
Dan mulai hari ini, ARR.Corps akan Ayah awasi langsung." ujar Arya kemudian.
Membuat Alan terperangah, begitu juga dengan Leon dan Jerry.
Celaka, aku belum memindahkan data- data transaksi. Jangan sampai Om Arya menyadarinya, jika Jerry masih belum berhenti dan seharusnya aku sudah memindahkan file itu. batin Leon.
Begitu juga dengan Jerry, dia terperangah, dan dia yang akan mengurus bisnis ini sendirian.
Aryapun masih belum tahu, jika Alan baru saja melakukan sesuatu yang terbilang cukup ekstrem.
Untuk berapa saat, semoga ayah tidak tahu apa yang baru saja aku lakukan.
"Dan sebaiknya kau juga fokus saja disana, biar Leon dan Jerry yang berada disini!" ujar Arya lagi.
"Ayah akan mengawasi kalian,"
Mereka bertiga saling pandang kemudian menatap kearah Arya.
"Tuntaskan semuanya, jangan lagi ada yang tersisa, kau ...kau ... dan juga kau!" tunjuknya bergantian pada Alan, Leon, dan juga Jerry.
Mereka mengangguk dengan lemah.
Sementara Omar menatap ketiganya bergantian dengan sudut bibir yang terangkat.
"Ayah pulang dulu." ujarnya berdiri.
"Ingat Al, kau harus pulang ke rumah!" ujarnya lagi.
Alan mengangguk, sementara yang lainnya tergelak,
"Kau sudah tidak lagi bisa berkutik ternyata Al. Kau benar-benar payah."
"Seperti anak gadis....!" timpal Leon.
Mereka terbahak, begitu juga Omar.
Alan menatap dengan sorot mata bak elang, membuat mereka diam seketika, dia lantas membakar sebatang rokok.
"Pindahkan semua Le, sebelum ayah menyadarinya. Aku tidak ingin ada masalah lagi dengannya, dan kau Jerr segera urus anak buahmu yang akan ikut kau dan yang tidak, biarkan mereka memilih!"
Jerry mengangguk. Lalu Alan mematikan kembali rokok yang baru saja dia bakar.
"Dan jangan lupa ajak Omar jalan-jalan," ujarnya dengan pergi berlalu.
"Kau mau kemana Al? Urusan kita belum selesai?" teriak Leon.
"Bukan urusanmu!"
Alan keluar dari ruangan nya, dia melajukan mobilnya dengan cepat, sesuatu yang amat penting harus segera dia urus.
Hampir empat puluh lima menit kendaraan melaju dengan cepat, dan akhirnya berhenti ditempat yang dia rindukan.
Namun tangannya mencengkram erat kemudi, rahangnya mengeras, dengan sorot mata menajam.
"Apa yang dia lakukan disini? Aku menyuruhnya untuk tidak pergi sembarangan, tapi dia melakukannya, dasar bodoh!" Gumam Alan.
Dinda yang terlihat cekikikan dengan seorang pria dan dua orang wanita yang tampak sedang menggendong seorang anak perempuan.
Alan memicingkan matanya,
"Iya kak, aku baru dua hari berada disini."
"Iihh anak kakak lucu banget, boleh aku gendong?"ujarnya.
Alan yang keluar dari mobil dan menghampirinya itu segera menarik tangan Dinda.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Dinda menoleh, wajahnya berbinar seketika saat melihat pria yang begitu dirindukannya.
"Alan ... kau sudah kembali?" ujarnya dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Alan.
Sementara Alan melepaskan kedua tangan yang melingkar erat itu, sementara orang- orang melihat ke arahnya.
"Lepas, jangan begini! Kau mencari masalah denganku?" ketusnya.
"Aku merindukanmu!" ujar Dinda semakin merekatkan tangannya.
Hingga Alan kesulitan melepaskannya, "Kau merindukanku?"
Dinda menganggukan kepalanya, "Sangat."
"Lantas kenapa kau tersenyum pada pria lain?Hem!"
Dinda menelan saliva, "Kapan aku tersenyum pada pria lain?"
"Sudah lepaskan aku!"
Dia kenapa? Apa hanya karena melihatku tersenyum pada pria tadi, dia semarah ini. Dasar ... Apa dia sedang cemburu?
Alan kembali masuk kedalam mobil, disusul oleh Dinda yang ikut masuk ke pintu mobil sebelahnya.
"Apa kau sedang cemburu?" Dinda menyunggingkan senyumnya.
Membuat Alan mendengus kesal, "Jangan bermain-main denganku!"
"Aku tidak main-main, pria yang tadi itu suaminya temanku, perempuan yang tadi menggendong anak perempuan yang sangat lucu tadi."
Alan kembali mendengus, "Aku tidak peduli pria itu siapa!"
Dinda tergelak. Membuat Alan memicingkan kedua mata kepadanya,
"Apa kau fikir ini lucu?"
"Tidak, kau yang lucu ... kau secemburu itu, padahal kan dia hanya menemani istrinya saja." ujarnya cekikian.
Alan menghentikan laju mobilnya, "Kau ingin membuatku marah?"
Dinda tergelak dengan memegangi kedua pipi Alan. "Tidak ... tidak... aku terlalu senang melihatmu cemburu, itu artinya kau sudah sangat-sangat mencintaiku kan? Iya kan... Hem?"
Kedua netra mereka bertemu, Alan mengangguk pelan. Dengan bibir yang melengkung sempurna Dinda menatapnya.
"Sudah aku bilang, jangan tersenyum pada pria lain."
"Iya ... iya bawel!"
Tidak peka juga, harusnya kan barusan dia menciumku, nasib punya kekasih se kaku dia.
.
.
"Kau membawaku kemana?" tanya Dinda saat Alan kembali melajukan mobilnya, melewati blok demi blok kawasan real estate. Dan berhenti tepat didepan gerbang berwarna hitam.
"Turunlah, aku akan membawamu pulang!"
Dinda mengernyit, lalu membuka seat belt miliknya, lalu menyusul Alan yang sudah terlebih dahulu keluar.
Kenapa dia tidak menungguku.
Terlihat gerbang itu terbuka, Alan meraih tangannya dan membawanya masuk.
"Den ... lama tidak pulang ke sini." ujar seorang security yang membuka gerbang.
"Masukkan mobilku!"
Dinda menepuk dadanya, "Kau ini tidak bisa santai sedikit! Pasang wajah menyeramkan begitu!"
Alan mengernyit, "Lalu aku harus bagaimana?"
Dinda menekan kedua ujung bibirnya yang di tarik ke samping.
"Kau lebih tampan saat tersenyum."
Alan mati kutu, tidak ada yang berani padanya selain Farrel, dan sekarang bertambah dengan Dinda.
"Nah begini lebih tampan!"
"Kau...!!" sentaknya.
Dinda terkikik, dengan mengeratkan giginya dan juga jari telunjuk dan jari tengah yang dia perlihatkan.
Pintu terbuka, seorang wanita paruh baya terlihat berdiri dengan kedua manik yang mulai memerah berair.
"Kau pulang juga Nak?"
Alan mengangguk dan berjalan masuk, "Bi apa kabar?"
Dinda terperangah, sekali lagi melihat sisi lain dari seorang Alan. Bagaimana dia memperlakukan seseorang yang dulu sering menemaninya saat dia masih kecil.
Perhatian dan kasih sayang yang tidak pernah diperlihatkannya pada orang lain, perlakuan hangat yang hanya dia perlihatkan pada orang-orang tertentu saja.
"Siapa?" ujarnya dengan mata yang memicing,
Alan memasangkan kaca mata padanya.
"Sudah aku bilang, kaca mata ini harus selalu dipakai, untuk itu aku membelikannya kan!"
"Iya ... aku sering lupa!" jawabnya dengan mengusap pipinya.
"Kau selalu tidak mau tinggal denganku! Lain kali kau tidak boleh menolak." titah Alan.
"Iya, aku akan tinggal bersamamu saat kau sudah menikah! Sekarang kau kenalkan aku dengannya, ayo jangan membuatnya menunggu!"
Alan menatap Dinda yang juga menatap ke arahnya saat bibi pengasuh mengatakan kata menikah.
Menikah
Menikah dengannya, hihihi
Dinda yang masih terpaku ditempatnya itu kini mengangguk saat wanita paruh baya itu menghampirinya.
"Kau sangat cantik, apa kalian akan segera menikah?"