Assistant Love

Assistant Love
Penggoda



"Hai...Sudah mau pergi?"


Dinda menoleh, "Hai Leon, kau baru turun?"


Leon melirik jam tangan, "Hmm... kurang lebih setengah jam yang lalu."


Dinda urung menyalakan mobil nya, dia berdiam diri dengan lengan yang menonjol keluar, menempel pada pintu mobilnya, "Setengah jam yang lalu? Terus ngapain masih disini...."


Leon terkekeh, "Nungguin kamu...."


Dinda tersentak, dia mengibaskan tangan nya, "Kau ini...Untuk apa menungguku? Aku tidak punya hutang kan," Lalu terkekeh.


"Tentu saja untuk melihat wajahmu sebelum pergi ke kantor, memangnya kau harus berhutang dulu agar aku bisa melihatmu," ucapnya dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


Iya aku rela berhutang banyak, agar bisa melihat My Sweety Ice.


Sekarang sudah melihat wajahku kan! Kalau begitu, aku pergi dulu yaa, bye Leon."


"Tunggu, kit--"


Dengan cepat Dinda menyalakan mesin mobilnya lalu menginjak pedal gasnya. Sementara Leon berdiri mematung sesaat setelah melihat mobil Dinda bergerak semakin menjauh.


Dasar ... aku bahkan belum sempat mengatakan apapun, padahal aku ingin mengajaknya makan siang.


Dinda mengendarai mobil nya dengan cepat, dengan musik yang mengalun mengiringi perjalanan pernah semangatnya,


Kau boleh acuhkan diriku


Menganggap ku tak ada


Tak akan merubah perasaan ku


Kepadamu...


Ku yakin suatu saat semua akan terjadi


Kau akan mencintaiku..hoohoo tak akan pernah melepaskanku.


Uuuuuhuuuu.


Dinda terkekeh sendiri. Suatu hari nanti.


Dinda terus mengikuti suara vokal yang saat itu kenapa bisa kebetulan berputar di tape mobilnya. Lagu yang pas dengan suasana hatinya sekarang.


Alam pun berpihak padaku. gumamnya dengan terkekeh.


Ku janjikan aku ada....huuhuuhu..


Saking terlalu senangnya, dia melewati kantor nya hingga beberapa meter.


"Astaga, kan ...kelewat! Ah... aku jadi harus berputar arah," ucap nya namun tetap dengan tersenyum.


Bodoh kan jadinya.


Tak lama kemudian Dinda tiba di kantor, dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.


"Pagi..." sapanya pada security.


"Pagi juga Mba Din, kelihatan nya lagi happy nih,"


"Iya dong pak...hehe"


"Pagi...." sapanya pada siapapun yang kebetulan melintas didepannya.


"Pagi...." sekali lagi dia melambaikan tangan pada seseorang yang berjalan menatapnya. Entah kenal ataupun tidak, yang jelas dia sedang senang dan ingin berbagi kesenangan dengan semua orang, lalu dia masuk kedalam ruangannya,


"Selamat pagiiiiii...." selorohnya saat memasuki ruangan.


"Yaa ampun, kau gila!" ucap rekan-rekannya.


"Suaramu itu lho, bikin orang hamil mendadak melahirkan," seru rekan prianya yang duduk paling ujung.


"Bagus dong, jadi meringankan tugas dokter, semoga anak dan ibunya sehat yaa." kelakarnya dengan senyuman paling lebar.


"Sha ... temen mu tuh! Apa perlu dijemput dinas sosial, pagi-pagi udah berisik saja."


Metta yang sudah datang pun tak kalah heran, "Sardin duduk, berisik tahu...."


"Hai Sha...." sapanya dengan berlari kecil menghampiri sahabatnya lalu memeluknya, "Gimana udah gak sedih lagi kan!" Tanya nya lagi.


"Jangan berisik, bikin rusuh aja, masih pagi juga!" sungutnya kesal dan melepaskan tangan Dinda yang masih melingkar dibahunya.


"Sorry Sha, habis aku lagi seneng,"


"Kenapa? penulis favorite mu update sehari 3 kali, atau kamu dapat bonus pembaca!"


"Apaan sih... sewot banget deh sama hobi aku, asal kamu tahu yaa," telunjuknya mengarah pada Metta.


"Itu hobi aku dari dulu...." Dinda terkekeh.


"Hobi apaan...!"


"Heh...udah deh ini gak ada hubungan nya dengan hobi aku ya," Dinda menepuk lengan Metta dengan keras.


"Dih mau marah gak jadi...!"


Dinda memeluk kembali sahabatnya, "Aku gak bisa marah sama kamu Sha...."


"Jadi gimana, masalah mu udah kelar?"


Metta menggelengkan kepalanya, "Belum..., entahlah aku sendiri bingung!"


"Kenapa?" Dinda menarik kursi dan duduk disebelah Metta.


"Katanya dia udah gak pulang kerumah,"


"Terus dia kemana?" Metta menggelengkan kepalanya.


"Udah tenang aja, kamu bisa ngomongin ini semua, toh dia juga masih ke kantor kan?" Metta mengangguk.


"Udah ah, jangan bahas masalahku terus, kamu belum cerita apa-apa,"


Dinda bangkit dari duduknya, "Masih terlalu rumit, entar aku cerita kalau sudah gak terlalu rumit. Yaa meski sekarang ada kemajuan. Semalam aku ketemu dia," ucapnya dengan satu tangan yang menutupi mulutnya sebelah, agar tidak ada yang mendengarnya.


"Siapa?" tanya Metta dengan alisnya yang bertaut.


Dinda terkekeh, "Ada deh pokoknya, nanti kaget kalau aku ngomong sekarang, lagian kamu lagi punya masalah,"


Dinda kembali berjalan menuju kubik meja kerjanya,


"Kebiasaan sih Dinda, kursi gak di balikin!" yang punya kursi tersungut dengan mendelik ke arah Dinda.


"Tinggal tarik jangan sewot," teriak Dinda dari mejanya.


"Dih dasar stress...." ucap nya kemudian.


Sementara Alan tiba dikantor, berjalan gagah dengan setelan jas dan sepatu yang mengkilap. Tanpa Ekspresi, dan kaku.


Membuat para karyawan yang melintas mengangguk lalu menunduk saat melihatnya, sedangkan pandangannya tidak pernah melihat siapa saja yang menatapnya. Tidak peduli meskipun ribuan mata karyawan perempuan menatap nya dengan damba.


Cintya tersenyum saat melihat atasannya keluar dari Lift, "Pagi Pak...apa kabar?"


"Hmmm..., siapkan agenda ku hari ini!"


"Baik Pak,"


Alan yang hendak masuk kembali kedalam ruangan, tertahan oleh Cintya yang mencekal tangannya. Dia menoleh pada Cintya yang melangkah maju.


"Maaf Pak..." Cintya membenarkan dasi Alan yang sedikit miring, meskipun sebenarnya dasi itu sudah terlihat rapi sebagaimana mestinya.


"Dasinya miring...." ucap Cintya dengan suara yang dibuat mendayu-dayu.


Lalu menatap wajah Alan yang tengah menatapnya juga.


Senyuman terbit di bibir sen sual milik Cintya, dia semakin mendekatkan wajahnya, dengan sedikit menggigit ujung bibirnya.


Alan bersikap biasa saja melihat Cintya yang terlihat menggodanya pelan-pelan.


"Masuk keruanganku," Ucap Alan lalu menghilang dibalik pintu.


Sementara Cintya tersenyum penuh kemenangan, dia meraih agenda, namun sebelum masuk dia mengedarkan pandangan nya terlebih dahulu lalu menyusul Alan masuk ke ruangan.


Terlihat Alan tengah berdiri membelakangi meja, dengan ponsel di tangannya, Cintya semakin mendekat. Tangannya menyusuri meja dan berjalan memutar dengan hentakan high hill yang sengaja dia pelan kan.


Alan berbalik dan tubuhnya tepat menabrak tubuh Cintya yang lagi- lagi menggigit ujung bibirnya, memasang wajah penuh ga irah yang bisa mengundang has rat pria yang melihatnya naik seketika. Dua benda bulat miliknya yang menonjol menempel pada dada bidang milik Alan.


"Sshhh...."