Assistant Love

Assistant Love
Mode Pesawat



...Halo readers ... makasih karena masih setia dan gak unfav karya receh othor yang ini, akhirnya othor bisa up lagi setelah sekian lama gantung ...hihihihi ... maafkan othor. Semoga kedepannya othor bisa lancar menyelesaikan karya ini sampai tuntas ya, terus dukung othor pokoknya. makasih❤...


Ucapannya sangat datar, seakan tidak pernah tahu jika bahasa saja memiliki tanda baca, pengucapan berjeda atau bahkan bernada. Hanya Alan rasanya pria tanpa ekspresi, bahkan mengajak istri untuk pergi honey moon saja harus atas desakan keluarga. Baginya itu hanya membuang waktu, toh semua yang di lakukan pada saat honey moon bisa dilakukan di rumah, di kamar, dan tidak perlu pergi jauh jauh untuk melakukannya.


Namun saat melihat sang istri murung karena merindukan keluarganya yang bahkan ibunya tengah terbaring sakit, yang tidak hadir di pernikahannya, hatinya mulai melunak, tapi kembali lagi, caranya mengekspresikan rasa cinta tidaklah sama dengan pria kebanyakan.


Tegas, lugas dan tanpa basa basi.


Dinda mengambil koper miliknya, dan juga milik suaminya, dia mulai mengemasi pakaiannya dan juga pakaian suaminya dengan bersenandung ria, gerakan tangannya lincah memilih bukan karena semata mata ingin cepat pergi tapi karena takut sang suami berubah fikiran.


Awas saja sampai tidak jadi, biarpun ke negara S tapi aku anggap ini perjalanan honey moon saja, selain mengunjungi orang tua, aku juga bisa pergi berdua dengan my husband my Sweety ice. sungutnya dalam hati.


Kebahagiaannya yang tiada tara ingin dia bagi dengan keluarganya, terutama pada sang ibu. Alan masuk ke dalam kamar, dia membola saat sang istri membereskan pakaian miliknya yang tersimpan dalam lemari.


"Lain kali, biar aku yang mengemasi barangku saja."


"Mana bisa begitu! Aku ini istrimu, tentu saja itu tugasku." sahut Dinda dengan menutup koper milik Alan, lalu dia beralih pada koper miliknya sendiri.


Alan menghela nafas, untung saja Dinda tidak sempat melihat laci bawah dimana senjata api milik Jhoni tersimpan, senjata api yang menyimpan banyak kenangan pahit yang tidak ingin dia ingat namun akan tetap melekat pada dirinya hingga nanti sekalipun dia mati.


Persyaratan ayah Arya untuk tidak lagi menyimpan senjata api sudah dia lakukan, dia sudah memberikan senjata api miliknya pada Omar, sedangkan milik Jhoni masih tersimpan rapi di salah satu laci lemarinya.


"Ada apa?" tanyanya lagi, melihat Alan hanya berdiri dengan pandangan pada laci bawah.


"Tidak apa apa ... aku akan menyiapkan tiket penerbangan!"


Dinda mengerdikkan bahu, mencari kemana arah pandang Alan, namun dia tidak mengerti juga.


"Kapan dia akan berubah? Mencair sampai luber luber, sudah jadi suami istri pun masih saja kaku. Kecuali yang tadi siang." Gumam Dinda terkekeh sendiri.


Setelah semua persiapan telah siap, keduanya berangkat ke bandara, dengan diantar Mac yang selalu setia mendampingi kemana bos pergi.


"Mac ... saat aku pergi tugasmu hanya mengawasi Leon dan juga Jerry, jangan biarkan mereka berhubungan lagi dengan orang orang itu! Laporkan semuanya padaku, terutama Jerry," tukas Alan saat mendaratkan beban tubuhnya diseat mobil.


Mac mengangguk, lalu menatapnya dari spion kaca, "Tidak usah khawatir, selain aku ada tuan besar Arya yang tentu saja mengawasi mereka bos!"


"Hem ... kau juga harus laporkan semua berkaitan dengan peluncuran produk terbaru lusa!"


Dinda menggosok hidungnya, entah sampai kapan mobil itu menyala namun tidak juga bergerak maju, mereka terus bicara tentang pekerjaan.


"Sayang ... kapan kau berhenti membicarakan pekerjaan, kita pergi menggunakan penerbangan malam, dan kalau terlambat sudah pasti akan ikut penerbangan pagi!"


Alan hanya menoleh, lalu dia kembali melihat Mac, "Jalan Mac, nyonya Arfiansyah sudah tidak sabar ingin naik pesawat!" ujarnya dengan datar, Mac kembali mengangguk, tak lama dia melajukan mobilnya.


Alan diam diam melirik sang istri yang mulai menguap, padahal perjalanan ke bandara masih menempuh sekitar 30 menit lagi.


"Tidur saja dulu! Nanti aku bangunkan,"


Dinda menggelengkan kepalanya, "Tidak mau ... nanti saja aku tidur di pesawat, kalau sekarang aku tidur, nanti di pesawat aku tidak bisa tidur, malas banyak orang aneh kalau penerbangan malam." terangnya dengan sedikit ketus.


"Ketakutanmu tidak beralasan! Sudah sini, tidur ... atau kita kembali ke apartemen!" Alan menarik tubuhnya, lalu menyandarkan kepalanya di bahunya sendiri, dengan sedikit ancaman dia menyuruh istrinya tidur.


Mendengar hal itu bibir Dinda melengkung, Sadar juga kalau sekarang dia itu seorang suami.


Dia mengangguk, lalu memejamkan kedua matanya, perasaan nyaman saat tidur di bahu suami membuat kedua manik coklatnya meredup seketika dan terlelap begitu saja.


Tak lama kemudian.


Dinda merasa lebih nyaman dari sebelumnya, punggungnya, tubuhnya bahkan kedua kakinya tidak merasa pegal bahkan sangat nyaman dan hangat.


Dia mengerjap mengerjapkan kedua matanya, menoleh ke kiri dan ke kanan, ada perasaan aneh yang menderanya.


"Hei ... dimana aku?"


Serentak dia terbangun, diruangan itu hanya ada ranjang, dan sebuah meja yang teelihat menempel di dinding berwarna putih, serta sebuah pintu yang terlihat seperti dilapisi oleh plat besi atau entahlah dia tidak tahu, dia juga menoleh ke segala arah mencari keberadaan suaminya. Namun tempat yang tidak terlalu besar itu hanya ada dirinya.


Ceklek


Tiba tiba pintu berlapis plat itu terbuka, Alan masuk dengan membawa nampan berisi orange juice dan juga beberapa cake kacang almond.


"Sayang ... dimana kita? Bukankah kita tadi masih dimobil? Kenapa jadi ditempat ini, kita akan ke bandara kan? Kita akan naik pesawat sayang!" Ujar Dinda yang turun dari ranjang dan berkata dengan nada panik.


Alan hanya terkekeh, dia menyimpan nampan berisi minuman dan cake itu diatas meja, lalu menarik Dinda untuk duduk.


"Makanlah dulu! Kau pasti lapar."


"Tidak ... tidak aku tidak mau! Kau membohongiku. Iya kan? Kita tidak jadi ke negara S kan!!" kedua mata Dinda menatap dengan berkaca kaca.


"Makan dulu! Aku akan jelaskan nanti!"


"Tidak mau!" Dinda melemparkan beberapa kacang almond pada Alan, "Kau bohong padaku!!!"


"Hei ... siapa yang berbohong? Aku tidak bohong, kau tidak tahu tempat apa ini?"


" Aku tidak mau tahu, pokoknya aku ingin ke negara S!"


Alan tidak berhenti terkekeh, dia mengambil gelas berisi wine miliknya lalu meresapnya sedikit demi sedikit, dengan tatapan tidak beralih dari sang istri yang sedang marah.


"Kau benar benar jahat! Aku akan mengadukan mu pada bunda!"


Alih alih duduk, wanita berambut coklat itu mencari tas miliknya, dan saat menemukannya dia mengambil ponsel didalamnya. "Lihat saja, aku akan bilang kau suami jahat, tukang bohong dan penipu!" sungutnya dengan mencari kontak bunda Ayu.


Alan masih menatapnya dengan bibir yang dia angkat segaris, melihat wajah istrinya yang tengah kesal sepertinya membuatnya senang, bahkan dia enggan berkata kata.


"Astaga ... kenapa dengan sinyal ponsel ini??" ujar Dinda mengotak ngatik ponsel miliknya yang tidak bisa melakukan panggilan telepon.


Alan semakin tergelak, dia bangkit dan menghampiri istrinya, mengambil ponselnya begitu saja,


"Dasar bodoh! Tentu saja tidak ada sinyal karena ponsel ini dalam mode pesawat!"