
Sekujur tubuhnya lemas tak berdaya, setelah serangan demi serangan dilakukan oleh pria kaku yang kini menjadi suaminya. Diam diam dia memperhatikan wajah suaminya, dengkuran halus terdengar lembut dari pria yang kini tertidur pulas disampingnya.
"Aku masih tidak percaya, kita berbagi ranjang bahkan melakukan hal itu tadi! Aku masih merasa jika aku hanya bermimpi, karena bagaimana sulitnya dulu aku menyentuhmu." gumam Dinda dengan tangan menyusuri wajah sang suami yang tengah terlelap.
"Kamu manusia kaku yang terlalu sulit aku gapai, sampai aku hanya berani melihatmu dari jauh, diam-diam mengikutimu, sampai menyamar hanya untuk tahu kemana kamu pergi," ujarnya lagi dengan terkekeh.
"Kau tidak bermimpi sayang, usahamu tidak sia sia, dan manusia kaku ini sekarang jadi suamimu!" gumam Alan dengan kedua mata masih terpejam.
Dinda mengerjapkan kedua matanya, dia kaget sendiri saat tahu Alan mendengar semua ucapannya. "Iih ... kau tidak tidur!"
"Karena suara jelekmu menggangguku sayang!" ujarnya dengan perlahan membuka matanya.
Keduanya saling menatap, lama dan semakin dalam, seolah menyelami dalamnya cinta yang terpaut di antara mereka.
"Maafkan sikapku yang dulu!" ujar Alan mengecup lembut hidungnya.
"Sudahlah ... kenapa minta maaf! Bukankah kau juga akhirnya mencintaiku! Benarkan?"
Alan mengangguk pelan, "Sangat!"
Jawaban darinya tentu saja membuat Dinda mengulum senyum, tidak ada yang tidak membahagiakan saat ini selain darinya, pria yang dia kagumi yang juga mencintainya, walaupun dengan caranya sendiri.
"Apa kita tidak akan pergi honeymoon seperti orang-orang?" ujarnya dengan menautkan jemarinya dengan jemari suaminya, namun
Alan menarik tubuh yang masih polos terbungkus selimut itu kedalam dekapannya, menggunakan lengannya sebagai bantalan kepala Dinda dengan lembut, setelah itu baru kembali menautkan jemari mereka.
"Untuk apa? Itu hanya akan membuang waktu saja, kita bisa melakukannya dimanapun." selorohnya lalu melingkarkan tangan disepanjang pinggang sang istri.
"Kok untuk apa? Memangnya kau tidak ingin tahu bagaimana rasanya honeymoon!"
"Tidak ... aku hanya ingin berdua denganmu dimanapun, tidak harus pergi jauh hanya untuk membuang waktu, karena sama saja. Waktu kita hanya akan di kamar saja."
"Bilang saja kau pelit ... tidak ingin membuang uang dengan pergi honeymoon, kau tahu tidak, dulu aku selalu menantikan kepulangan orang orang yang pergi honeymoon."
"Kau memang aneh, untuk apa kau menunggu mereka!"
"Jelas aku menunggu mereka, karena mereka pulang membawa kebahagiaan! Mereka bercerita dengan wajah berbinar, penuh cinta ... pokoknya semua kebahagian terpancar dari wajahnya." selorohnya dengan kedua tangannya sibuk bergerak gerak diudara.
"Bilang saja kau menunggu oleh oleh!"
Alan terkekeh, sedetik kemudian dia meringis karena Dinda mencubit perutnya.
"Kenapa kau mencubitku?"
"Itu karena kamu bicara terlalu jujur, menyinggung perasaan ku!" ketusnya dengan wajah yang memerah.
Alan justru tergelak, "Jadi itu benar, selain melihat kebahagian, kamu menunggu oleh oleh dari mereka."
"Iih ... sudah tidak usah dibahas, lagi pula kita tidak akan pergi kemana mana bukan!" ujarnya dengan membalikkan tubuh polosnya.
Alan menggeser tubuhnya hingga kembali merapat dengan memeluk istrinya dari belakang, membiarkan Dinda terus menggerutu tidak jelas, dan dia kembali tertidur.
"Dasar tidak peka, istrinya sedang kesal, dia justru tidur dengan nyenyak!"
Dinda turun dari ranjang dengan hati-hati, karena langkahnya terasa berat menuju kamar mandi, bibirnya terus menggerutu.
"Di novel yang aku baca, setiap adegan malam pertama, suami akan menggendong istrinya masuk kedalam kamar mandi, sweet banget kan, terus mereka mandi bersama, ciprat-cipratan air lanjut part kedua ketiga keempat. Bukan tidur atau pura pura tidur kayak dia." ucapnya dengan menutup pintu kamar mandi dengan mendengus pelan.
"Jangankan digendong, honeymoon aja tidak ... keterlaluan sekali! Heran, apa dia tidak punya keinginan sama sekali dalam hidupnya."
Dinda terus mendumel, merengut sampai akhirnya dia capek sendiri. Setelah menyelesaikan ritual bersih bersihnya, akhirnya dia keluar dari kamar mandi.
Setelah memakai pakaiannya yang masih berada didalam koper, dia keluar dari kamar, menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dia makan.
Perut keroncongan yang dari tadi berbunyi, bahkan belum sempat makan siang karena ulah Alan.
"Tenang Dinda, ini masih hari pertama, lama lama kamu pasti bisa masak!" gumamnya dengan terkekeh.
Dia membuka kulkas yang penuh bahan makanan, ikan ikan serta daging segar, namun karena dia tidak bisa memasak, alhasil dia hanya mengambil sepotong roti, dan sebutir telur.
"Bunda?"
"Hai sayang? Bagaimana kabarmu?" tanya Ayu dengan mencium kedua pipi menantunya itu, dibelakangnya terlihat Arya yang membawa beberapa kantong.
"Bunda pake ditanya, sudah jelas terlihat dia baik baik saja!"
Dinda menatap orang yang baru saja bicara, Farrel menggendong baby Shen menerobos masuk.
"Baby Shen ... ahh aunty kangen!"
"Hei singkirkan tanganmu, tanganmu kotor!"
"Enak saja, memangnya tanganku kotor kenapa?" tukasnya dengan terus berusaha mengambil baby Shen dari gendongan adik iparnya.
"Ya aku tidak tahu kau memegang apa sebelumnya!"
"El ... kenapa sih?"
Metta baru saja masuk, dan melihat keributan dari suami dan juga sahabat yang kini jadi kakak iparnya.
"Sha... suamimu pelit sekali, masa aku tidak boleh menggendong baby Shen hanya karena tanganku memegang sesuatu, padahal tanganku bersih tahu!" sungutnya mengadu pada Metta.
"Kamu seperti baru mengenalnya saja, sayang, biarkan aunty Dinda menggendong baby Shen!"
"Tidak mau!! Suruh dia mencuci tangannya dulu." sungut Farrel dengan masuk menyusul kedua orang tuanya yang tengah menata meja makan.
"Sayang ... tumben Al belum turun? Apa dia kelelahan semalam?" seru Ayu dari arah meja makan.
Seruan itu tentu saja membuat Dinda harus menelan ludah sebelum menjawabnya, Bukan semalam bunda, tapi baru saja selesai.
"Ah ... iya Bun, biar aku bangunkan dia!"
"Tidak usah sayang, biarkan dia tidur sepuasnya, mungkin baru hari ini dia bisa tidur nyenyak dan tenang setelah semua yang terjadi. Iya kan Yah!" senggol Ayu pada lengan Arya.
"Bunda, jelas saja dia nyenyak, dia sudah menemukan tempat bersarang yang tepat." gelak Farrel yang kemudian mendapat cubitan dipinggangnya.
"Kakak!! Kenapa mencubitku?"
"Jangan bicara yang tidak-tidak, anakku mendengarnya, kau ini!"
"Ah iya ... maafkan papa sayang!" ucapnya dengan mencium pipi gembil baby Shen yang bahkan tidak mengerti apa yang kedua mereka bicarakan.
"Sini sayang, kamu pasti lapar, kamu harus banyak makan makanan bergizi, nih bunda sudah membuat makanan spesial. Kamu pasti suka." ajaknya pada Dinda.
"Bunda... kenapa repot repot!" Dinda tersipu.
Ceklek
Alan keluar dari kamar dengan setelan baju santai, rambutnya masih basah pertanda dia baru saja selesai mandi, wangi semerbak tercium dari farpum yang dipakainya.
"Bunda, Ayah ... El ...Sha? Kalian disini? Baby Shen .." absennya satu persatu.
"Heh ... kau baru mandi jam berapa ini? Dasar pemalas!" Sentak Farrel dengan mengulum senyuman, dengan kedua mata berfokus pada pada tanda merah di leher Alan.
"Kurang ajar kau, baru saja datang tapi sudah mengajak ribut!" jawab Alan dengan mengambil baby Shen dari pangkuannya.
"Heh ... kembalikan anakku, aku tidak mau matanya yang masih suci melihat noda noda dilehermu!!"
.
.
.
Kalian ada yang kangen berondoongnya othor gak? Kalau othor jujur kangen banget, makanya nyelipin deh dikit disini...hihihi
bang El... Miss u somuch.