Assistant Love

Assistant Love
Tak kunjung berubah



Ceklek


Erik membuka pintu rumah, dia masuk kedalam kamar, membuka pakaiannya yang sudah banyak noda darah, lalu melemparkan nya ke dalam keranjang pakaian kotor di sudut ruangan, dia masuk kedalam kamar mandi.


Tasya yang sebenarnya belum tidur itu hanya menghela nafas, bau alkohol menyeruak masuk kedalam indera penciumannya.


Kehamilannya yang semakin membesar membuatnya sulit untuk tidur, dan suami yang diharapkannya berubah itu pun tak kunjung berubah, setiap hari pulang tengah malam bahkan dini hari, bahkan sering juga tidak pulang. Sementara janji demi janji terucap begitu saja.


Tasya kembali menghela nafas, sosok Tiwi mungkin masih setia didalam hati suaminya, walaupun Tiwi sudah tidak ada, Erik tidak juga bisa jatuh cinta sepenuhnya pada dirinya, hanya anak dalam kandungannya lah yang membuat Erik bertahan. Walau sikapnya pada Tasya tampak biasa saja, tidak pernah kasar, atau pun sekedar berkata kasar, namun didalam hatinya Tasya tahu, Erik belum sepenuhnya membuka hati untuknya.


Sementara itu, Erik meringis saat membersihkan luka di seluruh wajahnya, akibat perkelahian an dengan Leon, sosok yang tidak begitu dia kenal, bahkan hanya mengenalnya sekilas, saat mengantarkan Tasya ke rumah sakit. Setelah itu dia tak lagi tahu kabarnya, dan tiba-tiba saja datang dan memukulinya dengan membabi buta.


"Sialan ... aahk," Erik kembali meringis, luka sobek di sudut bibirnya, membuatnya susah bicara."


"Dia sepertinya menyimpan rasa untuk Tasya, apa mereka menjalin hubungan di belakangku? Pantas saja dia tidak pernah sekalipun keberatan jika aku pulang malam, atau bahkan tidak pulang sama sekali, dia tidak melarangnya, atau marah padaku, ternyata kau punya pria lain!" gumamnya dengan menatap pantulan dirinya di kaca wastafel.


Tak lama kemudian Erik keluar, dia mengambil pakaian nya, sempat melirik Tasya yang dia fikir tidur dengan menghadap ke arah belakang, lalu naik ke ranjang yang sama.


Menatap punggung Tasya, tak lama kemudian dia membelakanginya juga, dan terlelap.


keesokan hari.


Tasya kembali menghela nafas, lagi-lagi Erik bangun lebih awal dan akan pergi begitu saja, bahkan dia tidak mengatakan sesuatu ataupun membangunkannya. Hingga Tasya bangun dan sarapan seorang diri.


Maid yang bekerja dirumahnya tiba-tiba berlari dari arah belakang, dengan membawa pakaian kotor yang baru saja dia ambil dari kamar.


"Non ... non... lihat ini? Apa ini darah?" ujarnya dengan memperlihatkan nya pada Tasya.


Tasya mengambil nya dan mencoba memeriksanya, "Ini darah bi..."


Maid itu mengangguk, "Pakaian tuan Erik Non."


Tasya mengangguk, pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan demi pertanyaan, Apa yang terjadi padanya.


"Ya sudah bi, buang saja, mungkin itu akan susah sekali, lagi pula dia mungkin tidak akan memakainya lagi."


Pakaian yang kancingnya sudah terlepas dan sedikit terkoyak itu pun di buangnya.


Tasya kembali ke kamar, dan bersiap-siap karna hari ini jadwal nya bertemu dokter kandungan. "Harusnya dia bisa menemaniku, untuk sekedar menanyakan bagaimana kabar anaknya saja tidak," gumam Tasya.


'Aku akan berusaha menjadi suami dan ayah terbaik untuk anak kita, dan mari kita sama-sama membuka hati. Lupakan masa lalu kita, bahagialah dengan ku.'


Tasya memejamkan mata saat mengingat perkataan Erik padanya, namun kata-kata itu hanya memuai bersama semakin dinginnya perlakuan Erik padanya.


Dan perubahan itu kian terlihat jelas, Tasya tahu Erik sangat sibuk dengan menjadi seorang bartender di klub miliknya, yang dia bangun dari nol semenjak dia keluar dari rumahnya, namun hubungan nya dengan keluarganya kian membaik, ayahnya yang tinggal di luar negeri pun mempercayakan pengurusan perhotelan padanya, membuat Erik semakin sibuk, dan Tasya mengerti akan hal itu, namun hubungan ini tidak akan pernah berhasil jika mereka terus begini,


"Aku harus bicara padanya."


Tasya akhirnya keluar dari kamar, dia kemudian menyuruh supir untuk mengantarkannya ke rumah sakit, setelah itu baru dia akan menemui Erik di kantornya.


Seperti biasa, Tasya datang seorang diri ke rumah sakit, setelah membuat janji dengan dokter kandungannya, dia menunggu di ruang tunggu, melihat orang lain yang datang bersama dengan pasangannya membuat hatinya teriris, Kenapa dia tidak mau menemaniku.


Tasya menghela nafas, dengan mengelus perutnya yang semakin membuncit.


"Nyonya Tasya." ujar perawat yang memanggilnya masuk.


Tasya mengangguk, lalu dia masuk ke dalam ruangan dokter.


"Bagaimana keadaan mu? Apa ada keluhan?"


Dokter memeriksa tensi darah, "Darahmu sangat rendah, kau harus banyak makan Sya, lihatlah, tubuhku bahkan lebih berat daripada tubuhmu!"


"Dokter Mariska bisa saja, aku benar-benar baik-baik saja dok! Memang akhir-akhir ini pola makan ku tidak bagus,"


"Usahakan untuk makan yang banyak, jangan hanya memikirkan diri sendiri, pikirkan juga anak didalam kandunganmu ini."


"Ayo berbaring, aku ingin melihat bagaiamana sekarang jagoan ini." ujar Dr Mariska.


Tasya menurut, dia naik ke atas ranjang pemeriksaan, sementara suster mengoleskan gel yang terasa dingin itu di atas perut buncitnya.


"Apa yang tengah kau pikirkan akhir-akhir ini!"


"Tidak ada dok, aku baik-baik saja!"


Dokter Mariska mulai menempel kan alat Tranduser padanya, gelombang pada monitor pun terlihat, "Bagus, posisi juga bagus, aktif sekali, jantungnya juga bagus." jelas dokter Mariska.


Tasya menarik bibirnya hingga melengkung penuh, walau dia tidak mengerti apa yang muncul di monitor, namun dengan penjelasan dokter padanya, dia yakin anaknya tumbuh dengan baik.


"Say hello pada mama sayang, hello."


"Sebentar lagi yaa ma, kita akan bertemu!" ujarnya dengan meniru suara anak-anak.


Dokter Mariska memang terkenal dengan kehangatannya pada pasien- pasiennya, membuat para ibu hamil yang tegang menjadi tenang, selalu sabar dalam menjelaskan segala sesuai dengan keluhan mereka.


"Terima kasih dok!"


Dia mengangguk, "Jangan sungkan, jika ada yang ingin kamu ceritakan, kamu bisa cerita padaku, anggap aku bukan sebagai orang lain."


Aku tidak mungkin menceritakan perihal suamiku sendiri pada orang lain.


"Dokter juga menampung curahan hati pasien ternyata." ucap Tasya.


Dokter Mariska mengangguk-ngangguk, "Bisa jadi."


Mereka tertawa.


Setelah pemeriksaan selesai, Tasya kembali duduk, namun dirinya merasa pusing, untung saja suster membantunya untuk duduk,


"Hati-hati ... aku akan meresepkan obat penambah darah untukmu! Jangan lupa di minum."


Tasya mengangguk.


"Terima kasih sekali lagi."


Tak lama kemudian dia keluar dari ruangan dokter, dan berjalan menuju apotik untuk menebus obat miliknya.


"Aku pusing sekali" gumamnya,


Sesaat dia menghentikan langkahnya, dengan berpegangan pada besi diselasar, dan mencoba untuk kembali berjalan, namun semakin berjalan, semakin dirinya pusing, pandangannya tiba-tiba mengabur, semua menjadi gelap dan,


Brukk


Tasya tak sadarkan diri, beberapa orang membantunya, seseorang dari mereka mengangkatnya saat mereka berteriak memanggil perawat.


Tasya