
Keesokan hari
Dinda bangun setelah melemparkan berusaha mengingat, kepala bodohnya itu memang tidak bisa diajak kerja sama. Bahkan dia sama sekali tidak mengingatnya, terakhir dia yang ingat menyusul lastri ditempat nya bekerja namun nihil. Dia tidak menemukan Lastri. Lalu ....
Dia hanya ingat keesokan harinya terbangun dengan sakit kepala hebat, seperti orang tengah mengkomsumsi obat terlarang. Dengan halusinasi semalaman.
"Aku memang sering berkhayal, sampai kadang tidak sadar mana yang nyata dan mana yang halu. Seperti malam itu, saat mabukpun aku berhalusinasi bukan!" Dinda mengerdikkan bahunya, dengan berjalan gontai dia masuk kedalam kamar mandi.
Setelah memoles wajah cantiknya dengan sedikit bedak juga listrik yang selalu dia bawa kemanapun. Dinda keluar dari Apartemennya.
Bruk
Dia menabrak seseorang pria yang saat itu tengah membawa kopi di tangannya,
"Ah maafkan aku, aku tidak sengaja!" Dinda mengambil tissu dari dalam tasnya, dengan cepat dia menyeka kemeja pria itu, namun pria tersebut menghalaunya.
"Tidak usah, biar aku ganti saja."
"Unitmu berada dilantai ini juga?" Pria tersebut mengangguk.
"Kalau begitu biarkan aku yang mencuci kemejamu,"
"Tidak usah, nanti aku akan membawanya ke binatu," Pria itu menarik tipis bibirnya melihat Dinda yang menggemaskan.
Dinda menangkup kedua tangannya, "Maafkan aku, biarkan aku bertanggung jawab!"
"Benarkah kau mau bertanggung jawab?" Dinda mengangguk.
"Aku Leonard, panggil saja Leon," Pria tersebut menyodorkan tangannya.
Dinda tampak ragu, dengan tersenyum tipis dia menyambut tangan yang masih menggantung itu,
"Aku Akira panggil saja Dinda,"
Leon mengernyit, "Akira? kenapa malah dipanggil Dinda."
Dinda terkekeh. "Entahlah ceritanya panjang"
"Kalau begitu kapan-kapan kau harus menceritakannya padaku."
Tak terasa mereka berjalan ke unit Leon yang hanya berjarak 4 kamar saja, Tanpa Dinda sadarpun dia mengikuti Leon.
Yang benar saja, aku mengikutinya sampai kesini, please Dinda jangan bego. batin Dinda.
"Aku menunggu disini saja," ucap Dinda setelah menyadari kebodohannya.
"Kau menungguku?" Leon berseringai.
"Tentu saja ... maksudku aku kan menunggu kemejamu!" Dinda gelagapan.
Leon terkekeh, "Baiklah kalau kau memaksa, tunggu sebentar!" Dinda mengangguk.
Setelah beberapa saat Leon kembali keluar, dan menyerahkan kemeja itu pada Dinda. "Maaf, seharusnya kau tidak perlu begini,"
Dinda meraih kemeja Leon, "Tidak apa, aku yang harusnya meminta maaf, dan bukankah kita tetangga juga?" dengan terkekeh.
"Baiklah aku harus pergi, terima kasih sampai jumpa."ucap Dinda kembali lalu melangkah pergi.
"Tung--gu" lirihnya kemudian.
Dreet
Dreet
Belum sempat selesai dengan perkataannya, ada panggilan masuk pada ponsel Leon. Hingga dia hanya menatap Dinda dari belakang hingga menghilang.
"Ada apa?"
"...."
"Oke, aku kesana segera!"
Leon pun menghela nafas, akhirnya dia berlalu meninggalkan apartemennya.
.
.
Alan berada dikantor, pria datar dan dingin ini tengah disibukkan dengan beberapa pekerjaan, ipad tidak lepas dari sorot matanya. Berkas menumpuk dimejanya.
Seseorang masuk kedalam ruangannya, dia menenteng amplop kuning.
"Bos...."
"Kau sudah menemukannya?" Ujar Alan tanpa mengalihkan pandangannya.
Alan meraih amplop itu, diapun melihat namanya terlebih dahulu, karena Alan ingin memastikan gadis itu konyol adalah gadis yang digolongkan tempo hari.
"Benar ini dia." gumam Alan.
Ada perasaan lega di hatinya, setelah tahu ternyata memang benar dia adalah gadis yang sama.
"Dan sepertinya Pere--"
Tak lama dering telepon menghentikan ucapan pria jangkung yang akan mengatakan sesuatu.
Alan bangkit dan mengangkat panggilan yang amat penting itu, dengan lambaian tangan nya menyuruh anak buahnya yang mematung dibelakangnya untuk keluar.
Pria jangkung itu keluar dari ruangannya, "Padahal aku belum selesai mengatakannya, kalau gadis itu bekerja di sini juga, nanti saja kalau bos bertanya aku akan mengatakannya."
Alan bergegas keluar dari kantor dan mengabaikan data-data diri milik Dinda begitu saja diatas meja. Dia menghubungi Leon dengan setengah berlari.
"Le ...segera ke markas!"
"...."
"Cintya batalkan semua agendaku!!" sentaknya mengagetkan Cintya yang tengah memoleskan lipstik pada bibirnya.
"Astaga... kenapa dengannya! Selalu saja begitu, padahal sebentar lagi ada rapat, dan aku yang harus mengatasinya." Cintya meletakkan lipstik diatas meja dengan kasar.
Ting
Alan masuk kedalam lift, rahangnya mengeras menahan marah, hingga suasana didalam lift terasa mencekam.
Lift terbuka, Alan keluar dari dalam lift dengan tergesa-gesa, tanpa melihat kesekitar lagi Alan eluar dari gedung, bertepatan dengan Dinda yang akan masuk.
Bruk
"Aw...." Dinda mengelus keningnya yang terbentuk sesuatu yang keras.
Dinda tersungkur jatuh kebelakang, berkas yang dia bawa pun berhambur berantakan, Dinda menatap sepatu yang hanya diam ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun.
Dinda mendongkak keatas, dilihatnya Alan tengah berdiri dengan jari dan pandangannya tertunduk pada ponsel ditanganya, dengan cepat Dinda bangkit meskipun kakinya terasa sakit. Dia meringis namun tidak dirasanya,
Dia tersenyum kearah Alan, namun Alan tidak sedikitpun menatapnya, dia kembali mengangkat sambungan telepon.
"Bodoh, menyingkirlah!!" ucap nya dengan angkuh.
Alan berlalu dengan dengan cepat, dia masuk kedalam mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi. Sementara Dinda masih mematung ditempatnya.
"Dia sama sekali tidak mengenaliku, dasar keledai bodoh!" ucap Dinda menepuk roknya yang kotor.
Seorang security menghampirinya, dan membantunya,
"Mbak tidak apa-apa?" Dinda mengangguk.
"Dia mau kemana Pak, sepertinya buru-buru sekali," tanya nya pada security.
"Wah, saya tidak tau Mbak, tapi sepertinya dia sedang kesal." ujar security itu menyerahkan berkas pada Dinda.
Setiap hari sepertinya My Sweety ice terlihat kesal, coba kalau kita sudah bersama, dia kan berseri sepanjang hari, aku tidak akan membiarkan dia seperti itu. Dinda terkikik.
"Kenapa Mbak?"
Dinda yang ketahuan terkikik itu pun menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Ah ... tidak pak, aku hanya teringat hal yang sangat lucu." ucap nya asal.
Security itu mengangguk, tak berselang lama, Metta yang baru saja tiba terheran melihat Dinda yang masih belum juga masuk. "Heh, ngapain disini! buruan berkas itu sudah ditunggu."
Dinda mengangguk pada security itu, "Terima kasih pak sudah membantuku."
"Sama-sama Mbak."
"Kebiasaan kelayapan kemana, noh pekerjaan dimeja udsh numpuk malah ngambil kerjaan ku, sini berkasnya! Lihat saja, sampai aku terkena masalah. kamu orang pertama yang akan aku buru." ucap nya sahabatnya dengan kesal.
"Elah ... gak bakalan kena masalah! dah sana buruan bentar lagi meeting dimulai." ucap nya dengan mendorong Metta masuk.
"Gak ikut masuk? Dinda menggelengkan kepalanya.
"Terus ngapain kamu kesini kalau tidak masuk." Dinda menggelengkan kepalanya lagi.
"Orang yang aku cari baru saja pergi, jadi aku akan kembali saja ke kantor. Bye Shaun." Dinda melengos tanpa dosa.
Metta menghela nafas, "Sialan tuh anak, ini berkas bagaimana ceritanya jadi berantakan begini."
Bersambung
.
Jangan lupa like dan komen yang banyak. Terima kasih❤