
"Ya aku pasti akan membunuhmu, jadi menurutnya padaku." Dinda mengangguk.
Astaga, otak bekerjalah dengan baik. Kenapa mengangguk pula. Bagaimana kalau dia malam ini memanfaatkanku lalu membunuhku. Berlaku baik terlebih dahulu lalu menghabisiku, Mama maafkan aku, tapi lebih baik mengangguk saja dari pada membuat dia marah, dan menyiksaku dengan marah. Membayangkannya saja aku sudah sesak nafas.
Alan menarik tipis sudut bibirnya keatas, tidak menyangka respon impulsif (Bertindak cepat tanpa berfikir)Dinda akan membuatnya menggemaskan seperti ini.
"Kau mengerti apa yang aku katakan?"
Ayo mengangguk saja Dinda.
Dinda mengangguk sesuai bisikan hatinya. Membuat Alan berseringai namun dengan cepat dia tahan karena melihat anggukan kepala Dinda bak seorang anak kecil yang tengah di hukum karena nakal.
"Baiklah karena hutangmu semakin banyak kau bayar saja hutangmu yang kecil."
"Hutang yang banyak, hutang yang kecil. Apa maksudmu!" gumamnya namun kali ini gumaman nya terdengar jelas di telinga Alan.
"Benar-benar bodoh!"
Alan menghempaskan tubuhnya di sofa single milik Dinda, mengambil sebatang roko diatas meja dan membakarnya, menyesap nya dalam-dalam kemudian dia hembuskan ke udara, sementara Dinda masih berdiri melihatnya.
"Kau lihat apa Akira?"
Akhirnya melihatku sekarang, walaupun kau tidak mengenali karyawan mu sendiri. Bodoh teriak bodoh,
Kau mengenaliku dengan terus memanggil Akira, apa kau tidak tahu aku bekerja di perusahaanmu. Tak apa, yang penting dia melihatku lebih dari 3 detik...Hehe. Batinnya.
"Kau berhutang semangkuk bakmi padaku, sekarang aku ingin makan bakmi,"
"Aa-aapa... bakmi yang baru saja aku makan? Bukan kah kau yang memberi ku, kenapa aku harus...." Tatapan nyalang Alan kepadanya. "Membayarnya...." cicitnya kemudian.
"Karena itu hutangmu yang kecil, dan aku menagihnya sekarang juga," Alan bersikedap tangan. Dengan sebatang roko yang masih berada di sela jarinya.
"Tapi aku hanya ...."
"Terserah yang pasti aku akan menunggu di sini, kalau tidak...."
Alan membentuk jari telunjuk dan ibu jarinya seperti sebuah senjata dengan ketiga jari yang melipat, lalu dia tempelkan di kepalanya sendiri. Kemudian dia menggerakkan ibu jarinya sedikit seperti menekan pelatuk senjata api.
Bbbeb
Wuus
Bibirnya mengerucut menggumamkan suara senjata api yang menembak. Menakuti Dinda yang terlihat tersentak dan langsung lari terbirit dengan berteriak.
"Kau gilaaaa...aa aa. Dasar arogan!"
Membuat Alan tergelak tanpa suara, sampai- sampai tubuhnya yang menyandar disofa itu merosot, dan kembali membenarkan posisinya tanpa berhenti tertawa tanpa suara serta memegangi perutnya.
Astaga, dia lucu sekali
Bodoh dan ceroboh.
Sementara Dinda kini berada di dapur yang jaraknya tidak lah jauh, hingga bunyi peralatan dapur terdengar sampai ruangan tengah,
"Bagaimana ini, aku hanya punya ini saja!"
Dia mulai memotong sayur, baso serta menyiapkan air yang dia didihkan diatas kompor. Dengan kegiatan tangan yang tidak seberapa itu kini dia sibuk membuat sesuatu.
Tak lama kemudian dia keluar dengan membawa nampan dan hidangan yang dia buat, membawanya pada Alan yang masih setia duduk dengan ponsel di tangannya.
Ini adalah hidangan pertama yang aku buat untuknya, bukankah ini terlihat seperti sudah terjalin suatu hubungan, pulang dari suatu tempat dan menghabiskan waktu malam hari bersama, bukankah ini seperti kencan, ternyata bukan. Bagaimana jika ini terakhir kalinya aku memegang kompor dan panci. Mama maafkan aku. Dinda menelan air liurnya sendiri mengingat Alan akan membunuhnya.
Dia mencondongkan tubuhnya perlahan guna meletakkan nampan di hadapan Alan. Kepulan asap harum menyeruak dari dalam mangkuk.
Apa ini mie instan? ah wangi nya... aku sudah lama tidak makan mie instan.
Namun Alan menahan air liur yang seperti menetes demi image arogan yang menempel di fikiran Dinda.
"Apa ini?"
Terlihat lezat dengan berbagai topping cukup komplit,
batin Alan.
"Iit--tuu mie instan, dengan campuran telur setengah matang dan baso juga sosis dan sayuran diatasnya ada bawang goreng." Dinda pun menelan air liur yang menetes saat mengucapkan bahan-bahan pelengkapnya. Karena biasanya dia tidak pernah membuat topping komplit seperti itu.
"Ta--pi kan mereka sama-sama dari mie, dan aku hanya punya mie instan saja," ungkap Dinda dengan memainkan kuku jari nya.
"Aku tidak mau mie instan, tidak sehat!"
"Hei...." seru Dinda dengan kesal namun kembali merengut karena Alan menyalang.
"Baiklah, aku akan membeli bakmi yang kau inginkan."
Dinda berjalan dengan tersungut lalu mengenakan mantelnya dan membawa payung dari sudut pintu keluar. Alan hanya memperhatikan setiap gerakan panik yang terlihat dari gadis itu.
"Tunggu...." seru Alan saat Dinda membuka pintu. Dia menoleh kearahnya.
"Siapa yang mengijinkanmu keluar? bagaimana jika kau hanya beralasan untuk kabur lagi dan melaporkan ku ke kepolisian."
Alan lalu meraih mangkuk berisi mie instan itu dan melahapnya, meskipun masih terasa panas dilidah nya.
"Masuk... aku tidak mau mengambil resiko!"
Bilang saja sebenarnya kau juga doyan mie instan.
Dinda merutuki dalam hatinya, kembali menggantungkan mantel nya disamping jaket milik Alan dan menyimpan payungnya kembali.
Ini enak sekali, Bunda tidak pernah menyediakan mie instan dirumah, dan terbawa sampai aku di apartement. Ternyata enak sekali jika memakannya dengan topping kumplit seperti ini. Batin Alan.
"Dia lapar apa doyan? Makan dengan cepat begitu," ucapnya dengan menatap Alan yang terlihat menikmati masakannya, ya walaupun mie instan tetap saja hasil karya tangannya. Apalagi dia buat sepenuh hati dengan cinta dan sedikit ketakutan.
Alan meletakkan mangkuk mie yang telah tandas tak bersisa. Membuat Dinda melengkungkan bibirnya keatas,
"Apa enak?" gumam Dinda.
"Tidak, bukankah rasa mie instan dimana-mana sama saja rasanya.," sentak Alan.
"Jangan terlalu percaya diri, aku menghabiskannya dengan terpaksa, tenggorokan dan lambung ku tidak biasa makan mie instan. Mungkin besok lambungku sakit, kau harus bertanggung jawab." imbuhnya lagi.
Ya..ya ...terserah saja yang pasti kau menghabiskan satu-satunya stok mie instan terakhir dirumah ini.
Dinda menghentakkan kakinya berjalan masuk kedalam kamarnya, lalu beranjak naik keatas ranjang, dengan keras dia memukul-mukul guling yang dia tekan menggunakan dengkulnya.
"Ih...sebel, sebel....!"
"Menyebalkan...menyebalkan ... sangat menyebalkan, huhu ...tapi aku juga menyukainya." sungut Dinda dengan memeluk guling yang baru saja dia pukul. Hingga tak terasa sampai dia terlelap dengan sendirinya.
Alan menatap pintu kamar yang tertutup itu dengan senyuman tipis di bibirnya. Lalu dia meraih ponsel yang terletak di atas meja dan menghubungi seseorang.
Dia juga berjalan kearah pintu dan berdiri beberapa waktu disana. Tak lama dia mengenakan kembali duduk dan menyesap kembali rokok nya,
.....
Asap rokok mengepul diruangan itu. Ini kali kedua Alan menunggu seorang gadis yang mungkin kini tengah terlelap. Gadis yang sama, hanya bedanya kali ini gadis itu dalam keadaan sadar.
Dreet
Dreet
Dreet
Ponsel nya kini berbunyi.
"Bos aku didepan."
Alan membuka pintu dan mendapati anak buahnya tengah berada di depan pintu dengan beberapa kantong di tangannya.
"Bos... plat ini kan milik gadis yang berebut topi itu dengan ku di mall xx,"
"Bodoh, kenapa kau tidak mengatakan nya dari awal."
"Aku baru mau mengatakannya, tapi bos sudah menyuruhku pergi!"
"Dia juga...."
"Kau boleh pergi." Alan kembali menutup pintunya.