
"Dasar bos gila, aku akan mengutukmu!"
Dinda tersungut-sungut keluar dari outlet itu. Bahkan menyeret sahabatnya yang mengajak mencari benda itu ditempat lain.
"Ayolah Din, kita kan bisa mencarinya lagi!"
Entah kenapa darahnya mendidih, perasaan marah meliputi Dinda, topi itu salah satu pendukung yang akan digunakannya. Namun kini kesempatan itu hilang begitu saja hanya karena pria suruhan yang merebutnya.
Dinda menghempaskan bokongnya disalah satu coffe shop, wajahnya mengkerut, dengan bibirnya yang menukik. Berkali-kali Metta membujuknya namun tak berhasil juga.
"Aku sangat kesal Sha, rasanya ingin kucabik-cabik wajahnya."
Metta terkikik, dalam keadaan kesal pun wajah Dinda yang biasa ceria itu sangat menggemaskan sekali.
Dinda menggebrak meja, "Jangan tertawa, aku serius!"
Metta tergelak, "Iya... iya aku percaya, dengan kemarahan seperti ini kau pasti bisa mencabik-cabik orang. Lantas siapa yang akan kau cabik, Bos gila itu? hahahah...."
"Iya ... lihat saja! kalau aku sampai bertemu dengan nya aku akan mencabik wajahnya, mata yang katanya mampu membunuh itu akan ku tusuk, seperti ini!" Dinda menusuk cake diatas piring dengan garpu. lalu memasukkan cake itu kedalam mulut kecilnya.
"Lalu kau akan memakan biji matanya begitu?" Metta kembali tergelak, melihat tingkah Dinda.
Dinda merengut, "Sialan, kau semakin membuatku kesal Shaun."
Metta tak berhenti tertawa, hingga keluar air mata, dan dia menyekanya dengan jarinya. "Astaga, kamu itu konyol sekali Sardin, bagaimana kau akan mencabik-cabik orang yang bahkan tidak kau tahu, kau ini terlampau bucin, sampai melakukan hal konyol itu, kenapa kau tidak memakai rambut palsu dan tompel di wajahmu, untuk menjerat si manekin itu!"
"Sialan, dasar sahabat laknat!! Tunggu saja, kau akan merasakannya nanti, bagaimana rasanya menjadi budak cinta!" wajah Dinda berubah menjadi berseri, dengan bibir yang mengembang dan mata berbinar membayangkan ciuman Alan."
"Sungguh menjijikan!" Metta menggelengkan kepalanya.
"Kau belum tahu dahsyat nya doa orang yang tengah dianiaya kan, dapat menembus langit ke 7 sekalipun." Dinda berkelakar.
Metta tersenyum, "Teraniaya apa ppfft... kau sudah gila!" ucapnya kembali menyuap.
"Sudah lah aku mau pulang saja, bibi pengurus rumah akan datang hari ini, kau mau ikut tidak?"
"Bibi pengurus rumah? sejak kapan kau memakai jasa orang lain untuk mengurus apartementmu?
"Beberapa minggu lalu, bibi itu dari Apartemen lama ku yang butuh pekerjaan."
Metta hanya beroh ria.
Akhirnya mereka pulang setelah tidak berhasil menemukan benda yang dicari, Dinda kembali ke Apartement setelah mengantarkan sahabatnya terlebih dahulu. Benar saja bibi pengurus rumah sudsh menunggunya didepan pintu.
"Tuhkan sudah kubilang, bibi ingat tidak kode pintu ku ini! Selalu saja lupa," ujar Dinda dengan menekan kode access pintunya, lalu masuk.
"Bibi sudah tua Non, harap maklum!" ucapnya mengekor dibelakang Dinda.
"Kalau gitu kenapa bibi masih saja bekerja?Apa Lastri masih sering mengabaikan bibi...." Dinda mengeluarkan Nasi yang dia beli barusan keatas piring.
"Makanlah dulu bi ...." imbuhnya lagi
"Nanti saja Non, bibi mau langsung bersih-bersih saja, kalau makan dulu nanti bibi malah mengantuk."
"Lain kali kesini nya lebih baik pagi saja bi, jadi pulangnya tidak selalu malam!"
"Bibi kan harus menunggu cucu bibi tidur dulu,"
"Bibi ini alasan saja! Ya sudah aku ke kamar dulu yaa. Nanti jangan lupa di makan."
Dinda masuk kedalam kamar, dia merebahkan tubuhnya dikasur. Entah berapa lama dia akhirnya terlelap, hingga bibi pengurus rumah kesulitan untuk pulang. Hingga larut malam.
"Astaga, bibi kenapa tidak membangunkanku?"
"Bibi gak enak Non!"
"Ya sudah kalau begitu aku antar bibi pulang, tunggu sebentar, aku ganti dulu baju."
.
.
Sementara di gedung yang menjulang tinggi, seseorang bertubuh tegap memandang kearah luar dari kaca di kantor nya.
"Apa kau menemukannya?"
"Iya bos, aku menemukannya. Walaupun aku harus merebutnya dari seorang gadis!" ucap nya dengan tertunduk.
"Aku tidak bertanya caranya bagaimana!"
"I-iiya bos...." pria jangkung kurus itu keluar dengan segera setelah meletakkan satu benda diatas meja.
"Keluar ...."
Pria jangkung itu membungkuk lalu keluar dari ruangannya.
Alan menatap benda yang dibawa oleh orang suruhannya, dia menghempaskan tubuhnya di sofa dan mengamati topi itu.
Alan melemparkan topi itu keatas meja. Dia memandang langit-langit ruangannya. Sementara Leon sudah masuk kedalam tanpa dia sadari.
"Apa ada masalah?"
Alan tersentak, "Sialan, kau membuatku kaget!"
"Memangnya apa yang tengah kau fikirkan?"
Leon ikut duduk didepan Alan, mengambil sebatang rokok yang terletak di atas meja, lalu membakarnya.
"Bisnis kita hampir tercium, aku harus memindahkan barang secepat mungkin."
"Bodoh! Aku tidak mau tahu, selesaikan dengan baik."
Alan meraih ponsel dan juga topi yang dilempar tadi, dia kemudian bangkit dari duduknya.
"Aku harus pergi, setelah urusan ku selesai. aku akan menemuimu!"
"Baiklah ...."
Alan akhirnya keluar, dia masuk kedalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
"Aku harus memastikannya sekali lagi,"
Alan melajukan mobilnya ke apartemen lama milik Dinda, dengan menatap topi yang dia simpan di kursi sebelahnya.
Tak lama kemudian dia sampai, apartemen yang lebih cocok dibilang Rumah susun itu tampak sepi, Alan menghentikan mobilnya. Dia kemudian turun dan masuk kedalam.
Alan masuk kedalam lift, ingatannya kembali pada saat Alan menggendong seorang gadis menaiki tangga. Dan bodohnya dia tidak memperhatikan dengan seksama wajahnya.
"Aku memang tidak peduli waktu itu, lantas kenapa sekarang aku mencari tahunya, bodoh sekali!" ucapnya.
Ting
Lift terbuka, dia berjalan ke arah nomor yang dia ingat.
"Sudah kubilang lebih baik datang pagi, bagaimana bibi ini! Rabun jauh bibi itu karena faktor usia, iya kan?"
Samar-samar Alan mendengar suara, dia menatap punggung seorang gadis yang tengah memapah seorang ibu paruh baya, dengan memakai jaket hoddie hitam persis gadis yang dia ingin temui sekarang.
"Tunggu!"
Sekilas mereka berdua menengok kearah belakang, dan alangkah terkejutnya Dinda saat dia melihat Alan yang berdiri menatapnya.
Dengan cepat Dinda menarik tudung hoodie yang menutupi rambutnya hingga dahi dan matanya tidak terligat.
"Astaga...kenapa dia bisa ada disini?"
"Kau ... bisa kita bicara sebentar?"
"Aku..?"
"Iya kau, cepatlah aku tidak punya banyak waktu."
"Bibi aku pergi dulu, bibi segera masuk dan istirahat ya." Bibi itu mengangguk.
Dinda mengekor dibelakang Alan, dengan perasaan yang campur aduk, bahagia juga takut, dia bahkan sempat memeluk udara dibelakang Alan, membayangkan yang tengah dia peluk adalah Alan.
"Wanginya masih sama seperti malam itu." gumam Dinda menarik nafas panjang, seolah mengumpulkan aroma parfum yang dikenakan Alan dan dikumpulkan didalam hidungnya.
Hingga Alan tiba-tiba berbalik, dan Dinda menabrak dada bidangnya. Dia kaget, hingga dengan cepat menundukkan kepalanya.
"Apa kau memang selalu ceroboh?"
"Ii--iya...bu--kan emmph maksudku tidak." Sahut Dinda gelagapan.
Alan tiba-tiba menyodorkan topi itu pada Dinda, tanpa berkata apa-apa hingga tangan Alan menggantung begitu saja.
"Ambillah, kau sengaja membiarkan tanganku pegal!"
Lagi-lagi Dinda tersentak, "Masih saja galak, kita kan sudah berciuman." gumamnya pelan.
"Apa kau bilang?
"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa!"
"Jangan pernah kau ceritakan hal itu kepada siapa-siapa, kau faham? Atau kau harus membayar hutangmu padaku!"
Dinda mengangguk, namun sekejap kemudian menggeleng, "Hutang... Hutang apa?"
Bersambung
.
.