
Dinda menutup pintu dan menyandarkan tubuh dibelakangnya, "Apa yang dia fikirkan!! Bodoh sekali."
Dinda menitikkan bulir bening yang menganak, bukan karena perkataan Leon, bukan. Tapi nasib cinta nya sendiri.
Jika aku bisa, aku ingin melupakannya, melupakan rasa yang semakin membesar ini, dan memilihmu.
Jika aku bisa, aku ingin mengubah waktu , agar aku bisa melihatmu saja saat itu, pria pertama yang membuat hatiku berdebar. Kenapa bukan kamu saja?
Tapi aku tidak sanggup, rasa ini lebih dulu menyerangku, aku melihatnya, hanya padanya. bukan kamu bukan juga siapa pun. Dan aku bahkan benci perasaan ku sendiri.
Dinda menangis memeluk lututnya sendiri, dia yang tidak pernah melihat kearah nya,
Kenapa dia selalu percaya bahwa suatu hari nanti takdir membawa kisah mereka, dia ... hanya dia. Hingga tidak ada lagi celah untuk yang lainnya masuk.
Sampai membuatnya mengabaikan sifat dingin, tidak berperasaan dan juga kaku pada dirinya. Hingga cacian dan umpatan yang diberikan padanya bak warna-warni karena dia mencintai seorang pelukis.
Tangan nya akan penuh dengan cat acrilic. Atau percikan api saat dia menyalakan sebuah sumbu, karena tangan nya jelas akan terkena panas, atau seorang nahkoda kapal yang menerjang badai. Karena sudah pasti badai akan menghantam tubuhnya. Semua itu menyakiti diri sendiri, namun dia rela melakukannya.
Perlahan Dinda menyusut air yang menganak itu dengan jarinya, dia lalu keluar dengan segala rencana di dalam kepala.
Flash back on
"Turunkan aku disini saja!" ucap Dinda yang hanya ingin tahu reaksi yang diberikan oleh Alan.
"Disini?Kau yakin!?"
Aku ingin tahu apa kau tega menurunkan aku sendirian di tempat begini!
Dasar bodoh, jika dia turun disini, maka dia harus menunggu bis di halte, dan jarak yang cukup jauh itu.
Dinda mengerdikkan bahu, "Ya tentu saja aku yakin,"
"Memangnya kau akan kemana?" ujar Alan dengan menepikan mobilnya.
Sialan dia benar-benar menghentikan mobilnya, mati aku!
Aku ingin tahu, seberapa keberanianmu Akira?
"Bukan urusan mu! Bukankah kau mengajakku keluar hanya ingin mengejek masakanku?" ucapnya dengan kesal.
Dasar Bodoh,
Dinda membuka handle mobil dan keluar dari mobilnya perlahan berharap Alan berubah fikiran dan memanggilnya untuk masuk kembali.
"Hei....!"
Alan mengaktifkan sinyal pada anak buah dengan posisi terdekat, menyuruhnya mengikuti Akira diam-diam. Hingga dia bisa tenang meninggalkannya.
Akhirnya, batin Dinda.
Dengan mencondongkan tubuhnya dia melihat pada Alan, "Apa lagi?"
"Kau lupa tasmu." ujar Alan yang menunjuk tas Dinda yang masih berada di kursi jok.
Sialan.
Dinda keluar dengan tersungut, lalu berjalan menuju halte yang jaraknya lumayan jauh jika berjalan. Sementara anak buah Alan berhasil mengikuti Dinda,
Seseorang berjaket ARR. Corps turun dari sebuah mobil hitam, tanpa plat nomor dan mengikuti seseorang yang diutus oleh Alan,
"Hei, kau siapa?" Ucap utusan Alan.
Tiba-tiba saja pria itu menghantamkan kayu balok ke arah pria yang diutus Alan. Hingga dia terkapar dan pria itu mengikuti Dinda.
Dengan tertatih bersimbah darah dikepalanya, pria utusan Alan itu menghubunginya. Alan yang sudsh berada di Apartemen miliknya pun langung keluar dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, dia mengarah pada satu tempat.
Halte bus
Alan turun dari mobilnya, tak lupa memakai topi agar menyamarkan wajahnya jika terjadi sesuatu. Dia melihat dari luar bus, mencari gadis gila yang selalu bergerak impulsif.
Itu dia
Alan mengetuk-ngetuk kaca dimana Dinda tengah terkantuk dengan kepala tersandar kaca. Namun tak juga terbangun, hingga Alan masuk kedalam bertepatan Dinda yang menengok ke arah luar.
Ini harus diselidiki, apa ada orang dalam ARR Corps yang sedang bermain-main dengan nya.
Flash back off
Dinda bergegas keluar dari platnya, dengan tekad yang besar Dinda berjalan menuju apartemen milik Alan, melewati 1 blok ke arah depan, taman bermain yang kini temaram karena hanya dihiasi oleh lampu temaram, dan juga area olah raga yang juga gelap, hanya cahaya kecil dari lampu taman yang menyinarinya.
Setelah itu Dinda masuk kedalam lobby apartemen yang tampak lenggang, mengarah pada lift yang masuk kedalam lift dengan nafas terengah-engah.
Aku akan segera bicara padanya, apa yang dilakukan Leon menyadarkan ku, bahwa aku sudah terlalu lama menunggunya, tanpa tahu bagaimana perasaannya.
Sesampainya di lorong menuju plat Alan Dia kembali tercengang. Melihat Alan dengan seorang gadis cantik, dan jauh lebih muda darinya,
Siapa dia?
Dinda mundur dan bersembunyi, namun dia menyembulkan kembali kepalanya untuk melihatnya.
Kau tersenyum padanya, padahal dengan ku saja tidak.
Dan tunggu, aku pernah melihat gadis ini, dimana yaa?
Alan terlihat berseri dari pada biasanya, sesekali dia menarik tipis bibirnya meskipun tidak lah banyak, membuat Dinda geram.
Dia bisa bersikap ramah pada gadis itu, tapi tidak padaku. Kenapa? Apa karena aku selalu menguntitmu?
Alan terlihat berjalan berdampingan dengan gadis itu, mengantarkan nya untuk keluar dari Apartemen.
"Dia bahkan mengantarkan nya untuk keluar dari Apartemen, sedangkan denganku, menawari minum atau makan saja tidak."
"Baiklah kak aku pulang ya!"
"Biar aku yang mengantarmu, kau ini sedang hamil kenapa berkeliaran seperti ini!" ujar Alan saat mereka berjalan di lorong yang tampak sepi.
Melewati Dinda yang tengah bersembunyi di balik tembok di arah samping lorong,
"Kakak fikir aku ayam, sampe bilangnya berkeliaran!" ujar Tasya yang tertawa kecil.
Alan terkekeh, " Ya semacam itu lah, kamu tahu maksudku."
Tasya menghentikan langkahnya dan menoleh pada Alan dengan berkacak pinggang, "Kakak masih saja kaku begini, padahal kan katanya kita sudahh berbaikan dan tidak akan seperti dulu lagi."
Samar-samar Dinda mendengarnya, "Apa mereka ada hubungan?"
Otak bodoh, ayolah kau harus mengingat siapa gadis yang tengah bersamanya itu.
Dinda terus mengikuti mereka diam-diam, sampai akhirnya Alan dan Tasya terlihat menunggu lift terbuka.
"Kakak sudah jangan mengantarku sampai bawah, pergilah. Aku bisa sendiri!"
"Aku akan mengantarmu Tasya, dan jangan membantah oke!"
Deg
Tasya
Ah, aku mengingatnya, benar dia adalah Tasya, Tasya yang membuat Farrel dan Metta salah paham, Tasya yang keluar dari Apartemen ini berdua.
Akhirnya Tasya dan Alan masuk kedalam lift. Sementara Dinda berlari kecil menuju lift sebelahnya, dan menekan tombol ke bawah.
Ting
Lift terbuka, Dinda masuk dengan segera, dan mengetahui Alan dan gadis itu terlibat suatu hubungan. Jiwa detektif muncul kembali, dia kan mengikuti mereka.
Ting
Alan dan Tasya keluar dari lift, sementara Dinda harus menekan tombol terbuka agar tidak berpapasan dengan mereka.
"Kau yakin akan mengantarkanku? Lalu mobil ku bagaimana kak,"
"Biar itu jadi urusan ku." ujar Alan yang terus keluar dari Apartemen menuju mobilnya.