
Dengan susah payah Alan membuka pintu plat milik Dinda, hampir dua puluh menit dia menggendong gadis pecicilan itu didepan pintu dengan satu tangan yang dia pakai mengotak ngatik ponselnya.
"Dasar gadis bodoh, sudsh ku bilang gunakan angka yang rumit!"
Setelah berhasil membuka pintunya, Alan masuk kedalam, lalu berjalan masuk kedalam kamar.
"Hey, ayo bangun! Aku sudah pegal menahan tubuhmu."
Alan pun mendudukkan dirinya di sofa, dengan begitu Dinda bisa di lepaskannya, menyandarkan punggungnya sedikit ke belakang sofa, Alan membuang nafas, bahunya terasa kaku, lalu dia beralih ke dapur, mengambil gelas lalu mengisinya dengan air putih.
Alan kembali duduk tak jauh dari Dinda yang masih tertidur pulas, dia menyandarkan punggungnya.
Tak lama Alan berlalu ke dapur untuk membuat sarapan, dia berkutat dengan segala bahan dan membuat sandwich.
Dinda mengerjapkan kedua matanya, harum semerbak dari arah dapur menyeruak masuk kedalam hidungnya.
"Dasar pemalas." keluh Alan yang mendengus pelan seraya menusuk pipi Dinda.
Dinda meregangkan otot dengan merentangkan tangannya, membuat Alan bergeleng kepala,
"Aku tertidur yaa?"
"Iya dan bisa-bisanya kamu tertidur saat aku gendong."
Dinda menolehkan wajahnya hingga jarak mereka semakin dekat.
"Itu karena punggung mu terasa nyaman, sampai akhirnya membuat aku tidur dengan mudah." ujarnya mengulum senyum.
Pletak
Alan menyentil keningnya, "Itu karena kau si tukang tidur, dasar si *P*ororo!"
Dinda menggosok keningnya, "ish, kau ini hobi sekali menyentil keningku, kalau orang lain cium kek, peluk kek, ini selalu menyentil," gumamnya.
"Menyebutkan pororo apa itu Pororo!" ucapnya lagi.
"Kau tidak tahu Pororo si tukang tidur?" Dinda menggelengkan kepalanya,
"Pororo a little penguin?"
Dinda menggelengkan kepalanya lagi.
Alan berdecak, dengan piring berisi sandwich dia letakkan begitu saja di paha Dinda, lalu mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi jotobe. Mengetikkan judul film kartun yang baru-baru ini sering ditontonnya.
"Nih ..." ujarnya dengan menunjukan layar ponsel yang menyala, menampilkan video film kartun tentang seekor penguin kecil yang hobinya tidur.
"Kamu menonton film kartun?" Dinda mengulum senyum.
"Memang kenapa? Apa ada larangan orang dewasa tidak boleh menonton kartun?"
Dinda merebut ponsel dari tangan Alan dengan terkikik, "Kau ini serius sekali, apa tidak kamu tidak merasa terganggu?"
"Terganggu karena apa?" Alan menyuap sandwich dengan memandangi Dinda.
"Wajahmu terlalu tegang! Urat-urat di wajahmu juga ikut tegang." Dinda tertawa.
Hap
Alan menyumpal mulut yang tengah terbuka itu dengan sandwich miliknya yang tinggal setengahnya.
"Iihh kau ini, menyebalkan!" ujar Dinda dengan mulut penuh lalu mengunyahnya.
Dengan mata mendelik ke arah Alan yang kini tertawa kecil.
Mereka lalu menonton film kartun itu bersama, dengan bersandar pada kursi dan ponsel yang dipegang oleh Dinda.
"Rame juga, tapi dia tidak mirip denganku yaa, aku hanya tidur sekali dipunggungmu, itu karena aku kurang tidur semalam."
"Tidak dia mirip dengan mu!"
"Tidak sama sekali sayang!" ujar Dinda kemudian.
Alan mengulum bibirnya, sementara Dinda kembali menatap ponsel itu, dengan menyuap sandwich dari piring.
Sementara Alan diam- diam memandangi wajahnya, yang tertawa hanya karena menonton kartun, yang terlihat bahagia walau dengan hal-hal kecil sekalipun.
Dan terbersit keinginan akan membuatnya selalu bahagia, membuatnya aman dan tentu saja akan melindungi nya.
Dinda menengok piring saat dia meraba-raba dan tidak menemukan sandwichnya. Lalu beralih pada Alan yang tengah menatapnya lekat.
Alan gelagapan, lalu membuang wajahnya seketika, sementara Dinda terkikik melihat nya.
"Apa kau ingin melakukan sesuatu denganku?" tanya Dinda.
Alan mengernyit, "Melakukan apa? Jangan aneh-aneh!"
Dinda terkikik lalu menyimpan ponsel diatas meja, kemudian dia bangkit dari duduknya.
"Kamu tidak ada kegiatan hari ini?"
Alan menggelengkan kepalanya, " Tidak ada,"
"Itu bagus, berarti ini akan sangat seru. Kau mau kan menemaniku?"
"Apa?"
"Aku akan segera kembali." Dinda berjalan masuk kedalam kamarnya.
Membuat Alan mengernyit, dan menggelengkan kepalanya. Tak lama Dinda kembali dengan membawa banyak barang di tangannya. Lalu dia duduk kembali disamping Alan.
"Apa itu?" ujar Alan dengan heran.
"Ini Masker wajah." ujarnya terkikik.
"Yaa, seperti itu. Untuk membuat wajah bersih dan berseri, rileksasi dan juga meregangkan otot-otot wajah."
Alan bersidekap tangan saat Dinda dengan cekatan meracik bahan-bahan yang akan dia gunakan. Dia sendok masker bubuk dengan varian kopi, lalu mencampurkan dengan beberapa tetes air lemon, dan menyendokkan madu lalu mencampurkannya jadi satu.
"Kamu siap?" ujar Dinda bersemangat.
"Aku?"
Dinda mengangguk, "Iya kamu, siapa lagi, biar wajahmu tidak selalu tegang."
"Aku tidak mau! Enak saja,"
"Ayolah, aku sudah membuatnya."
"Kau lakukan saja pada wajahmu, jangan padaku."
"Tapi ini terlalu banyak, sayang kalau dibuang, ayolah sekali saja, ya... yaa.. please."
"TIDAK DINDA!"
Dinda merengut, dengan mencebikkan bibirnya. "Kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku."
Alan menghela nafas, "Memangnya kalau mencintai harus dengan memakai benda itu?"
Bodoh
"Kalau kamu mencintaiku, kau akan melakukan apapun yang aku inginkan! Bukankah begitu?" cebik Dinda.
"Iya, tapi tidak memakai masker seperti itu juga Dinda!" ujar Alan.
Dinda menundukkan wajahnya dengan sedih, tangannya mengaduk-ngaduk wadah kecil berisi bahan-bahan yang sudah campurkan tadi.
Alan menghela nafas, "Baiklah, tapi hanya sekali ini saja! Aku tidak mau melakukan hal-hal aneh!"
Cinta memang benar-benar membuat orang menjadi bodoh, dan aku mengalaminya sekarang, tanpa bisa menolaknya. Ini gila.
Dinda mengenadahkan kepala, "Benar kau mau melakukannya? Kau tidak marah?"
Alan menarik bibirnya melengkung, hal bodoh yang dia lakukan membuat gadis yang dia cintai bahagia, dan itu membuatnya bahagia, Cinta memang gila.
Lan mengangguk, "Sekali ini saja!"
Dinda mengangguk, "Sekali hari ini, tidak tahu hari lainnya."
"Dinda!"
Dinda terkekeh, "Bercanda, aku hanya bercanda."
Lalu dia mengakup wajah Alan, dan mulai mengolesi bahan masker dengan menggunakan kuas kecil dengan merata keseluruh wajah, kecuali daerah mata dan bibirnya.
Sementara Alan dengan leluasa memandangi wajah polos Dinda, yang tiba-tiba saja mengernyit, lalu menarik senyumnya tipis, kemudian iris mata coklat yang mengedip, bibir tipis merah delima, Alan tersenyum melihat nya.
"Jangan tersenyum, ini nanti rusak lagi." ujarnya dengan bibir yang mengatup kembali.
Alan menatap bibir itu dari dekat, sangat menggoda, dan ingin menyapu nya dengan sekali gerakan, namun tidak mungkin dilakukan karena wajahnya sekarang terasa menegang.
"Hei kenapa wajahku terasa di tarik begini?" gumamnya tanpa menggerakkan bibir.
Dinda terkekeh, "Memang begitu, sudah tidak usah banyak bergerak, kau akan membuat masker itu retak, itu artinya gagal, kamu harus mengulangnya dari awal."
Alan menghela nafas, Sebodoh ini orang jatuh cinta, ya tuhan maafkan aku, dulu selalu mengatakan si Farrel bodoh, sekarang aku mengalaminya sendiri.
"Sekarang giliranku, kamu bisa kan melakukannya, sapu sapu semua wajah, kecuali mata dan area bibir." ucap Dinda yang menyerahkan mangkuk kecil berserta kuasnya pada Alan.
Alan mengangguk, Dia mulai mengolesi wajah itu seperti sedang melukis, menyapu ke atas, menyusuri hidung mancung dan juga meratakan semua wajahnya. Memandangi wajahnya dengan lekat, begitu juga Dinda yang kini menatap wajah Alan yang sudah bermasker itu.
Bak seorang pelukis handal Alan kembali melukis wajahnya sebelah kiri, kembali menyapukan bahan masker itu pada wajah gadis yang tidak pernah dia duga sebelumnya, gadis yang diam-diam selalu membuatnya tersenyum.
Hingga akhirnya selesai, mereka kemudian bersandar disofa, dengan tangan yang saling menggenggam.
Tidak ada yang bicara diantara mereka, saling sibuk engan fikiran yang entah melanglang buana kemana, ditambah dengan masker yang menempel kini diwajah mereka.
"Wajahku keras, aku ingin melepasnya,"
"Tunggu lima menit lagi,"
Alan beranjak, "Tidak mau, wajahku gatal."
Lalu dia menuju wastafel dan mencuci bersih wajah nya, yang sekarang rasanya terasa lebih segar itu.
Dengan handuk kecil dia menggosok pelan wajahnya, lalu kembali duduk disofa,
"Kau belum selesai?"
"Kamu tidak sabaran ini Lima menit lagi." ujarnya dengan mata terpejam.
Alan mengerdikkan bahu, lalu beranjak ke dapur. Dia membuka lemari es dan membawa soft drink. Namun saat berdiri Dinda yang hendak mencuci wajahnya masuk dengan tiba-tiba hingga mereka bertabrakan.
"Aaa...." pekik Dinda hampir terjatuh.
Alan dengan sigap menahan pinggangnya, "Kau ini hobi sekali terjatuh."
Deg
Jarak mereka semakin dekat, membuat jantung berdetak lebih kencang dari biasanya. Tangan Alan semakin merekat dipinggang Dinda, membuatnya mendesir.
"Sudah sana bersihkan dirimu!"
Dinda terkekeh dengan tangan mencubit pelan pipi Alan. "Aku kira dia akan mencium ku, dasar manusia kaku."