Assistant Love

Assistant Love
Mac?



Tidak mungkin, dia sudah berhenti dari pekerjaannya, dia bahkan sudah tidak lagi menyimpan senjata api, dan sudah tidak bergelut dengan dunia gelap lagi. Batinnya.


Kemal merasa semakin heran melihatnya, dia lantas menarik kursi dan duduk dengan melihat wajah Dinda yang tengah mengerutkan dahi, seolah dia sedang berfikir sesuatu dengan keras.


"Kalau kau ingin cerita, dengan senang hati aku akan mendengarkanmu! Khususnya tentang priamu yang jago dalam menembak."


Dinda menoleh ke arahnya yang tengah menepuk kursi kosong disebelahnya.


Namun dia memilih untuk masuk ke dalam dan masuk ke kamarnya untuk mencari ponsel.


"Aku harus tahu, apa dia dipenjara, tapi tidak mungkin, itu tidak akan terjadi. Dia baik-baik saja, atau bahkan dia sedang bersenang-senang." monolognya sendiri dengan jari yang menghidupkan ponselnya.


Setelah dirasa menyala, dia menghubungi sahabatnya Metta, untuk mencari tahu apa yang dia takutkan itu benar atau tidak.


Dering telepon terdengar menyambung, namun Metta belum mengangkatnya juga.


Dia mungkin sedang mengurusi baby Shena,


'Halo Sardin kamu kemana aja sih! Ponsel mu juga tidak aktif, kamu tahu kami semua mencarimu, aku menelepon berkali-kali ke rumahmu, bahkan datang kesana, tapi semua orang disana tidak memberikan informasi apapun mengenaimu.'


Dinda menggaruk kepalanya, mendengar ocehan panjang dari sahabatnya.


'Maaf Sha, aku memang lagi pengen sendiri,'


'Sendiri bagaimana, kau ini! Membuat aku khawatir tahu gak, seharusnya dari awal tuh kamu cerita sama aku! Malah aku tahu detelah kamu pergi begitu saja!'


'Bagaimana keadaanmu Dinda? Aku kangen.'


'Sama aku juga, oh iya aku pengen tanya sesuatu sama kamu apa My....'


Oaak Oaak....


'Din sorry, aku sambil ngurusin baby Shena ya, aku loadspeaker nih. Baby Shen soalnya baru bangun.'


'Oke Sha, urusin dulu anakmu, entar yang ada papanya ikut ngamuk kalau kamu malah main ponsel.'


'Tapi Din aku belum ngom---'


Tut


Dinda memilih memutuskan sambungan teleponnya, merasa saatnya tidak tepat, karena Metta sekarang pasti sibuk dengan anaknya.


Akhirnya, dia memilih kembali mematikan daya ponselnya, dan kembali keluar.


Dug


Dia malah bertabrakan dengan Kemal yang menunggu di luar kamarnya.


"Kumal, ngapain sih? Bikin kaget tahu gak!"


"Aku kira kamu mau istirahat, jadi aku akan kembali saja ke rumah sakit!"


"Bagus deh kalau gitu, aku tidak perlu lagi menyuruhmu pergi." ucap Dinda dengan ketus.


Kemal mengulum senyum, "Tapi karena kamu kembali ke luar, aku akan tetap disini!"


Gadis berambut coklat itu terbelalak, "Heh ... dasar kau kumal."


"Sudah sana! Aku mau istirahat sebentar lagi, setelah kau keluar!" ujarnya dengan mendorong tubuh Kemal hingga dia keluar dari apartemennya.


Brukk


Dinda menutup pintu dengan keras, Kemal kembali mengetuk pintu.


"Apa lagi?"


"Sepertinya ponselku ketinggalan,"


Dinda mendecak, "Merepotkan saja!"


Lalu dia masuk kembali ke dalam dan mengambil ponsel milik Kemal,


"Nih ... ponselmu!"


Brukk


Pintu kembali dia tutup, Kemal menghela nafas, dan kembali mengetuknya, Dinda yang sudsh masuk kamar pun kembali keluar.


"Apalagi?"


"Jasku ketinggalan!" Ucap Kemal dengan terkekeh.


"Aku simpan di kursi balkon tadi!"


Dinda berjalan keluar balkon, menyambar jas milik Kemal dan memberikan padanya dengan kasar.


"Cepat katakan apa lagi yang ketinggalan, jangan sampai aku membuka pintu unyuk ke tiga kalinya,"


"Sepertinya tidak ada lagi! Aku per---"


Brukk


Dinda sudah menutup pintu, sebelum Kemal menyelesaikan ucapannya.


"Dasar...." gumam Kemal.


"Merepotkan, awas saja dia mengetuk pinyu lagi, aku siram dengan air!"


"Aku tidak suka pria seperti itu, aku suka pria yang cool, jutek, dan tidak banyak bicara! Huh ... bagaimana ini! Aku bahkan tidak bisa melupakan My sweety ice."


Dinda masuk kedalam kamar dengan wajah muram, namun tidak lama terdengar kembali pintu apartemen di ketuk.


"Sialan, maunya apa coba! Dia sedang mempermainkanku apa! Dasar si kumal! Lihat saja, aku siram kau!!"


Benar saja Dinda mengambil segelas air dari wastafel, lalu kembali menuju pintu, menunggu sesaat sampai terdengar kembali ketukan. Dengan cepat Dinda membuka pintu dan menyiramkan air ke arahnya.


Bryuuuurrr


"Ra--raasakan...."


Dinda menutup mulutnya menggunakan tangan, dia tersentak karena bukan Kemal yang dia siram, melainkan seseorang yang dia kenal.


"Mac....?"


"Sedang apa kau disini?"


.


🍁🍁


Maaf yaa, akhir-akhir ini author jarang-jarang upnya. Karena real life yang menyita habis waktu, semoga ke depannya bisa kembali teratur yaa. Jangan pada bosen apalagi kabur ninggalin (Hehe)


Lanjut malah curcor.


.


.


"Mac ...?"


"Iya ini aku! Aku kesini untuk membawamu kembali pulang!"


Dinda memberikan beberapa tissu pada Mac.


"Pulang? Kenapa aku harus pulang?"


Mac mengelap Wajahnya yang basah, "Karena bos membutuhkanmu!"


"Kenapa? Apa dia menyesal karena meninggalkanku? Kenapa bukan dia sendiri yang kemari, kenapa? Apa dia terlalu sibuk mengurus pekerjaannya, sampai dia mengutusmu untuk menjemputku!"


"Maaf Mac, aku tidak akan pulang!"


"Apa kau akan pulang jika Alan yang kemari?"


Dinda tidak menjawab, namun hatinya saja yang bicara, Tentu saja bodoh, hal itu dipertanyakan, aku ingin dia yang datang dan memohon agar aku ikut pulang dengannya, bukan orang lain atau siapapun yang dia suruh kesini.


"Aku tidak...."


"Alan tidak akan bisa melakukan hal itu, lebih baik kau ikut denganku pulang hari ini juga!"


Dinda tersentak, "Sudah aku duga, dia memang tidak akan pernah bisa melakukanya, baginya hanya pekerjaan yang lebih penting, bahkan mengorbankan pernikahan dan juga aku. Pergilah Mac, katakan padanya aku tidak akan pulang!"


"Aku juga tidak bisa pulang, jika tidak bersamamu!"


"Mac? Apa dia mengancam mu juga? Keterlaluan sekali, kenapa dia berubah jadi lebih menyeramkan begitu, kau saja di ancamnya!" Ucapnya dengan menyimpan segelas minuman untuk Mac.


"Karena dia dipenjara!"


Deg


"Apa kau bilang?"