal. "Terima kasih, tapi hatiku sudah dipenuhi oleh namanya, sampai tidak ada celah untuk orang lain! Maaf Kemal, aku harus pergi."


Dinda melengos begitu saja, meninggalkan Kemal begitu saja.


"Setidaknya beri aku kesempatan untuk mengejarmu!" lirihnya.


Mac menatapnya dari kejauhan, lalu pergi setelah melihat Kemal kembali masuk kerumah sakit.


Kabar Dinda akan segera pulang sudah sampai ditelinga Alan, hingga dia sibuk dengan apa yang akan dia lakukan saat mereka bertemu. Leon dan juga Jerry hanya melihatnya heran, terlebih wajah Alan kini terlihat resah.


"Le ... apa aku harus menjemputnya di bandara?"


"Lakukanlah!"


Alan kembali bangkit dari kursi, "Tapi dia belum tahu jika aku sudah keluar dari penjara Le!"


"Kalau begitu jangan kau lakukan Al!"


Alan melemparkan bantal sofa ke arah Leon, "Kau tidak membantu sama sekali!"


Jerry tergelak, namun sedetik kemudian kembali datar karena tatapan Alan menyorotinya.


"Percuma bicara dengan kalian! Tidak ada yang berpengalaman." tukasnya dengan kesal.


Ketiganya menoleh pada Farrel yang baru saja masuk, dengan menggendong Baby Shena. Membuat Leon langsung bangkit dan menyambutnya.


"Halo Baby Shen, sini gendong sama Uncle Le!"


Membuat Leon mengingat Baby Zi, Leon langsung menggendongnya, sementara Farrel duduk dihadapan Alan.


"Leon ... hati-hati pada putriku!"


Leon mendecih, "Kau tenang saja, aku berpengalaman dalam menggendong bayi, iya kan sayang!" ucapnya pada bayi yang hanya bisa menangis itu.


"Mac dalam perjalanan, sebaiknya kau siap-siap menjemputnya Al."


"Aku ingin bermain dengan keponakanku dulu!"


.


.


Dinda melenggang masuk di bandara dengan koper kecil yang dia bawa, sementara Mac berjalan dengan jarak yang cukup dekat, setelah menunda beberapa minggu, akhirnya dia bisa pulang juga.


"Mac, jauh-jauh dari ku! Aku tidak ingin terlihat seolah aku mengenalmu, kau menakutkan! Aku seperti seorang tawanan!"


Mac hanya mengangguk dengan garis tipis di bibirnya.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya mereka tiba di tanah air, Dinda mengedarkan pandangan mencari Alan, namun dia tidak menemukannya.


"Aku lupa dia berada di penjara!" gumamnya dengan pelan.


Sementara Mac sudah menyuruh seseorang untuk menjemput mereka.


Dinda uang berjalan lebih dulu, kini menunggu langkah Mac yang masih di belakang.


"Mac! Apa kita akan langsung pergi ke penjara?" serunya tiba-tiba, membuat orang-orang yang berlalu lalang menatapnya dengan waspada.


'Bos ... kekasihmu!!?' ucapnya hingga terdengar di ujung sambungan telepon.


'Diam kau Mac! Aku belum benar-benar memaafkan kesalahannya!'


Dinda terheran melihat ke arah Mac yang tengah bicara itu.


"Mac kau bicara sama siapa?"