
"Kurang ajar!" gumam Leon.
Sementara Pria itu berseringai.
"Kau tidak ada apa-apanya bagiku."
Leon berdecih, "Jangan banyak bicara, ayo kemarilah. Tunjukan kemampuanmu!" ucapnya dengan memasang kuda-kuda.
Dengan jurus bela diri yang berbeda mereka berduel, saling menyerang dengan keahliannya masing-masing. sementara Alan masih diam memperhatikan keduanya.
"Semakin banyak bicara kau ini!"
Pria itu memintir pergelangan tangan Leon lalu dia berputar hingga tangan Leon tertarik ke belakang, Leon tak kalah cepat, dia menerjang meja hingga akhirnya bersalto hingga pria itu terjerembab.
Awwwsss....
Leon memiting leher pria yang masih tersungkur dilantai, "Menyerah sajalah kau?"
Pria itu kesulitan bernafas, dengan susah payah menepuk nepuk lengan Leon, lalu menjambaknya dengan keras, hingga Leon meringis,
"Hei kau gila, cara main mu seperti perempuan! Menyedihkan."
"Lepaskan bodoh!!" ujar pria itu.
Alan menggelengkan kepalanya, "Apa kalian tidak ada pekerjaan?"
Keduanya saling menoleh kearah Alan, lalu sama-sama berdecak. "Aku sudah mengalahkanmu ribuan kali kau masih saja menantangku!"
"Hah, ribuan apa?" ujar Leon yang mengulurkan tangannya pada pria yang masih duduk dilantai.
Pria itu meraih tangan Leon, lalu menarik bahunya dan berpelukan dengan saling menepuk punggung.
"Apa kabar Jerr?" Ucap Leon padanya.
"Kau sehat Le....lama tak jumpa kita," ucap pria yang dipanggil oleh Leon.
"Gimana kalau kau melawan nya sekarang?"Ucap Leon menunjuk Alan dengan matanya.
"Aku akan senang hati menontonnya," ujar Leon lagi.
"Hei, kau gila seperti dia!" ucap pria itu yang kini menatap kearah Alan.
Tak lama Alan bangkit dari duduknya, dengan kedua tangan yang bertumpuk pada meja, lalu menggebraknya.
"Jangan sembarangan bicara Jerry!!" hardiknya.
"Woiiii...santai bos! Jangan berteriak, teman, kita teman kan!!"
Aman kembali duduk dengan memutar bola matanya tanda malas.
"Sudahlah duduk saja, kau juga!!" ucapnya pada Jerry.
Jerry menarik kursi dan mendudukkan bokongnya di kursi itu. Tak lama Leon pun ikut duduk disamping Jerry, berhadapan dengan Alan, yang masih setia dengan sebatang rokok disela jarinya.
"Gimana Al, apa dia suka barang yang kau berikan?" tanya Jerry padanya.
Alan mengibaskan tangan kearah nya, lalu menyesap kembali tembakau itu.
"Heh Jerr ...apa yang kau maksud?" tanya Leon penasaran.
Jerry menutup mulut nya dengan tangan.
"Dia menyuruhku meminta tanda tangan seorang penulis haha, jelek sekali tulisannya."
Leon mengernyit, "Benarkah....? Sudah aku duga, dia sedang jatuh cinta." imbuh Leon.
"Benarkah? Manusia es ini bisa juga jatuh cinta ternyata,"
Leon dan Jerry tertawa terbahak, mereka saling menepukkan sebelah tangan nya bersamaan.
"Hei kalian sedang membicarakan aku, secara terang- terangan lagi, kalian mau aku habisi sekarang juga!!"
Tangan Jerry terangkat ke depan dada, "Woo... santai! Kalau marah begitu berarti benar apa yang dikatakan Leon, kau memang jatuh hati padanya, iyakan!"
"Dari mana kau tahu jika barang itu aku berikan pada seorang gadis, kau paranormal?"
Jerry terkekeh, " Kau ini memang kaku, semua orang jelas tahu siapa yang akan membaca novel semacam itu. Memangnya kau tahu isinya apa?"
Alan menggeleng, "Aku tidak tahu, yang jelas barang itu jelek."
"Harusnya kau baca, jadi kau tahu sedikit tentang masalah kebucinan!!" Jerry kembali tergelak.
Sementara Leon menggeleng kepalanya, "Dia mana mungkin mau membaca yang begituan,"
"Sekali-sekali baca lah, biar otakmu sedikit rileks, dan siapa yang beruntung mendapatkan hatimu yang selama ini disimpan di freezer?"
"Oh ... ayolah Jerr, dia ini tidak akan mengakuinya meski tengah perang dunia sekali pun! Lagipula berani sekali kau bicara begitu, kau mau mati ya?" ejek Leon.
Alan berdesis, "Itu karena kau lebih tua dari ku. Bahkan tua bangka!"
"Brengsek ... !!" umpat Alan.
Kedua sahabatnya itu tergelak bersama namun kali ini tanpa suara, lalu kembali seriuse saat wajah Alan yang datar itu semakin datar dan dingin.
"Bagaimana kau bisa kemari Jerr," tanya Leon mencairkan suasana mencekam.
"Paman yang menelepon, yang mengatakan kalian ada disini." Jerry mengarah ke sudut ruangan yang lain dimana seorang pria paruh baya melambaikan tangannya.
"Paman sudah tua, kasihan!" ujarnya lagi.
Alan berdecak, "Kalau kau kasihan padanya, kenapa tidak kau kasih dia uang yang banyak, agar dia tidak terus bekerja."
Krikk
Krikk
Jerry tergelak, "Kau sedang bercanda Al... gak lucu sama sekali!"
"Sudah lah aku mau kembali ke kantor, dan kau?" tunjuknya pada Leon.
"Ingat ucapanku!!"
Lalu Alan beranjak ke area dapur dan terlihat berbincang dengan pria paruh baya pemilik kafe yang selama ini menjadi tempat berkumpulnya mereka.
"Jaga diri Paman, jangan terlalu memaksakan diri. Beristirahatlah!!" ucap Alan.
"Tidak apa-apa...." ungkap pria itu mengangguk-nganggukkan kepala nya.
Alan lantas keluar dan dari kafe itu, meninggalkan Leon dan Jerry begitu saja. Bahkan dia melupakan Leon yang datang bersamanya.
"Sial ... dia benar- benar tidak berubah, dia bahkan melupakan aku, lalu bagaimana aku pulang?"
"Itu karena kau bodoh, kenapa juga kau ikut kemari!!"
.
.
Alan kembali ke apartemen miliknya, namun saat hendak masuk lift, seseorang menghampirinya,
Pppssttt...
Alan menatap tajam padanya, "Mau apa lagi, kau tidak cape terus mengikuti diam-diam?"
"Tidak ... aku akan tetap melakukannya jika aku ingin! Dan nih...." Dinda menyodorkan kotak makan berwarna pink padanya.
Alan menatap benda pink itu, lalu beralih pada Dinda yang tengah mengeratkan giginya hingga gingsul nya terlihat menggemaskan.
"Astaga...."
Ting
Lift terbuka, Alan masuk tanpa menghiraukan Dinda, namun ternyata Dinda mengikutinya masuk kedalam lift.
"Kau mau apa?"
"Aku akan terus mengikutimu seperti hantu, jika kamu tidak mau menerima makanan ini!"
Alan menatap jengah, dia bergerak maju hingga Dinda harus memundurkan tubuhnya hingga menempel, dengan tangan yang menggebrak dinding lift Alan mengunci pergerakan Dinda. Nyali Dinda mengkerut, dia memejamkan matanya.
"Sebenarnya apa yang kau mau?" tanya Alan dengan tatapan menghunus pada Dinda.
Diam-diam memperhatikan wajah ketakutan yang tengah memejamkan matanya, menggigit bibir bagian bawahnya sedikit dengan kepala yang menunduk.
"Apa yang kau inginkan Akira? Apa aku harus menembakmu?" ujar Alan yang semakin mendekat dengan nada bicara dingin.
Dinda menggelengkan kepalanya, "A--aaku..."
"Bicara yang benar!!" sentak Alan.
Tanpa berkedip dia menatap wajah Dinda, iris mata coklat, pangkal hidung mancung bak perosotan, serta bibir yang tipis merona.
"A--ku ...."
Ting
Pintu lift terbuka, Alan segera keluar dari sana. meninggalkan Dinda yang ketakutan itu didalam lift begitu saja. namun dia juga menyambar kotak makanan berwarna pink itu, dan membawanya kedalam apartemen.
Alan menghempaskan kotak makanan itu diatas meja makan. Lalu menarik kursi dan menghempaskan dirinya. Perlahan Alan membuka kotak bekal itu dan mengernyit.
"Astaga...."