Assistant Love

Assistant Love
Pacarmu menyeramkan(Menghibur Leon)



"Leon, terima kasih karena sudah menolongku." ujar Tasya saat mereka keluar dari Rumah sakit.


Leon mengangguk. "Jangan sungkan begitu Tasya, kita ini teman."


Tasya tersenyum dan mengangguk, Eric yang berada disamping kiri Tasya hanya mendelik, dia seakan tidak mau mendengar pembicaraan mereka, toh dia juga belum mempunyai perasaan apa-apa terhadap Tasya, hanya anak yang berada di kandungannya alasan utamanya.


"Tasya, aku ambil dulu mobilku, kau tunggulah disini!" ujar Erik pada Tasya,


"Leon, aku duluan." ujarnya lagi.


Leon hanya mengangguk, namun juga merasa aneh dengan sikap Erik yang menurutnya terlalu biasa itu. Leon menatap Tasya dan perut yang tidak terlalu terlihat itu.


"Oh iya tadi dokter bilang apa?" Tanya Tasya.


Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Dokter bilang...."


Membuat Tasya mengernyit, "Bilang apa....?"


Dokter menyangka aku suamimu, lucu sekali.


Leon menatap perut Tasya sekali lagi, membayangkannya saja tidak, memiliki istri yang tengah hamil anak mereka. Lucu sekali bukan


"Kalau kamu hanya kelelahan saja, dan harus istirahat total,"


"Hanya itu?" Leon mengangguk.


Mobil yang dikemudian Erik berhenti didepan mereka, Erik turun dan menghampiri Tasya, "Kita pulang."


"Leon aku duluan, bye!"


Tasya masuk terlebih dahulu, Erik menutup pintu mobil sesudah Tasya masuk.


"Erik... boleh aku bicara sebentar?" Seru Leon saat dia hendak berjalan kearah kemudi.


Dia kembali berjalan menghampiri Leon, "Ada apa?"


"Aku hanya ingin mengatakan pesan dokter padamu!"


"Katakan!!"


" Tasya harus istirahat, Tidak boleh kelelahan, karena jika sering terjadi hal ini bisa membahayakan anak dan ibunya,"


"Satu lagi, tidak boleh bermain kasar!" ungkapnya lagi.


Erik mengangguk, "Terima kasih!"


Dia lantas berjalan memutar ke arah kemudi, tak lama kemudian mobilnya melesat keluar dari rumah sakit. Leon menghembuskan nafas nya perlahan, dia pun berjalan ke arah mobil dan melaju pergi dari sana.


Putus cinta soal biasa


Sedihnya jangan lama-lama


Nanti kau bisa mati rasa


Tegarkan hatimu dan melangkahlah


Suatu saat nanti 'kan kau dapatkan


Pujaan hati yang 'kan kau dambakan


Ini semua telah Tuhan rencanakan


Jadi jangan bersedih lagi


(Jangan bersedih 🎶Tiffany kenanga)


Alunan musik di tape yang dia dengar membuatnya menepikan mobil dipinggir jalan,


"Aku bahkan belum memulai, tapi sudah harus berakhir!" gumamnya dengan menyandarkan kepala disandaran jok.


Berkali-kali Leon menarik nafas perlahan lalu dihembuskan nya kembali. Mengingat kembali saat-saat dia bersama Dinda, walau hanya sebentar, kilasan wajah Dinda tengah tersenyum padanya, dengan wajah polos dan juga kecerobohan yang sering dia lakukan.


Dengan kasar Leon menekan tombol stop untuk mematikan lagu yang terdengar seolah menertawakannya.


Kembali terbayang, gelak tawa Dinda, bahkan gigi gingsul nya yang membuat Dinda semakin cantik, iris coklat miliknya yang membuat tatapan manjanya. Semua yang ada didalam dirinya, membayang di ingatan Leon.


"Andai saja bukan Alan, sudah pasti aku tidak akan mengalah, tapi jika Si bodoh Alan sedikit saja menyakitinya, aku akan merebutnya." gumamnya.


Leon kembali melajukan mobilnya, membelah jalanan yang sudah semakin sepi, melalui jalan demi jalan seorang diri. Hingga dia berhenti di depan apartemen miliknya, Leon keluar dari mobil dan berjalan ke arah taman bermain.


Dia mendudukkan diri disebuah kursi, hari ini hatinya patah, cinta yang baru saja tumbuh harus dia kubur lagi dalam-dalam.


Dia mengenadahkan wajahnyaa menatap jendela kamar milik Dinda yang masih menyala itu, membayangkan bagaimana jika Alan yang keluar dari Apartemen itu. Menghembuskan nafas pelan.


Setelah sekian lama dia duduk termangu disana, akhirnya dia beranjak dari duduknya, namun urung melangkah saat melihat Alan yang keluar dari gedung Apartemen. Ada yang perih didalam relung hatinya.


Leon kembali masuk setelah menunggu beberapa waktu, saat ini hatinya tengah kecewa, dan tidak siap untuk bertemu Alan sekalipun. Termasuk bertemu dengan Dinda sendiri.


Dengan berjalan gontai memasuki lift, Leon menekan tombol lantai dimana plat nya berada. Lalu menyandarkan punggungnya disudut.


Ting


Leon memandangi pintu coklat itu sesaat, lalu melangkah kembali menuju platnya.


"Leon...?" ujar Dinda yang baru saja keluar dari platnya.


Leon menoleh, "Hai Dinda ... belum tidur?"


Dinda menggelengkan kepalanya, menatap wajah Leon dengan nanar. Leon kau baik-baik saja?


"Kenapa kau belum tidur, apa kau merindukanku?" godanya.


"Hehe ... Aku bercanda," ujarnya dengan membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengah sementara jari yang lainnya dilipatkan.


Kepala ku tiba-tiba tidak bisa berfikir dengan benar, aku ingin memeluknya, dan juga ingin mengatakan aku benar-benar menyukainya, aku mencintainya. Otakku sudah memerintahkan untuk egois, tapi tidak dengan hatiku.


.


.


Kini mereka duduk di kursi taman bermain, Leon memberikan secangkir coklat hangat pada Dinda,


"Leon apa kau baik-baik saja?"


"Tentu, jangan khawatir kan aku! I'm fine,"


Maafkan aku Leon, Alan bahkan marah hanya karena aku menyebut namamu, huh dasar manusia kaku


Leon menggeser kursi taman menghadap kearah Dinda, agar bisa memandangnya dengan leluasa, "Kau bahagia bukan? Dan aku ikut bahagia melihatmu."


Dinda meniup-niup coklat hangat itu, lalu mengangguk, "Aku menyukainya sejak lama, dan saat tahu dua menyukaiku juga. Tentu saja aku senang Leon, kau ini bagaimana!" ungkapnya dengan menepuk-nepuk bahu Leon.


"Bagus, berarti perasaanmu selama ini tidak sia-sua akhirnya." ucap Leon dengan mengulum senyum.


"Lalu bagaimana dengan mu?"


"Kau tenang saja, besok-besok aku akan menemukan wanita yang cantik, lebih cantik dari mu dan aku menyukainya saat itu juga." Leon terkekeh.


Dinda memukul bahu Leon, "Eeh, kurang ajar! maksudmu aku jelek begitu? Hah....?


Mereka tergelak bersama, dengan ekor mata, Leon terus menatap Dinda.


Seseorang berjalan kearah mereka, dengan satu tangan berada di sakunya,


"Leon, kau disini rupanya?" serunya dari belakang.


Leon menoleh, begitu juga Dinda yang sontak kaget.


"Hai Alan, sorry aku meminjam pacarku yang sekarang jadi pacarmu!" Ujar Leon terkekeh.


"Leon....!" ucap Dinda yang menarik lengan baju milik Leon dari belakang.


Alan menatap tangan itu dengan tajam, lalu beralih pada Leon, "Jangan sembarangan bicara Le!"


"Wow .... akhirnya aku bisa melihatmu marah karena seorang pacar." Goda Leon.


"Dinda, aku masuk yaa, pacarmu menyeramkan! bisa-bisa dia menerkam ku sampai habis." ucapnya menoleh ke arah belakang.


Leon melangkah melewati Alan, dia mengatupkan bibir menahan tawa.


"Al, jaga dia! Kalau berani menyakiti nya aku akan merebutnya. Oh satu lagi, kau semakin tampan sekarang." ujar Leon menarik turunkan kedua alisnya.


"Pergi kau dari sini!" ujar Alan kesal.


Leon berlalu dengan tawa yang di tahannya, dia berjalan masuk.


"Al... Al... kau lebih menyeramkan sekarang."


"Kau selalu membuat aku kesal!!" ucap Alan yang menaikan tubuh Dinda ke atas meja dengan sekali gerakan.


Seketika itu juga Dinda memegang bahunya, "Aku tidak ... tidak ... bukan begitu! Aku hanya sedang berusaha menghibur Leon yang tengah patah hati."


Alan menyentil dahinya, "Dasar bodoh, dia patah hati karena mu, dan kamu menghiburnya?"


Dinda terkekeh, "Ya ... Aku hanya tidak tega, aku ... tidak...eemmmppphh."


Alan lebih dulu menyambar bibir mungil yang terus bicara itu, melu mat bibir merah delima itu dengan rakus, menerobos masuk kedalam rongga mulutnya, menyisir setiap bagian-bagian di dalam nya, setelah Dinda nyaris kehabisan nafas barulah dia melepasnya.


"Aku bahkan tidak ingin bibirmu ini selalu bicara tentang nya, kau milikku! Hanya milikku. Kau faham?"


"Leon benar, kau tambah menyeramkan!"


Dia membekap mulutnya kembali, setelah keceplosan menyebutkan nama Leon kembali.


"Kau....sengaja memancingku sayang?"ucapnya dengan datar


Dinda malah tergelak, "Kau ini, sudah jangan memanggil ku begitu, kau terdengar seperti sedang memanggil klien saat meeting." ujarnya sambil turun dari meja dan berlari masuk kedalam lobby apartemen.


"Dinda....!"