
Minggu demi minggu silih bergilir, siang-malam terlewati begitu saja. Namun tidak sedikitpun mengalihkan fikiran Alan pada gadis yang dia cintai, jika hanya terpisah jarak mungkin masih bisa dia tempuh, tapi bukan itu masalahnya terbesarnya, saat ini dia benar- benar tidak bisa melakukan apa-apa.
Alan terbaring di lantai yang hanya beralaskan beberapa lembar koran, dengan pandangannya tertuju pada langit-langit ruang tahanan, pencahayaan yang redup menyamarkan raut wajahnya yang sedih. Mengingat Dinda, yang bahkan pergi sebelum tahu apa yang terjadi padanya.
"Kau mau aku mengerahkan anak buahku untuk mencari dan membawanya kemari Al?" Kata Jerry tiba-tiba, Leon pun ikut mengangguk, " Ide bagus Jerr. Kalau perlu kita adakan pernikahan disini, dibalik jeruji."
"Seperti kau tidak merasakannya saja Le, kau pun sama dengannya! Lebih baik seperti ilku yang memilih tidak berkomitmen."
"Kau ini hanya mempermainkan hati seorang wanita! Kita berdua ini pecinta wanita! Benarkan Al."
"Kalian ada-ada saja ... jangan melakukan hal tanpa seiijinku, bicara sembarangan! Kau juga Jerr." Menendang kaki Jerry.
"Hanya disini kau bisa santai Al..., tanpa memikirkan pekerjaan dan berbagai meeting."
Alan tidak menjawab, dia hanya mendengus kasar lalu kembali memejamkan mata.
Arya dan juga Farrel berusaha melakukan berbagai cara untuk meringankan masa hukuman untuk mereka bertiga, selain itu mereka juga meredam pemberitaan tentang tertangkapnya mereka, menutup data-data hingga pemberitaan itu tidak mencuat ke publik.
Begitu juga dengan kuasa hukumnya, namun tidak serta merta mereka bertiga bisa menghirup udara bebas. Mereka mendapat hukuman 2 tahun penjara, dengan berbagai pertimbangan, salah satu nya karena mereka sudah berhenti.
"Ini yang bisa aku lakukan Al ... tidak ada pilihan lain, ini sudah lebih ringan dari tuntutan yang sebenarnya." Ucap Farrel pada saat kunjungan.
"Tidak apa El ... aku memang harus menerima konsekwensinya."
Farrel terlihat menundukkan kepalanya, merasa tidak mampu untuk membantu Alan seperti Alan membantu setiap kesulitannya.
"Tidak perlu sedih, 2 tahun itu tidak akan lama!"
"Bukan masalah itu bodoh, yang membuatku sedih!"
Alan terkekeh, "Galak sekali ... semakin dewasa, kau semakin menakutkan!"
"Kau masih bisa tertawa Al ... ironis sekali! Semua orang bersedih karena mu, tapi kau...." Farrel berdecak.
.
Sementara kepergian Dinda bukan tanpa rencana, dari awal, Pramudya dan juga Sisilia memang berencana pergi ke negara A untuk melakukan transplantasi ginjal, sesuai anjuran dokter spesialis ginjal yang selama ini merawatnya.
Namun rencana dipercepat karena pihak hospital khusus ginjal yang berada di negara A, mengabarkan adanya donor ginjal yang cocok untuk Sisilia.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu sayang? Kamu sudah terlalu lama cuti bukan?" tanya Sisilia.
Dinda mengangguk, "Aku sudah putuskan, akan resign dari pekerjaanku, dan milai bergabung diperusahaan milik Ayah."
Kedua orang tuanya jelas senang, karena dia adalah satu-satunya harapan untuk meneruskan perusahaan, namun juga merasa sedih karena kegagalannya dalam pernikahan.
"Apa kau yakin Nak?"
"Huum ... aku yakin! Selama Mami menjalani pengobatan sampai selesai, aku akan tetap disini."
Pramudya dan juga Sisilia sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa, mereka hanya bisa mendukung putri mereka apapun keputusannya.
Setiap hari Dinda mengantarkan ibunya ke rumah sakit, menjelang operasi, Sisilia rutin memeriksakan agar kondisi nya stabil dan memungkinkan untuk operasi.
"Apa kau tidak bosan menunggui Mami, lebih baik kamu cari udara segar sana! Hemodialisa( proses pembersihan darah; Atau kita cuci darah) Mami kan masih 3 jam ke depan."
"Aku disini saja nungguin Mami sampai selesai."
"Sudah sana, sekalian kamu makan siang dulu sana!" Sisilia mendorong lengan putrinya.
Dinda menghela nafas, "Baiklah aku keluar dulu, nanti aku kembali!"
Dinda pun keluar dari ruangan dialisis, lalu menuju ke kantin rumah sakit. Sekarang aku tidak suka sendirian! Karena pasti akan mengingatnya. Dinda terus berjalan, namun dengan fikiran yang entah kemana. Menyusuri koridor rumah sakit terbesar di negara itu, sendirian. Hingga dia tak sadar telah jauh melewati kantin rumah sakit.
"Hey...hey ... can't you read!!"
Dinda menoleh ke arah suara, seorang pria berjubah putih menunjuk papan yang bertuliskan spesial officer
Pria berjubah putih itu pun menghampiri Dinda.
"Sorry, i got lost!"
Pria itu tersenyum, "Kau bisa ikuti arah jalan ini sampai ke depan. Ini ruang untuk autopsi."
Dinda terhenyak, "Kau bisa berbahasa?"
"Of course...."
"Kalau begitu terima kasih, aku permisi." ucap Dinda dengan berjalan kembali sesuai apa yang ditunjukan oleh pria itu.
Tidak lama, Dinda sampai di kantin rumah sakit, dimana kantin tersebut tampak kosong.
Dia pun memilih untuk duduk, memesan menu makanan, dan menyantapnya seorang diri. Tak lama kemudian, dia yang selesai makan, Dinda pergi ke kasir untuk membayar.
Dia bahkan lupa menukar uangnya menjadi mata uang yang digunakan di sana.
"Maaf bisakah memakai debit card."
Seorang pelayan kantin di belakang kasir tersenyum padanya. "Maaf Miss, kami hanya menerima cash, dan mata uang dolar."
"Aku benar-benar lupa! Bisakah aku pergi ke kamar ibuku dan mengambil uangnya terlebih dahulu?"
Pelayan itu menggelengkan kepala nya. Membuat Dinda menghela nafas. Aduh bagaimana ini, ponselku bahkan mati. Bagaimana aku akan mengambil uangnya.
Seseorang datang dari arah belakang, memberikan sebuah kartu khusus yang dipergunakan nya untuk membayar tagihan mereka
"Biar aku yang membayarnya," ucapnya pada kasir.
Dinda menoleh ke arah samping, melihat pria yang sama yang menunjukan jalan padanya saat tersesat.
"Kau....?"
"Jangan terlalu heran jika kita bertemu lagi, kita berada di kawasan rumah sakit nona!" ujarnya dengan lengkungan bibir.
Dia tersenyum pada Dinda dengan manis, sementara Dinda mengangguk tands setuju dengan perkataannya.
"Terima kasih ... aku akan menggantinya. Aku bahkan lupa menukar uangnya." ucap Dinda saat mereka kembali duduk, pria itu menyantap makan siangnya dihadapan Dinda.
"Its, ok!" tidak perlu difikirkan!"
"Tapi kan tetap saja harus dikembalikan, aku tidak mau berhutang pada orang yang baru ssja aku kenal."
"Wait ... berarti kamu berhutang hanya pada orang yang sudah dekat saja begitu?" tanyanya dengan terkekeh.
"Heh ...."
Masih dengan terkekeh, pria itu menghabiskan suapan terakhir miliknya. "I'm juss kidding, jangan ditanggapi serius! Apa aku terlalu garing?"
Dinda semakin mengernyit, "Kita saja baru bertemu, aku tidak bisa menilaimu!"
"Kau benar, karena kita baru bertemu, jadi lebih baik kalau kita berkenalan?" ucapnya dengan menyodorkan tangan ke hadapannya.
"Kemal Harsa B."
Gumam Dinda membaca name tag yang tersemat di jas putih miliknya. Membuat pria itu menarik tangan yang sedari tadi diabaikannya.
"Ah ... aku lupa, kau bisa dengan mudah mengetahui namaku. Name tag sialan, padahal aku ingin menyebutkan namaku sendiri saat berkenalan denganmu!" ujarnya dengan terkekeh.
"Kau ini benar-benar aneh!"
Dinda bangkit dari kursi dan menganggukkan kepalanya, "Kalau begitu aku pergi dulu, secepatnya aku akan mengganti uangmu." Dinda melangkah pergi meninggalkan pria asing berketurunan jerman tersebut.