
Benar saja, pesawat itu sudah hampir tiga puluh menit tiba di bandara, karena Alan tidak juga keluar. Maka pilot dan co pilot hanya menunggunya di kabin.
Pesawat pribadi milik Omar yang sengaja Alan pinjam hanya untuk pergi ke negara S, dimana Alan berubah fikiran saat mendengar orang orang aneh ketika penerbangan malam yang pernah di alami oleh Dinda.
Semula Mac tertawa saat mendengar alasan bosnya itu mengganti maskapai penerbangan malam dengan pesawat itu, menganggap Dinda hanya mengada ngada, dimana penerbangan malam dengan orang aneh terdengar seperti bis malam. Namun ke absurtan Dinda yang membuat seorang dunia Alan tambah sempurna.
Setelah keduanya kembali rapi, mereka keluar dari ruangan itu, hanya ada lima kursi di tengahnya, dan kelima kursi itu kosong tak berpenghuni.
"Al ... apa mereka sudah turun semua? Dan apa ini pesawat pribadi? Kenapa kursinya sedikit sekali." tanya Dinda dengan alis yang mengernyit heran.
"Kenapa baru sadar sekarang? Kau tidak sadar, mana ada maskapai penerbangan komersil yang memiliki kamar." Alan menyuruh sang istri menunggu, sementara dia menuju ruang kokpit pesawat.
Setelah meminta maaf karena menunggu pintu pesawat terbuka, dan keduanya turun. Ada mobil terparkir di sana, mobil berwarna hitam dengan pria tinggi tegap serta berdasi yang berdiri disampingnya.
"Apa kau menyuruh anak buahmu menjemputmu?"
"Tidak ... kau tahu aku sudah tidak memiliki anak buah lagi semenjak aku berhenti."
"Lalu siapa yang menyuruhnya?"
Pria tegap itu membungkukkan badannya, dia memperkenalkan diri sebagai Lexy, orang yang di perintahkan Omar untuk mengantarkan mereka berdua.
"Omar?? Bukankah dia temanmu yang__" Dinda enggan meneruskan ucapannya, dia justru melirik Alan yang hanya diam.
"Hm ...!"
Hanya jawaban singkat itu yang keluar dari mulut Alan, seperti yang dia tahu. Namun Dinda tidak ingin perduli, yang penting kedatangan mereka berdua ke negara itu serta perjalanan berdua mereka.
Sampai mereka tiba di sebuah hotel, hotel yang sangat dekat dengan apartemen orang tua Dinda, dimana selama pengobatan ini, mereka tinggal di apartemen itu, dan juga tentu saja rumah sakit.
"Al ... apa sebaiknya kita tinggal di apartemen ayah saja?" Ujar Dinda saat menggeret dua koper dan masuk ke dalam hotel.
"Tidak! Kita akan tinggal dihotel ini selama di negara S ini!"
"Tapi kan tidak ada salahnya, toh apartemen itu kosong, ayah selalu tinggal di rumah sakit, sesekali hanya pulang untuk mengambil pakaiannya."
Alan menghela nafas, "Lalu kalau seandainya kau menyerangku seperti dipesawat dan saat itu ayahmu pulang? Apa yang akan kau lakukan?" ujarnya kembali melangkah menuju resepsionis.
Mereka hanya datang untuk mengambil kunci, karena semuanya sudah di atur oleh Mac sesaat mereka akan pergi.
Dinda mengerjapkan kedua matanya, apa yang dikatakan suaminya memang benar, dia bergidig lantas menyusul suaminya yang kini berjalan menuju Lift.
"Heh ... kenapa tidak menunggu? Orang lain digandeng oleh suaminya, ini malah ditinggalkan." sungutnya sesaat masuk kedalam lift.
"Masih saja terus membandingkan aku dengan pria lain!" jawab Alan.
Membuat Dinda menggaruk kepalanya, dia fikir Alan tidak akan mendengar ucapannya itu, Ternyata dia mendengarnya.
"Besok pagi apa yang harus kita lakukan?" tanya Dinda saat pintu lift terbuka.
"Sayang ... tidur saja belum! Kenapa sudah memikirkan kemana besok! Bukan kah kita akan mengunjungi orang tuamu?"
Dinda terkekeh, suaminya benar benar sangat berbeda, sangat datar dan luar biasa tidak peka.
"Al sayang ... sekalian saja kita jalan jalan, Hem?" Dinda melingkarkan tangan dilengan suaminya, berjalan menuju kamar mereka.
Dinda terkekeh, lalu mengecup pipi manusia kaku itu sekilas.
Cup
"Dinda ... kau tidak lihat CCTV menyala? Hem ...!!"
"Astaga ... ini kota bebas sayang! Mereka bahkan melakukan yang lebih dari ku walaupun mereka tahu ada CCTV."
Cup
Dinda dengan sengaja kembali mencium pipi Alan lalu terkekeh. Alan menghela nafas, menempelkan kunci kamar yang berbentuk kartu hingga pintu itu terbuka, lalu masuk kedalam, sementara Dinda mengekor dibelakangnya dengan terus terkekeh.
"Sayang!!"
Alan tidak menoleh, dia terus masuk menggeret koper kedalam kamar, Dinda kembali memanggilnya. "Sayangku!"
"Hm ...!"
Suaranya nyaris tidak terdengar karena Alan di kamar sementara Dinda membuka pintu balkon dan menatap lampu lampu jalanan. Wanita berambut coklat itu menghirup udara panjang melalui hidungnya lalu menghembuskannya pelan.
Namun tiba tiba sebuah tangan kekar melingkar di perutnya, dengan nafas hangat disertai suara berat.
"Aku tidak suka mendengar kau banyak bicara diluar sana, aku juga tidak suka kau membandingkan aku dengan orang lain! Aku tidak suka melihatmu nakal di tempat umum."
Dinda membalikkan tubuhnya, melihat wajah datar suaminya itu meskipun tatapannya kini meneduhkan.
"Kau marah?"
"Tidak ...!"
"Terus?"
"Karena kau milikku!! Kau hanya boleh berbuat seperti itu padaku! Saat kita berdua, aku tidak ingin orang lain tahu!"
Dinda mengulum senyuman, " Hhmm ... baiklah tuan kaku, aku mengerti, aku tidak akan menciummu lagi ditempat umum seperti tadi! Aku juga tidak akan banyak bicara!" Dinda mengalungkan tangannya pada leher Alan. "Tapi___ aku ingin kali ini kau yang memulainya duluan! Bagaimana?"
Alan mengernyit, dia menatap Dinda yang mengangguk nganggukan kepalanya berulang kali.
"Apa kau tidak lelah?"
Dinda merubah gerakan kepalanya menjadi gelengan, dengan bibir mengerucut dan juga mata terpejam, menunggu Alan menciumnya duluan.
Sementara Alan hanya menggelengkan kepalanya lalu mengambil ponselnya, dan saat itu juga Blitz kamera ponsel milik Alan menyala.
"Iiih ... kenapa malah mengambil fotoku!"
"Ini sangat lucu...!!!" Alan tertawa.
"Iih ... menyebalkan, kau tidak peka, kaku dan tidak romantis, aku ini menunggu kau menciumku! Kenapa malah mengambil fotoku. Mana jelek sekali!" sungut Dinda melihat hasil foto yang memperlihatkan dia tengah terpejam dengan mulut mengerucut menjadi satu.
"Dasar menyebalkan." sungutnya lagi.
"Alan menyebalkan!"