Assistant Love

Assistant Love
Semakin bodoh karenanya



Ceklek


Pintu UGD terbuka, seorang pria ber-jas putih muncul dari pintu didampingi oleh seorsng suster.


"Halo, saya dokter Frans, anda suami dari nyonya Tasya bukan? Mari ikut saya, ada yang harus saya bicarakan pada anda." ujarnya dengan berjalan menuju ruangannya.


"Aa--aaku...ahk, aku bukan suaminya!" gumam Leon dengan cepat menyusul dokter itu.


"Silahkan duduk," ujar Dokter Frans pada Leon yang baru sampai.


Leon menarik kursi dihadapan dokter itu, dan mendudukkinya.


"Begini pak....?"


"Leon...."


Dokter Frans mengangguk, "Begini pak Leon, istri anda mengalami pendarahan, namun hanya berupa flek-flek yang biasa terjadi pada ibu hamil, tidak terlalu berbahaya, namun juga tidak bisa disepelekan begitu saja." terangnya.


Leon mengangguk-ngangguk tidak mengerti, "Asal tidak berbahaya bagi keduanya dok, saya rasa tidak ada masalah serius,"


"Tolong diperhatikan, asupan gizi, dan hindari pekerjaan yang terlalu berat, mengangkat beban berat dan sebagainya, dan hal yang paling penting, jangan terlalu kasar saat bermain." tukas Dokter Frans.


Leon tidak peduli, toh dia juga tidak tahu aktifitas Tasya bagaimana, dia hanya mengangguk agar cepat keluar dari ruangan dokter yang menyangka dirinya adalah suami Tasya. Namun seketika dahinya mengkerut dengan ucapan dokter Frans. Bermain.


"Masa tidak tahu?" ujar Dokter Frans menaik turunkan kedua alisnya.


Leon menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Maksud dokter apa?"


"Suami istri pasti kan sering bermain, aduh kenapa kau tidak juga mengerti!"


Apa maksud nya itu...anu.


Leon tercengang dengan fikiran nya sendiri, namun juga tidak mengatakan apa-apa.


"Saya sudah resepkan obat, nanti bisa di ambil, sambil nunggu Istrimu sadar, dan boleh pulang!" ujar Dokter Frans yang menulis resep obat.


Leon mengangguk lagi dengan cepat, dokter Frans menyerahkan resep itu padanya, tidak lama kemudian Leon bangkit dari duduknya, tidak lupa menyalami dokter Frans.


"Terima kasih dok, kalau begitu saya permisi!" ujarnya.


"Pak Leon....? Seru Dokter Frans.


Leon yang sudah berada diambang pintu menoleh kearah dokter yang memanggilnya.


"Jangan lupa, main yang lembut."


"Maaf dok, tapi saya bukan suaminya!"


Lalu melangkah keluar dengan membuang wajahnya ke arah lain.


"Astaga...."


"Anak muda sekarang, kelakuan nya bikin geleng kepala," gumam Dokter Frans.


Leon melangkah keluar dan melihat Tasya yang masih tak sadarkan diri, dia duduk dikursi ditepi ranjang, aku merogoh ponselnya dan menghubungi Alan.


'Al, kau tahu Federicko bukan? beritahu dia, Tasya masuk rumah sakit,'


'Aku juga tidak tahu, tapi aku akan mencarinya, kau jagalah dulu, sampai dia datang.'


Tut


Sambungan telepon terputus, seperti biasa Alan yang memutuskannya lebih dulu, "Kebiasaan, aku belum selesai."


Tasya mengerjapkan kelopak matanya perlahan, hingga mata indah itu terbuka sempurna, dia melihat kearah Leon yang juga tengah menatapnya.


"Oh ... Leon, kau disini? Maaf aku merepotkanmu!" lirihnya dengan suara lemah.


"Tidak usah sungkan Tasya, siapapun akan melakukannya, Apa lagi aku mengenalmu ... ya, walaupun baru mengenal." ujarnya terkekeh.


Tasya menarik bibirnya tipis, "Terima kasih Leon,"


"Aku ambil obat dulu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang." ujar Leon seraya bangkit dari duduknya.


Leon menyerahkan ponsel pada pemiliknya, " Aku tidak menemukan kontak calon suami mu, jadi segera hubungi dia, agar tidak khawatir!" ungkapnya lagi.


Leon akhirnya keluar dari ruangan dan menuju ke apotik untuk menebus obat yang diresepkan oleh dokter.


.


.


Erik berlari masuk kedalam ruangan, setelah dua tahu ruangan tempat Tasya terbaring.


"Syukur lah kau tidak apa-apa!" ucapnya saat melihat Tasya yang sudah sadar.


"Hm...aku apa-apa, kau tidak usah khawatir!" jawab Tasya.


"Hm... dia tidak apa-apa, dokter hanya bilang kalau kelelahan, dan harus istirahat total." pungkas Tasya.


Erik mengangguk, " Kita pulang,"


"Tunggu sebentar, kita tunggu Leon dulu." ujarnya dengan menyandarkan punggungnya disandaran ranjang.


"Leon?"


Tasya mengangguk, "Dia yang menolongku, membawaku kesini. Dan sekarang dia sedang menebus obat ku."


Ricko mendengus pelan, "Oke, kita tunggu!"


Tak lama berselang Leon masuk kedalam ruangan, dia beradu pandang dengan Erik yang tengah duduk ditepi ranjang,


"Leon, kenalkan ini Erik, calon suami ku!" ujarnya dengan menatap Leon.


"Erik ini Leon, dia yang menolongku."


Leon mengulurkan tangan pada Erik, begitu juga erik yang menyambutnya.


.


.


Sementara di ruangan Alan


"Kau sudah selesai?" Ujar Alan pada saat keluar dari ruangan nya.


"Hm... sebentar lagi, aku tidak mengerti bagian ini!" ujar Dinda menggaruk kepalanya.


"Sudah ku duga, kau memang bodoh!" ujar nya menyentil kening Dinda.


"Ih... kau ini terus menyebut pacarmu ini bodoh, itu artinya sama saja kau lebih bodoh dari ku!" gerutunya dengan tangan menggosok kening.


"Menyenangkan sekali ternyata, ada orang yang bisa di ajak bercanda, seperti ini." gumam Alan.


Dinda berdecak, "Bercanda apanya? Kau keterlaluan namanya."


"Begitu ya, maaf...." ucap Alan yang terlihat masih gelagapan.


"Aku tidak mau mengerjakan ini, kau saja! Aku pegal ingin pulang dan istirahat." gerutu Dinda.


Alan menyorot tajam, "Siapa disini bos nya?"


"Kau ... dan aku kan pacar nya bos!" ujarnya dengan terkikik.


Alan menggelengkan kepalanya, lalu mencekal lengannya, "Kau mulai berani!"


"Aaahhkk .... maafkan aku! Aku tidak bermaksud, tapi aku sungguh-sungguh lelah," ujarnya dengan menatap sendu.


Alan mendengus, dan melepaskan cekalannya dengan lembut, "Letakkan saja di situ, lebih baik kita pulang!"


Dinda mengenadahkan wajahnya, "Nah gitu dong...."


Dia langsung menyambar tas selempangnya, "Yuk pulang,"


"Kau memang pacar yang pengertian," ucapnya dengan melingkarkan tangannya pada lengan Alan.


"Tidak begini Dinda, ini kantor!" Ujar Alan melepaskan tangan Dinda.


Dia mendesis, "Memang siapa yang bilang ini kamar!"


"Dinda...!!" ucapnya dengan intonasi tinggi,


Dinda tergelak, melihat raut wajah Alan yang kaget, sekaligus mata yang menyorot tajam, sementara Dinda yang semakin tergelak langsung berlari masuk kedalam lift yang terbuka, Alan menggelengkan kepalanya. Melihat kelakuan gadis yang sekarang menjadi pacarnya itu.


"Bodoh, benar-benar bodoh! Dan aku ikut bodoh karenanya!"


Alan menekan tombol lift hingga lift tidak jadi tertutup, Dinda semakin khawatir melihat Alan yang menyorotinya tajam.


"Aaahkk ... pacarku menakutkan sekali!"


"Dinda, kecilkan suaramu!" ujar Alan yang bergegas masuk kedalam lift.


Dinda membekap mulut dengan kedua tangannya, "Iya ... iya ampun! maafkan aku, aku tidak akan berteriak, aku ... aku..."


Alan mendengus kasar, "Hentikan Dinda, kau mau membuat seluruh karyawan beranggapan aku melakukan sesuatu padamu."


Ting


Pintu lift tertutup, membuat Alan semakin leluasa melangkah, ditambah tidak adanya orang lain selain mereka,


"Itu karena wajahmu menakutkan,"


"Hentikan ocehanmu!"