
Dinda mengangguk dengan suara tersedu sedan, melingkarkan kedua tangan pada pinggang Alan, anggaplah dia bodoh, karena begitu mudahnya luluh pada Alan, walaupun sudah berusaha menahan gengsi tetap saja tidak bisa, dia begitu mencintai Alan dengan segenap jiwa raga.
Alan mengenadahkan kepalanya dengan Kedua tangan berada dipipinya, "Aku akan segera menikahimu, kamu masih mau kan menikah denganku? Atau kau masih ingin aku melakukan sesuatu untukmu?"
"Dasar bodoh! Ya lakukan saja, kenapa mesti bilang padaku? Ah ... kau ini memang kaku!!"
Alan tersenyum, "Benar! Susah juga ternyata, melepaskan sifat yang sudah melekat dalam diriku ini!"
Dinda hanya mendengus, lalu menelengkupkan kepalanya di dadanya, "Aku sangat merindukanmu...."
"Hm ... aku tahu! Jadi jangan pernah melihat pria lain, apalagi berfikir kau menyesal telah kembali kemari, aku sudah kalah, benar-benar kalah jika itu terjadi."
Dinda tidak menjawab, dia masih tidak menyangka pria itu sepertinya bukan Alan, pria yang terkenal dingin dan mampu melakukan apapun itu berubah menjadi aneh.
"Kau benar-benar salah minum obat sepertinya!!"
Alan terkekeh, "Ayo kita pergi dari sini?"
Dinda mengenadahkan kepalanya lagi, "Benar-benar tidak ada kejutan untukku, yang tiba-tiba kau melakukan pesta pernikahan? Seperti yang dilakukan orang-orang?"
"Kenapa kau ingin sekali melakukannya? Hem ... kau ingin mendapat kejutan seperti itu? Itu sangat konyol sayang!" ujarnya mencubit lembut pipi Dinda, membuatnya membelalakkan kedua manik coklat miliknya, "Kau ... apa kau tidak salah minum obat?"
"Tidak? Kenapa, apa aku terlihat aneh?" tanyanya heran.
"Sedikit, tidak biasanya kau bersikap manis seperti ini! Kau kan biasa kaku!"
Alan mendengus, "Aku berlatih dari novel kampungan yang kau baca, menjijikan!
"Sikap seperti itu yang disukai banyak perempuan, manis, hangat dan juga baik hati! Menyimpan kita di urutan pertama, seperti adikmu tuh!" Ujar Dinda terkekeh.
"Terlalu konyol! Lebih baik kita pergi, bunda sudah menunggu kita di rumah!"
Dinda memukul lengannya, "Jika tidak ada kejutan untuk apa ku membawaku kemari? Benar-benar aneh!"
Dinda mendelik ke arahnya, "Aku tidak yakin kau bisa melakukannya."
"Bisa, hanya saja melakukan saat ini tidak lah pantas, kita belum menikah! Pokoknya gitu aja."
Dinda mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Tidak ada ... ayo pergi!" ujarnya dengan melangkah keluar, dan membuka pintu mobil untuk Dinda.
Sementara Jerry dibuatnya melongo, "Udah berantem nya? Gitu doang?" ujarnya menyikut lengan Leon.
Leon terkekeh, "Mereka memang aneh!"
Dinda menoleh pada mereka berdua yang berdiri disamping mobil, "Hai Leon!?"
Leon melambaikan tangan ke arahnya, lalu bergegas menghampirinya, Alan berkala memutar ke arah kemudi, "Kau pulang dengan Jerry dan yang lain, jangan ganggu aku!"
"Astaga ...!!" gumam Leon, "Tadi saja marah-marah!!"
Jerry menepuk bahunya, "Dia jadi sepertimu, kalian sama saja!" lalu tergelak.
Alan masuk kedalam mobil dan memasang seat beltnya, lalu menoleh pada gadis disampingnya, "Terima kasih! Karena kamu sudah mau kembali."
Dinda mengangguk, "Itu karena aku mencintai pria macam dirimu! Kalau tidak, mana sudi aku melakukannya!"
Cup
Alan mengecup pipi Dinda, lalu melajukan mobilnya, sementara Dinda masih menatapnya dengan mulut menganga, "Eeeh..."
"Itu hadiah dari ku! Kata penulis novel.yang kau suka, wanita akan senang jika tiba-tiba pria yang disukainya, melakukan hal itu."
"Hah ... Favoritku? Kau membaca novel seperti itu?"