
"Tidak usah kau fikirkan, ada apa mencariku!" ucapnya tanpa basa basi.
"Kau ini selalu saja kaku! Apa hidupmu tidak bisa santai sedikit?" ujar Tasya dengan mengeluarkan cake didalam paper bag.
"Aku membawa ini untuk mu! Cobalah." Tasya memotong kue coklat itu dan menyerahkannya pada Alan.
"Aku tidak suka kue, aku tidak suka manis!"
Tasya merengut, "Cobalah sedikit! Bayi ini ingin pamannya mencobanya, sedikit saja!"
"Aku tidak mau, dan jangan paksa aku!" ujarnya dengan kembali beranjak dari duduknya.
"Kak, kau ingin membuat calon keponakanmu ini sedih?"
"Jangan mengada-ngada, mana ada yang begitu!"
"Kau tidak tahu orang hamil yang sedang ngidam?" Tasya mengerucutkan bibirnya.
"Kau ini hanya mengada-ngada, aku tidak percaya!"
Tasya melangkah mendekati Alan, "Ayolah, sedikit saja! Buka mulut mu!"
Alan mendecak, " Kau ini merepotkan saja!"
Alan membuka mulutnya sedikit, Tasya memasukkan potongan kecil kue itu kedalamnya.
"Bagaimana rasanya?"
Alan mengunyah dan menelannya dengan susah payah, "Lumayan, tapi aku tetap tidak suka!"
"Kau menyebalkan!" ujar Tasya dengan terkekeh.
Tasya kembali duduk disofa dan mengeluarkan sesuatu dalam tasnya, lalu menyodorkan kartu undangan pada Alan.
"Aku akan menikah, kau harus datang, jangan lupa mengajak pacarmu ya!"
Alan mengambil kartu undangan dari tangan Tasya dan melihatnya, "Benarkah? Dengan Erik?"
Tasya mengangguk, "Dia sudah tahu dan akan bertanggung jawab pada bayi ini!"
"Bagaimana denganmu sendiri? Maksudku apa kau juga sudah menerimanya?" Alan membuka undangan itu, tertera nama Erik dan Tasya disana.
Tasya menghela nafas, "Erik mengatakan padaku, dia akan mencoba melupakan Tiwi, begitu juga aku yang akan berusaha melupakan Farrel. Dengan begitu mungkin akan berhasil, tidak hanya menikah. Tapi sudah saatnya aku menata hati bukan? Farrel juga sudah menikah dengan seseorang yang dia cintai, dia sudah bahagia, dan aku juga ingin bahagia. Mencoba melupakan masa lalu yang menyakitkan, dan menjalani kehidupan kedepannya dengan bahagia!"
"Walaupun kepedihan masa lalu tidak mudah untuk kita lupakan, bukankah kita harus mencari kebahagian kita sendiri?"
Alan mengangguk, "Kau benar, kau juga harus bahagia. Jadi kau harus berusaha melupakan Farrel!"
Kata-kata Tasya sedikit menamparnya, Alan meletakkan kartu undangan itu diatas meja, dia berjalan menuju sudut ruangan, mengambil satu botol air mineral yang berada di lemari es memberikan nya pada Tasya.
Tasya mengambil botol itu dari tangannya,"Terima kasih kak ...,"
"Aku sudah berusaha melupakan Farrel dari dulu, berusaha dengan sangat keras. Namun tidak juga berhasil. Kau tahu kak? Anak ini lah yang mengalihkan fikiran ku dengan perlahan." pungkasnya lagi.
"Kecebong itu ada gunanya juga!" gumamnya dengan terkekeh.
Tasya menenggak air mineral itu, dan menyeka bibir dengan ibu jarinya, "Bagaimana denganmu sendiri?"
Alan mendesis, "Kenapa kau menanyakan hal itu? Aku tidak bagaimana- bagaimana!"
"Hidupmu terlalu kaku, kau tahu, kau butuh seseorang untuk membuatmu lebih bisa tersenyum setiap hari!" cibir Tasya.
"Tidak usah memikirkan ku! fikirkan saja pernikahanmu," ketus Alan.
Tasya mengusap perut buncit yang sudah mulai terlihat itu, "Sayang, lihatlah pamanmu, dia benar-benar menyebalkan bukan? Ibu sampai ingin memukulnya dengan keras!"
Alan menoleh padanya, "Heh, memangnya dia bisa mendengarmu?"
"Paman kau bodoh!" Ujar Tasya dengan tergelak,
"Lebih baik kau segera menikah, dan kau akan tahu sedikit-sedikit hal-hal begini!" ujarnya dengan tertawa terpingkal.
Hingga beberapa waktu mereka mengobrol hal-hal remeh yang tentu saja, Alan yang lebih banyak mendengarkan ketimbang ikut bicara, dia hanya menarik sudut bibirnya saat Tasya yang terus saja berceloteh,
"Terserah."
Tok
Tok
Pintu terbuka, Dinda masuk kedalam dengan tergesa-gesa lalu berdiri dengan tangan yang berkacak pinggang.
"Alan Alfiansyah bodoh! Kau memang bodoh, sampai terus membuatku kesal, dan melakukan kegilaan ini! Apa aku menunggu sampai tua dan beruban hanya untuk mendengarmu mengatakan nya sendiri padaku!"
"Kenapa susah sekali kau mengatakan kau menyukaiku? Bahkan kau ikut-ikutan rencana konyolku! Apa sesusah itu bagimu?"
"Aku menyukaimu dan kau menyukaiku, mari kita berkencan Alan yang bodoh!" ucap Dinda dengan nafas yang terengah-engah.
Alan terbelalak dengan semua yang dikatakan Dinda padanya, begitu juga Tasya yang tercengang dan ikut menutup mulutnya.
Dia keren, sangat berani mengutarakan nya sampai berapi-api begitu.
Alan terdiam di tempatnya, dia bahkan tidak tahu apa yang harus dia katakan, namun hatinya menggelitik, dengan keberanian gadis yang dia sukai itu.
"Kalau kau diam saja, berarti kau setuju juga dengan apa yang aku katakan!" Seru nya lagi.
Dinda mendekat kearahnya, "Mari kita berkencan, dan melupakan hal-hal yang kau takutkan, aku akan menemani mu selama aku bisa, aku sudah menyukaimu sejauh ini, dan aku tidak bisa mundur lagi."
"Aku mencintaimu Alan, dulu, kemarin, hari ini, besok dan seterusnya."
Tasya beranjak dari duduknya, "Sebaiknya aku keluar dulu. Bye Alan."
Tasya berlalu melewati Alan dan menepuk bahu Dinda, "Taklukkan dia yaa, kau hebat sekali." bisik nya pada Dinda.
Hingga Tasya menghilang dibalik pintu, dan kaget saat hampir bertabrakan dengan Leon yang menunggu di luar ruangan.
"Oh... maaf!" ujar Leon.
"Tidak apa-apa! Kau ingin masuk kedalam?" tanya Tasya.
Leon mengangguk, "Aku hanya mengkhawatirkan pasangan gila itu,"
Tasya terkikik, "Pasangan gila?"
Mereka berdua berjalan menuju kursi yang berderet panjang di koridor, dan mendaratkan tubuhnya.
"Iya mereka sama-sama gila!" ujar Leon terkekeh.
"Kau mengenal gadis pemberani itu? Dia mengatakan semuanya, bahkan dia tidak memperdulikan orang lain saat mengatakannya, luar biasa bukan?" Ucap Tasya.
"Rasanya aku juga mengenalnya, tapi aku lupa lagi dimana!"
"Dia memang berani, tidak seperti si bodoh Alan yang bahkan tidak bisa mengutarakan apa yang dia rasakan!" tukas Leon.
"Aku setuju, dia memang kaku!"
Mereka berdua tergelak bersama.
"Aku Leon," ujar Leon mengulurkan tangannya pada Tasya.
"Tasya ..." ucapnya dengan menyambut uluran tangan Leon.
Sementara didalam ruangan, Dinda sudah berjinjit mendekatkan wajahnya pada wajah Alan,
"Kalau kau masih diam saja, aku akan terus berteriak bahkan hingga orang-orang akan kesini dan mengetahui kalau bos mereka itu bodoh! bahkan lebih bodoh dari seekor keledai." bisiknya dengan menarik bibirnya keatas.
Dengan sekali gerakan, Alan merengkuh tubuh Dinda kedalam pelukannya, dia mendekap gadis itu dengan erat,
"Kau memang gadis bodoh dan gila! Harusnya aku yang mengatakannya padamu terlebih dahulu!"
Dinda membalas dengan melingkarkan tangan pada pinggang Alan, "Aku memang gila, dan semakin gila hanya karena menunggumu mengatakannya sendiri!"
"Aku memang bukan pemberani dalam hal ini!"
"Aku tahu!"
"Aku mungkin akan sering membuatmu kecewa karena aku tidak bisa mengatakannya setiap saat!"
"Aku tahu!"
"Aku akan sering membuatmu menangis dengan Sikapku!"
"Aku tahu!"
"Aku mencintaimu Dinda." bisik Alan.
"Aku lebih mencintaimu, Alan Alfiansyah yang ternyata sangat bodoh!"
Mereka saling mendekap satu sama lain, dengan tangan yang saling melingkar, dan tentu saja dengan hati yang berbunga-bunga. Melepaskan semua ego diri masing-masing.
.
.
Author melehoy, hayo like dan komen nya jangan ragu-ragu. 😂