Assistant Love

Assistant Love
Tidak punya perasaan



Lalu dia mendudukkan perlahan tubuhnya,


"Maaf tentang nori itu, aku tidak tahu kalau kau alergi, aku benar-benar tidak tahu."


"Jadi sekarang kau tahu?" ujar Alan.


Dinda mengangguk, "Aku tahu kau alergi nori, pelayan tadi yang memberitahuku."


"Bukan itu." ujar Alan.


"Hah...."


"Jadi sekarang kau tahu? Kalau kau bodoh....ayo pergi!"


Alan bangkit dari kursi dan berlalu keluar dari kafe itu, namun seutas senyum terbit dari sudut bibirnya.


"Hei, tunggu!! Ini ...." Dinda melirik nasi goreng yang sama sekali tidak disentuhnya lalu ikut bangkit menyusul Alan.


"Bahkan dia belum mencoba masakanku!" sungutnya dengan mencebikkan bibir.


Alan keluar dari kafe dan berjalan menuju tempat di mana mobilnya terparkir. Sementara Dinda baru saja keluar dari kafe dan,


Brukk


Seseorang menabraknya dari belakang, pria bertubuh besar itu membuatnya terhuyung hingga membentur rolling door.


Srrrettt


"Awwss..." ringisnya.


"Kau tidak apa-apa? Maafkan aku, aku tidak sengaja." ujarnya dengan kedua tangan yang menangkup.


"Tidak apa-apa." jawab Dinda dengan menepuk-nepuk baju lengannya.


"Sepertinya baju mu sobek." ujar pria asing dengan melihat lengan Dinda.


Dinda melihat lengan bajunya, "Ah iyaa, mungkin terkena ujung ini, lumayan tajam juga ternyata." ujarnya dengan melihat lapisan Rolling roll yang rusak dan menonjol keluar.


Sementara Alan berdecak saat melihat Dinda tengah berbicara dengan pria tinggi besar itu.


"Ayo pergi aku tidak punya waktu menunggu kalian berduaan!" ujar Alan yang tiba-tiba saja sudah berada disamping Dinda.


"Maaf?" pria itu mengernyitkan dahi.


"Akira ayo pergi!" sentaknya.


"Hei, kenapa kau kasar sekali pada perempuan, aku hanya meminta maaf karena telah menabraknya saat berjalan!" ujar pria itu menjelaskan.


"What ever!" ucap Alan dengan tajam.


Pria itu tampak mengernyitkan dahi, "Maaf apa kau punya masalah denganku?"


Alan tidak menjawab, dia hanya menatap tajam kepada pria asing itu.


"Sudah, lebih baik kita pergi dari sini." Dinda mendorong Alan hingga mereka menjauh dari pria tinggi besar yang tak kalah menyorot pada Alan.


"Kenapa dia?" ujar pria itu mengerdikkan bahu lalu mengikuti pergerakan mereka hingga masuk kedalam mobil.


Alan masuk kedalam mobil dengan membanting pintu, sementara Dinda menghembuskan nafas panjang lalu masuk kedalamnya.


Dia menyalakan mobilnya, lantas melirik pria yang masih melihat kearah mereka, tidak lama kemudian dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Tidak ada yang bicara, Alan sibuk dengan fikiran nya, sementara Dinda masih tersungut-sungut. Melihat baju lengannya yang sobek.


"Apa kau selalu begitu?" Ucap Alan.


Dinda menoleh, "Begitu apa nya?"


"Seakrab itu dengan seorang pria yang baru saja kau kenal?" ujarnya dengan mencengkram stir dengan kuat.


"Tidak juga."


"Cih ... murahan!" gumamnya.


"Kau bilang aku murahan? Kau tidak lihat, dia hanya meminta maaf karena menabrakku, itu saja!" tegas Dinda.


"Kau membelanya?" ujar Alan dengan dingin.


Dinda mendengus, "Tentu saja, karena dia tidak bersalah, dan kau? Kenapa kau marah...."


"Selain bodoh, tingkat percaya dirimu juga terlalu tinggi, sampai tidak bisa membedakan mana gula dan mana garam." ujar Alan dengan geram.


Dinda lagi-lagi mendengus, "Kau....eeuggh!!"


Dia melipat kedua tangan di dadanya, "Turunkan aku disini saja!"


"Disini?Kau yakin!?"


Aku ingin tahu apa kau tega menurunkan aku sendirian di tempat begini!


Dinda mengerdikkan bahu, "Ya tentu saja aku yakin,"


"Memangnya kau akan kemana?" ujar Alan dengan menepikan mobilnya.


Sialan dia benar-benar menghentikan mobilnya, mati aku!


"Bukan urusan mu! Bukankah kau mengajakku keluar hanya ingin mengejek masakanku?" ucapnya dengan kesal.


Dinda membuka handle mobil dan keluar dari mobilnya perlahan berharap Alan berubah fikiran dan memanggilnya untuk masuk kembali.


"Hei....!"


Akhirnya,


Dengan mencondongkan tubuhnya dia melihat pada Alan, "Apa lagi?"


"Kau lupa tasmu." ujar Alan yang menunjuk tas Dinda yang masih berada di kursi jok.


Sialan.


Dengan tersungut Dinda menyambar tas kecilnya dan membanting pintu dengan keras. Lalu dia menghentakkan kaki nya, sementara mobil Alan kembali melaju.


"D****asar tidak punya perasaan****." teriak Dinda saat melihat mobil Alan melesat dengan cepat.


"Dia benar-benar tega meninggalkan ku dijalanan yang sepi, dan sendirian begini?" Umpatnya.


"Dan kau bodoh, karena tetap menyukainya, sialan bodoh...bodoh!!" Dinda merutuki dirinya sendiri.


Sementara Alan sudah kembali pulang ke Apartemennya, dia melewati meja makan dan menatap kotak makan pink milik Dinda. Lalu dia merogoh ponselnya, berharap Dinda akan menghubunginya dan.


Hei ... maaf tapi aku tidak berharap begitu!


"Sialan aku pasti sudah gila." gumamnya dengan mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Lalu dia menghempaskan tubuhnya begitu saja di sofa.


.


.


Dinda benar-benar berjalan sendirian menuju halte bis tanya jaraknya masih lumayan jika harus berjalan kalau. Dia berjalan dengan menendang-nendang sesuatu yang ditemukannya.


"Sialan ... dia tidak hanya tidak peka, tapi dia juga sangat tega!!"


Sementara seseorang tengah memicingkan mata kearahnya. Dengan perlahan mengikuti pergerakan Dinda diam-diam. Dinda yang merasa diikuti itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh.


Namun dia tidak menemukan sesuatu dibelakang. Bahkan tidak ada orang satu pun, Dinda sengaja menyalakan musik dengan ear phone agar dia tidak merasa kesepian.


Dan orang itu terus mengikuti langkahnya, jika Dinda berhenti, orang tersebut juga akan berhenti, begitupun juga dengan sebaliknya.


Dinda mempercepat langkahnya, dengaan tergesa-ges, masalahnya adalah dia merasa diikuti pelan seseorang yang entah siapa.


"Sialan, gara - gara dia." ucapnya.


Akhirnya Dinda sampai di halte bis, dia langung mendaratkan tubuhnya tempat pemberhentian bis itu dengan helaan panjang.


"Benar-benar tidak peka!! Harusnya aku bisa melupakan dia. Sialan." Dinda mendekap memeluk tasnya.


Dinda melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dengan cepat.


"Tahu begini aku tidak mau diajak olehnya lagi, menyebalkan!!"


Dengan mata yang menahan kantuk dia menunggu kedatangan bis, menyandarkan kepalanya di tiang penyangga yang ada di halte bis itu. Membuat beberapa orang yang berada disana melihatnya sekilas, termasuk seseorang yang mengikutinya dari tadi.


Bis akhirnya datang, Dinda pun naik dengan beberapa orang, termasuk dengan seseorang yang terus memperhatikannya tersebut. Dengan sengaja dia duduk di samping Dinda, tanpa dicurigai nya.


Dia terlihat mengetikkan sesuatu di ponselnya lalu kembali melirik Dinda yang menyandarkan kepalanya.