Assistant Love

Assistant Love
Cecunguk tanpa modal



Sementara Dinda yang akan berbelok tak sengaja melihatnya, dia memicingkan matanya. Walau dari jarak tidak terlalu dekat itu Dinda dapat mengenalinya.


"My Sweety Ice? Mau kemana dia?"


Dinda segera berlari menuju mobilnya, kemudian masuk dan mulai menyalakannya. Dengan cekatan dia memutar haluan dan mengikuti kemana mobil Alan.


Kedua bola matanya beredar, melihat mobil Alan, setali mengunci target dia berhenti, menunggu Alan duluan yang keluar. Sementara Alan masih menunggu di dalam mobil, dia mengotak-atik ponselnya, setelah dirasa selesai dengan urusan ponsel, Alan mulai melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir.


Dinda masih mengikuti Alan, diapun dapat mengimbangi laju mobil yang dikendarai Alan meski harus beberapa kali mendapatkan bunyi klakson dari orang lain.


"Astaga, kemana mobilnya! kan jadi kehilangan jejak."


Dinda memukul kemudi, kehilangan jejak saat dilampu merah, mobil Alan yang sudah melesat kedepan, sementara Dinda masih berada di lampu merah.


Beberapa saat kemudian


Alan menghentikan mobilnya disatu sudut kota, dia mengedarkan pandangannya sebelum turun dari mobil, suasana ruas jalan terlihat sepi, hanya gedung-gedung lama yang sudah tidak terpakai lagi, dengan lampu-lampu temaram yang hanya menyinari sebagian sudut jalan. Sementara lampu besar yang sebagian sudah tidak berfungsi dengan baik.


Alan membuka seat beltnya, lalu dia turun dari mobil berjalan menyusuri jalanan yang mengarah pada yang kecil di depannya, dengan mata yang selalu siaga diedarkan ke segala penjuru,


Kawasan ini terkenal rawan, dan sepertinya jauh dari jangkauan pihak kepolisian sehingga sering terjadi kejahatan. Namun Alan tidak gentar, dia ingin memastikan sesuatu.


Saat gang yang sudah dia lewati sebelumnya aman, dia kembali berjalan, kali ini Alan berjalan mengendap dengan telinga dan mata yang menajam. Suara-suara de'sahan mulai terdengar beradu dengan riuh tawa dan berbagai suara bentakan.


"Mereka mudah dibohongi, terus saja berpura-pura lemah di depannya,"Ucap seorang pria


"Kau yang untung, aku yang buntung jika tiba-tiba dia tahu!" sahut pria yang lain dan disusul oleh tawa dari rekan-rekan yang sepertinya tidak sedikit.


Alan semakin menajamkan telinganya, dia berdiri dibalik tembok. Seolah sedang mempersiapkan dirinya untuk menyerang, Dia hendak berbelok namun sebuah tangan menahannya.


Alan menoleh, dengan kilat dia mengepalkan tangan nya sebelah untuk menangkisnya, namun serangannya terhenti kala dia melihat sosok itu memejamkaan mata dengan takut.


Alan menatap gadis yang tengah memejamkan matanya dengan tangan yang masih menarik baju lengannya, dirasa pukulannya tidak mengenainya, gadis itu membuka mata dan mendorong Alan hingga menempel di tembok.


"Aku ini sedang menyelamatkanmu, kau tahu digank ini banyak terpasang CCTV, dengan kau berjalan mengendap seperti itu kau akan ketahuan!" ucapnya pelan pada Alan.


Sementara Alan menatapnya dengan lekat, saat gadis itu berbicara, dia hanya memperhatikan gerakan bibir dan iris mata coklat yang bergerak cepat ke kiri dan ke kanan dengan waspada.


"Kau sedang apa disini? Ini tempat berbahaya, apa kau sedang mengantarkan nyawa?" tanyanya.


Alan masih terdiam, menatap gadis yang mengenakan topi dan juga jaket hoodie.


"Kenapa kau diam saja, apa kau bisu! Ayo cepat pergi dari sini," ucapnya kemudian menarik tangan Alan.


"Siapa kau?"


Gadis itu mematung, dan melepaskan tangannya dari lengan Alan, dia menunduk sekilas lalu kembali menegakkan kepalanya, " Tidak penting, kau tidsk mengenaliku!" ucapnya kemudian.


Alan yang mampu mengenali bahasa tubuh mengetahui gadis ini tengah berbohong, "Lebih baik kau yang pergi dari sini, kau hanya akan membuatku rumit!"


"Aku ini menolongmu, harusnya kau berterima kasih!" ucapnya dengan intonasi lebih tinggi namun dengan cepat dia menutup mulutnya.


"See ... belum apa-apa kau yang akan membuatku ketahuan! Sudah sana pergi, tunggu apa lagi. Tidak kau tolongpun aku mampu menjaga diri sendiri, kau hanya mempersulitku saja!?"


Sepanjang sejarah, inilah percakapan terlama Alan dengan orang lain selain keluarga Adhinata dan adik angkatnya.


Gadis itu berdecak, namun kembali menutup mulutnya saat terdengar langkah kaki mendekat kearah mereka. Dia menatap Alan begitupun sebaliknya. Alan sudah siap dengan kepalan tangan dan tenaga yang siap menyerang jika sewaktu-waktu mereka ketahuan.


Dengan cepat dia membalikkan tubuh Alan hingga menjadi membelakangi, sedangkan dia menempel di tembok,


"Apa yang ka--"


Gadis itu dengan cepat menarik ceruk leher Alan dan melu'mat bibirnya, "Hanya dengan ini kita akan berhasil, cepat peluk aku!" ucapnya disela ciumannya.


"Kau sudah gila!" Gumam Alan.


Gadis itu semakin menarik tubuh Alan yang hampir tidak bergerak dari tempatnya, mengarahkan tangan Alan dipinggangnya kemudian dia sendiri mengalungkan tangannya dileher Alan.


Hingga derap langkah kaki semakin mendekat,


"Cx kalian ini tidak punya uang? Sampai akan melakukannya disini! lakukan di dalam, ada sisa kamar kosong yang baru saja selesai dipakai." Ucap Pria tinggi besar yang baru saja berbelok dan melihat mereka.


"Sudah dipasang tarif murah saja masih tidak mampu bayar, sekalian pergi ke kolong jembatan." Ucap yang lainnya, yang disusul teman-teman lainnya dengan tertawa mengejek.


Namun Alan dan gadis itu tidak bergeming, mereka saling melu'mat dan menyapu bersih deretan gigi dengan lidahnya. Ciuman yang hanya berpura-pura kini berubah menjadi buaian membahana.


Mereka terbuai satu sama lain, tangan Alan yang berada dipinggangnya kini merekat, begitu juga tangan gadis itu yang melingkari lehernya dengan erat.


"Sudah biarkan saja mereka, tidak usah mengurusi cecunguk tanpa modal ini!"


Hingga para pria berpakaian hitam-hitam itu berlalu begitu saja, meninggalkan mereka. Dirasa mereka semakin jauh Lan melepaskan pagutannya, dengan nafas terengah-engah dari keduanya, mereka menatap punggung para pria itu semakin tidak terlihat.


"Aku menyelamatkanmu lagi!" ucap gadis itu menyeka bibirnya dengan punggung tangannya.


Sementara Alan yang terlihat kaku tak mampu bicara, dia hanya menatap lekat gadis yang terus berbicara itu.


"Kau membuat mereka memanggilku cecunguk tanpa modal!"


"Sudah lah ayo pergi dari sini sebelum mereka kembali dan mengenalimu! eemm maksudnya mengenaliku,"


"Kau saja yang pergi, aku harus mengurus sesuatu!"


Alan berbelok namun dengan cepat gadis itu menariknya kembali.


"Kau gila, jika ingin kesana jangan seperti itu. Penampilanmu tidak meyakinkan, mereka tidak akan percaya kau datang hanya untuk melihat saja lalu pergi."


Alan mengernyit, "Lakukan dengan caraku." Gadis itu mendekat dn menarik tangan Alan.


"Kau gendong aku sampai sana, melewati CCTV itu dan kita masuk ke sana, pintu berwarna coklat, setelah itu aku baru lakukan yang ingin kau lakukan."


Alan menyorot pada gadis bertopi itu, "Sialan seumur hidupku, baru hari ini aku diperintah oleh seorang gadis, bodohnya aku!"


Bersambung


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..


Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini.


Terima kasih