
"Kenapa sikapku tidak ada yang bagus!"
Dinda terkekeh, "Kau baru sadar yaa?"
Dan Alan hanya mendengus kasar, dia berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil nya, Dinda berdiri melihatnya, lalu tersenyum menyusulnya.
"Hanya kau satu-satunya yang berani mengataiku seperti itu!"
Dinda memasang seat beltnya, "Jelas saja, dengan semua sikapmu itu, siapa yang akan menyukaimu! Yang ada mereka mundur dan tidak ingin terlibat apapun denganmu!"
Alan yang menyalakan mobil pun menolehkan kepalanya, "Lalu kau sendiri bagaimana? Kau berani mendekatiku dengan cara yang aneh!"
Gadis berambut coklat itu mengerdikkan bahu, "Entahlah, mungkin aku di guna-guna!" ujarnya dengan tertawa.
"Kau mengataiku dan menuduhku sembarangan!"
.
.
Mereka tiba disebuah kafe, Dinda mengulum bibirnya, karena baru kali ini Alan mengajaknya makan malam di luar, tangannya yang terulur ke arah Dinda membuat gadis itu tak mengedipkan matanya.
Dia tak percaya, malam ini Alan bersikap manis padanya, dan sering kali terlihat tersenyum ke arahnya, walaupun malah terlihat aneh.
"Sudah ku katakan, jangan memaksakan diri! Kau terlihat aneh!"
"Setidaknya aku berusaha, walaupun mjngkin usahaku gagal."
Dinda terkikik, "Lebih baik memang kau bersikap biasa saja!"
"Menyusahkan!" Ujarnya dengan menundukkan kepalanya.
"Jangan sedih! Wajahmu tidak pantas untuk bersedih!" ujarnya lagi dengan tergelak.
"Kau seperti Leon saja!"
Alunan musik terdengar merdu dari sang pianis yang berada di depan panggung. Mereka larut dalam kebisuan, hanya denting sendok yang beradu dengan piring yang terdengar, sesekali Dinda menatap pria datar di hadapannya dnegan bibir yang menyunggingkan senyuman, begitu juga dengan Alan, walaupun dia hanga menatap calon istrinya itu dengan datar.
"Setelah ini kau mau kemana?" tanya Dinda.
"Pulang!"
"Ish ... apa tidak sekalian kita nonton atau jalan-jalan kek, kok langsung pulang!"
Alan mendongkak, "Memangnya kau mau kemana?"
"Ya kemana saja, asalkan berdua!"
"Nanti juga kita berdua kan bisa! Sekarang masih banyak yang harus aku benahi, sebelum menikah!"
Dinda menghela nafas, "Sainganku berat ... aku tidak bisa mengalahkan pekerjaan!" gumamnya.
"Oh iya ... jika nanti kita sudah menikah, apa kau akan melarangku bekerja?"
"Terserah kau saja! Aku tidak mempermasalahkan hal itu."
"Ish, kau ini! Apa tidak afa keinginan dalam hidupmu!"
"Tentu saja ada!" ucapnya dengan menyeka mulutnya.
"Keinginanmu paling bekerja, bekerja, dan bekerja!" rungutnya.
Alan terkekeh, "Kau jangan berlebihan seperti itu!"
"Itu kenyataannya sayang!"
"Jadi kau keberatan?"
"Tidak, tapi sisakanlah waktu untukku!" ujar Dinda dengan menyuapkan makanan penutup miliknya.
Alan menganggukkan kepalanya, "Terus yang aku lakukan ini apa?"
Dinda terkekeh, "Benar juga! Maksudku lebih sering lagi."
Alan menyusut bekas makanan dari sudut bibir Dinda, "Aku akan terus berusaha!"
My Sweety ice ini membuat hatiku semakin meleleh. Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain mengenainya. Perasaan ku dari dulu tidak berubah sedikit pun.
"Kita pulaang?" ujar Alan membuyarkan lamunannya.
Dinda mengangguk, lalu bangkit mengikuti Alan.
Mereka berjalan keluar dan masuk kedalam mobil, "Pasang seat beltnya yang benar! Ksu ini seperti anak kecil saja!" gerutu Alan saat Dinda memasangkan seat belt nya namun hanya membelit bahunya saja.
"Ini sudah benar sayang!" ujar Dinda.
Alan membenarkan seat belt nya dengan menggeser tubuhnya hingga jarak mereka semakin dekat.
Hingga Dinda dapat menghirup aroma tubuh Alan yang maskulin, membuat dia memejamkan matanya saking salah tingkahnya.
"Apa yang kau lakukan?"
Dinda mengerjap, begitu membuka kedua manik coklatnya, wajah Alan berada tepat di depan wajahnya, membuat degup jantungnha semakin berirama.
Dinda memejamkan kembali matanya, sekilas Alan mengecup pipinya.
"Ayo pulang!"
Keesokan pagi
Tim penyidik yang sudah lebih dulu memeriksa Jerry keluar dari ruangan, setelah keputusan sidang tertutup yang menetapkan Jerry sebagai tersangka.
Tim pengacara yang disiapkan oleh Arya dan juga Leon pun keluar dari ruangan yang sama.
Termasuk Jerry yang di kawal oleh beberapa orang dari kepolisian yang berpakaian biasa.
"Om ... terima kasih banyak atas bantuan Om!" ujarnya pada pengacara yang diberikan Arya.
"Jangan khawatir! Kita akan berusaha yang terbaik!" ucapnya.
"Jerry...." seru Leon yang baru saja tiba.
"Leon! Sedang apa kau di sini!" ucaonya dengan memeluk sahabatnya itu.
"Kau baik-baik saja kan Jerr?"
"Kau tenang saja, aku baik-baik saja! Bagaimana kau sendiri dan juga Alan?"
Leon mengangguk beberapa kali, "Baik-semua baik! Bukan kami yang harus kau khawatir kan! Tapi dirimu sendiri Jerr!"
"Aku baik-baik saja Leon, sungguh!"
"Lebih baik kau pergi Le ... kau hanya membuatku semakin sentimental."
Leon berdecak, "Aku merindukanmu Jerry, tapi kau malah mengusirku!"Mereka pun tertawa.
Para pengacara satu persatu pergi, polisi hang berjagapun membawa Jerry ke ruangan khusus tahanan, namun Keon meminta waktu untuk bisa bicara pada nya.
"Yang ku dengar kau dan Alan akan menikah, benarkah itu?"
Leon mengangguk, dia merasa bersalah karena dirinya yang akan menikah sementara Jerry berada di tahanan.
"Kalian tidak usah khawatir, menikah saja! jangan memikirkan aku, karena aku harus mendekap di penjara."
Leon menghela nafas, "Tetap saja, ada yang kurang saat kau tidak ada Jerry!"
Aku harus berusaha mengupayakan agar Jerry menjadi tahanan kota saja, dengan begitu dia tidak perlu lagi mendekam dipenjara.
"Aku pergi dulu Jerr! Kau jaga dirimu baik-baik!"
"Kau juga Leon."
Leon kembali mengendarai mobilnya ke arah kantor baru ARR. coprs yamg tergabung menjadi F&M Empire, dia langsung menuju ruangan Alan,
"Al ... bagaimana jika kita mengajukan banding, dan meminta pihak polisian untuk menangguhkan tahanan, atau mengubahnya jadi tahanan kota."
"Pelan-pelan Le ... kau membuatku bingung!"
"Ada apa?"