Assistant Love

Assistant Love
Cepat dapat jodoh



Kabar baik pun tidak hanya kabar pernikahan Leon dan juga Tasya, namun tim dokter dari rumah sakit mengatakan jika kondisi Sisilia semakin baik, operasinya berhasil walau kondisinya sempat memburuk. Dan pengamatan serta peninjauan panjang yang dilakukan oleh tim dokter akhirnya memperbolehkan Sisilia pulang.


Dinda serta Pramudya saling memeluk, dan menangis lalu berhambur memeluk Sisilia saat mendengar suster yang mengatakannya.


"Sayang ... akhirnya kita bisa pulang ke indonesia!" Sisilia menangis dipelukan suami dan juga putrinya.


Alan menatapnya dengan teduh, dirinya ikut merasakan kebahagian mereka, walaupun dia merasa canggung dan hanya diam berdiri.


"Sayang! Sini ... kenapa hanya diam saja! Kau tidak senang karena momy pulang hari ini?" seru Dinda dengan terus menyusut air mata kebahagiannya.


"Mana mungkin! Aku ikut senang mendengarnya."


"Kalau begitu kemari!" Ajak Dinda dengan menarik tangannya, hingga Alan ikut memeluk ayah dan ibu mertuanya, Pramudya terkekeh karena Alan yang terlalu kaku itu terus menepuk punggungnya, dengan segaris tipis di bibirnya.


"Suamiku kaku sekali kan Ayah!" bisik Dinda pada Pramudya, dan tentu saja pria bermata sipit itu mencubit pelan pinggang sang istri, dan hal itu membuatnya berjingkat kaget, dan mengundang gelak tawa Sisilia maupun Pramudya.


"Momy ingin pulang ke indonesia sekarang juga!"


Alan kembali berdiri di posisinya, sedangkan Dinda masih memeluk ibunya disaat suster membantu melepaskan jarum selang infus dari tangan Sisilia, dan Pramudya kembali duduk.


"Kita tunggu dokter kemari ya sayang!" jawab Pramudya, "Suster apakah dokter Kemal tidak praktek hari ini? Karena aku tidak melihatnya dari pagi?"


"Oh dokter Kemal hari ini sedang menangani operasi bersama prof." jawab suster yang membereskan selang infus yang sudah dilepasnya, lalu menyuruh Dinda memegangi pergelangan tangan Sisilia yang sedikit berdarah saat jarum terlepas.


"Kau tidak takut kan sayang?"


"Tidak Mom ... mana mungkin aku takut, aku bahkan pernah pernah melihat darah lebih banyak dari pada ini." Ujar Dinda tanpa sadar, Sisilia menatapnya, lalu melirik ke arah Alan yang kini hanya bisa menghela nafas seraya memejamkan mata.


Istriku bodoh! Kenapa dia terus tidak bisa menjaga mulutnya.


Menyadari Sisilia tidak menanggapinya dan malah melirik Alan, gadis berambut coklat itu mengerjapkan kedua matanya, dia baru tersadar apa yang telah keluar dari bibirnya, menoleh ke arah belakang dimana Alan berdiri,


"I'm sorry." ucapnya dengan gerakan bibir tanpa suara.


Pramudya menggelengkan kepalanya dia bangkit dari duduknya dan mulai mengemasi barang barangnya. Dinda turun dari ranjang dan menghampirinya.


"Biar aku saja yang membereskan barang Mommy, Ayah temani saja mommy yah!"


Pramudya mengangguk, "Apa kalian menginap ke tempat kami?"


"Tidak ayah ... kami menginap di hotel, tapi tidak terlalu jauh dari apartemen kok!" Sela Alan disaat Dinda hendak bicara, dia tidak ingin wanitanya itu justru mengacaukannya lagi dan tidak bisa menolak jika ayahnya mengajaknya menginap.


"Sebenarnya kita ingin menginap, tapi Al bilang kalau---"


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Alan sudah membekap mulut sang istri.


"Sayang ... lihat mereka!" Sisilia menunjuk ke arah mereka. "Kenapa Al? Kau tidak ingin istrimu mengatakannya? Kenapa membekap mulutnya?"


Sumpah demi apapun, bagaimana cara Alan menjelaskan nya pada kedua mertuanya apa yang dia maksud tidak ingin menginap.


Dinda menepis tangan suaminya, "Sayang ...!"


"Bukan begitu Mom ... itu karena kita pengantin baru dan jika kita menginap di apartemen bersama kalian, kita malu! Iya kan sayang?"


Alan hanya bisa mengangguk pasrah, "Kamu selalu bicara sembarangan."


Dan itu membuat Sisilia dan juga Pramudya tergelak.


"Oh karena itu ... baiklah Mommy paham sekarang, kalau kalian menginap sudah pasti Alan akan membekap mulutmu setiap saat karena selalu keceplosan!" Sisilia tergelak kembali seraya melingkarkan tangan pada suaminya.


"Mereka sangat menggemaskan ya yah!"


.


.


"Sayang ... apa kita akan pulang?"


"Hm ... besok pernikahan Leon, dia ingin kita hadir!"


"Hah ... Leon menikah? Kenapa kau tidak mengatakannya lebih awal!"


"Aku juga tidak tahu, dia baru menelepon dan mengatakannya." Dengus Alan.


Dinda menghentikkan langkahnya, "Berarti honeymoon kita juga sudah berakhir?"


Alan mencubit pipi nya pelan, "Bukankah sudah aku bilang, honeymoon itu tidaklah penting? Hm ... kita bahkan bisa melakukannya di dalam pesawat bukan?" Alan mengulum bibir saat mengingat pertempurannya di dalam pesawat.


"Iya kan tetap saja!" Dinda mendengus kesal, sampai dia menepis tangan Alan.


"Kita akan melakukannya setiap hari di rumah? Setiap jam sepuasnya, sebelum berangkat ke kantor atau pulang dari kantor!"


Dinda mendelik ke arahnya, "Kau hanya bisa bicara saja tuan kaku!"


"Tidak aku sungguh sungguh!"


"Baiklah ... karena aku mencintaimu, aku setuju! Dan aku akan menagih ucapanmu! Kalau perlu kita lakukan di kantor." Dinda melingkarkan tangan dilengan suaminya dengab terkekeh, sementara Alan mencubit pipinya lagi.


Seseorang berjubah putih menghampiri mereka, walaupun dia tengah merasa kecewa namun dia telah berbesar hati.


"Akira ... Alan?"


Keduanya menoleh ke arah suara, dan melihat Kemal yang berjalan mendekat. Pria keturunan Jerman itu mengulurkan tangan ke arah Alan.


"Aku minta maaf Alan! Karena berlaku tidak sopan dan juga memalukan kemarin. Tapi aku tidak maksud apa apa."


Alan menyambut tangannya dan menjabatnya kuat, "Tidak perlu meminta maaf!"


Dinda tersenyum melihat keduanya, terutama melihat Kemal yang berbesar hati minta maaf, baginya Kemal adalah teman yang baik hati, walau sikapnya kerap usil dan juga menjengkelkan.


"Akira!"


"Ya ...!"


"Semoga kamu selalu bahagia, dan lupakan kejadian memalukan yang aku perbuat kemarin!"


"Tentu Kemal ... semoga kamu juga selalu bahagia ya! Dan cepat bertemu jodoh dan menikah." godanya dengan terkekeh.


"Ya ... bisakah kalian carikan orang indonesia? Tidak perlu terlalu cantik, yang paling penting setia." kelakarnya kemudian, membuat Dinda tertawa sementara Alan menggelengkan kepalanya.


.


.


.


Babang Kumal sama author aja mau?? Wkwkwk.


Terima kasih buat kalian yang masih setia nungguin mereka, dan juga dukungannya.