Assistant Love

Assistant Love
Dua kali



Dinda masih terkikik saat melihat tingkah Alan yang menggemaskan itu, menutup kembali tirai yang baru saja di buka, ditambah jam dinding juga sudah menggerak dijam sebelas siang.


"Al ... apa kita akan melakukannya siang-siang begini?"


Entah keberapa kalinya Dinda bertanya hal yang sama, Alan bergerak masuk ke atas ranjang dengan cepat, membuat ranjang berukuran besar itu bergerak naik turun karenanya.


"Kenapa kau banyak sekali bertanya?" jawabnya gusar.


Dinda kembali terkekeh dengan jantung yang kini berdetak kencang, melihat Alan yang membuka piyama, dada bidang dengan lengan berotot dan juga bahu kekar itu tampak jelas, ditambah otot perut yang membentuk garis garis kotak.


Pria kaku itu terdiam sesaat, menatap istrinya yang masih terus terkekeh. Wajah datar yang menjadi khas miliknya jelas terlihat, namun dengan pandangan penuh cinta.


"Jangan kau bilang, kau tidak tahu cara memulainya seperti semalam." tuduhnya menohok. Dinda berdecak karena Alan masih berdiam diri, dia mendorong tubuhnya hingga terlentang, lantas dia naik keatas tubuhnya dengan terduduk,


"Ahh ... sudahlah, kau membuang waktuku percuma tuan kaku!"


"Aku hanya sedang mencoba tenang sayang!" jawab Alan dengan suara serak, dengan posisi terlentang menatap sang istri yang menindihnya


"Lama sekali! Biar aku yang memulainya saja." sentak Dinda dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Ya Tuhan ... kau selalu saja tidak bisa sabar!"


Dinda terkekeh, "Karena aku bisa bosan menunggumu bergerak mengangkat senjatamu!"


"Dasar bodoh!"


Dinda perlahan bergerak menyusuri setiap inci dada Alan dengan jemarinya, mengundang gelanyar dari lawan yang tengah kebingungan melihat aksi agresifnya.


Alan memejamkan kedua matanya, harusnya dia yang memulainya duluan, bukan sang istri dengan sikapnya yang impulsif dan benar-benar seorang ekstrovert sejati.


Sepersekian detik Alan bangkit dan membalikkan tubuh Dinda menjadi dibawahnya, "Kali ini aku tidak akan melepaskan mu!"


Alan perlahan menyusuri, naluri kelakiannya menyeruak begitu saja, apa yang dia bingungkan sejak semalam sirna. Cukup dengan bergerak lalu tubuh dan dirinya bergerak dengan sendirinya.


Benar apa yang dikatakan Farrel, Lakukan saja, hal itu tidak ada pelajarannya, walaupun kau mencari ilmunya kemana mana, tidak perlu belajar, cukup bergerak, hati dan tubuhmu yang akan menjadi pemandunya. Otak? Tidak perlu otak untuk banyak berfikir, karena nafsu yang didasar kasih dan sayang juga cinta lah sang juaranya.


Benar saja, pria kaku itu perlahan berubah, kedua tangannya bergerak kesana kemari dengan lembut, dan satu persatu pakaian yang dikenakan terlempar begitu saja. Mereka saling menatap dalam diam.


Hingga kamar tidur begitu luasnya mendadak sesak, dipenuhi dengan suara de Sahan dan Leng guhan juga geraman keduanya.


Peluh membasahi seluruh tubuh mereka yang saat ini berada dalam penyatuan, merasai nikmatnya cinta keduanya.


Hentakan demi hentakan lembut yang seketika berubah sesuai dengan irama dan berakhir dengan pelepasan hangat ribuan bahkan jutaan sel kehidupan dan melemahnya otot otot tegang dari seonggok daging yang tidak bertulang.


"Apa aku menyakitimu?" ujar Alan dengan menelengkup kan kepalanya diceruk leher sang istri.


Dinda menggelengkan kepalanya, "Aku rasa tidak, tapi aku masih belum percaya kau bisa melakukannya!"


Alan mengangkat kepalanya, menatap wajah sang istri yang kini berada disampingnya, "Kau menyepelekan kekuatanku? Hem ... kau mau aku mengulanginya lagi?"


"Kau ingin kita melakukannya ditempat lain?"


"Bukan itu maksudku bodoh! Tapi aku malu jika ada yang datang, dan kita terus dikamar."


Kedua mata Alan melebar, "Kau semakin berani padaku." ujarnya dengan kembali merengkuh bahu polos sang istri dengan sedikit kasar.


"Eeeh ... aku ... maaf." Dinda terkekeh.


Seketika dia merasa tubuhnya kembali melayang, dengan satu tarikan Alan mengangkatnya, dan menggendongnya keluar dari kamar.


"Al ... ayo ke kamar lagi!"


"Bukannya kau ingin keluar kamar?"


"Iya tapi tidak seperti ini?" ucapnya dengan menarik selimut yang menjuntai ke lantai, dan menutup tubuhnya yang polos.


"Biarkan saja! Tidak akan ada yang datang! Bukankah kau ingin tahu kekuatanku!"


Alan mendudukkannya dimeja makan, dia sendiri menarik selimut yang menutupi bagian atas tubuh Dinda, hingga selimut itu terhempas begitu saja.


"Al ... ini sudah tengah hari!"


"Tidak masalah!"


"Metta bilang dia akan kemari membawa baby Shen!"


"Tidak mungkin Farrel akan melarangnya!"


"Bunda ... bunda akan kemari mengirimkan makanan."


"Jangan banyak alasan lagi, disaat aku sudah tahu cara kerjanya sayang!" ujar Alan dengan suara yang semakin serak.


"Al ...! Aaahhhkkk!!!"


Dinda tersentak kaget saat sesuatu menghentaknya keras, pria kaku yang kini berada diatas tubuhnya itu menatapnya dalam.


"Aku mencintaimu Akira!"


Dinda mengangguk, "Aku juga!"


Keduanya kembali bermain, Alan menahan tubuh Dinda yang kini membelitnya, hingga hentakan demi hentakan terpacu kuat.


Dinda mencengkram kuat bahu Alan, saat dirinya menger ang dan juga menggeram.


"Aku tidak sabar untuk segera membuatmu hamil!" ucapnya saat semburan terakhir yang membuat keduanya semakin melemah.


"Kita baru melakukannya dua kali Al!"