
Malam yang panjang, yang biasanya menjadi malam merajut cinta para pengantin pada umumnya berakhir begitu saja, keduanya tertidur dengan sendirinya, kedua pengantin baru itu sama-sama terlelap dan hanyut di dunia mimpi.
Hingga keesokan hari, Dinda meraba kasur disebelahnya yang terasa dingin, perlahan dia membuka matanya yang masih saja lengket itu, namun tiba-tiba mengerjap dan membulat sempurna setelah melihat kamar telah terang benderang.
"Astaga ... ini jam berapa?" ucapnya dengan menguap.
Ceklek
Suara pintu terbuka, Alan masuk dengan berdecak, "Kau sudah bangun?"
Dinda mengedarkan pandangannya, "Kau sudah bangun? Memangnya ini jam berapa?"
Dengan wajah datarnya Alan melirik jam yang terpasang didinding, "Masih terlalu pagi untukmu!"
Dinda melihat jam dinding, dan melompat kaget, "Astaga ... kenapa kamu tidak bangunkan aku? Ini sudah jam 10, pasti kamu sengaja yah!"
Alan menyentuh kedua bahunya lalu menggiringnya ke tempat tidur, "Kau pasti kelelahan, istirahat saja!"
"Mana bisa begitu, hari ini hari pertama aku menjadi seorang istri dan aku tidak melakukan apa-apa, lagi pula aku tidak kelelahan, kita tidak melakukan apa-apa semalam!"
Alan tergelak, "Masih banyak malam-malam berikutnya, kenapa buru-buru sekali!"
"Kau ini memang aneh!"
"Aku akan membawa sarapan mu! Tunggu sebentar."
Dinda bangkit dari ranjang dan menarik lengan Alan, "Tidak ... aku tidak mau sarapan dikamar, kita keluar sama-sama!" Dia melingkarkan tangan pada lengan Alan, "Aku tidak sakit seperti kebanyakan pengantin baru." lanjutnya dengan terkekeh.
Alan mengangguk, lalu mengacak rambut Dinda yang sudah kusut itu, "Kau ini ada-ada saja!"
"Iih ... kau ini!" keduanya tertawa lalu menuruni tangga untuk kebawah.
Meja makan telah siap dengan berbagai hidangan, sebelum Dinda bangun, Alan sudah terlebih dahulu mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua, membuat Dinda tersipu malu.
"Harusnya aku yang melakukannya."
Alan tersenyum, "Tidak apa, kau bisa melakukannya besok dan seterusnya."
"Suamiku ternyata pengertian sekali." Dinda melingkarkan tangan pada pinggangnya.
"Jadi?" tanya Alan dengan kedua mata menatap wajah Dinda.
"Apa? Kau ingin kita ...?" ujar Dinda dengan kedua tangan yang ditepukkan.
Alan mengernyit, "Apa?"
"Iih ... masa tidak mengerti sama sekali?"
Alan melingkarkan tangan di pinggang Dinda, lalu mengangkatnya hingga dia terduduk diatas meja makan.
"Jangan hanya bicara! Tapi buktikan!" ujar Alan.
"Hei ... harusnya aku yang mengatakan hal itu padamu! Kau ini...!" Dinda mencubit perutnya, hingga pria kaku itu meringis.
Deru nafas pun mulai terdengar, mengiringi gerak tubuh mereka yang mulai mengikuti naluri, dengan tangan yang membelai punggung Dinda, menyeruak kan gelanyar-gelanyar dipermukaan kulit.
Benda basah tak bertulang itu mulai saling bertaut, membelit satu sama lain, dengan iringan decakan demi decakan, dirasa Dinda keduanya mulai kehabisan nafas, tautan itu berhenti, Alan menempelkan dahinya, dengan tangan saling melingkari.
"Aku mencintaimu Akira!" gumamnya dengan suara serak.
Dinda mengangguk, lalu Alan menarik tubuhnya hingga lebih erat, dan menyembunyikan kepalanya diceruk sang istri.
"Kau tahu ... aku memimpikan hal ini sejak lama, memilikimu seutuhnya, sampai aku tidak tahu malu mengejarmu." Dinda terkekeh dengan tangan mengusap lembut kepala Alan.
"Aku tahu, aku melihatnya. Dan lama-lama ... kau membuatku muak!" Alan menggigit cuping telinganya.
"Iihhh ... jahat sekali!" Dinda memukul-mukul bahunya.
Alan mengenadah, "Hentikan aku belum selesai bicara!"
"Ah ... iya!" Dinda kembali terkekeh.
"Kamu satu-satunya wanita yang berani padaku! Berkali-kali aku mengabaikanmu, tapi kamu tidak menyerah. Sampai akhirnya aku merasa gila karena mu!"
"Gila karena aku terus mengejarmu?"
Alan menggelengkan kepalanya, "Kau memang bodoh! Tentu saja bukan itu, aku tergila-gila pada gadis yang mengejarku. Kau tahu aku mencarimu kemana-mana?"
Dinda mengernyit, "Kau tidak pernah mencariku!"
"Aku mencari gadis yang tiba-tiba punya ide gila menjadi seorang pe la cur ketika aku mencari si keparat Hendra!"
Dinda menggaruk kepalanya, "Ahh itu!! Entahlah ide itu muncul tiba-tiba, selain itu juga aku memang....!"
"Mencari kesempatan iya kan?" Alan menarik lembut hidungnya.
Keduanya tertawa dengan bahagia, lalu Alan kembali mengusap lembut pipi Dinda, "Aku memang tidak sempurna seperti pria lain, tapi aku berjanji akan menjamin kebahagiaan mu!" Dinda tersenyum mendengarnya, "Dan kamu harus membayar hutangmu dengan hidupmu, jangan pernah pergi lagi dariku, kalau tidak aku akan mengurungmu. Mengerti istriku?"
"Apa sih ... kenapa kata-katanya tidak romantis malah penuh ancaman begitu!"
Alan lantas menggendong tubuh Dinda dengan satu kali tarikan, dengan kembali menyambar lembut bibirnya yang tengah terbuka karena kaget, dia membawanya ke kamar tanpa melepaskan tautan bibirnya.
Pria kekar itu meletakkan tubuh Dinda diatas ranjang, lalu menutup kembali gorden kamarnya, membuat Dinda terkikik melihatnya.
"Apa kita akan melakukannya siang-siang seperti ini?"
"Aku tidak peduli! Yang jelas, ini pasti tidak akan gagal seperti malam tadi!" ujar Alan yang kini naik ke atas ranjang.
Pria itu sudah tidak bisa menahan sesuatu yang mengganjal di balik celananya, tanpa peduli lagi dia bisa memulainya atau tidak, biarkan terjadi begitu saja. fikirnya.
Dia menarik selimut dengan wajah yang penuh arti, dan lagi-lagi Dinda terkikik.
"Orang lain malam pertama, kenapa kita jadi siang pertama!"