Assistant Love

Assistant Love
Kau Merusaknya



"Dasar bodoh! Tentu saja tidak ada sinyal karena ponsel ini dalam mode pesawat!"


kedua manik coklatnya terbelalak menatap Alan "Mode pesawat? Perasaan aku tidak merubah apapun pada ponselku kok tadi?"


Alan menyentil dahinya, "Istriku masih saja bodoh! Kau tidak tahu di mana kau saat ini berada?"


Saat itu kedua manik coklat Dinda kembali bergerak ke kiri dan ke kanan, dan berakhir pada ke sebuah bentuk persegi panjang dengan lebar kira kira berukuran lima belas senti meter yang berlapis kaca dengan pantulan hitam gelap.


Dinda berlari ke arahnya, "Apa kita di dalam pesawat?"


"Hm ... kau kau pikir kita di mana? Tentu saja kita di pesawat ... dasar bodoh!"


Dinda menoleh, "Kita benar-benar di pesawat? Apa hanya kita yang menggunakan pesawat malam ini?"


Wanita berambut coklat itu belum menyadari jika pesawat itu jenis pesawat pribadi, bukan maskapai penerbangan yang biasa dia gunakan, namun Alan sendiri enggan untuk menjelaskannya, dia memilih kembali duduk dan mencecap wine miliknya.


"Kau sudah tahu sekarang? Apa masih ingin marah marah padaku?"


Dinda menghampirinya, dia mendaratkan bokongnya di pangkuan Alan, lalu mengalungkan tangannya dilehernya yang kini terasa bergidik.


"Sayang ... maafkan aku! Aku baru saja bangun tidur, dan saat membuka mata aku merasa tempat ini sangat asing. Maaf yaa!"


Alan menelan Saliva, wajah Dinda sangat dekat dengannya, hingga nafas hangat berhembus tepat pada wajahnya.


"Turunlah ... duduk dikursimu!"


"Tidak mau! Memangnya kenapa? Aku suka duduk disini, rasanya nyaman karena aku duduk di pangkuan suamiku! Lagi pula kita kan__"


"Dinda ... jangan memancingku!" Alan kembali menelan saliva, pergerakan Dinda diatasnya membuat benda yang tertidur dipangkal pahanya menggeliat.


"Siapa yang memancing! Aku tidak memancingmu! Tapi..." Wanita itu menggigit sedikit bibirnya, dengan terus menatap wajah datar milik Alan. "Tapi kalau___" jemarinya bermain di jas yang dikenakan Alan, memutar mutar kancing jasnya dengan gerakan slow motion.


"Hentikan atau kau akan menyesal!"


Dinda terkekeh, "Memangnya ... kau tidak menginginkannya?" Kedipan mata nakal dia luncurkan, membuat Alan mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Sebentar lagi pesawat mendarat! Bersiaplah...!"


"Kenapa pesawat ini cepat sekali?"


"Bukan pesawat ini yang cepat, tapi kau yang terlalu lama tertidur." Alan masih bertahan untuk tidak kembali menyerang istrinya, walaupun berkali kali dia harus menelan Saliva.


"Kalau begitu kita turun di tempat lain saja!"


"Kau pikir ini bis kota? Bisa berhenti di halte berikutnya?"


Dinda mengulum senyuman, merasa Alan yang mulai berkeringat, terlihat menahan sesuatu.


"Sayang ...!! Bukankah kau ingin cepat membuat anak?"


Uhuk


Alan tersedak salivanya sendiri, "Kau selalu bicara tanpa di fikir! Bukankah sudah aku___"


Ahh sudah lah bukan Dinda jika bertindak memikirkan logika, wanita ekspresif itu telah lebih dulu melummat bibir Alan, menerobos masuk kedalam rongga pengecapnya hingga Alan tak lagi bisa menghindar apalagi menolaknya.


Lidahnya dengan lincah menari didalam sana, memancing kelakian Alan dengan cepat. Hingga kedua tangan Alan mengerat dipinggangnya.


"Jangan salahkan aku jika penerbangan kita terhambat!" ujarnya dengan membopong tubuh sang istri ke atas ranjang.


Dinda tidak peduli dengan pesawat, bahkan jika pesawat itu berhenti saat itu juga, yang dia pikirkan saat ini hanyalah memancing seorang Alan yang akan kembali membuatnya melayang.


Alan melepaskan pagutannya, bibirnya turun menyusuri setiap inci tubuh sang istri, dengan gigitan kecil dia menarik dress floral dengan tali sebesar ibu jari yang mengait di bahunya hingga dress itu melorot.


Tak hanya itu, kedua tangannya bergerak menuruo masuk kedalam puncak dada yang terasa sangat pas dengan ukuran genggamannya. Dinda mengulas senyuman nakal, dia membantu dengan membuka kancing kemeja yang dikenakan Alan dan melemparnya begitu saja, tak lupa juga dengan ikat pinggang yang melilit di seputaran pinggang.


"Kau benar benar tidak sabaran!"


Dinda terkekeh, dia berjongkok dan meloloskan ****** ***** Alan, hingga benda tajam yang berdiri tegak itu terlihat jelas.


"Eeeugghhh!!!"


Tak sampai situ, Dinda bermain main dibawah sana, menjilattnya bak es krim lalu kembali mengemutnya seolah itu Lolly pop kesukaanya.


"Sial ... kau ternyata sangat nakal sayang!"


"Ini belum seberapa my sweety," ujarnya dengan mendorong tubuh Alan hingga pria itu terjerembab di atas ranjang, dengan perlahan, Dinda naik ke atasnya, mengecup semua bagian bagian yang membuat Alan mengerrang.


"Shittt ... hentikan itu!!"


Dinda mengulum senyuman, entah kenapa dirinya semakin berani dan juga liar, dan membuat Alan kepayahan. Dengan sekali gerakan Alan membalikkan tubuhnya hingga Dinda kini berada di bawahnya, tanpa basa basi, pria yang telah bergelora itu menarik kain penutup dengan pita merah ditengahnya dengan kasar, melemparnya begitu saja hingga Dinda terkekeh.


"Ternyata kau juga tidak sabaran!!"


"Sudah aku bilang, kau akan menyesal."


Dengan pasti Alan mengarahkan senjatanya kedalam milik Dinda, dan dengan sedikit dorongan lembut, benda itu masuk dan hampir terbenam seutuhnya.


"Aaaahkk!!! Yes my sweety!!"


Dinda terus meracau hingga Alan harus membekap mulutnya, dia membekapnya dengan bibirnya lalu menghentak keras.


"Eeeugghhh sayang ..."


"Ssshhh aaaahhh sa__sayang! Yeaaahh ... eeeugghhh!!"


"Diamlah Dinda!!! Kau ingin orang lain mendengar dessahan sialanmu itu!!!"


Tubuh Dinda bergerak hebat, ditambah Alan memacunya dengan cepat, irama decakkan dan errangan silih bersahut sahutan.


"Aaaahhh ... Aku Aaaaahkk


"Eeeugghhh ... sayang, aaaahhh sayang kiss me!!" gumam Dinda dengan tubuh yang kian bergelinjang.


"Now!!!"


Eeeeuughh ... aaaahh sssshh Aaahhhkkk... sayang.


"Dinda Shut up!!!"


Alan kembali membekap bibirnya dengan melummatnya rakus, hingga lenguhhan dan Geraman panjang tertahan di tenggorokannya.


Eeemmmmppphhhhhhh.


Tubuh Alan lunglai, seiring menyemburnya jutaan sel kehidupan manusia kedalam tempat semestinya, dengan dada turun naik disertai dengan nafas memburu dari keduanya.


Dinda memeluk Alan yang masih berada di atasnya, dia terkekeh mengingat pria itu kini melemah tak berdaya.


"Kau sangat nakal ternyata!!"


"Hm ... karena kalau menunggumu bergerak duluan itu sangat lama! Tapi akan bergai rah saat di pancing! Menyebalkan."


Alan memeluknya, lalu mengecup bahu polos milik Dinda, "Karena aku tidak bodoh seperti mu, pesawat ini sepertinya sudah mendarat dan pilot pasti bosan karena harus menunggu kita keluar." terang Alan dengan kembali mendaratkan kecupan kecupan di bahu serta leher Dinda.


"Heh ... kau bilang aku bodoh!! Sepertinya kau perlu cermin dan berkaca ... kau juga bodoh! Kenapa justru sangat berga irah padahal sudah tahu pesawat ini sudah mendarat."


"Itu salahmu!!"


"Tidak ... itu salahmu!!" Jawab Dinda dengan membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Alan.


"Salahmu ... semua salahmu!! Paancingannya tidak seberapa! Tapi kau terpancing sampai kau merusaknya, under weear ku jadi tidak bisa di pakai lagi!"


Alan tergelak, di mengecup ujung hidung mancung milik Dinda, "Ya ... baiklah! Aku yang salah, setelah kita sampai di rumah, aku akan mengantinya."


"Aku mau beli yang mahal!"