
Dinda meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, mengotak-ngatiknya sebentar dan membuka notifikasi yang hari itu mendadak tidak penting sama sekali. Hanya di lihat sebentar, dibacanya saja bahkan tidak dibalasnya.
Dia mencari kontak Metta dan mendial nya. Namun hanya dering telepon tanpa di angkatnya.
'Ah, kemana sih tuh pengantin baru! Makin sibuk deh ah. Aku kan mau cerita hot news.' gumamnya sendiri.
Hidupnya tengah bahagia, bunga-bunga seolah bermekaran dengan indah, dengan semerbak wangi yang menggelitik hatinya, definisi bahwa cinta itu buta memang benar adanya bagi Dinda, dia mampu melakukan apapun untuk mendapatkan perhatian Alan, bahkan hal-hal bodoh yang bagi orang itu tidak rasional, dan melakukannya tanpa logika. Bodoh bukan?
Namun semua itu terbayar kini, cinta itu berbalas, mengenyampingkan logika bahwa perempuan hanya bisa menunggu, menunggu dan menunggu, tanpa melakukan apa-apa.
Gengsi yang terlalu tinggi, ego dalam diri, semua dienyahkannya. Semua hilang saat mendengar apa yang dikatakan sahabat Alan, Leon. Dan juga temannya, yang dengan rela mundur dan mengalah untuk kebahagian sahabat dan wanita yang dia sayangi. Bukankah cinta tidak harus memiliki. Entahlah hanya Leon yang tahu, bagaimana perasaan nya saat ini.
Beberapa staf dari berbagai divisi yang mengantarkan berkas pun terheran dengan sikap Dinda, hari ini sikapnya jauh lebih ramah, dengan senyum yang menghiasi bibirnya, wajahnya bersinar bahkan mengalahkan terangnya bulan di malam hari.
Dreet
Dreet
Ponselnya menggelepar diatas meja, tanda bunyi pesan masuk beberapa kali, namun karena Dinda tengah menerima berkas dari seorang staf, dia pun mengabaikan panggilan tersebut.
Hingga interkom yang kini berdering, mau tidak mau, dia harus mengangkat nya meski dirinya masih kerepotan, dengan berkas yang diserahkan para staf.
Dinda mengangkat intercom itu, "Ya sa--...pak? Ujarnya gelagapan.
'Kau terlalu ramah pada mereka, jangan terlalu banyak tersenyum!'
Tut
Intercom terputus dari ujung sana, Dinda mendongkakkan kepalanya melihat ruangan Alan yang tidak terlihat sama sekali dari tempatnya, ditambah kirai yang menutupinya, bahkan sangat rapat.
"Dari mana dia bisa lihat senyuman ku?" gidik nya,
Namun juga senyuman terbit tiba-tiba karena ucapan Alan yang terdengar cemburu itu. Ada banyak kupu-kupu beterbangan didalam hatinya.
Dia membuka rentetan pesan masuk, dari nomor yang sama, kontak yang dia namai 'Orang gila', Dinda terkekeh dengan nama yang dia cantumkan saat marah, kesal dan kecewa, namun tak pernah sekalipun di blok nomor itu.
'Jangan terlalu banyak tersenyum! senyummu jelek!'
'Aku tidak suka senyummu, aku yakin staf itu juga sama!'
Pesan lainnya dari Alan yang membuatnya kembali terkikik namun juga terheran.
'Kau bukan keset kaki kan? Jadi tidak usah terlalu welcome pada mereka.'
'Ingat, aku tidak sedang cemburu, aku hanya tidak suka!!'
Dinda hampir terjatuh dari duduk nya saking tergelak dengan keras, apa yang difikirkan kekasihnya itu, bukan cemburu tapi apa.
Lucu sekali kata-katanya, kenapa dia? Bilang saja kalau dia cemburu. Dasar! gumamnya.
Sementara Alan yang berdiri mematung melihat Dinda yang tengah terkikik dari balik jendela yang memang terlihat jelas dari dalam, dia menggelengkan kepalanya, menyadari jika ternyata dia sudah sangat bodoh, namun juga tidak bisa dihindari nya begitu saja,
"Aku tidak suka melihat dia tersenyum pada pria lain, ingin ku congkel matanya saja. Astaga apa yang aku fikirkan, bodoh." monolognya sendiri.
.
.
Sementara Leon yang berlalu keluar bersama Tasya, masuk kedalam lift yang sama sambil mengobrol, menghilangkan sedikit kekecewaan dan patah hati nya sejenak melupakannya,
"Jadi kau akan menikah? Wah selamat yaa ... Aku di undang gak?" kelakarnya.
"Tentu saja kau bisa datang, kalau kau mau, " ujar Tasya yang mengeluarkan kartu undangan dari tasnya, dan memberikannya pada Leon.
Leon membaca sekilas nama Tasya dan Federicko yang terpangpang dengan tinta emas di kartu ucapannya itu.
"Wah dua hari lagi yaa, kenapa masih jalan-jalan, bukan kah seharusnya kau mempersiapkan diri saja dirumah, ke salon." tanya Leon.
"Lucu, harusnya sih begitu, tapi yaa! Aku rasa tidak ada yang terlalu special dalam pernikahan ini." ungkap Tasya dengan menunduk kan kepala.
"Berapa bulan usia kandungan mu?" ujar Leon saat mereka masuk kedalam lift yang terbuka.
Tasya masuk terlebih dahulu, disusul oleh Leon, "Dua puluh tiga minggu, itu menurut hitungan dokter."
"Oh..."
Leon hanya beroh ria, tak lantas membuat Leon bertanya lebih lanjut.
"Jadi kau temannya Alan atau Dinda?"
"Hm... Dinda ya namanya, aku baru ingat, aku pernah melihatnya, dia gadis menyenangkan, dia pernah menolongku saat aku hampir saja tertabrak," ungkap Tasya.
"Benarkah?" Tasya mengangguk.
"Dia memang menyenangkan, meskipun tingkahnya kadang ceroboh,"
"Ooh...."
Giliran Tasya yang ber oh ria.
Ting
Pintu terbuka, Leon mempersilahkan Tasya untuk berjalan duluan, namun tiba-tiba saja Tasya memeluk memegangi perutnya.
"Awwww...." pekiknya.
"Tasya, kau kenapa?"
"Leon, aah.... sakit sekali!" ujar nya dengan memegangi perutnya.
"Astaga, ayo ku antar kerumah sakit!"
Tasya mengibas-ngibaskan tangan ke arah Leon, "Tidak, tidak usah! Aku mau pulang saja!"
"Hey, jangan begitu, wajahnya pucat sekali!"
Bruk
Tasya ambruk tak sadarkan diri, Untung saja Leon sempat menangkap tubuhnya hingga kepalanya tidak membentur tembok, dia kemudian mengangkat tubuh Tasya dan berteriak pada security untuk membantu membuka pintu mobilnya.
"Buka pintu mobil itu Pak," ujarnya dengan melempar kunci mobil kearah security.
Dengan cepat Leon membawa Tasya, dan mendudukkan nya di kursi sebelah penumpang, tak lupa memasangkan seat beltnya melingkari Tasya. Lalu menutup pintu nya dan dia berlari memutar kearah kemudi.
Leon menatap Tasya yang sudah berkeringat dingin membanjiri wajah nya, lalu dia melajukan mobil ke sebuah rumah sakit,
"Bertahanlah... kita akan sampai sebentar lagi," ujarnya dengan memasuki pelataran parkir sebuah rumah sakit.
Leon terlebih dahulu keluar dan berlari kearsh rumah sakit, dia melihat dua orang suster tengah melintas didepannya.
" Sus, suster tolong, aku membawa orang!"
Dengan cekatan kedua suster itu mendorong blankar rumah sakit, menuju mobil Leon. Mereka membawa Tasya masuk, sedangkan Leon harus mencari tempat parkirnya terlebih dulu.
Setelah itu Leon masuk kedalam UGD, dimana suster membawa Tasya.
"Suster dimana temanku?" tanyanya pada suster yang kebetulan keluar dari ruangan itu.
"Dokter masih memeriksanya, bapak tunggulah disini, sampai dokter kembali." ujarnya dengan berlalu begitu saja.
"Semoga Tasya dan bayi nya tidak apa-apa." gumamnya dengan mondar mandir.
Dia tidak tahu harus menghubungi siapa, ponsel milik Tasya dia otak-atik namun tidak menemukan apa-apa, bahkan nama Federicko, calon suaminya pun tidak ada di kontak nya.
"Bagaimana ini?"