
"Dia teman ku! Lebih tepatnya dia tetangga plat apartemenku." ucap Dinda.
"Biar aku tebak, dia yang mengalihkan perhatianmu pada si manekin hidup?"
Dinda mendesis, tangannya naik untuk menopang dagu."Inginnya sih begitu, tapi...."
"Tapi....?"
"Entahlah, andai saja aku bisa melupakannya dengan mudah, aku merasa lelah sendiri."
Metta mengangguk, dia paham bahkan sangat paham posisi Dinda. Karena dia pun pernah mengalami kekecewaan yang teramat sakit, dia bahkan ditinggalkan tepat saat pernikahannya.
"Kuncinya bukan berusaha melupakan, karena itu sangat sulit. Tapi merelakan, kau harus merelakan rasa cintamu sampai hatimu merasa ringan,"
"Itu sih saran ku, tapi semua kembali lagi, kamu yang menjalaninya, dan kamu pasti tahu kapan maju, kapan mundur, atau kapan kamu berhenti." imbuhnya lagi.
Dinda mengangguk, "Kau benar Sha, tapi aku bukan motor atau mobil yang bisa maju, mundur dan berhenti!" ujar Dinda terkekeh.
"Ish... Kau ini masih bisa bercanda juga! Padahal aku tadinya khawatir lho sama kamu itu," ucap Metta dengan memukul lengan sahabatnya itu.
"Makasih Sha, aku tahu kamu khawatir! But its oke...Aku akan baik-baik saja! Aku tidak akan terpuruk bahkan aku akan benar-benar membuatnya menyesal menyia-nyiakan kesempatan wanita cantik seperti ku." Dinda terkekeh dengan menyibakkan rambutnya kebelakang.
"Antara iya dan tidak!" jawab Metta.
"Kok gitu?" Dinda merengut.
"Dia akan menyesal atau bersyukur karena terhindar dari wanita gila seperti mu..., hahaha." Metta bangkit dan meninggalkan Dinda yang mencebikkan bibirnya.
"Kurang ajar emang punya sohib kayak kamu!"
Metta mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah berbentuk V ke arah nya. "Bercanda peace!!"
Dinda memutar kedua bola matanya malas, lalu kembali mengerjakan tugas nya yang masih menumpuk, lalu melirik jam tangan yang melingkar ditangan nya.
"Biasanya jam segini dia sedang meeting di kafe xx, apa aku ajak Leon makan siang disana saja yah." gumamnya pelan.
Sedetik kemudian, Dinda menggelengkan kepalanya. "Sialan, ngapain masih mikirin orang yang tidak pernah peka dengan perasaan itu!"
Dinda berulang kali menggelengkan kepalanya, tidak ingin otaknya terus ter-distrack oleh sosok Alan yang dingin dan selalu kaku terhadapnya.
"Baiklah Dinda, dunia tidak akan kiamat bukan, hanya karena dia yang tidak pernah melihatmu." ucap Dinda dengan semangat.
Hingga denting jam pun terus berputar, Dinda meraih ponsel nya diatas meja, mengetikkan sesuatu yang dikirimkan nya pada Leon.
"Leon aku baru saja selesai."
"Oke, Sweety aku akan kesana!"
Dinda mendesis melihat balasan yang Leon kirim padanya, "Iih...apaan sweety-sweety!"
Setelah selesai membereskan meja kerjanya, Dinda bangkit dengan menenteng tas miliknya. Lalu dia menghampiri Metta yang juga tengah merapikan berkas-berkas.
"Sha, aku makan siang sama Leon, kamu mau ikut?Ikut saja yuk." Ujar nya.
"Dih...apaan! gak ada kerjaan banget aku ngintilin orang pacaran, ogah ... Aku mau ke kantin aja."
"Beneran? nanti makan siangnya sendirian lho!"
"Udah sih, biarin! Sudah sana, nanti Leon nunggu kamu!"
Metta mendorong tubuh Dinda keluar dari ruangan, "Makan yang banyak, yaa!"
.
.
Tidak lama kemudian mereka sampai di salah satu kafe yang tidak jauh dari sana, Dinda keluar dari mobil, begitupun Leon. Mereka berjalan beriringan masuk kedalam kafe tersebut.
"Kafe ini rekomend banget, kamu pasti suka." Ujar Leon .
"Oh ya...Aku sih sering lewat, tapi belum pernah dengan sengaja mampir kesini!" Dinda terkekeh.
"Baiklah, kita bisa pergi kapan saja kamu mau," ucap Leon kemudian.
"Heh...Kau meledek aku yaa!" Ujar Dinda memukul bahu Leon.
Leon meringis."Siapa yang meledekmu, memangnya aku salah bicara ya."
Dinda tergelak," Memang tidak sih!"
Lalu mereka duduk di kursi yang terletak di paling ujung. Leon menarik kursi untuk Dinda, setelahnya dia pun duduk disampingnya.
"Kau pasti akan menyukainya." Tunjuk Leon pada salah satu menu di buku menu.
"Wah ... Kau benar! Tempat ini memang rekomended banget." Ujar Dinda yang berbinar hanya karena melihat gambar dari udang asam manis dan cumi goreng tepung didalam buku menu.
Setelah memesan mereka pun hanya saling berceloteh hal yang tidak penting dan tertawa bersama.
"Aku minta maaf, atas kejadian malam kemarin. Itu pasti membuatmu tidak nyaman bukan?" ujar Leon.
"Hm... perkataan orang mabuk itu sulit dipercaya bukan?"
Dinda tergelak, "Itu tahu...."
Leon menggelengkan kepalanya. Andai saja kamu tahu Dinda, semua itu benar, aku menyukaimu, itu benar sekali. Aku bahkan benar-benar tergila-gila padamu. batin Leon.
Tak lama kemudian waiters datang membawa menu pesanan mereka. Dan meletakkan nya di meja.
"Wooah... ini pasti sangat enak Leon!" ucapnya bersiap-siap menyuap
"Tentu saja, makanlah!"
"Selamat makan Leon."
Leon terkekeh, menatap wajah Dinda yang kini sibuk dengan hidangan makan siangnya. Wajah yang ceria yang tidak pernah sedikitpun berubah sejak pertama kali mereka bertemu.
"Kau masih ingat saat pertama kali kita bertemu?" Tanya Leon sambil menyuap.
Dinda tampak berfikir, "Tentu saja, aku ... lupa!" lalu tergelak dengan menutup mulutnya yang penuh.
"Makan dulu, kunyah dulu jangan terus tertawa. Kau ini... nanti tersedak!" ujar Leon.
Tepat disaat itu Alan keluar dari privat room, dia baru saja selesai meeting bersama beberapa klien. Matanya langsung mengunci dua sosok yang dia kenali dengan baik. Leon dan Dinda.
Tanpa berfikir panjang Alan menghampiri mereka, dia melihat Dinda yang terus tertawa dengan mulut masih penuh makanan dengan Leon yang juga tertawa melihatnya.
"Boleh aku bergabung!"Ujar Alan yang berdiri mematung dihadapan mereka.
"Al...Kau disini?"
Uhuk..
Dinda tersedak, dia menepuk-nepuk pelan dadanya, Leon meraih minuman dan menyerahkankan padanya.
"Kau ini, sudah aku bilang jangan terus tertawa, nanti tersedak, dan benar kan rasanya mulut ini masih basah mengatakannya!"
Dinda meminum air dari tangan Leon hingga tandas, lalu tergelak setelah nya. "Kau cerewet sekali, seperti nenekku!"
Alan masih berdiri, dan tak menunggu lama dia menarik kursi dan bergabung dengan mereka, membuat Dinda semakin tidak nyaman karena kehadirannya. Namun sedetik kemudian dia terkikik dalam hati, its times ... saatnya pembalasan.
"Al maaf, aku mengabaikanmu!" ujar Leon pada saat Alan duduk.
"Tidak masalah Le, kau sibuk mengurus gadismu yang tersedak bukan." ujarnya dengan mendelik pada Dinda.
"Ah... iya kenalkan dia temanku, dia juga karyawan ditempatmu Al, tapi mungkin kau tidak mengenalnya."
Maaf Leon aku melakukan ini.
Apa dia yang Leon maksud, gadis yang dia incar selama ini, gadis dari divisi umum dikantorku! Jadi benar dia. Leon menyukai Akira.
Dinda tergelak, "Tentu saja beliau tidak mungkin mengenal karyawan remahan semacam aku ini, atau mungkin dia juga tidak pernah melihat aku dikantor,"
"Hust... kamu tidak boleh merendahkan diri sendiri seperti itu, kalau tidak ada bawahan sepertimu yang bekerja giat, dia tidak akan berada di posisinya sekarang, benarkan Al?"
Alan mengangguk."Tentu saja Le."
"Baiklah karena Pak Alan tidak mengenaliku, aku akan memperkenalkan diri disini. Supaya Pak Alan bisa ingat bahwa ada karyawan secantik aku. Iya kan Leon, bukankah aku cantik?" Ujarnya dengan tertawa.
"Kau ini memperkenal kan diri dengan baik, bukan seperti itu." jawab Leon yang tidak habis fikir kelakuan gadis yang dia sukai ternyata makin menggemaskan seperti ini.
Dinda mengangguk, "Maaf, aku berlebihan. Baik lah Saya Akira Dinda Pramudya. Pak Alan bisa panggil Akira saja, karena panggilan Dinda itu biasanya hanya orang-orang yang dekat dengan saya, berhubung kita hanya atasan dan bawahan. Just call me Akira." ucap Dinda dengan mengulurkan tangan dan senyum yang menghiasi bibirnya.
Akira Dinda Pramudya. Akira ... Dinda, Shi iiit. Bodoh Aku tidak menyadarinya.
Dinda sengaja memancing reaksi dari Alan, apa dia akan kaget atau melakukan hal yang tidak terduga. Namun ternyata salah besar, Alan meraih tangan Dinda dan,
"Senang berkenalan dengan mu nona Akira!" ujar Alan lalu melepaskan tangan Dinda.
Dinda menarik senyumnya tipis dan mengangguk menatap nya.
"Baiklah acara perkenalan sudah, kita lanjut makan. Al Kau sudah makan?"
"Aku sedang memesannya, mungkin sebentar lagi mereka mengantarkannya."
Bisa makan juga nih manekin, Aku kira dia hanya makan angin.
Tak lama mereka hanyut dalam piringnya masing-masing, sesekali Leon berbicara dengan Dinda yang tergelak, maupun sebaliknya. Tapi.tidsk dengan Alan, dia hanya makan dengan tenang.
Mereka ternyata sangat akrab lebih dari yang aku kira.
Leon memindahkan asparagus miliknya ke dalam piring milik Dinda, "Buatmu saja, kau kan menyukai asparagus."
Alan melirik Dinda dengan ujung matanya, Aku bahkan tidak tahu dia suka apa, dan tidak peduli juga.
"Terima kasih Leon, kamu memang terbaik." Ujar Dinda sengaja penuh penekanan.