
Bukan Dinda namanya jika dia menyerah begitu saja, instingnya mengatakan jika Alan adalah sosok misteri yang harus dia ungkap, rasa penasaran nya semakin menjadi setelah peristiwa ketidak sengajaan, untuk mengikutinya.
"Sudah ku bilang bibi datang nya pagi, jadi pulang nya tidak selarut ini." ucap Dinda saat keluar dari parkiran dan hendak mengantarkan bibi penjaga rumahnya.
Bertepatan mobil Alan yang melintas didepannya, "Itu kan ...Mau kemana?"
Sejurus kemudian Dinda yang mengendarai mobilnya dengan terus melihat mobil Alan yang berada di depannya.
Dengan berjuta perkiraan dan juga pertanyaan kemana kira-kira Alan pergi,
Hah... dia belok juga? apa dia mau ke Apartement mencari ku,
Terlalu percaya diri kamu Din,
Tuh kan, tapi arahnya sama,
Jangan-jangan dia memang mencariku
Sekelumit pertanyaan berlarian di kepalanya. Bahkan pertanyaan yang di ajukan oleh bibi penjaga rumah yang duduk disebelahnya tak mengalihkan perhatiannya pada mobil keluaran terbaru yang melesat didepannya.
"Bibi sudah tua beda sama Mbak yang masih muda,"
"Iya gak apa-apa."
"Bibi juga punya cucu yang harus bibi fikirkan Mbak,"
"Iya...."
"Memangnya Mbak gak sibuk nganterin bibi terus tiap bibi kemalaman seperti ini?"
"Iya gak apa-apa."
"Temennya Mbak kasian ditinggalin, mana lagi sedih begitu kelihatannya,"
"Ng-gga apa-apa"
"Iya kan mbak...."
"Hah... apa bi?"
Bibi yang disampingnya pun tampak melongo dengan dirinya yang memecah konsentrasi,
"Udah Mbak nyetir aja...." ungkapnya kemudian.
Dia terus melaku hingga sampai di apartemen lamanya, "Bibi gak masalah kan kalau aku tidak mengantarkan bibi sampai keatas?"
"Iya Mbak tidak apa-apa,"
Lalu Dinda kembali melaju mengikuti mobil Alan.
"Dia pasti ke tempat itu lagi, sebenarnya apa yang dicarinya ditempat itu."
.
.
Dinda menghela nafas, "Baiklah Dinda, tetap semangat!" ucapnya saat dia mengingat pertemuan dirinya dan Alan, hingga dia mengetahui jika Alan bisa melakukan sesuatu yang tak pernah sama sekali disangkanya.
Dinda keluar dari kamar, dan mendapati sahabatnya masih tergolek di sofa,
"Sha, hari ini aku bikin surat ijin ya," Namun tentu saja dia tidak menjawab.
Dinda kemudian berlalu keluar dari kamar nya, berjalan menuju lift,
"Hai Akira, Dinda, ...." sapa Leon yang baru saja tiba dari arah belakang.
Dinda menoleh, "Hai... Dinda aja kali ya," ucapnya dengan terkekeh.
"Oke Dinda aja," Leon mengangkat ibu jari dan telunjuknya yang membentuk huruf O. Membuat Dinda terkekeh kembali.
"Oh iya, aku lupa kemejamu Loen!" Dinda menepuk jidatnya.
"Leon, L E O N...." sergah Leon dengan mengeja satu persatu huruf nya.
"Aishhh... maaf aku kadang suka gitu yaa duh!" ungkapnya dengan menepuk jidatnya kembali.
Leon terkekeh, jangan sering menepuk jidatnya seperti itu,
"Kenapa?"
"Tidak baik... bisa sering kelupaan sesuatu!" Bisik Leon dengan mencondongkan tubuhnya, dan anehnya Dinda ikut mencondongkan tubuhnya mendekat.
Membuat Leon tergelak, benar-benar gadis yang unik.
"Masa sih, pantas saja aku sering melupakan sesuatu, itu karena aku sering menepuk jidat! Tapi kok aku belum pernah dengar penjelasan seperti itu."
"Mungkin artikelnya sudah dihapus atau entahlah, tapi memang begitu!"
Ting
Lift terbuka, mereka masuk kedalamnya dan beberpa orang yang lainnya. Membuat Dinda berada di posisi terjepit dibelakang, dengan Leon yang berada disampingnya.
"Perasaan lift ini biasanya tidak sesak begini!"
"Its monday you know!"kelakar Leon yang kini merentangkan tangannya untuk melindungi tubuh Dinda dari dorongan orang-orang didepannya.
Hingga Dinda dapat melihat wajah dan rahang tegas milik Leon tepat disampingnya yang juga tengah menatap dirinya, namun sedetik kemudian Leon maupun dirinya mengedipkan matanya,
Dinda membuang muka lalu menundukkan kepalanya, "Gak apa-apa,"
Ting
Lift terbuka, hingga udara segar masuk menggantikan rasa sesak didalam dan perlahan orang-orang keluar satu persatu.
"Fiiiuuyyhh...."Leon membuat nafas lega.
"Akhirnya...,Kamu gak apa-apa kan?"
"Enggak lah, aku tak punya penyakit asma kok," kelakarnya.
"Kalau adapun aku pasti bantuin kamu kasih nafas buatan!" gumam Leon.
"Hah... kamu ngomong apa?"
"Enggak aku gak ngomong apa-apa kok!"
Dinda menarik bibirnya tipis, "Ya sudah aku duluan yang Lee on," ucapnya penuh penekanan.
"Nah itu baru benar," Leon terkekeh.
Akhirnya mereka berpisah karena mobil mereka terparkir ditempat yang berbeda, Dinda masuk ke dalam mobilnya, memasang seat beltnya lalu menatap pantulan wajahnya di kaca spion sesaat sebelum melajukan mobilnya.
Namun ketukan di kaca mobil mengagetkannya, dia terperangah melihat Leon yang mencondongkan tubuhnya saat dia membuka kaca mobilnya.
"Kenapa Leon?"
"Apakah kita bisa makan siang bersama?Aku akan menemui mu ditempat kerja, bagaimana? kau mau kan?"
Dinda menatap Leon, otaknya sudah memerintahkan tidak, tapi hatinya tidak tega melihat wajah Leon.
"Ayolah, just lunch...."
Dinda mengangguk, "Baiklah, tapi kau yang traktir ya," Ujarnya terkekeh.
Yes....
"Siap sampai jumpa nanti siang,"
"Oke nanti aku sharelock, bye Leon," imbuhnya lagi dengan menutup kaca mobilnya kembali.
Dinda lalu melajukan mobilnya dari pelataran parkir, sementara Leon meninju udara dengan riang. Dia kembali berjalan menuju mobilnya dan melaju kan kearah berbeda.
.
.
Alan tengah duduk di kursi kebesarannya, dia memijit perlahan keningnya, Lalu memejamkan matanya perlahan.
Tak lama Leon membuka pintu dengan sedikit keras dan masuk dengan tergesa.
"Kau ceroboh Al, bagaimana bisa kau menembaknya dihadapan orang lain, kau gila...."
Alan sama sekali tak bereaksi, Leon terus saja mencercanya.
"Bagaimana jika orang itu melaporkannya pada pihak berwajib, Shi it kau malah membuat masalah baru Al,"
"Aku harus mencarinya," ungkapnya namun tetap memejamkan mata.
"Memang, kau harus mencarinya, membungkamnya atau bahkan membunuhnya sekalian! Aku akan menyuruh orang mencarinya sekarang juga!"
Alan membuka matanya, "Tidak usah, biarkan aku yang mengurusnya!"
"Tapi Al...."
"BIAR AKU SAJA LE...."
"Terserah, jangan sampai kau membuat kebodohan lagi Al, jangan sampai ada Jhony berikutnya,"
Leon berlalu keluar dengan membanting pintunya keras. Sementara Alan menghembuskan nya dengan kasar. Kehadiran gadis itu mengusik relung hatinya, tapi bagaimana, gadis itu melihatnya tengah menembak,
Aku harus segera mencarinya sendiri.
Alan membuka laci dimana foto dan info tentang gadis bertopi itu dia simpan. Lalu diambilnya foto gadis dengan rambut terurai berwarna cokelat.
Dia menatap lekat Foto itu, mengingat peristiwa pertama kali mereka bertemu di malam itu. Dia akan menemukannya sebelum Leon atau yang lain yang menemukannya.
Alan meraih ponselnya lalu mendial nomor seseorang yang dapat membantunya saat ini.
"Mac... kau bisa membantu ku?"
" Apapun...."
"Aku akan mengirimkan fotonya, cari dia sebelum yang lain menemukannya."
"Baik, kapan kau kembali ke kantor?"
"Setelah urusan ku disini selesai Mac,"
"Oke...."
Alan lalu menutup sambungan teleponnya, dan kembali menatap foto itu. Sementara dia melupakan selembar kertas berisi info lengkap tentang gadis itu.