Assistant Love

Assistant Love
Tiba-tiba datang



"Ada apa?"


Alan mengernyit ke arah pria jangkung yang baru saja datang dan tiba-tiba bicara seperti itu. Sementara Alan masih belum mengerti apa yang dia bicarakan.


"Ini masalah Jerry, Al ... kita lakukan pengajuan untuknya, agar dia, menjadi tahanan kota saja!"


Alan mengangguk, "Baiklah, kau yang mengaturnya kalau begitu!" ujarmya dengan kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Leon mendaratkan bokongnya disofa, melihat sekeliling ruangan kantor milik Alan yang didominasi warna khasnya Abu dan hitam.


"Kantor barumu bagus sekali Al...."


"Ini bukan kantorku! Ini kantor Farrel, aku harus menggantikannya menghandle pekerjaan ini karena dia tidak bisa ke kantor!"


Leon mengangguk, "Pantas saja ada yang berbeda! Kantormu kan berdinding polos seperti bayi!" ujarnya terkekeh.


Alan tidak menggubrisnya, fikirannya tertuju pada perkataan Leon, kita lakukan pengajuan untuknya, agar dia, menjadi tahanan kota saja.


Tahanan kota, penangguhan penahanan. Leon benar, kita bisa melakukan hal itu atau tidak?


"Kapan rencana pernikahanmu Al?"


"Bunda yang akan mengurus masalah waktu nya kapan!"


Leon berdecih, "Kau ini!"


Alan kembali terdiam, lalu dia bangkit dari kursi kebesarannya, dan berlalu keluar, meninggalkan Leon begitu saja.


"Al ... kau kebisaan! Pergi begitu saja."


.


.


"Bisa saja, asal alasan yang mendasarinya harus kuat!" jawab Arya saat Alan mengutarakan apa yang dicetuskan oleh Leon padanya.


Penangguhan penahanan, atau tahanan kota bagi Jerry.


"Kenapa kau berfikir ke arah sana, dia juga tidak akan lama, hukumannya ringan!" ujar Arya.


Alan menghela nafas, "Aku dan Leon akan sama-sama menikah, tapi Jerry malah dipenjara, harus nya dia bisa menyaksikan kami!"


Arya mengangguk, "Coba nanti kita diskusikan dengan kuasa hukum yang menangani kasusnya, dan kau Al ... fokuslah pada pernikahanmu!"


Alan mengangguk, "Terima kasih Ayah!"


Suasana di rumah utama terasa lebih ramai dari biasanya, persiapan pernikahan Alan sudah hampir selesai, Dinda kerap datang untuk membantu, sementara Alan masih sibuk dengan pekerjaan yang tidak kunjung selesai itu.


"Bagaimana perasaanmu Nak?"


"Campur aduk bunda," ujarnya terkekeh.


"Besok aku juga akan pulang ke rumah, dan menunggu sampai hari pernikahan disana bun!"


Ayu mengangguk, "Apa Alan akan mengantarmu?"


"Aku belum tahu bun, menjelang pernikahan, dia malah semakin sibuk. Aku juga sudah jarang melihatnya di kantor, dia selalu meeting di luar kantor." jelasnya.


Ayu mengusap bahunya, "Kamu harus selalu sabar ya!


.


.


Pramudya dan juga Sisilia tampak kaget dengan kedatangan Dinda yang tiba-tiba, namun pancaran kebahagiaan tercetak jelas di wajah mereka, apalagi Sisilia.


"Sayang, kau pulang dengan calon suamimu?"


Dinda menggelengkan kepalanya, "Dia sedang sibuk, belum bisa ikut pulang denganku Mam,"


Pramudya mengangguk kan kepalanya, "Tidak apa, barangkali pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan, agar nanti setelah menikah, kalian bisa tenang tanpa gangguan pekerjaan lagi!"


Namun Sisilia tidak setuju dengan penuturan suaminya, "Harusnya kan dia juga menyempatkan waktu untuk mengurus pernikahannya, jangan hanya pekerjaan yang dia urus, dasar pria! Maunya tinggal beres saja,"


"Mami ini malah menyalahkan pria, bukankah wanita yang selalu ribet, semua hal kecil seperti ini pasti akan jadi masalah besar! Wanita memang selalu benar!"


"Sudah-sudah ayah ini bagaimana sih, anaknya pulang kok disuguhi keributan. Mereka berdua pun tertawa.


Dinda mengulum senyum, senang rasanya bisa kembali melihat canda dan tawa kedua orang tuanya, "Ayah sama mami gak perlu khawatir, setelah selesai, dia pasti kemari! Lagi pula acara pernikahan tinggal beberapa minggu lagi, banyak hal yang harus diurus."


"Kau benar sayang! Sudah sana istirahat dulu, kamu pasti cape."


Dinda menggelengkan kepalanya, "Tapi aku masih ingin bercerita dengan kalian, masih kangen!"


"Nanti juga bisa, sudah istirahat dulu biar tubuhmu segar, masa iya mau nikah, wajahnya kusam begitu!" seloroh Sisil.


Dinda meraup wajah dengan kedua tangannya, "Masa iya Mam? Gawat ini, aku harus mulai perawatan ya!"


Wanita yang duduk di kursi roda itu pun terkekeh, "Mami bercanda sayang, anak Mami yang sebentar lagi akan jadi istri orang ini sudah cantik sekali!"


Mereka bertiga kembali tertawa.


.


.


Suara mobil terdengar berhenti didepan rumah, Alan menatap rumah yang terlihat sepi itu, sesaat dia membuka seat belt nya dan kemudian turun dari mobil.


Alan kemudian mengetuk pintu dengan perlahan, karena tidak ada jawaban, dia akhirnya merogoh ponsel dari dalam saku celananya.


Ceklek


Pintu terbuka, kedua manik coklat kini berbinar menatap Alan, lalu berhambur memeluknya.


"Kau datang juga ternyata, ku kira kau lupa padaku!"


Pletak


"Aw ... ish kebiasaan!"


"Bagaimana bisa kau selalu berfikir seperti itu?"


"Itu karena aku merasa seperti itu!"


"Siapa yang datang sayang?" tanya Pramudya dari dalam.


"Al ... ternyata kau yang datang! Ayo masuk!" kata Pramudya dengan bibir yang tersenyum lebar, lalu beralih pada anak perempuannya.


"Kau kenapa membiarkan calon suamimu menunggu di luar!"


Dinda mencebik, "Kenapa Ayah marah, dia kan baru datang! Dan aku tidak membiarkannya diluar!"


"Kau ini selalu membantah!" gumam Alan.


"Ish ... aku sudah seperti anak tiri dirumahku sendiri!" gumam Dinda dengan bibir yang mengerucut.


Alan masuk ke dalam rumah, mengikuti Pramudya, sedangkan Dinda masih diam ditempatnya berdiri. "Aku bahkan tidak disuruh masuk! Ayahku menghormatinya sebagai calon menantu atau takut dia marah sebenarnya?"


Alan kembali keluar, "Sedang apa kau disitu, ayo masuk!"


"Sudah merasa anak tiri, sekarang ditambah merasa seperti tamu, seharusnya aku yang berkata seperti itu!"


Dinda akhirnya masuk ke dalam rumah, dan tersenyum saat melihat Alan yang terlihat akrab dengan kedua orang tuanya.


"Kamu beristirahatlah, ini sudah hampir tengah malam!"


"Baik paman, beristirahatlah!"


Pramudya mengernyit dengan panggilan paman yang Alan sematkan padanya, namun melihat Alan yang bermuka datar itu, dia hanya mengangguk lalu mendorong kursi roda.


"Istirahatlah nak!" timpal Sisilia.


"Mam ... kok anehnya, dia masih memanggil ku paman!" gumam Pramudya.


"Jangan difikirkan! Mungkin saja calon menantu kita masih canggung," Pramudya mengangguk, "Benar juga...."


Sementara di ruang tamu


"Kamu kenapa kesini tidak bilang-bilang padaku? Mau memberiku kejutan padaku?"


Alan menggelengkan kepalanya, "Tidak! Memangnya kalau aku datang, harus selalu memberikan mu kejutan?" masih dengan wajah datarnya.


Dinda merengut, "Tidak juga!"


"Lantas kenapa kamu bicara seperti itu? Kau berharap aku memberimu kejutan saat datang?"


Dinda meniup anak rambut yang menutupi keningnya, "Lupakan saja ... anggap aku tidak pernah bicara seperti itu!"


"Ayo aku tunjukan kamarmu!"


Dinda bangkit dan berjalan menuju kamar tamu, sedangkan Alan yang tengah merasakan dadanya berkecamuk hebat karena rasa canggung yang menyerangnya. Hingga dia lupa tujuannya datang menemui Dinda.


Gadis yang tengah merengut itu membuka pintu kamar dan berdiri diambang pintu.


"Beristirahatlah, kamarku ada disebelah sana!"


Haiissshhh ... untuk apa aku memberi tahukan padanya, sampai matahari terbit di utara pun dia tidak akan diam-diam menyelinap masuk, atau tiba-tiba memelukku selagi aku tidur.


"Terima kasih! Kau istirahat saja!"


"Besok pagi kita harus kembali!"


Alan mengusap pipi Dinda dengan ibu jarinya, lalu masuk ke dalam kamar, sementara Dinda mengangguk begitu saja hingga pintu itu tertutup rapat.


"Tunggu... kita kembali besok?"