Assistant Love

Assistant Love
Gadis yang menyenangkan



Alan kembali ke Apartemennya, wanita yang berdiri dibelakang meja resepsionis mengangguk kearahnya, namun Alan hanya melirik sebentar lalu kembali berjalan kearah lift.


Sesaat dia menunggu lift terbuka, dia merogoh ponselnya dibalik jasnya, menggeser kunci layar benda pipih itu lalu mengotak-ngatik berbagai notifikasi yang masuk. Alan mengernyit, lalu kemudian terlihat kedua alisnya bertaut.


Ting


Pintu kotak besi itu terbuka, dia masuk kedalam tanpa mengalihkan pandangannya pada layar putih ditahannya, dia terus melangkah hingga masuk kedalam Lift.


Bruk


Alan terperangah, saat dia ternyata menabrak seseorang yang tengah berjalan keluar dari lift, hingga ponselnya terjatuh.


"Kau...?"


Alan masih terpaku saat melihat sosok yang ditabraknya ternyata Tasya,


"Sedang apa kau disini? Apa kau sedang memata-mataiku?" Alan menyorot tajam padanya.


"Maaf tuan, mau kemanapun saya bukan urusanmu dan yang pasti bukan seperti yang kau katakan." Tasya tak kalah menyorot pada Alan, kemudian dia berdecak karena lift ternyata sudah tertutup.


Itu artinya dia ikut naik bersamanya, dengan cepat dia menekan tombol berhenti namun lift tetap bergerak. Tasya semakin menyorotinya, "Semua gara-gara Anda."


Alan mengambil ponselnya yang terjatuh lalu mundur beberapa langkah hingga kebelakang. Sementara Tasya semakin keras menekan tanda stop.


"kalau kau tidak sedang memata-mataiku lantas kenapa kau begitu risau?" ucap Alan dingin.


Tasya menoleh kearahnya, "Karena aku tidak sudi melihatmu!"


Tatapan meraka saling beradu dengan tajam, ada perasaan dendam yang kembali mencuat pada diri Tasya, sementara Alan melihatnya dengan penuh kebencian.


"Lalu untuk apa kau datang kemari?"


"Bukan urusanmu!"


Keduanya saling menatap dengan tajam, keheningan menambah rasa yang mencekam didalam sana.


Ting


Lift terbuka, Alan melangkah keluar dengan menabrak bahu Tasya hingga terhuyung, dia melangkah keluar tanpa memperdulikan Tasya.


"Brengsek...." umpat Tasya.


Pintu lift kembali tertutup, Tasya melihat punggung Alan yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya! Pria brengsek,"


Tasya tak berhenti merutuki Alan, umpatan demi umpatan dia layangkan pada pria yang telah menghancurkan hidupnya. Dan satu-satunya pria yang bersikap sangat kasar dan juga dingin terhadapnya.


"Aku benar-benar membencinya." gumam Tasya saat berjalan keluar.


Lalu dia harus berjalan untuk sampai ditempat dimana mobilnya terparkir. Tasya terus mengumpat dengan gumamam-gumamam dari bibirnya. Saat dia hendak menyeberang, tiba-tiba suara klakson memekikkan telinganya.


"Awaaass...."


Hampir saja dia terserempet mobil jika tidak ada yang menarik tangannya dengan cepat.


Bruk


Tasya dan seseorang yang menarik tangannya tersungkur mengenai trotoar. Gadis itu buru-buru berdiri dan juga membantu Tasya berdiri.


"Apa kau tidak apa-apa?"


Keduanya saling menatap, "Aku tidak apa-apa," ucap Tasya mengusap sikutnya yang memar dan terlihat berdarah.


"Ya ampun kamu terluka, ayo sini kita obati dulu lukamu," Dia menarik tangan Tasya hingga mengikutinya.


"Tunggu disini," ucapnya, Tasya duduk di sebuah kursi tak jauh dari sana. Sementara dia masuk kedalam mini market yang ada disana.


Tasya mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya, dengan benda itu dia membersihkan lukanya, namun sebuah tangan menepisnya.


"Jangan memakai sapu tangan, tidak steril. Pakailah ini," menyodorkan antiseptik dan juga kassa pada Tasya.


Tasya menatap antiseptik itu lalu mengambil dari tangannya, membuka bungkusan Antiseptik juga Kassa dengan perlahan. Lalu dia tempelkan pada lukanya.


"Terima kasih,"


"Cx ... bukan begitu caranya! Biar ku bantu ...."


Dia merebut kassa dari tangannya dan mulai membersihkan luka Tasya dengan perlahan,


"Begitu caranya, pelan-pelan bukan ditempelkan saja seperti tadi, nanti malah tidak bersih dan timbul infeksi!" lalu dia membuka perekat plester dan menutup lukanya dengan plester itu.


"Kau sepertinya faham sekali apa kau suster? Atau perawat mungkin?" tanya Tasya penasaran.


"Hahaha, tidak aku hanya tahu saja, ini pernah kupelajari saat disekolah dulu, dan bukannya ini hal mudah dan semua orang pasti tahu,"


Perempuan itu menepuk bahu Tasya, " Tidak apa, tidak semua hal harus kita mengerti bukan?"


Tasya mengangguk,


"Terima kasih, terima kasih juga sudah menolongku tadi," ucap Tasya dengan tersenyum.


"Tidak apa-apa, kebetulan saja aku sedang lewat, dan melihatmu tengah menyeberang dengan melamun seperti itu."


"Ah, iya aku tengah memikirkan sesuatu hal yang tidak penting!" Tasya membersihkan celananya yang kotor.


"Kau dari mana, atau mau kemana? Apa perlu aku antar?" Tanya perempuan itu pada Tasya.


"Pertanyaanmu banyak sekali, aku jawab yang mana dulu!" Tasya tersenyum.


"Dia gadis yang menyenangkan."


"Sepertinya aku pernah melihatmu! Tapi aku ini pelupa, jadi aku lupa melihatmu dimana,"


Tasya menatap perempuan itu dengan lekat, "Benarkah?" Ucapnya.


Perempuan itu mengangguk, "Hm, tapi aku lupa dimana!" dengan terkekeh.


Perempuan itu bangkit dari kursi, menatap sekilas pada Apartemen yang berada di depannya kemudian melirik jam tangan di pergelangan tangannya.


"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa nanti," melambaikan tangannya pada Tasya.


"Tunggu,"


Perempuan itu berbalik,


"Kau tinggal didaerah sini juga?" seru Tasya.


Lalu dia mengangguk, "Aku tinggal di Apartemen dibelakang, 2 blok dari sini!" lalu dia kembali berbalik, meninggalkan Tasya yang masih terduduk.


"Rasanya aku juga tidak asing dengannya!" Tasya mengerdikkan bahu lalu bangkit dari tempat duduknya.


Dia kembali berjalan hingga sampai di mobilnya, merogoh kunci mobil dari tasnya dan masuk kedalam mobilnya.


"Astaga, aku bahkan lupa menanyakan siapa namanya! Tapi dia benar-benar menyenangkan dan juga baik hati."


Tasya melihat pantulan dirinya dari spion dalam mobilnya lalu menyalakan mobilnya dan melajukannya. Kembali membelah jalanan sore itu,


.


.


Didalam Apartemen Alan menjadi gusar, sejak terakhir kali bertemu dengan Tasya, dia tidak pernah memikirkan gadis itu sama sekali. Bahkan dia lupa kejadian yang terjadi antara dia dan juga Tasya.


Meski hari masih belum gelap dia tidak peduli, Dia terus menenggak wine dari botolnya langsung. Memikirkan semua hal tentang Tasya yang hanya membuatnya semakin membencinya.


Dreet


Dreet


Alan meraih ponselnya yang berdering, menatap penelefon yang ternyatan berasal dari Mac, lalu mengangkatnya.


"Hem ...."


"......"


"Aku segera kesana!"


Alan kemudian beranjak, menyambar jaket dan juga kunci mobilnya lalu keluar dari Apartementnya.


Dia memakai jaket kulitnya saat akan masuk kedalam mobilnya, membuat para penghuni yang melintas melihatnya tak karuan, juga ada yang terkagum melihatnya.


Sementara Dinda yang akan berbelok tak sengaja melihatnya, dia memicingkan matanya. Walau dari jarak tidak terlalu dekat itu Dinda dapat mengenalinya.


"My Sweety Ice? Mau kemana dia?"


Bersambung.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..


Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini.


Terima kasih