
Fierro dibantu oleh pengasuh baby Zi mengambil paksa bayi dari pelukan Tasya, membuat Tasya kembali histeris dan langsung tidak sadarkan diri. Para pelayan rumah pun langsung mengangkat tubuhnya ke atas kasur, sementara pengasuh membawa baby Zi keluar.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Fierro pada pengasuh baby Zi.
"Aku akan memanggil dokter Frans kemari!" ucapnya lagi tanpa menunggu pengasuh menjawab pertanyaannya.
Fierro merogoh ponselnya dan segera menelepon dokter Frans dan menyuruhnya datang dengan segera. Lalu dia kembali masuk ke dalam kamar dimana Tasya terbaring.
"Nona memang sering seperti ini sejak masa kehamilannya, tapi semenjak tuan Leon sering datang kemari, Nona jarang sekali kambuh. Sepertinya Tuan besar harus menyuruh tuan Leon kemari juga Tuan." ujar pelayan.
"Kau jangan mengada-ngada, justru dia lah yang menyebabkan putriku jadi seperti ini, dia sama saja dengan si brengsekk Erik!"
"Tapi tuan besar---"
"Sudah sana, ambil minyak angin atau apa yang bisa membantunya sadar sebelum dokter kemari."
Pelayan itupun mengangguk walau dengan terpaksa, meskipun dia sudah mengatakan hal yang sebenarnya, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Tidak lama dokter Frans datang, dengan peralatan yang biasa dia bawa, pelayan langsung membawanya masuk dan menemui Fierro.
"Fierro? Kau disini juga ternyata?" ujar Frans mengulurkan tangan.
Fierro menjabat tangannya, "Cepat kau tangani putriku, dan juga periksa cucuku, tadi wajahnya sempat membiru."
Frans mengangguk, lalu bergegas melihat baby Zi yang tengah tertidur dipelukan pengasuhnya, "Baringkan saja dia diranjang, aku akan memeriksanya." titahnya.
Pelayan itu membaringkan bayi mungil yang belum mengerti apa-apa itu diatas ranjang, lalu Frans mulai memeriksanya.
"Apa sebelumnya dia menangis?"
"Sangat dok!"
Frans mengangguk, "Dia kekurangan Asi, tubuhnya dehidrasi, dan terus menangis hingga wajahnya membiru. Apa karena ibunya kembali histeris?" tanyanya lagi.
Pelayan itu melirik sebentar ke arah Fierro lalu mengangguk pelan.
"Jawab saja dengan jujur, kau tidak perlu takut pada majikan mu itu, dia bahkan tidak tahu apa-apa tentang keadaan anaknya selama ini!" tukas Frans dengan ketus.
"Apa maksudmu Frans?"
Namun dokter Frans enggan menjawab pertanyaannya, dia memilih kembali memeriksa baby Zi, "Siapkan susunya, dan bangunkan baby Zi, agar dia segera menyusu!"
"Baik dok!" jawab pengasuh yang langsung cekatan membuat susu formula untuk baby Zi.
Frans masih mengabaikan Fierro yang menunggu jawaban darinya, dia memilih memeriksa Tasya yang masih belum sadarkan diri.
"Apa dia minum obat yang aku resepkan?"
Satu pelayan maju mendekat dan mengangguk, "Iya dok, tapi selama beberapa hari ini dia tidak meminumnya!"
Frans mengernyit, "Kenapa?"
"Karena kata Nona, dia sudah merasa lebih baik, apalagi setiap ada tuan Leon datang dan mengajak baby Zi bermain dan mengajak nona keluar."
Frans kembali mengangguk, "Pantas saja, dan Leon tidak kemari akhir-akhir ini?"
Pelayan itupun kembali mengangguk, "Kurang lebih sebulan, Nona bilang Leon menghilang tanpa kabar dan---"
Pelayan itu menoleh pada Fierro dan urung mengatakan kelanjutannya.
"Aku mengerti ..." ujar dokter Frans.
"Aku yang tidak mengerti Frans, jelaskan padaku!"
"Nanti saja, setelah aku tangani putrimu!" ujarnya tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
.
.
Tak lama kemudian Tasya kembali sadar, dia mulai mencari keberadaan baby Zi dengan mengedarkan kedua manik yang membola.
"Dimana baby Zi?"
"Kau sudah sadar? How do you feel?"
"Om Frans? Ahk ... kenapa ada disini?" ujarnya dengan tangan yang menepuk jidatnya sendiri.
Seolah dia sudah mengerti jika kedatangan dokter Frans, pasti karena dirinya kembali histeris dan tidak bisa mengendalikan diri.
"Dia baik-baik saja! Kau tidak perlu khawatir, di sedang minum susu bersama pengasuhnya!"
"Tapi aku ingin melihatnya sendiri Om!"
"Iya ... boleh, tapi nanti ya! Sekarang kamu istirahat dulu, setelah itu baru boleh melihat baby Zi lagi."
Tasya mengangguk, kini dia menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang, dan menatap satu persatu orang yang berada di dekatnya, termasuk pada ayahnya sendiri.
"Ada yang mau kamu ceritakan pada Om?"
Tasya menggelengkan kepalanya, namun kedua matanya mulai mengabur.
"Om akan menyuruh semua orang keluar kalau kamu mau Sya!"
Tasya mengangguk, kemudian Frans menyuruh semua orang keluar, "Apa Papimu juga harus keluar?"
"Iya ... suruh dia keluar, aku tidak mau melihatnya ada di sini." lirihnya.
Dokter Frans mengangguk ke arah Fierro yang kemudian memilih keluar, namun dia yang penasaran pun hanya berdiri di dekat pintu yang sengaja dia tutup namun masih ada sedikit celah, agar bisa mendengar apa yang di katakan oleh Frans dan juga putrinya.
"Om ... kenapa dia harus datang dalam hidupku?"
"Leon?"
Tasya mengangguk, "Dia datang hanya untuk menghancurkan hidupku yang sudah hancur."
"Kau tahu kemana dia selama ini?"
Tasya mengangguk lagi, "Aku baru tahu setelah Papi menceritakannya."
"Apa kau percaya pada Leon?"
"Awalnya aku percaya, tapi entahlah untuk sekarang! Dia tidak jujur padaku mengenai masa lalunya."
"Semua orang punya masa lalu bukan? Tapi tidak semua orang berani mengungkapkan masa lalunya, apalagi itu sesuatu yang buruk, Leon pasti punya alasan untuk itu Sya."
"Tapi harusnya dia mengatakannya saja,"
"Mungkin dia menunggu waktu yang tepat, Om lihat dia baik, dia pasti tidak akan membuatmu kecewa, Om sangat yakin!"
Brakk
"Papi tetap tidak setuju! Kamu dan anakmu lebih baik ikut pindah bersama Papi dan Mami di paris." Seru Fierro yang tiba-tiba masuk.
"Dan kau! Lebih baik tidak ikut campur terlalu dalam!"
"Aku tidak mau ikut Papi, biarkan aku menjalani hidupku bersama baby Zi disini! Biarkan semua seperti sebelumnya ... bukankah Papi dan Mami tidak pernah ada?"
"Tasya dengar Papi!! Kami melakukan ini demi kebaikanmu, kami bekerja siang dan malam untukmu, agar kami bisa memenuhi semua kebutuhanmu!"
"Apa yang Papi tahu tentang kebutuhanku? Uang ... materi? Keberhasilan kalian?"
"Bukan sama sekali Pi ... bukan itu yang aku butuh!" sambungnya lagi.
Frans bangkit dari duduknya, dan menghampiri Fierro, "Fierro, lebih baik kita keluar, biarkan putrimu beristirahat, kalian bisa bicara nanti,"
"Aku akan segera mengurus kepindahan meraka Frans, dan aku tidak akan pernah menyetujui jika penjahat itu menikahi putriku!"
Deg
Frans merasa tersentil, dia mengingat keponakannya sendiri.
"Kau tahu Fierro, lebih baik menikahi seorang mantan penjahat dari pada mantan orang baik!" ucap Frans dengan kesal, lalu menoleh pada Tasya, "Sya ... om pergi! Jangan lupa minum obatnya, besok Om akan kemari untuk mengecek keadaanmu."
Frans keluar begitu saja dari kamar, meninggalkan Fierro yang masih tertegun, tak lama kemudian dia menyusulnya, "Frans, kau belum menjelaskan apapun tentang keadaan putriku!"
"Aku akan mengirimkan hasil pemeriksaan lengkap ke emailmu. Aku harus pergi!"
Frans meninggalkan rumah keluarga Feremundo itu dengan tergesa, hatinya merasa tidak terima dengan sebutan penjahat yang diucapkan Fierro tadi.
Bahkan keluargaku tidak ada yang berani menyebut Alan yang seorang mafia itu seorang penjahat, aku merasa tidak terima, dengan mulutnya yang jahat itu. Batin Frans.
"Memangnya Leon penjahat seperti apa?"
Frans pun melajukan kendaraan lebih cepat, tujuan dia untuk datang ke rumah utama Adhinata, untuk menemui Alan yang keluar dari penjara, namun karena dalam perjalanan, Fierro menghubunginya, hingga dia harus menjalankan kewajibannya sebagai dokter.