
"Kau keterlaluan, membuatku khawatir, bagaimana jika mereka melakukan sesuatu padamu, menangkapmu atau bahkan membunuhmu, dan aku tidak tahu apa-apa?"
"Maaf...." lirihnya dengan menempelkan dagu dibahunya.
"Kau memang tidak peduli padaku!"
"Aku peduli padamu!" jawabnya dengan cepat.
"Tidak, kau pembual!"ujar Dinda dengan melepaskan tangan Alan yang melingkari perutnya.
Namun tangan itu semakin mengerat. "Jangan coba-coba melepaskan aku! Kau akan tahu akibatnya!"
Dinda berdecak, "Aku sesak, kau ingin membuatku kehabisan nafas dan mati karena lemas."
Alan membalikkan tubuh Dinda, "Dasar bodoh, mana mungkin kau akan mati hanya karena aku memelukmu!"
Kedua netra itu bertemu, manik coklat mengerjap-ngerjap menahan air yang menganak.
Pletak
Alan menyentil dahinya, "Dasar bodoh!"
Namun Dinda menggosok keningnya pelan kemudian menunduk.
"Aku menunggumu, sampai aku tidak dapat tidur! Aku takut kamu pergi tanpa pamit!"
Dinda melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Alan.
"Aku hanya akan mengurus sesuatu atas perbuatanku selama ini! Aku akan memperbaikinya, aku sudah memutuskan untuk berhenti."
Dinda mengenadahkan kepalanya, "Benarkah?"
Alan mengangguk, "Hm...jadi kau tidak usah merasa khawatir lagi! Tapi sebelum itu, aku harus mengurus sesuatu dulu hingga tuntas. Dan aku pasti kembali."
Dinda merengut, "Kau akan meninggalkanku?"
"Tidak akan lama, aku janji, tinggallah disini selama aku tidak ada, lakukanlah hal yang biasa kamu lakukan, atau kamu tinggallah sementara di rumah Ayahmu, agar tidak bulak-balik. Kamu mengerti?"
Dinda mengangguk, lalu menenggelamkan kepalanya di dada Alan.
"Cepatlah kembali."
Alan meraih dagu Dinda, hingga netra yang mengabur karena air bening yang mulai tergenang itu bertemu.
"Aku paling tidak suka wanita cengeng, jika ingin terus berada disisiku, kau harus kuat! Kau paham?"
Dinda kembali mengangguk. "Aku akan kuat!"
Alan menjimpit dagunya kembali, "Bagus, itu baru wanitaku."
"Aku harus pergi!" ujarnya mengurai pelukan.
Dinda mengangguk, "Apa kau tidak ingin menciumku?"
Alan kembali merekatkan kedua tangan dipinggangnya. "Apa isi kepalamu hanya ada hal itu?"
Dinda mengelap wajahnya yang basah, "Iya... saat bersamamu!"
"Dasar bodoh!"
Tangan Alan menyusup disela leher Dinda dan menariknya perlahan, sementara dia mencondongkan kepalanya mendekati Dinda yang saat ini berjinjit. Dengan menarik tipis sudut bibirnya Alan mengecup bibirnya dengan lembut, sangat lembut seperti biasanya,
"Aku mencintaimu!"Bisiknya disela kecupannya.
Dengan memegang tangan Alan yang berada di lehernya Dinda mengangguk, "Aku lebih mencintaimu."
Mereka kembali menempelkan kedua benda kenyal itu, merubahnya menjadi lu mattan, membuat desiran terasa hebat mengaliri darah mereka, decakan demi decakan terdengar di ruangan itu, bak berlomba dengan denting jam yang terus berputar, saling membelit satu sama lain.
Detak jantung berpacu lebih kencang, saat kedua lidah saling menyisir setiap bagian didalamnya. Kedua tangan Dinda mengalung begitu saja tanpa komando, nalurinya lah yang bekerja, begitupun dengan Alan, yang merekatkan tangannya erat, sementara satu tangannya menekan lembut tengkuknya.
Gelanyar-gelanyar aneh menyeruak tiba-tiba. Menderu bersama nafas yang saling berburu.
Tangan Alan menyusup masuk ke dalam punggung, membuat Dinda menggelinjang.
Sementara tangan Dinda mere mass ujung pakaian yang dikenakan Alan. Membuat desiran terasa lebih menggelora.
Namun tiba-tiba tangan yang mulai menyusup naik itu kembali keluar, "Aku harus pergi!"
Benda kenyal itu terlepas, Alan menyapu ujung bibir menggunakan jarinya.
"Aku benar-benar harus pergi!"
Dinda mengangguk, "Aku akan menunggumu!Berhati-hatilah."
"Hm...."
Sebelum pergi, Alan naik ke kamarnya, membuka lemari yang kuncinya selalu dia sembunyikan. Membawa senjata miliknya dan menyusupkannya di balik kemeja bajunya.
Sekilas, dia menatap senjata yang terbungkus kain hitam milik Jhoni.
Alan menghela nafasnya berat, lalu kembali menutup lemari itu.
Mencabut anak kunci yang menggantung dan menyimpannya di saku celana. Sementara Dinda hanya memperhatikan dirinya dari ambang pintu.
Tak lama kemudian mereka turun kembali.
Dreet
Dreet
Ponselnya berbunyi, dia merogoh ponsel dari dalam celananya.
Anak kunci itu ikut keluar dan terjatuh begitu saja. Dinda menatap punggung Alan yang berada diambang pintu. Sementara Alan menjawab panggilan dari Leon.
'Apa...?'
'Kau dimana? Kemarilah!'
'Aku akan segera kesana!'
Setelah memutuskan sambungan telefonnya Alan berbalik menghadap belakang.
"Aku pergi!"
Dinda mengangguk, melihat punggung Alan menghilang dibalik pintu. Lalu menutup kembali pintunya.
Saat hendak naik ke atas, sendal rumah miliknya terasa menginjak sesuatu, dia melihat ke bawah. Anak kunci lemari milik Alan.
"Apa ini terjatuh saat dia merogoh ponselnya?" gumam Dinda.
"Aku akan menyimpannya saja!" ujarnya dengan memasukkan anak kunci itu kedalam saku celananya.
Beberapa saat kemudian
Ting
Tong
Bel terdengar di pintu, seseorang telah menunggunya diluar.
Dinda mengurungkan niatnya yang hendak merebahkan dirinya diatas ranjang, dia kembali turun ke bawah.
Suara bel masih berbunyi beberapa kali, Dinda mengintip dilubang yang terdapat di pintu. Terlihat seseorang yang memakai topi, wajahnya kurang jelas terlihat karena menggunakan masker.
"Siapa ya?"
Dinda berdiam diri sejenak, tampak ragu untuk membuka pintu atau tidak, alhasil dia hanya berdiri di belakang pintu, dan sesekali mengintip, melihat keberadaan orang itu.
"Ternyata masih ada."
"Nona, paket anda!" ujar pria dari luar.
"Paket? Aku tidak merasa pesan paket." gumamnya.
Dinda akhirnya membuka pintu sedikit, "Maaf mas, tapi saya tidak memesan paket."
Orang itu memperlihatkan paper bag besar padanya, "Ini alamatnya sudah jelas kok."
"Tolong buka pintu saja, agar pekerjaanku lebih mudah." sambung pria itu tadi.
"Tapi kami tidak memesan Mas, silahkan di bawa saja lagi."
"Pengirimnya Alan Alfiansyah." Ujar pria itu mengangguk.
Dinda mengernyit, baru beberapa menit Alan keluar dari platnya dan sudah mengirimkan paket untuknya. Dia yang merasa senang lantas membuka pintu platnya.
"Ini paketnya!" ujar pria itu yang menyodorkan paper bag namun ikut merangsek masuk kedalam.
Dengan cepat pria itu menutup pintu dengan kakinya. Dinda yang kaget mundur beberapa langkah. "Siapa kau?"
Pria itu berseringai, "Aku yang akan menjemput paketku, bersiaplah."
Dinda berlari ke arah ruang tamu dan melemparkan beberapa ke arahnya, dengan dada yang bergemuruh, dia ketakutan.
"Tolong ...."
"Pergilah! jangan ganggu aku!" teriaknya
Pria itu kembali berseringai, kali ini dengan gelakan tawa.
"Kau meminta tolong pada siapa? Kekasihmu yang baru saja pergi itu? Hahaha...."
Pria itu terus terbahak, membuat Dinda semakin takut.
Dia berlari ke atas dan menuju kamar Alan. Dengan cepat mengunci pintu kamarnya.
"Apa yang harus aku lakukan!"
Dinda menggigiti kuku jarinya, sementara pria tersebut terdengar mengetuki pintu.
"Knok ... knok..." ujar pria itu dengan tergelak.
"Kau tidak bisa keluar dari sini sayang! Ayolah, jika kau masih ingin bermain-main denganku."
Pria itu menggerak-gerakan handle pintu, membuat Dinda semakin takut,
"Alan tolong aku!" Gumamnya panik.
Kedua manik coklatnya beredar ke seluruh kamar mencari sesuatu yang bisa dipakainya.
Otak berfikirlah, berpikirlah ayoo
Lalu kedua manik itu mengarah pada lemari milik Alan,
Kunci iya anak kunci
Dinda merogoh saku celana, sedangkan pintu semakin digedor keras.
"Sudah cukup bermain-mainnya, Knok ... knok! Aku akan masuk!"