
Alan semakin mendekat, menodongkan senjatanya tepat dikepala pria tua itu.
Leon datang saat Alan akan menarik pelatuknya, tangannya menghalau Alan, "Al ... jangan menambah kotor tanganmu!"
Pria tua itu meringis, dengan luka tembak di kakinya, Alan berjongkok dengan bertumpu pada satu kaki, menarik dagu pria itu hingga mendongkak dengan ujung senjatanya. Dan mereka bertemu pandang.
"Apa kau masih layak aku kasihani?"
"Ampuni aku, aku sudah tua! Maafkan aku...." Ucapnya dengan menangkup kedua tangannya pada Alan.
Alan menjatuhkan senjatanya, "Jika aku membunuhmu hari ini, maka keluargamu akan mencari ku suatu hari nanti, dan permusuhan ini tidak akan ada habisnya. Mari kita akhiri hari ini."
Dia mengangguk, "Terima kasih."
Alan kembali berdiri, pria itu dengan cepat mengambil senjata milik Alan, dan menarik pelatuknya kearah Alan.
Clek
Senjata itu hanya berbunyi saja, pelurunya kosong, seketika wajahnya semakin menegang, Alan berbalik kembali, menatap tajam pada pria licik itu.
"Sudah ku duga, kau fikir aku bodoh membiarkan senjata itu begitu saja?Aku hanya ingin tahu, sekali berlaku licik, tetap akan licik sampai kapanpun."
Alan mengeluarkan senjata milik Jhony yang dia bawa dari balik jasnya, pria licik itu menggelengkan kepalanya kembali.
Dor
Alan menembak pria itu hingga terkapar, dengan peluru menembus dahinya sekaligus. Sementara anak buahnya tidak berkutik sedikitpun.
Leon menatap kearah pria yang sudah menjadi mayat itu, lalu kembali menatap nanar sahabat sekaligus bosnya itu,
"Dia tidak bisa dipercaya!" ucap Alan seolah mengerti arti tatapan dari Leon.
Alan ternyata diam bukan karena menurutiku, namun dirinya sudah penuh perhitungan, dan segala rencana sudah ada di otaknya, Aku bahkan tidak berfikir kearah sana, mungkin sekarang salah satu dari kita sudah mati. Bedebah, aku malah ingin menghentikannya tadi. Batin Leon.
Alan berjalan kembali, sementara anak buahnya kini berkumpul dengan membawa anak buah pria licik itu.
"Le... bereskan mereka!" ucap Alan sambil berlalu.
Alan kembali berjalan keluar dari gedung itu, sementara Leon yang sudah pasti yang akan membereskan kekacauan ini masih berada didalam, mengurus anak buahnya yang masih ada.
Alan masuk kedalam mobilnya, memasang seat belt nya lalu menyalakan mobilnya. Melajukan kembali kendaraan itu, membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Dia kembali ke Apartemen miliknya.
.
.
Kucuran air yang menyembur dari shower yang hangat mengalir membersihkan seluruh tubuh Alan yang berada dibawahnya. Dengan fikiran yang tidak menentu Alan memejamkan matanya.
Andai saja tidak ada yang mengusiknya, dia tidak akan melakukan hal seperti ini, selama menjalankan bisnis terselubungnya, dia selalu bisa mengontrol dirinya, dapat membedakan mana yang layak di maafkan, maupun layak di habisi.
Alan bukan mafia yang terkenal kejam dan tidak memandang lawannya, namun kematian sahabatnya mengusik hatinya, rasa belas kasihan seakan habis saat itu juga.
Alan memandang wajahnya di pantulan cermin, kilatan-kilatan masa lalu nya kembali terbayang. Dia menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya kembali perlahan, seolah mengeluarkan sesak yang penuh penyesalan dalam dirinya.
"Kamu bisa tenang disana Jhon, orang itu sudah ku buat menyusul mu,"
Tak lama Alan keluar dari kamar mandinya, sontak dia kaget karena melihat Farrel tengah berada di sofa dengan terduduk lesu.
Sementara dia teringat senjata yang masih teronggok tertutup jaket di samping Farrel.
"Shiit...." gumamnya pelan.
"Heh, ngapain kesini?" ucap nya dengan berjalan menuruni tangga dengan cepat.
Farrel menoleh, "Aku berdebat lagi dengan bunda, membuatku malas berada dirumah! aku tidak ingin berdosa dengan selalu berdebat dengan nya.
Alan menduduki jaket yang terdapat senjata dibawahnya, "Istirahatlah... kau pasti cape bukan?"
Farrel mengernyit, " Aku tidak sedang olahraga, mana mungkin cape!"
Alan menggaruk kepalanya, "Maksudku kamu pasti cape selalu berdebat dengan bunda."
"Ooh...." Farrel beroh ria.
"Minggirlah, aku ingin berbaring disofa," Farrel mendorong Alan hingga ketepi sofa.
"Tidak, kau istirahat dikamar saja, Aku harus mengurus pekerjaanku disini.
Alan berdecak, " Kau ini...."
"Kau dari mana saja, Aku seharian mencarimu, Kau bahkan tidak mengangkat teleponku!"
"Aku mengurus sesuatu...."
"Apa ada masalah dengan perusahaanmu?"
Alan terlihat gelagapan, "Aku sudah bilang Mac akan membantumu jika aku tidak ada,"
"Ada apa dengan mu? kenapa aneh begitu...."
"Tidak... ya sudah terserah kau saja!" Alan bangkit dan dengan cepat meraih jaket yang menutupi senjata didalamnya.
Dia langsung menuju ke kamarnya, dan menyembunyikan senjatanya ditempat biasa dia menyimpannya.
"Untung, sedikit saja terlambat aku akan hancur."
Masalah Farrel pun tak luput dari perhatiannya, dia akan selalu tampil paling depan jika sudah berurusan dengan adik dan kedua orang tua angkatnya, bahkan dia akan melakukan apapun demi mereka.
Hanya Farrel lah yang berani terhadap Alan, dan hanya pada keluarganya lah Alan bisa sedikit hangat.
"Ayah dan Bunda kenapa masih saja bermain-main, kasihan juga anak bodoh itu," Alan terkekeh dengan menggelengkan kepalanya.
Membuat dia lupa sejenak kesedihan karena kehilangan sahabatnya. Dia meraih ponsel yang dia letakkan diatas nakas, mencoba menghubungi Arya.
.
.
Sementara Leon menggiring para anak buah pria licik itu ke markasnya, "Masukkan mereka kedalam, Aku tidak ingin lengah sedikitpun. Waspadalah mungkin dari mereka ada yang sama liciknya dengan bosnya yang sudah mati. Jika mereka macam-macam masukkan kedalam kandang."
Anak buah nya mengangguk, "Baik bos!"
Mereka memasukkan para anak buahnya itu ke dalm sebuah ruangan pengap yang mirip dangan gudang, lalu menutupnya dan menguncinya.
Hari sudah berubah menjadi gelap, Leon kembali pulang ke Apartemennya, dia keluar dari mobil dan menuju masuk kedalam flatnya.
Ting
Leon masuk kedalam lift, seketika Dinda setengah berlari saat pintu lift akan tertutup.
"Tunggu," nafas nya terengah-engah.
"Untung saja, terima kasih."
Dinda masuk kedalam lift setelah Leon menekan tombol pintu lift,
"Kau....?" ucap Dinda saat menyadari pria yang membantunya adalah Leon.
"Hai Akira, emmmp maksud ku Dinda, kau baru pulang jam segini?" Leon terkekeh dengan melirik jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Hmm... Aku baru pulang. Kau sendiri?"
"Iya aku juga, kau bekerja dimana?" tanya Leon.
"Aku bekerja di--"
Ting
Pintu lift terbuka, dengan tergesa-gesa Dinda keluar,
"Aku harus pergi, Aku duluan bye ...Loen!"
Dinda berlalu begitu saja, sementara Leon berdiri menatap punggung Dinda sampai gadis itu masuk kedalam flatnya sendiri.
"Loen...hahaha lucu sekali! Apa dia salah memanggilku? gumam Leon dengan berjalan, melewati pintu kamar Dinda dan menatap nya sekilas lalu kembali berjalan menuju flatnya sendiri.
.
Bersambung
.
Jangan lupa like dan komen nya yaa.. Terima kasih ❤