
Lagi lagi Leon harus dibuat tergelak oleh ucapan polos Dinda, namun kali ini dia mendapat pukulan keras di bahunya.
"Ketawamu menyeramkan, berhentilah Leon!"
"Maaf-maaf aku tidak tahan, kau lucu sekali,"
"Kalau aku lucu, aku pasti sudah jadi pelawak," Dinda merengut.
"Bukan, maksudku bukan seperti itu, kamu ini sangat menggem--!" ucapan Leon terhenti saat waiters mendatangi meja mereka dengan membawa nampan isi pesanan mereka.
"Permisi, udang asam manis dan udang pedas gurih, minum nya ice lemon tea, selamat menikmati." ujar seorang waiters meletakkan menu makan siang pesanan mereka diatas meja.
"Wow sepertinya lezat." ujar Leon.
"Tentu saja, ini cafe favorit dengan menu favorit ku juga, meskipun aku jarang kesini. hehe" kelakar Dinda yang siap menyendok makanan nya.
"Oh ya, Kenapa?terlalu jauh dari tempat mu bekerja?" Dinda menggeleng kan kepala.
"Tidak juga, lumayan dekatlah," hap Dinda menyuap makanan.
"Lantas kenapa?" Leon pun tak kalah menyuap.
Sahabatku tidak suka makan siang di cafe, di mall padalagi, sangat menyebalkan tapi aku menurutinya pula. batin Dinda.
"Tidak apa-apa," Dinda tersenyum lalu kembali menyuap makanannya.
"Oh iya ngomong-ngomong kantormu didaerah sini?"Leon menyeruput ice lemon tea,
"Segarnya,"
"Hmm, lumayan dekat. PT Adhinata. Kamu tahu? pasti tahu kan," menyuapkan lagi, mengunyah lalu menyuap kembali.
Leon menghentikan sendoknya, lalu menolah kearah Dinda yang masih tertunduk dengan piringnya, "PT.Adhinata!?"
"Ya, kau tahu pasti, perusahaan bonafit gitu lho!?"
"Tentu saja, sahabatku bekerja disana,"
"Oh iya...." Leon mengangguk,
"Jadi kapan-kapan aku bisa main ke kantor sahabatku jadi sekalian bertemu denganmu," hap menyuap lagi.
"Atau kau ingin bertemu aku sekalian bertemu sahabatmu, begitu! hahahah." ujar Dinda dengan polos nya.
Uhuk
Membuat Leon tersedak, dan meraih minumannya.
"Haaiish, kau hati-hati mengunyah udang, dia suka nyangkut di tenggorokan,"
"Iya, dia siapa? huh pedas sekali ternyata," ujar Leon dengan terkekeh.
" Iya 'Dia' udang maksud nya,"
"Apa kau selalu blak-blakan seperti ini?" imbuhnya lagi dengan pelan.
"Gimana?"
Leon menggaruk kepalanya, "Tidak apa-apa, lupakan...,bukankah besok perusahaan mu akan ada pesta peresmian ya?
"Hem iya peresmian CEO baru,"
"Oh ...." Leon hanya beroh ria.
Mereka terus membicarakan segala hal, pribadi Dinda yang hingga gampang berinteraksi dengan orang baru dan aktif itu membuat Leon berkali-kali tergelak dengan jawaban polos maupun menohoknya,
Gadis ekstrovert yang satu ini memang selalu dapat menyesuaikan diri dengan situasi, selalu cepat merespon situasi sekitar sehingga bisa memberikan aura positif untuk sekitar, walaupun terkadang dia berlebihan dalam merespon atau pun tidak pernah memikirkan resiko yang akan dia terima atas tindakannya. lebih tepatnya tidak mau peduli resiko apapun.
"Tiba-tiba piring ku sudah kosong saja,"
"Iya kau memakannya dari tadi, bukan hanya di lihatin doang kan,"
"Maksudku makan sambil mengobrol dengan mu sangat menyenangkan,"
"Tentu saja karena makanan ini lezat dan mengenyangkan, hingga tanpa kau sadari piringnya sudah kosong saja," tukas Dinda.
Leon mengangguk, "Mungkin...."
"Ya sudah aku akan menyelesaikan pembayarannya dulu, kau tunggu disini sebentar,"
"Oke Leon, aku juga mau ke toilet dulu," dengan jari yang dia bentuk menjadi huruf O.
Setelah menyelesaikan pembayarannya Leon kembali ke meja, "Yuk, udah kan kira,"
"Apa sih kira,"
"Ya maksudku Akira, bukan kira- kira,"ngeles nya sambil tertawa.
"Apa sih, hahaha." ucapnya dengan tawa yang dipaksakan.
"Iya Dinda aja deh, Dinda!"
"Jadi kau baru pindah ke Apartement itu beberapa bulan? pantas saja aku baru melihatmu tidak lama ini," ucapnya saat mereka keluar dari cafe itu,
"Hem... belum ada sebulan, lagian juga aku kan berangkat pagi pulang sore kadang malam," jelas Dinda.
"Kau mau ku antar?"
Dinda mengibas-ngibas tangannya, "Tidak...tidak usah, aku kan bawa mobil, lagian deket kok!"
Sementara Mac pergi ke alamat yang temannya beritahu, yaitu Apartemen di jalan Xx, dan memastikan gadis yang berada di Apartemen itu, namun saat dia berdiri di depan plat dengan nomor 26 tiba-tiba pintu terbuka,
"Untung saja, sial! Mac kau ceroboh,"umpatnya dengan berjalan cepat.
Sementara Metta keluar dari plat hanya untuk mencari makan siangnya, dia membawa orderan dari kurir yang menunggu nya di Lobby.
"Itukan...."
"Apa dia temannya?"
Lalu Mac melihat Metta kembali dari arah Lobby dan masuk kembali ke plat kamar dengan no 26, lalu dia merogoh ponsel nya dan mendial nomor temannya,
"Kau yakin dia di plat no 26,"
"Tentu saja, aku bahkan harus membobol keamanan data base apartemen itu, kau sungguh menyepelekan!!"
"Hahah, ya sudah aku percaya padamu,"
"Ini kali kedua aku menyelidiki tempat itu, dan dua-duanya atas perintah Bos, sepertinya tidak ada kordinasi dari temanmu Mac?"
"Tidak ada, aku tidak tahu!"
"Baiklah kalau begitu,"
Panggilan terputus, Mac melipat koran yang dia pakai untuk menutupi wajahnya dari tadi. Lalu dia mendial nomor lain,
.
.
"Benarkah?" ucap Alan saat dia menerima telepon dari Mac,
"...."
"Kau serius?"
"...."
"Kau sudah memastikan nya lagi?"
"...."
"Entahlah, ya sudah!!"
Alan menutup ponselnya lalu meletakkan ponsel itu diatas meja, entah harus senang atau tidak. Alan pun hanya terdiam.
Lalu Alan beranjak dari duduknya dan berdiri menatap gedung-gedung tinggi, dengan satu tangan yang dia masukkan ke dalam saku.
Aku akan menemui nya nanti, bodoh sekali kau Alan, mencari kemana-mana padahal dia sangat dekat denganmu! Dasar bego, stupid man, umpatnya.
Tak lama Leon masuk setelah mengetuk pintu, berbeda dengan tadi pagi masuk kedalam ruangan Alan dengan tergesa dan kesal, saat ini dia memasang wajah ceria dan juga senyum yang tak dia lepaskan.
"Kenapa kau!? Sakit...?" ucap nya pada Alan.
Alan menggelengkan kepala, "Sepertinya kau yang sakit, senyum-senyum seperti orang gila,"
"Yah, bisa dibilang begitu!"
Alan mengerdikkan bahunya saat Leon mendudukkan tubuhnya disofa.
Dreet
Dreet
Ponsel Alan berdering, dia menatap layar benda pipih itu menampilkan nama Bunda disana. Tak lama Alan pun mengangkatnya.
"Iya Bun?"
"...."
"Aku sudah tau,"
"...."
"Baiklah, sampai bertemu disana."
Alan pun meletakkan kembali ponselnya diatas meja, dengan memijit keningnya pelan dia menghembuskan nafasnya.
"Kenapa!? apa ada masalah?"
"Banyak...."