
Brakk
Membuat Tasya terbangun saat itu juga.
"Apa yang kalian lakukan?"
Tidak ada yang mengindahkan perkataannya, mereka diliputi oleh amarah masing-masing.
"Mas, hentikan Mas! Sudah cukup!"
Leon menghempaskan tubuh Erik, "Sorry Sya, aku mengacau, tapi suamimu memang harus diberi pelajaran, agar tidak mempermainkan hati seseorang."
"Diem ba cot! Tidak usah ikut campur urussan rumah tangga gue, atau lo emang sengaja nyari kesempatan deketin Tasya,"
"Terserah lo!" timpal Leon.
"Gue gak mesti ngomong kebusukan lo di luar kan?"
Tasya tersentak, "Ada yang mau kalian jelasin pada ku? Mas?"
Erik terdiam, dia menatap nyalang pada Leon, lalu keluar begitu saja,
"Mas...kita harus bicara!" teriak Tasya.
Leon melihat Tasya dengan nanar, dan pandangannya sulit diartikan,
"Sya, lebih baik lo istirahat, gue pergi dulu!"
"Leon, kau juga mau pergi seperti Erik? Membiarkan aku seperti orang bodoh, karena tidak tahu apa-apa mengenai masalah ini?"
"Sorry Sya...."
Tasya terisak, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, "Aku memang tidak baik-baik saja, dan ku rasa pernikahan ku tidak sehat!"
"Sya...." lirihnya.
"Lebih baik kamu pergi, aku ingin sendiri!"
Kenapa gue ingin sekali memeluk dan menenangkannya, tapi gue tidak bisa melakukannya, sebrengsekk-brengsekk nya gue , gue masih menghargai karena dia istri orang.
"Sya, jaga diri lo, kalau butuh sesuatu hubungi gue, jangan sungkan!"
"Terima kasih."
Leon akhirnya keluar dari sana, melewati koridor rumah sakit dan,
Bugh
Pukulan tepat mengenai kepalanya, membuat telinga Leon berdengung, dia melihat Erik yang membawa balok di tangan nya.
"Pengecut lo!" ujarnya dengan memegangi telinganya yang masih berdengung.
"Banyak ba cot!"
Bugh
Bugh
Erik memukul punggung dan kepalanya, Leon yang tidak sempat menghindar itu kembali tersungkur. Beberapa orang yang berada disana enggan membantu, meraka takut pada Erik yag mengamuk.
Sialan, aku membutuhkan senjata api ku saat ini. Ingin ku pecahkan kepalanya saat ini juga.
Beberapa orang melerai mereka, membawa Erik jauh begitu juga dengan Leon. Mereka sempat mengobati luka di berapa bagian tubuh Leon.
"Brengsekk, aku akan membuat perhitungan dengannya."
Setelah kepergian Leon, Erik kembali masuk ke dalam ruangan Tasya, dia memperhatikan perempuan yang tengah hamil besar itu, menatapnya dengan penuh benci,
"Kau menghianatiku, kau sama buruknya dengan saudaramu Tiwi,"
Tasya yang sebenarnya tidak tidur itu menangis dalam diam, mendengar apa yang di utarakan suaminya yang menyakitkan.
Erik yang memandang punggung Tasya itu lalu dengan memandang langit-langit ruangan, tak lama kemudian dia memejamkan kedua matanya.
.
.
Tangan Tasya mengulur membersihkan luka pada wajah Erik yang tengah tertidur disofa. Entah apa yang terjadi hingga Erik selalu berfikir bahwa anak yang dikandung Tasya bukanlah anaknya, melainkan anak Leon.
Erik mengerjap saat tangan dingin menyentuh wajahnya, dia melihat Tasya yang tengah berjongkok dengan bertumpu pada lututnya, dengan tiang infus disampingnya.
"Pergilah istirahat, tidak usah pedulikan aku!" ujar Erik merebut lap dari tangannya.
"Tidak ada yang mesti kita bicarakan lagi, aku sudah memutuskan, lebih baik kita berpisah saja, aku tidak bisa meneruskan pernikahan ini dengan perasaan yang terus menghantuiku, dan menerima kenyataan bahwa anak itu bukan anakku!"
"Mas, kenapa selalu berfikir ini bukan anakmu? Apa karena Leon selalu membantuku?"
"Dia jelas akan selalu membantumu!"
Tasya terisak, "Aku sudah katakan dari awal, Mas tidak perlu bertanggung jawab, biar kau yang menanggungnya sendiri. Lalu apa yang Mas katakan? Mas bahkan meyakinkanku!"
"Tapi ternyata itu bukan anakku,"
Tasya kembali ke ranjangnya, "Terserah Mas berfikir apa tentang anak ini, jika menurutmu ini bukan anakmu, baiklah! Aku tidak akan menuntutmu apa-apa."
"Mari bercerai."
Erik tersentak dengan pernyataan dari mulut wanita yang mulai mengusik hatinya itu, perlahan menggantikan posisi Tiwi, namun rasa cemburu yang tidak beralasan membuatnya menutup mata dan hati, bahkan melarikan diri dengan bermain perempuan.
"Kau menerima begitu saja keputusanku! Itu artinya memang benar itu bukan lah anakku, tapi anak pria brengsekk itu!"
Tidak ada jawaban dari mulut Tasya, dia membelakangi Erik dengan menangis, apapun yang dikatakan Erik padanya, dia tidak peduli lagi.
Meski hatinya terasa perih bak di iris sambil, Tasya tidak ingin lagi mengemis apa lagi memohon cinta pada seorang pria. Cukup sudah dia pernah mempermalukan dirinya sendiri dihadapan Farrel, cinta pertama dalam hidupnya. Dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
"Apa aku harus bertahan disaat kau sendiri tidak ingin aku pertahankan!" gumamnya dengan isak.
.
.
"Brengsekk ..."
Leon melemparkan kaleng minuman yang telah kosong.
"Sudah aku bilang, kau tidak usah ikut campur masalah mereka, kau mau menjadi pahlawan?"
Jerry menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak melihatnya Jerr, jadi kau tidak akan mengerti, sekalipun aku menceritakan semua padamu."
"Do you love her?"
Leon menatap Jerry, dan berdecih, "Aku hanya kasihan padanya, tidak seharusnya dia mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya."
"Kasihan apa kasihan?"
Leon melempar puntung rokok yang telah padam pada Jerry, "Lebih baik kau pergi, tidak sama sekali membantuku!"
Jerry menghela nafas, "Kau terlihat frustasi hanya karena kasihan,"
Jerry beranjak dari duduk nya, "Fikirkan baik-baik, ku rasa kau sudah jatuh cinta padanya!"
Jerry keluar dari ruangan VIP sebuah klub ternama itu, meninggalkan Leon seorang diri.
Jerry berbisik pada penjaga yang berada di luar, setelah menunggu, seorang wanita berpakaian serba kekurangan bahan menghampirinya,
"Masuklah, hibur dia!"
Wanita itu mengangguk, dan masuk kedalam ruangan dimana Leon tengah menikmati kehidupan malamnya.
Wanita itu langsung duduk di pangkuannya, berusaha menggoda Leon dengan sentuhan-sentuhan sen sual yang membuat ga irah Leon tiba-tiba menyeruak hebat.
"Aku akan menemanimu malam ini!" Bisiknya.
Leon menarik tengkuk wanita tersebut dan me lumatt bibirnya dengan rakus, membuat wanita itu hampir kehabisan nafas.
Setelah itu Leon mendorong tubuh sexy yang hanya ditutup oleh kain serba mini,
"Enyahlah dari sini, sebelum nafasmu benar-benar habis!"
Wanita itu berdecak, lalu keluar dengan kesal, sementara Leon menatap nanar langit-langit.
"Do you love her?"
.
.
Maaf up nya masih tidak menentu, author masih mengriweh dengan RL .... Maaf juga kalau hak gak sempet balas komentar.
Lope lope selalu untuk yang masih setia nungguin AL maupun BM up.
Jangan lupa jaga kesehatan, jangan bergadang, kata bung roma itu tiada gunanya.❤❤