Assistant Love

Assistant Love
Pemindahan tugas



"Katakan itu tidak benar?" ujar Alan dengan tangan mengguncang bahunya.


"Aa-apa?"


Dinda menggelengkan kepalanya berulang kali, harapannya pupus saat tidak ada orang lain didalam lift selain diri nya.


"Aku bahkan membayangkan kau menyusulku dan mengatakan hal itu, tapi aku salah, kamu benar-benar tidak menyukaiku," gumam Dinda.


Tak terasa, sesuatu yang hangat mengalir di pipinya begitu saja, perlahan turun semakin mengalir.


"Sudahlah, lebih baik jika dia tahu aku dengan Leon! Tapi aku harus segera memberi tahu Leon."


Sementara Alan membanting pintu mobil dengan keras, kenapa hatinya diliputi kemarahan yang membuncah saat Dinda mengatakan dia sudah menerima Leon. Leon sahabatnya, dia tidak mungkin bersaing dengan sahabatnya sendiri untuk urusan wanita.


"Sial... Sial ...." ujarnya terus memukuli setir kemudi.


'Kamu itu menyukainya'


'Kamu itu menyukainya'


'Kau sudah mengatakan cinta padanya?'


'Payah'


Semua perkataan Farrel kembali melintas di fikirannya.


"Aku tidak tahu apa ini perasaan cinta, yang jelas aku marah saat ada orang lain yang menyentuhnya, aku marah saat dia dekat dengan Leon." gumam Alan.


"Aku panik saat tidak melihatnya, aku juga panik seperti orang gila hanya untuk mencarinya."


Alan menjambak rambutnya sendiri, hanya karena terlambat menyadari perasaan nya hingga harus mendengarnya sendiri. Bahkan dia mengatakan dia menyukainya hanya karena kecewa.


"Bodoh kau!!"


Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, lagi-lagi, perkara seorang gadis membuatnya hilang kendali. Untuk kesekian kalinya Alan merasa gusar dengan perasaannya sendiri, seberapa keras dia menolak perasaan nya, semakin frustasi pula lah dirinya.


Dreet


Dreet


Ponsel miliknya berbunyi, Alan merogoh ponsel dari saku jasnya, Kontak Mac tertera di layar. Tanpa fikir panjang dia menempelkannya di telinga kanan.


"Mac?"


"Bos, orangku menemukan kejanggalan, semua data hilang, tidak ada jejak pria yang memakai logo perusahaan kita dibagian manapun. Semua bersih!"


"Periksa kembali Mac, aku tidak mungkin salah lihat, dia memakainya, kau fikir aku mengada-ngada!" bentak Mac.


"Baik Bos! Aku akan mencari tahu Kembali."


"Aaaaggghhhkkk."


Alan melempar ponsel ke jok samping, masalahnya bertambah banyak! Masalah hati belum juga tuntas, sementara masalah lebih besar harus kembali dihadapinya.


"Siapa yang sedang bermain-main denganku?" gumamnya dengan gigi bergemelatuk.


Dia kembali meraih ponsel yang tadi dilemparkannya, lalu menghubungi Mac kembali.


Dering tersambung namun belum juga diangkatnya, membuat Alan kesal, sampai ke tiga panggilan barulah Mac menjawab.


"Kau ingin mati Mac? Kenapa baru mengangkat teleponku?"


"Maaf, tadi ada sedikit gangguan." jawab Mac dari ujung sana.


"Apa kau sudah memeriksa Leon, Mac?" tanya Alan kemudian.


"Semua bersih, tanpa cela! Jangan bilang kau mencurigai sahabatmu itu Mas."


"Aku hanya berjaga-jaga saja!"


Tut...


Alan kembali menutup sambungan teleponnya sepihak. Lalu dia menelengkupkan kepalanya disetir kemudi. Lalu dia menyalakan mobilnya kembali dan memilih memutar arah kendaraannya.


Malam semakin larut, Dinda masih bergelung dibawah selimut, jangankan tidur. Kedua matanya masih setia dan enggak terpejam. Rasa kantuk yang ditunggu tak juga datang.


Dia sudah berguling kekiri- berguling lagi, kembali duduk, memutar tubuhnya, kembali lagi berguling. Namun tetap saja rasa kantuk itu tidak ada sama sekali. Udara dikamar nya teras pengap, air conditioner bahkan rasanya tidak berfungsi dengan baik.


Dinda kembali mendudukkan dirinya, bersandar pada sandaran ranjang, menarik nafas panjang lalu dihenbuskannya, perlahan.


"Aku tidak bisa membohongi diri sendiri, aku menyukainya bahkan sangat menyukainya. Kenapa tidak hilang-hilang, kenapa susah sekali."


Mengapa ada pertemuan jika harus ada perpisahan, Mengapa ada cinta jika harus ada benci,


Mengapa aku harus bertemu dengannya dan jatuh cinta padanya. Mengapa?


Semenjak 3 bulan kebelakang dia sudah mulai membiasakan dirinya untuk tidak mencoba mencari tahu segala sesuatu mengenai Alan lagi, tidak pernah sekalipun mengikutinya lagi. Bahkan tidak pernah mencoba mengingatnya. Namun tak bisa dia pungkiri, rasa itu masih ada, tanpa bisa dia cegah.


Semua hancur setelah kembali bertemu dengannya, melihat wajahnya, melihat matanya, melihat semua yang ada dalam diri nya, dan ternyata rasa itu masih ada.


.


.


Keesokan pagi


Suara gemericik hujan terdengar jatuh, langit mendung dengan udara yang terasa menusuk kulit. Perlahan Dinda menggeliat didalam selimut. Entah jam berapa dia semalam tidur, rasanya matanya masih lengket seolah baru saja dia terpejam dan terpaksa harus terbangun.


Kedua kakinya menggapai lantai dengan malas, lalu tubuhnya yang lunglai itu terbangun dengan lesu. "Aku malas masuk kantor hari ini!"


Drett


Drett


Tangannya meraba-raba ranjang, mencari benda pipih miliknya yang berbunyi. Siapa yang berani mengirimi pesan sepagi ini.


Pesan dari HRD


Dinda terbelalak membaca pesan yang masuk dari Kepala HRD dikantornya.


"Ada apa ya?"


Dia langung melempar ponsel diatas ranjang, lalu bergegas masuk kedalam kamar mandi, secepat kilat dia membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai bersiap-siap dia keluar kamar, dengan menyambar kunci mobil miliknya, dia segera keluar dari Apartemennya.


"Seharusnya pagi ini aku menemui Leon, untuk memintanya membantuku, malah gagal karena harus menemui kepala HRD." gumamnya sambil berjalan.


Tak lama kemudian dia sampai di kantor, Dinda masuk kedalam ruangan, dan berjalan mengarah ke meja kerja Metta, yang sudah pasti berada disana lebih pagi dari padanya.


"Sha, bantuin mikir!" ujarnya dengan mendudukkan dirinya dikursi yang baru saja ditarik dari kubikel disebelah Metta.


"Mikir apaan? Ujian?"


"Aku gak lagi sekolah Shaun! Ini serius." Ujar Dinda dengan mata yang membulat.


"Apa?"


"Kau kan akan segera menikah? Apa menurutmu langkah yang aku ambil ini bagus untuk ku atau tidak?"


"Apa sih gak jelas banget! Langkah apa? Kamu mengambil langkah buat apa?" ujar Metta tak mengerti.


Dengan tangan yang menutupi bibirnya saat bicara Dinda berbisik ditelinga sahabatnya, "Aku mengatakan kalau aku berpacaran dengan Leon!"


"Wah ... selamat yaa! Akhirnya kamu bisa move on juga dari manekin hidup itu." Seru Metta dengan bertepuk tangan.


Dinda memukul lengannya, "Iiihhhh... malah teriak-teriak! Aku berbohong, aku hanya membual padanya," rungutnya kemudian.


Metta menggelengkan kepalanya, "Astaga ... Sardin! Untuk apa coba melakukan hal itu?"


"Untuk membuatnya menyesal, membuatnya merasa sakit hati dan juga patah hati karena menyia-nyiakan waktu ku!"


Metta memukul lengannya, "Kau sendiri yang menghabiskan waktu hanya untuk mengikuti nya diam-diam. Sekarang kamu sendiri so membuatnya menyesal,"


"Bagaimana kalau kau sendiri yang menyesal?"


Dinda bangkit dari duduknya, "Aku hanya ingin memberinya pelajaran, ya walaupun aku sama tersiksa dengan nya...."


Dinda berjalan menyimpan tas ke kubikel miliknya, lalu kembali melewati sahabatnya. "Hari ini aku juga dipanggil ke kantor HRD, kira-kira apa yaa?"


"Dipecat kali, karena berani berbuat jahat pada bos galak." ucap Metta terkikik.


"Sialan ... jangan gitu dong! Kalau bener, lihat saja! Aku akan membuat perhitungan dengan nya!"


"Perhitungan apa?"


Suara bariton terdengar menggelegar dari arah belakang. Dinda berbalik dan membulatkan mata kemudian kembali membalikkan tubuhnya, "Celaka!"


"Kalian disini sedang bekerja, jangan main- main dan membuang waktu untuk hal yang tidak penting!" ujar Alan kemudian kembali berlalu dari sana.


Tanpa menoleh sedikitpun pada Dinda yang membelakanginya, Dinda memejamkan matanya dengan tangan yang melingkar dilengan Metta,


"Sha, apa tadi dia mendengar semuanya?"


"Entah lah, semoga saja iya! jawabnya terkikik.


"Shaun...."


"Sudah sana, katanya mau ke kantor kepala," Metta mendorong tubuh Dinda mengarah keluar dari ruangan.


"Tunggu, Sha aneh gak liat dia berjalan disini? Dia kan tidak pernah jalan sini?" Ujarnya dengan berpegangan pada pintu.


"Karena hujan lah apalagi! Kalau jalan gedung utama sudah pasti harus membawa payung, gila aja bos pake payung sendiri. Dia kan sudah tidak punya sekretaris. Kau ingat?"


Dinda tergelak, "Iya juga ... Tumben Sha! Kamu tahu gosip hangat di kantor."


"Udah deh sana!"


Dinda kemudian berjalan menuju ruangan kepala HRD, entah apa yang akan terjadi padanya. Isi kepalanya tidak mampu berfikir.


Tok


Tok


Dinda mengetuk pintu bertuliskan ruang kepala HRD.


Setelah menunggu beberapa saat, samar-samar dia mendengar suara menyuruhnya masuk dari dalam.


Perlahan Dinda masuk, lalu menganggukkan kepalanya, "Pagi Pak."


"Pagi, duduk!" jawabnya dengan ketus.


Dinda kembali mengangguk, lalu mendaratkan tubuhnya pelan-pelan.


"Kau tahu kau dipanggil karena apa?"


Dinda menggelengkan kepalanya, "Tidak pak...."


"Oke, ini suratnya. Baca dengan teliti, setelah selesai menanda tanganinya berikan padaku." ujarnya dengan menyerahkan satu lembar berkas pemindahan tugas.


"Apa pak, pemindahan tugas? Kenapa? Apa saya punya kesalahan?"


Dinda memberondong kepala HRD itu dengan berbagai pertanyaan.


"Ku bilang baca dulu, baru setelah paham kau bicara!"


Dinda mengangguk. "Maaf pak ...."


Lalu dengan satu tarikan Dinda membuka lembar itu.


"Aku dipindahkan?"