Assistant Love

Assistant Love
Mintalah hanya padaku



"Kamu sudah berusaha hidup dengan baik selama ini, terus lah begitu. Tapi menjadi kuat, tidak harus menahan diri untuk menangis."


"Hei siapa yang akan menangis? Aku tidak ingin menangis." ujar Dinda dengan menggeleng kan kepalanya.


Alan membalikkan tubuh Dinda menjadi menghadap ke arahnya,


"Aku memang tidak terlalu paham dengan apa yang kau rasakan, tapi aku tahu semua."


Dinda mengernyit, "Kau tahu apa memangnya?"


"Bukan apa-apa, yang jelas aku tahu!" ucapnya dengan menarik kepala Dinda ke dalam pelukannya.


Namun Gadis ceria itu mendorong perlahan dadanya.


"Jangan memelukku saat aku sedang tidak karuan, itu akan membuat ku bertambah sedih! Air mataku sudah kering, jadi kau tidak usah khawatir kan aku yaa, its ok, semua sudah berlalu ... dan aku sudah melupakan masa lalu, lagi pula aku ini sudah terbiasa,"


"Kamu memang aneh....!" ucap Alan dengan garis tipis di bibirnya.


Dinda mendelik, "Kau lebih aneh dariku!"


Alan menjimpit dagunya, "Aku memang aneh, kau tahu itu!"


Sejurus kemudian dia menempelkan bibirnya pada bibir tipis milik Dinda. Hanya menempel, lalu saling memandang satu sama lain,


"Aku mencintaimu manusia aneh!" gumam Dinda.


Sedangkan Alan hanya menarik satu sudut bibirnya, tersenyum simpul yang menjadi ciri khasnya.


Alan kembali menarik dagu Dinda dan menyapu lembut bibirnya, bahkan sangat lembut, berbeda sekali dengan pribadinya yang kaku dan keras.


Membuat Dinda terbuai dan memejamkan kedua manik coklatnya, membiarkan tubuh yang bergerak mengikuti alurnya. kedua tangan kekar Alan menarik pinggangnya, hingga posisi mereka semakin merapat.


Begitu pun Dinda yang mengalungkan kedua tangan nya pada leher Alan, dengan nafas menderu lembut keduanya, namun tetap saja, jam terbang dalam membuat perempuan melayang masih belum mumpuni. Alan masih terlihat kaku.


Begitu juga Dinda yang hanya berani berucap namun pada kenyataan nya dia tidak lah banyak pengalaman.


Alan melepaskan pagutannya, "Bukankah kau akan membuatkan ku mie instan, pergilah memasak, aku akan menunggu disini!" ujarnya dengan menyapu bibir Dinda dengan ibu jarinya.


"Issh... kau ini! Aku kan masih ingin," ujar nya terkikik.


Pletak


Alan menyentil dahinya, "Bersihkan fikiranmu!"


Dinda tergelak lalu berlari menuju dapurnya, sedetik kemudian namun masih terdengar suara tertawanya.


Sementara Alan menghempaskan tubuhnya di sofa, lalu merogoh ponsel dari saku celananya dan memeriksa pesan masuk yang belum sempat dibukanya.


Informasi yang dia minta tentang Davis Danuarta, anak dari Toni Danuarta, pemilik Danuarta grup.


Alan mengenal Ayah nya, dia adalah rekan bisnis Arya dalam bidang ekspor kayu. Memiliki kekayaan hampir enam puluh persen dibandingkan keluarga Adhinata.


Bahkan ditangan Davis, perusahaan itu kini mulai merambah bisnis di bidang Fashion, dan itu artinya, ada hubungannya dengan kekasihnya yang seorang model Maureen.


Data-data lengkap seluruh perusahaannya telah dia dapatkan, termasuk masalah yang menimpa Dinda di masa lalu. Segala fitnah dan tuduhan yang ditujukan oleh Davis pada Dinda.


Lalu Alan mengulirkan ponselnya kembali.


Data keluarga Pramudya


Perusahan yang hampir bangkrut dan mulai terseok-seok dalam beberapa tahun belakangan. Sisilia Primaraya yang mantan model yang hidup dengan glamour itu menambah beban Pramudya yang terlalu pendiam, bahkan ketika Dinda pergi dari rumah, dia tidak melakukan apa-apa.


Kehilangan kasih sayang orang tua, padahal mereka masih hidup! Kalian benar-benar jahat.


Batin Alan yang tiba-tiba terenyuh.


Mengingat dirinya saja yang kehilangan orang tua karena kecelakaan pesawat, masih lebih baik dibandingkan kehilangan mereka padahal jelas-jelas mereka masih ada.


Padahal Dinda anak kedua dari dua bersaudara, lantas kemana saudara nya saat Dinda terpuruk, benar-benar keluarga yang egois.


Alan menghela nafas, menatap ke arah dapur yang hanya terdengar suara dentingan piring dan sendok beradu.


Kau menyembunyikan semuanya dengan bersikap ceria seolah hidupmu bahagia Dinda.


Tak lama kemudian Dinda berjalan dengan nampan yang berisi semangkuk mie instant yang diminta Alan.


Kepulan asap dengan wangi yang sedap tercium,


"Eeuuhhmm... ini pasti sangat lezat!" ujar Dinda meletakkan nampan itu di atas meja.


Lalu dia kembali ke dapur untuk mengambil air putih dan juga susu kotak rasa coklat.


Alan mengernyit, menatap semangkuk mie itu.


"Kau tidak makan? Kenapa hanya membuat satu mie instan?"


"Tentu saja aku akan makan. Kita makan semangkuk berdua yaa, biar romantis gitu!" ujar Dinda dengan duduk bersila dilantai.


Alan menggelengkan kepalanya, namun dia juga turun dan mengikuti Dinda dengan duduk bersila.


"Hei, kenapa kau ikut-ikutan aku dibawah, kau diatas saja!" ujar Dinda.


Alan mengerdikkan bahu, "Tidak masalah...."


"Bukan tidak masalah, tapi kita jadi sempit, lututmu terlalu panjang," sungut Dinda.


Alan menggelengkan kepalanya, "Astaga, kenapa kau malah memikirkan hal begitu!"


Dinda terkekeh, "Ayo lebih baik kita makan saja!"


Mereka pun saling menyuap, semangkuk mie instan dengan dua sendok dan dua garpu, membuat dentingan nya semakin terdengar,


Alan mengambil potongan sosis namun Dinda dengan cepat menusuknya dengan garpu,


"Punya ku!" ujarnya dengan mendelik.


Alan berdecak, "Semua nya saja punyamu, makanlah!


"Semuanya juga punya aku, termasuk kamu!"


Uhuk


Dinda tergelak, lalu menyerahkan gelas air minum pada Alan. "Jangan tegang, aku belum ngapa-ngapain."


"Akira Dinda Pramudya, jangan memancingku!"


Dinda terkikik, "Maaf sayang,"


Dasar gadis aneh, dia selalu cepat merubah suasana hatinya sendiri. Benar-benar gadis bodoh. Dan aku akan semakin bodoh karena nya.


"Boleh aku tanya sesuatu?" ujar Alan.


Dinda menyuap potongan telur kedalam mulutnya, "Jangan tanya yang susah-susah , otakku malas berpikir hal-hal susah!"


"Apa kau pernah merindukan orang tua mu?"


Deg


"Itu pertanyaan mudah, tentu saja tidak! Untuk apa aku merindukan mereka." Dinda mengerdikkan bahu.


"Kau tidak bertanya padaku?" ucap Alan lagi.


"Aku sudah tahu, Leon bercerita padaku, kau kehilangan orang tua saat kamu masih kecil bukan?"


"Kali ini aku biarkan kau menyebut namanya, tapi Leon benar!" ungkapnya lagi.


"Aku selalu merindukan mereka, hingga saat ini, padahal aku lupa-lupa ingat wajah mereka, aku terlalu kecil untuk mengingat mereka."


Dinda mengangguk, dia mengelus lengan Alan dengan lembut, "Kau lebih baik dariku!"


"Kau tidak ingin bertemu mereka?" tanya Alan lagi.


"Tidak, untuk apa? Mereka sudah melupakan aku. Untuk apa aku mengingat mereka, aku sudah hidup sendiri selama ini tanpa mereka, dan aku lebih bahagia tanpa mereka yang bahkan tidak pernah percaya padaku!"


"Sudahlah kenapa membahas keluarga, aku tidak ingin membahasnya lagi." ungkap nya lagi.


"Baiklah, kita ganti topik, bagaimana dengan pria yang bertemu denganmu tadi? Siapa namanya?" tanya Alan dengan menyendok potongan sosis, namun Dinda membulatkan mata ke arah nya.


"Itu buatku saja, kau makan telur ku." ujarnya dengan memasukkan sendok yang dipegang Alan dalam mulutnya.


Alan berdecak, "Kau ini selalu memikirkan makanan!"


"Aaaa... buka mulutmu! telur ini pengganti sosis yang aku makan," ujarnya dengan mulut mengunyah.


"Kau saja yang makan, aku tidak mau!"


"Ayolah, ini sangat romantis."


Tuk


Alan menjitak kepala Dinda, "Kepalamu romantis!"


Lalu menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dinda. Sementara dia hanya terkekeh.


"Aku lupa kau ini manusia kaku, mana paham keromantisan!" ujarnya dengan menyuapkan potongan telur terakhir.


Dinda membawa piring dan gelas yang kotor, lalu mencucinya di wastafel. Sementara Alan membuka jas yang membalut tubuhnya dan menggantung kan nya di sudut ruangan.


Dia menatap foto keluarga yang terdapat di meja hias.


Sepertinya itu foto lama, karena disana Dinda masih mengenakan seragam biru, wajahnya tidak banyak berubah, hanya saja di dalam foto itu Dinda tampak di peluk oleh kedua oeang tuanya.


Aku tahu kau pasti merindukan mereka,


Alan menyimpan kembali pigura kecil itu fi tempat nya dan kembali menghempaskan tubuhnya di sofa.


Drett


Drett


Ponsel Dinda berdering, Alan hanya melihatnya sekilas namun kembali melihatnya lagi saat dia melihat kontak penelepon bertuliskan nama Leon.


Alan menempelkan ponsel itu pada telinga kanannya dan menerima telepon itu.


"Kau sudah kembali? Aku ada di depan platmu!


Tut


Dengan cepat Alan mematikan sambungan teleponnya dan berjalan menuju pintu lalu membukanya.


"Kejutan!" ujar Leon saat pintu terbuka.


Namun sejurus kemudian dia tergelak saat melihat Alan yang membuka pintu untuknya.


" Wow, pacar yang posesif, harusnya aku tahu kau yang mengangkat telepon milik Dinda."


"Katakan ada apa? Lalu pergilah, jangan menganggu!"


"Baiklah tuan posesif, aku kesini hanya untuk memberikan ini?" ujarnya dengan memberikan sekotak cokelat.


"Jangan salah sangka, aku hanya menepati janji saat dia belum mejadi pacarmu!" ujar Leon yang menyembuhkan kepalanya berulang kali ke arah dalam.


"Berikan padaku, lalu kau boleh pergi!"


" Issh, kau ini pelit sekali!"


Dinda yang selesai mencuci gelas dan mangkuk berjalan dan mengernyit saat Alan berada di pintu yang hanya di buka sedikit.


"Leon kau kah itu?" sapa Dinda dengan ragu-ragu karena Alan menolehkan kelasnya hanya karena Dinda memanggil Leon.


"Hai Dinda, aku tidak bisa masuk akibat pacarmu yang posesif ini, padahal aku hanya akan memberikan coklat ini padamu." Seru Leon.


"Terima kasih Leon, aku menerimanya dengan senang hati, Sayang bolehkah dia masuk."


Alan mendengus kasar, " Kebetulan, ada yang ingin aku bicarakan padamu! Masuklah...."


"Huh... akhirnya kau mengalah juga!" ujar Leon seraya masuk dan menutup pintunya.


Alan merengkuh pinggang Dinda, " Mulai sekarang, saat kau menginginkan sesuatu, mintalah padaku. Hanya aku, kau paham!"