Assistant Love

Assistant Love
Gadis pembawa sial.



"Hahahha, kau yakin akan menghabiskan uang mu untuk wanita ini?!" perempuan itu masih meronta-ronta dalam dekapan pria berjaket hitam


"Lepas, lepaskan a...ku!"


"Sebutkan berapa yang kalian minta!"


Pria berjaket hitam itu berseringai licik, sementara disampingnya pria yang lebih tegap disinyalir adalah anak buahnya tengah membisikkan sesuatu pada bosnya.


"Bos, kau yakin dia dapat dipercaya?"


"Kita coba saja, lagian dia hanya sendiri, kalau sampai macam-macam kita keroyok." Pria disampingnya itu mengangguk.


"Baiklah, kalau kau memaksa! berikan aku 5 juta."


"Bos, terlalu murah!" Pria disampingnya membisikinya lagi, sementara dia sendiri menaikkan satu sudut bibirnya keatas.


"Berikan nomor rekeningmu," Alan merogoh ponselnya.


"5 juta Dollar ..." ujar pria berjaket hitam dengan lantang.


"Kau sedang bermain-main denganku?"


"5 juta Dollar atau gadis ini tetap denganku, kita akan bersenang-senang sayang." menatap nyalang dengan tangan membelai wajah perempuan itu


"Oke, berikan nomor mu sekarang."


Pria itu menyebutkan nomornya. "Aku sudah mengirimkannya, kau bisa memeriksanya."


Pria berjaket hitam itu tersenyum puas, setelah memeriksa ponselnya, kemudian mendorong keras perempuan itu hingga terhuyung, namun dengan sigap Alan menangkap tubuhnya. Mereka pergi dengan tertawa dan saling merangkul.


Alan menggopoh tubuh perempuan itu, "Hei...sadarlah!" menepuk pelan pipinya.


"Dengan uang ini kita bisa mendapatkan wanita lebih banyak." Ucap Pria berjaket hitam dengan senang.


Alan kemudian menggendongnya, membuka pintu samping mobilnya lalu mendudukkan perempuan yang sekarang sudah tak sadarkan diri. Memasang seat belt pada tubuhnya yang terlihat menggeliat. Sementara dia berjalan memutar masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya.


"Gadis bodoh."


Alan melajukan mobilnya, menyusuri malam yang semakin gelap, disertai udara dingin yang menusuk kulit. Alan melirik perempuan yang belum sadar disampingnya. "Kenapa tiba-tiba aku ingin menolongnya?" Monolognya sendiri.


"Mungkin hanya kebetulan, ya... hanya kebetulan." Alan menjawabnya sendiri. Memastikan tindakan yang sama sekali bukan dirinya.


Tidak lama kemudian Alan menepikan mobilnya, memeriksa tas kecil yang dibawa perempuan itu. Seolah mencari petunjuk, alan tak hanya merogoh, dia bahkan mengeluarkan semua isinya hingga berhamburan keluar, Alat make up yang hanya ada bedak dan lipstik, ponsel, ID card dan juga kunci.


Beruntung, kunci yang disinyalir adalah kunci apartemen itu memiliki gantungan kunci yang berupa nama hotel atau apartemen bahkan mungkin rumah kostan, Alan juga belum tahu pasti. Namun yang jelas itu akan sedikit memudahkannya. Kemudian Alan memasukkan kembali semua kedalam tas tanpa terkecuali.


Dia merogoh ponselnya lalu mendial nomor seseorang,


"Mac, carikan aku letak sebuah alamat, Jalan pandan wangi no 100."


"Baik bos, tunggu sebentar."


"Hubungi aku segera!"


Alan menutup panggilannya tanpa menunggu Mac menjawabnya dengan benar.


Ting


Sebuah pesan singkat masuk ke nomornya, Alan membuka pesan yang isinya letak dimana alamat yang dia butuhkan tadi. Merasa lega, karena letaknya tidak begitu jauh dari posisi mereka sekarang.


Alan menancap gas pergi dari tempat itu, bahkan lupa dengan tujuan apa dia datang ke tempat itu.


Tak berselang lama, mereka sampai disebuah Apartemen, Apartemen sederhana yang lebih cocok dengan sebutan rumah susun, dengan lift yang sudah tak berfungsi, bahkan sebagian cat dindingnya sudah banyak yang mengelupas.


Alan keluar dari mobil, berjalan memutar lalu membuka pintu dimana perempuan itu tak sadar diri. "Merepotkan saja," Alan lalu mengangkat tubuhnya, namun kepalanya justru membentur kap pintu mobil. "Ah, sial... " menggaruk pelan belakang kepalanya yang terbentur.


Alan berjalan masuk, dia langsung mengedarkan pandangannya, mencari kamar dengan nomor yang sama yang tertera digantungan kunci. Namun nihil, kemudian Alan berbalik menuju tangga, dan barulah matanya menangkap tempelan kertas yang sudah usang, bertuliskan nomor-nomor yang terletak di lantai atas.


Setiap lantai berisikan 20 kamar, itu artinya Alan harus menggendong perempuan itu sebanyak 3 ulir tangga. Karena nomor kamarnya berada di nomor 75.


"Sial ....!"


Pada ulir tangga pertama, Alan masih kuat. Bahkan masih sangat kuat, perempuan itu masih belum sadar juga, Alan pun kini masuk di ulir tangga ke dua, lengannya mulai pegal, tubuh perempuan itu pun mulai menggeliat dalam gendongannya. Alan mempercepat langkah kakinya, masuk ulir tangga ke 3, bukan hanya tangan nya yang merasa kebas, betis nya pun sudah terasa berat, bahu yang menegang dan pinggang yang mulai pegal.


Alan akhirnya sampai pada nomor yang dia tuju, Namun Alan kesusahan pada saat membuka pintu.


"Sial ...!"


"Perlu ku bantu?!"


Alan menoleh pada sumber suara, seorang wanita berkisar 45 tahunan yang berpakaian mini dengan warna merah yang menyala. Rambut gelombang dengan warna blonde menari-nari diterpa angin malam.


"Mana kuncinya, biar aku bukain pintunya." tangannya menengadah tanpa berbasa basi. Alan pun menyerahkan kunci itu padanya. Dia lantas membuka pintu kamar perempuan itu. Alan segera masuk.


"Kau pacarnya ...?"


"Alan terus berjalan masuk, "Atau kau hanya bersenang-senang saja dengannya?"


Alan menyapu ruangan dengan matanya kemudian dia masuk ke ruangan yang dia duga adalah kamar tidurnya, dan ternyata dugaan nya benar. Wanita berambut blonde mengikutinya.


"Aku baru lihat sekarang dia diantar pria pulang dalam keadaan seperti ini," Alan membaringkannya ke ranjang. Wanita itu terus mengoceh, tanpa Alan yang berniat menyahutinya.


"Dia itu berbeda dari kami disini, dia baik dan kau harus menjaganya dengan baik ya!Aku pergi duluan. Memberku sudah sampai. Bye tampan."


Alan mengernyit, dia bahkan tidak memperdulikan semua yang diucapkan wanita itu. Menggendong perempuan yang tengah tak sadar diri ini sungguh membuat tubuhnya Ringsek seketika.


Tiba-tiba perempuan itu menggeliat, dengan mata yang belum terbuka sempurna.


"Akhirnya kau bangun juga!"


Perempuan itu menggeliat lagi, hingga rasa mual menyerang lambungnya. Seketika dia bangkit dari ranjang, namun tubuhnya yang masih sempoyongan itu membuatnya kesulitan dan hampir saja jatuh.


Alan dengan sigap menangkap tubuh yang limbung itu,


HUUEEEKK


Perempuan itu muntah dan mengenai Alan. Dia menutup mulutnya dengan tangan. dan langsung berlari menuju kamar mandi. Sementara Alan masih dalam keadaan terperangah.


"Kesialan apa lagi ini!"


Perempuan itu mencuci wajahnya dengan cepat. Setelah mengeluarkan sesuatu, dia merasa sedikit lega, namun kepalanya masih terasa berat. "Kepalaku masih pusing,"


Perempuan itu keluar dari kamar mandi namun sontak kaget setelah melihat Alan yang bertelanjang dada di depannya.


"Kau lihat apa? sudah sana minggir. Aku ingin membersihkan diri."


"Kenapa dia begitu galak? padahal dia ada dirumahku." mengedarkan pandangan keseluruh ruangan yang tak besar, takut-takut ini bukan rumahku.


Bersambung


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa komen juga ya, terus dukung karya Author yang recehan ini.


Terima kasih❤