Assistant Love

Assistant Love
Punya cara sendiri



Alan mendongkakkan kepalanya, "Lalu aku harus apa? menciummu....?"


Dinda menggaruk kepalanya, namun bibirnya melengkung membentuk ukiran indah kemudian mengatup kembali,"Kau bicara apa? Aku tidak mengatakan hal itu."


Deg


Deg


Sialan nih jantung mau comot, kenapa dia mengatakan hal seperti itu dengan terang-terangan dan terdengar seperti aku menginginkannya.


Alan bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Dinda, dia mencondongkan tubuhnya menghadap ke arah Dinda, sedangkan Dinda terkesiap dengan memejamkan matanya.


Ctak


Alan menyentil dahinya, "Otakmu selalu saja kotor!"


"Iiihhh ... aku kan tidak berkata apa-apa! Kau yang mengatakannya!" menggosok dahinya perlahan.


"Barusan apa? Kau juga memejamkan mata untuk apa? senyum mu itu tidak bisa berbohong Dinda." ujarnya dengan menggelengkan kepalanya.


Dinda membulatkan mata, "Ihhh... nyebelin! itu kan gara-gara wajahmu yang mendekat, aku kira...."


"Aku kira apa? berharap Aku akan menciummu begitu? Dasar otak kotor!"


"Ti--tidak, aku tidak berharap,"


Alan mendengus pelan, "Dasar...."


"Apa kau mau membantuku?" ujar Alan yang menyerahkan berkas pada Dinda.


"Pelajari itu, aku ingin kau menguasainya dalam waktu tiga hari."ujarnya dengan cepat.


"Iihh ... apa-apaan!" ujar Dinda dengan mengambil berkas dari tangan Alan.


"Aku akan memberikan hadiah padamu jika kau berhasil menghandle nya."ungkapnya lagi.


"Benarkah? memangnya hadiah apa yang akan kau berikan?"


"Entahlah, masih aku pikirkan hadiah yang cocok untukmu,"


"Oke, aku akan pelajari ini!"


Alan tersenyum tipis, dengan mengacak pucuk kepalanya, "Bekerja keraslah, buktikan padaku kau bisa!"


Cup


Dinda mengecup pipi Alan dan berlalu dengan tergelak, menghilang di balik pintu, membuat Alan yang terkesiap dengan ciuman tiba-tiba itu menggelengkan kepalanya.


'Suka sekali dia menciumku tiba-tiba, bagaimana jika aku tidak bisa menahannya. Dasar bodoh!' gumamnya.


Pintu kembali terbuka, Dinda menyembulkan kepalanya dicelah pintu.


"Ssstt..."


Alan menoleh ke arah pintu,


"Aku pasti bisa, siapkan hadiah istimewa untukku! Semangat!" ujarnya lalu tergelak dan menutup pintu itu kembali.


Sementara Alan meraup wajah dengan senyuman di bibirnya, "Dasar bodoh! Dia selalu bisa membuat aku tersenyum dengan tingkah bodohnya."


Dia kembali ke meja kerjanya, bekerja dekat dengan orang yang kita suka, membuat semangatnya naik berlipat-lipat, apalagi bekerja dengan kekasihnya sendiri, membuat semangatnya membara.


Aku bahkan lupa, aku kan berniat membalas ke-kaku-annya. Sudah lah lupakan saja, lebih baik aku bekerja saja,


Benar saja, Dinda mulai membaca berkas yang diberikan Alan, berkas kerja sama dengan satu perusahaan. Alisnya mengernyit saat ada yang tidak dia pahami, membuka file di komputer dan mencari contoh yang mirip. Lalu mengangguk ketika mendapat jawabannya.


Menuliskan poin-poin penting yang dia temukan kedalam note kecil, lalu menempelkannya di meja, bahkan menempelkan nya dilayar monitor.


"Ini berguna untuk aku yang pelupa ini."


Dinda bahkan tidak pergi makan siang, dia terus berkutat dengan berkas perjanjian yang ditugaskan Alan padanya.


Farrel berjalan dari ruangannya menuju ruangan Alan, dia mengernyit menatap Dinda yang terlihat sibuk dengan banyak tempelan note di atas meja, bahkan memenuhi pinggiran layar. monitor di depannya.


Dia mendekati meja Dinda,


"Hei, kau, apa Alan ada di dalam?" ujar Farrel.


Dinda tidak menjawab apalagi mendongkak, dia tetep tertunduk pada pekerjaannya.


"Hei, dasar perempuan aneh. Untung saja kakak tidak ikut aneh sepertinya." gumam Farrel kemudian memilih masuk ke dalam ruangan Alan.


"Al ... kau mau ke mana?" tanya Farrel saat melihat Alan sedang mengenakan jas nya.


"Aku akan meeting di luar, El!" ujarnya dengan mengancingkan jas nya.


Farrel mengangguk, "Tapi kau tidak pergi meeting bersama pacarmu kan?"


"Kenapa memangnya, aku memang tidak bisa mengajaknya."


"Bagus, memang lebih baik tidak usah di ajak!"


"Aku tahu, dia belum siap! Kenapa juga ayahmu menempatkan dia disini!"


"Lalu bagaimana dengan perjodohanmu dengan Chaira?"


"Jangan gila El, aku tidak sudi, lagipula dia menyukaimu, kau saja yang menikah lagi dengannya." ketus Alan.


"Farrel bergidig, "Tidak akan mungkin, aku ini sangat setia, sayang istri juga!"


Farrel terkekeh, "Ayah sudah tahu kau menyukainya, tapi ayah belum tahu kalian sudah...." ujarnya dengan menautkan telunjuk.


"Jangan bicara sembarangan El, kau mau aku pukul?" ketus Alan.


Farrel terkekeh kembali, "Oh iya, aku hari ini ada meeting di luar juga, kalau kau selesai dengan meetingmu, susul aku! Aku harus ke kampus juga."


"Tidak bisa tuan muda, aku ada dua pertemuan siang ini, kau handle lah sendiri."


"Aku tidak mau tahu! Kau harus menyusul, aku benar-benar harus ke kampus."


"Aku kira kau sudah melupakan kewajibannya belajar saat kau sudah menikah!"


Farrel berdecak, "Mana mungkin, urusan itu kan berbeda, aku tetep akan menyelesaikan kuliah bisnis ku, sementara desain grafis sebentar lagi harus segera ku selesaikan juga."


Farrel menghela nafas panjang, "Benar-benar berat, tapi aku sudah punya juga obatnya?"


"Obat apa? Kau sakit ? Kenapa tidak mengatakannya padaku?" ujar Alan yang tiba-tiba merasa khawatir.


"Obat yang lain apa maksud mu? kalau tidak paham." ujar Alan merapikan berkas yang akan dia bawa.


"Nanti kau juga tahu sendiri kalau sudah mengalaminya, dan sangat berbeda dengan apa yang kau dengar di luar sana!"


"Terserah lah, kau membuatku pusing!"


Farrel kali ini tergelak, "Salah satunya obat pusing juga."


"Terserahlah apa katamu saja!" ujarnya dengan mengerdikkan bahu.


Ngomong apa coba dia itu.


Farrel tergelak kembali, lalu berjalan ke arah pintu, "Inget Al, kau harus datang!"


Farrel keluar dari ruangan Alan, lalu dia menatap sekilas ke arah Dinda yang masih tertunduk dengan berkasnya. Menggelengkan kepala lalu pergi begitu saja.


Alan keluar dari ruangan, dia mengernyit saat melihat Dinda masih berada di tempatnya padahal sudah masuk jam makan siang. Alan mendekat,


"Kau tidak pergi makan siang?"


Hening


Dinda tidak menjawab nya, Alan mengetuk meja kerja Dinda dan mengulangi pertanyaan nya.


"Kau tidak pergi makan siang?"


Hah


"Apa, oh nanti saja, setelah aku selesai mengerjakan ini!"


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu! Kau jangan lupa makan siang!" ujarnya dengan mengacak rambut Dinda, lalu pergi begitu saja.


"Kalau orang lain akan memaksa kekasihnya ikut lalu mengajaknya makan siang terlebih dahulu, atau memaksa nya meninggalkan pekerjaan agar kekasihnya itu makan, walaupun mengorbankan waktunya sendiri! Huh, nasib diriku yang punya kekasih kaku seperti itu, tidak peka, bahkan sepertinya tidak peduli!" gerutunya dengan menatap punggung Alan yang kian menjauh dari pandangan.


Dinda mendengus kasar, lalu kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Sementara Alan yang keluar dari gedung menuju mobil nya, dia merogoh ponselnya dan mengotak-ngatiknya sebentar lalu memanaskan mobilnya.


Tidak lama mobilnya bergerak keluar dari pelataran parkir, mengarah pada sebuah kafe tempat dia melakukan meetingnya.


.


.


Mac berjalan tergesa masuk kedalam lift dan menekan nomor lantai ke dua puluh, dia merogoh ponsel dan menghubungi nomor seseorang,


"Kau menyusul saja, Aku masih ada tugas penting di sini!"


Lalu memasukkan kembali kedalam saku celananya.


Tepat lift terbuka dan dia keluar dari sana, setelah itu berjalan melewati koridor panjang. Dia menghampiri meja Dinda.


"Kau mau bertemu bosmu? Dia tidak ada di tempat, baru saja pergi meeting di luar. Kau hubungi saja nomornya jika penting." ujarnya dengan satu kali nafas.


"Aku ingin menemuimu,"


"Aku? Kenapa...ada apa,"


Mac menyimpan paperbag diatas meja,


"Makanlah,"


Dinda mengernyit, "Apa yang kau lakukan, aku tidak ingin makan pemberianmu, itu akan menimbulkan kesalah fahaman dengan kekasihku! Bawa kembali Mac!"


Mac berdecak, "Ini untukmu, bukan dari ku, tapi dari bosku."


Dinda mencoba mencerna perkataan Mac, "Maksudmu dari Alan? untukku? Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"


Dinda membuka paperbag itu dan mengeluarkan box makanan, seporsi besar pasta udang saus pesto, matanya tiba-tiba berbinar.


Dia memang kaku, tapi dia punya cara sendiri untuk menunjukan perhatian nya, tidak banyak bertanya, tidak banyak berkata-kata, tapi tindakannya membuat ku meleleh tiba-tiba..aah My Sweety ice.


"Terima kasih Mac, karena sudah mengantarkannya!" ujarnya pada Mac yang masih mematung diam ditempatnya.


Mac mengangguk, masih mematung tak bergerak. Menatap Dinda yang kembali menutup box makan siangnya.


"Mac, kenapa masih disini?"


"Aku harus memastikan kau memakannya, aku akan pergi setelah kau memakannya habis!"


Dinda mengenadah, "Tidak usah, aku nanti akan memakannya setelah pekerjaan ku selesai. Sebentar lagi."


"Kalau begitu aku akan menunggunya,"


Dinda berdecak, "Kau tidak percaya aku akan memakannya nanti!"


"Aku hanya melaksanakan tugas dengan sebaik mungkin, jadi tolong bekerja sama lah dengan baik!" ujar Mac datar.


"Baiklah, aku akan memakannya sekarang! Pa kau juga akan menunggu sampai makanan ini habis?" ujar Dinda dengan membuka kembali paper bag nya.


"Tentu saja, karena itu tugas yang diberikan padaku!"


Dinda meraih ponselnya dan menjual nomor Alan, namun tidak diangkatnya. Lalu dia mengetikkan pesan padanya.


' Terima kasih makan siangnya, ( emotion lope lope) tapi kau tidak perlu menyuruh Mac menunggui ku sampai selesai ( emotion menutup mata).


'Sama-sama, makanlah. Lakukan saja, itu akan memudahkan tugas Mac.'


Padat, singkat, dan jelas. Dinda membaca pesan masuk balasan dari Alan. Lalu menghembuskan nafasnya menatap Mac yang tanpa ekspresi itu.


"Oke Mac...oke! Kau boleh menatap ku sampai aku selesai makan."


Mac berseringai tipis, " Bagus, memang sudah seharusnya begitu."


Sementara Dinda mendelik ke arahnya, dan menyuapkan makanan kedalam mulut dengan kesal.


.


.


Yah author sedih, like dan komen makin dikit aja sih...tapi gak apa-apa deh, masih ada yang nungguin.hihi


Lope lope kalian yang masih setia di kedua novel author ❤ happy weekend