
Kini mereka dalam perjalanan pulang ke kediaman Adhinata, Alan yang semobil dengan Arya dan juga Farrel, sedangkan Leon dan Jerry naik mobil lain bersama seorang supir.
Walau Alan heran, kenapa mereka bisa bebas dengan jaminan penuh dari keluarga Adhinata.
Tapi dia senang, akhirnya bisa kembali menghirup udara segar.
Bunda, dia begitu merindukan ibu yang sejak kecil mengasuhnya itu, dan tentu saja Dinda, sang pujaan hati. Tekadnya kembali bulat, dia akan sesegera mungkin menemuinya, dan membawanya kembali pulang.
"El ... apa kau yang menyuruh Mac?" tanyanya to the point.
Farrel menatapnya dari spion, "Kau sudah tahu? Baguslah jadi aku tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi."
Alan mmenghela nafas panjang, "Selalu saja bertindak tanpa berfikir!"
"Heh ... kau bilang tanpa berfikir? Justru karena aku sudah berfikir ribuan kali bahkan memikirkannya siang dan malam, bagaimana bisa kau berfikir seperti itu! Dasar bodoh ... aku memikirkan kebahagiaan mu Al."
"Sudah kenapa kau marah El?" Arya berusaha menenangkan.
"Lihatlah Ayah, manusia sok jagoan ini, kenapa dia selalu berfikir bisa menyelesaikan semua nya sendiri."
Alan hanya berdecih, "Bukan begitu, kau tahu maksudku bukan itu!"
Sebulan berada di penjara membuatnya rindu akan sosok ibu dalam hidupnya. Namun fikirannya kini bercabang, ingin rasanya dia terbang saat ini juga untuk menemui Dinda, dan menjelaskan semua padanya.
"Tentu saja aku tahu, untuk itu aku memberikan ijin pada Mac, tapi sepertinya harus perlu waktu Al, ibunya akan dioperasi, jadi rencanaku sedikit berantakan."
"Kau berencana mengeluarkan aku tepat disaat Dinda pulang?"
"Sangat tepat! Tapi sepertinya cinta kalian masih harus di uji sedikit lagi, karena kau terlalu bodoh!"
"Sialan!!"
"Memang itu kenyataannya, iya kan Yah?"
Arya hanya mengangguk dan tersenyum akan pertanyaan Farrel mengenai Alan.
"Lihat Ayah saja setuju dengan pemikiranku!" ungkapnya lagi.
Memang sebaiknya aku kesana dan membawanya kembali, sekaligus meminta maaf pada kedua orang tuanya. batin Alan.
"Tapi Al ... kau tidak bisa pergi kemana-mana dulu, apalagi peegi keluar negeri, kau masih dalam masa percobaan!" tukas Arya seakan tahu isi hati putranya itu.
Dirinya yang sudah merasa semangat itu harus kembali lemas, karena penuturan Arya, namun juga tidak mungkin melakukan hal konyol yang akan membuat keluarganya kembali kecewa.
"Iya Ayah!" lirihnya.
"Memang seharusnya, dan aku akan mengawasi mu Al!" sambung Farrel dibalik kemudi.
.
Mereka tiba di rumah utama Adhinata, semua orang menyambutnya dengan suka cita, terutama Ayu yang mendadak kembali sentimental. Dia memeluk putra kebanggannya dengan isak tangis, membuat iri Leon dan juga Jerry.
"Andai keluarga ini menemukanku sejak kecil Jerr, mungkin aku akan merasakan kasih sayang kedua orang tua yang tidak pernsh aku dapatkan sebelumnya." gumam Leon.
"Sudahlah kau tidak usah berdalih, kau ini sedih karena batal menikah, dan orang tuanya yang tiba-tiba menyatakan tidak setuju anaknya menikah denganmu!" seloroh Jerry.
"Kau ini tidak pengertian sekali padaku! Aku butuh pelukan sekarang." ujar Leon dengan menarik Jerry dan memeluknya.
Ayu terus menangis dalam pelukan Alan, membuat Arya menggelengkan kepalanya, begitupun dengan Farrel.
"Sudah bun, dia kan sudah pulang! Dan kemungkinan tidak akan lagi masuk penjara! Jadi tidak usah menangis lagi," kata Arya.
"Ayah paling tidak mengerti perasaan Bunda, bagaimana hati Bunda kehilangan dia, sayangku ... pahlawan bunda, bunda senang kamu kembali Nak!" ujarnya dengan mengelus punggung Alan.
"Itu karena bunda menyayangimu dasar bodoh! Kau saja yang tidak pernah peka, dasar kanebo, makanya tidak salah kalau para wanita mengataimu manusia kaku."
"Tidak usah ikut campur El, ini urusan ku dengan bunda!" sahut Alan yang mengurai pelukan dan mendekati Farrel.
"Aku merindukanmu juga El," sambungnya lagi dengan menarik Farrel dan memeluknya.
.
Sementara di rumah kediaman Feremundo, Tasya tidak kalah sedih, dia terus mengurung diri di kamar baby Zi, meskipun berkali-kali ayahnya memanggil nya untuk keluar.
Dia sedih, marah, dan juga kecewa pada Leon yang menyembunyikan hal serius darinya, bagaimana dengan janjinya untuk menikah inya dan membuatnya bahagia.
Kecewa dan kecewa kembali dia dapatkan dari seorang pria, membuatnya kembali depresi, dan memilih mengurung diri bersama baby Zi.
"Sayang, ayo keluarlah ... kasian baby Zi, dari tadi terus menangis! Ayo keluarlah, biar Papi menggendongnya Nak!"
"Pergilah, aku dan anakku tidak membutuhkan Papi. Semua pria sama saja, hanya bisa berjanji, tapi tidak menepatinya!" teriak Tasya.
Fierro kembali mengetuk pintu kamarnya dengan pelan-pelan, "Sayang, Papi tidak begitu, Papi akan selalu berada disisi kalian, ayo keluar kita bicara? Hem...."
"Pergilah, urus pekerjaan Papi yang lebih penting itu, biarkan aku dan Baby Zi disini, ksmi sudah terbiasa berdua."
Tasya menggendong baby Zi yang menangis, lalu mengangkatnya ke atas, "Iya kan sayang, kamu hanya butuh Mama, bukan mereka yang selalu membuat kita kecewa ya kan?"
Baby Zi terdiam, namun kembali menangis saat Tasya mengangkatnya lebih tinggi.
"Diamlah! Jangan menangis, jangan biarkan mereka melihat kita menangis, kita akan kuat ... kita kuat tanpa mereka ya sayang!" sentaknya membuat baby Zi semakin menangis, bahkan kali ini tanpa suara, karena terlalu lama menangis.
"Sya ... berikan baby Zi pada pengasuh ya sayang, agar baby Zi minum susu!" teriak Fierro yang mulai merasa tidak enak hati dengan baby Zi yang tidak bersuara.
Fierro bahkan meminta kunci cadangan pada pelayan, agar bisa membuka pintu kamar bayi, namun karena pintu terkunci dari dalam, dia tidak bisa memasukan kunci pada lubangnya.
"Bagaimana ini tuan besar, kuncinya tidak bisa masuk! Masih ada kunci di dalamnya." ucap kepala pelayan itu dengan panik.
"Panggil pelayan yang lain, kita akan mendobraknya."
Kepala pelayan itu mengangguk lalu memanggil pelayan yang lain sesuai perintah majikannya, tak lama kemudian, beberapa pelayan, bahkan supir Tasya datang dan mendobrak pintu dengan paksa.
Brukkk
Satu kali dorongan, pintu masih belum terbuka, mereka kembali mengambil ancang-ancang dan kembali mendobraknya.
Brukk
"Ayo lebih keras lagi!" seru Fierro.
Mereka pun kembali mendorong pintu dengan ancang-ancang yang lebih kuat,
Brakkkk
Pintu akhirnya terbuka, semua orang berhambur masuk, begitu pun dengan Fierro. Tasya yang tengah menggendong Baby Zi yang sudah tidak menangis itu sontak kaget.
"Siapa yang menyuruh kalian masuk ke kamar bayiku? Papi ....?" Teriaknya.
"Berikan baby Zi pada pengasuh ya sayang, biar dia bisa tidur,"
"Baby Zi sudah tidur, Papi lihat ini, dia bahkan sudah tidak menangis." sahut Tasya yang memperlihatkan baby Zi pada mereka. Namun Fierro terlihat membelalakan kedua matanya saat melihat cucu pertamanya itu, dan dia menyuruh pengasuh untuk masuk.
"Astaga, cepat bawa baby Zi darinya!"