Assistant Love

Assistant Love
Katakan itu tidak benar



Dinda berbalik, dia menatap tajam pada Alan, sedangkan Alan kembali gusar, tatapan gadis itu menyeramkan.


"Apa peduli mu?"


Alan tak bergeming, dia tidak bisa menjawab, tangannya mengulur membuka pintu mobil.


"Masuk, aku antar kau pulang,"


Dinda menatap tajam ke arahnya, "Aku benar-benar tidak paham dengan cara berfikirmu."


"Tidak usah memikirkan apa yang aku fikirkan, masuklah!" intonasi Alan melemah.


"Kau fikir aku akan mau pulang denganmu? Tidak, terima kasih." Dinda benar-benar berbalik dan kembali berjalan menuju klub.


Alan membanting pintu, "Bodoh, hal kecil saja menjadi rumit begini!" gumam Alan.


Alan bergegas menyusul dan kembali mencekal lengan Dinda, "Dengarkan aku dulu!"


Dinda mendesis, Aku fikir dia tidak akan mengejarku.


"Dengar, aku ingin kau pulang dan tidak usah kembali kedalam, ka--karena aku peduli padamu! Aa--ku...."


Ayo...bilang kau juga menyukaiku dan kau peduli padaku, karena kau menyukaiku.


Tiba-tiba Leon datang dari dalam,


"Kamu disini rupanya, ayo masuk aku mencari mu kemana-mana!" ujarnya menarik tangan Dinda.


"Al ... Kau juga sedang apa disini? Jerry mencarimu."


Leon masuk dengan menarik tangan Dinda, sementara Alan hanya bisa menatap nya dari belakang. Bodoh


Alan bergerak impulsif, dia menarik lengan Dinda, "Le biarkan dia pulang duluan, aku akan mengantarkannya! Kau mabuk, dan tidak bisa menyetir."


"Kau yakin Al?"


Dinda menepis tangan Alan, "Aku tidak mau ... Ayo Leon kita pulang!"


Alan menatap Leon dengan tajam, membuat langkahnya terhenti, "Eemmhh ... Din, mungkin ada benarnya Alan yang mengantarkan kamu pulang! Aku mungkin tidak bisa menyetir dengan benar,"


"Tidak masalah, biar aku yang bawa mobil mu, kau cukup diam saja, lagi pula kita tinggal di apartemen yang sama," Ujarnya dengan menarik lengan Leon.


Mereka berdua berjalan mengarah dimana mobil Leon terparkir, meski Leon berjalan sedikit sempoyongan, namun dia masih bisa menyadari apa yang terjadi.


"Apa dia menyakitimu?" Ujarnya pelan.


"Tidak, dia tadi hanya menolongku,"


Bodoh kenapa aku masih bisa membelanya, rasa ini benar-benar menyiksa.


"Berikan kuncinya!" seru Alan dari belakang.


"Aku tidak mau mengambil resiko karena kalian berdua sama-sama mabuk! Le berikan kunci mobil mu!" imbuhnya lagi.


Dinda berkilah, "Aku tidak mabuk, biar aku yang bawa!"


"Kalian ini kenapa? Seperti pasangan yang sedang bertengkar saja." Leon meracau kemana-mana.


"Bawa dia ke mobilku!" titah Alan.


Kau fikir aku masih takut saat melihatmu berteriak begitu?


Dinda tetap tidak bergerak dari tempatnya berdiri, Alan dengan cepat menarik Leon dan mendorong pria mabuk itu kedalam mobilnya.


Lalu dia berjalan memutar, mengarah pintu kemudi dan melewati Dinda, "Kau tidak akan tahu apa yang akan dilakukan pria saat mabuk, masuk sekarang!"


Nyatanya kau tidak melakukan apa-apa saat mabuk,


Dinda merengut, dia menendang kerikil dengan sepatunya,


"Dasar manekin, seenak nya saja dia menyuruh ini dan itu!"gumamnya pelan.


Dinda enggan menjawab, fikirannya terlalu sibuk dengan membuat pernyataan dan pertanyaan yang dia jawab sendiri.


Alan membuka kaca mobil, "Jangan memancing kemarahanku Dinda, masuklah."


"Pulanglah, antar Leon. Aku akan pulang naik taksi." ujarnya dengan ketus.


Alan berdecak, dia keluar dengan membuka pintu mobil dengan kasar lalu menutupnya dengan membantingnya pula. Sedetik kemudian Dinda merasa tubuhnya melayang, sedangkan tangan kekar itu berada dipinggangnya.


"Hei.... turunkan aku! Kau gila, aku bukan karung beras."ujar Dinda dengan memukul punggung Alan dengan membabi buta.


Alan tidak menggubris perkataan Dinda, dia membuka pintu mobil dan mendudukkan Dinda disana, dikursi depan samping kemudi.


"Kau sudah gila, dasar menyebalkan!!"


"Rasakan sendiri!!" ujar Alan dengan menutup pintu, dan mengunci pintu dengan menekan tombol yang ada pada kunci mobil dengan otomatis.


"Bodoh buka pintunya, kau pemaksa!"


Alan meraup wajahnya dengan kasar, lalu dia menolehkan kepalanya ke samping, terlihat menghela nafas panjang lalu menatap Dinda.


"Berhentilah berteriak, aku hanya akan mengantarkan mu pulang. Jangan membuat semua menjadi tambah rumit," ujar nya dengan suara yang melemah.


Membuat Dinda justru sebaliknya, dia menjadi kalang kabut tak menentu. Benar- benar tidak bisa ditebak.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, berkali-kali Dinda mendengar helaan nafas dari orang yang berada disampingnya, sementara Leon sudah dalam keadaan mabuk parah.


"Aku hanya ingin kau sampai di apartemen dengan aman! Kau paham...."


"Kau bahkan tidak menjawab pertanyaanku?" gumam Dinda yang masih dapat Alan dengar.


"Apa kau masih ingin bertanya, kau tidak bisa lihat apa yang aku lakukan? Kenapa wanita hanya butuh kata verbal." ujar Alan dalam helaan nafas panjang.


"Tentu saja karena kau tidak peka. Kau menyebalkan, kau kurang ajar, kau pemarah, kau tidak punya perasaan, kau...." ujar Dinda panjang lebar.


Alan menoleh dengan tarikan tipis di bibirnya, dan itu yang membuat Dinda berhenti mengumpatnya.


"Maaf...."


Satu kata sederhana yang meluluhkan hati wanita, Dinda benci saat dia mengatakan hal itu, hatinya melemah tiba-tiba. Ditambah dengan seutas senyum yang baru pertama kali melihatnya.


Tak lama mobil berhenti, di depan apartemen. Alan memapah Leon hingga masuk kedalam gedung apartement, hingga mereka sampai kedalam lobby. Alan menghempaskan tubuh Leon begitu saja di sofa lobby.


"Aku akan menghajarmu Leon besok pagi Leon, merepotkan." gumamnya.


"Kau kasar sekali!"


Alan tidak menjawab, namun dia melempar senyum tipis sekali kearah nya.


Ayolah hati, Jangan lemah. Kau akan terus terjatuh jika kau lemah hanya karena seutas senyum yang bahkan kau tidak tahu artinya. batin Dinda.


Tidak lama dua orang berpakaian hitam-hitam berlogo ARR.corps menghampiri Alan.


"Antarkan dia keatas."


Kedua orang itu mengangguk, salah satunya melirik Dinda, begitu juga Dinda yang menatap nya tidak asing pada pria jangkung itu.


"Seperti nya aku pernah melihatnya." gumam Dinda.


"Benarkah? Dimana?" Ucap Alan yang tiba-tiba sudah berada disampingnya.


Dinda melangkah maju, dia enggan berkomentar apa-apa, memilih kembali diam dengan wajah yang mengkerut. Sementara Alan masih menatapnya.


"Apa kau masih ingin tahu apa yang aku rasakan terhadapmu?"


Dinda menoleh, "Sudah tidak penting."


"Kenapa?"


"Aa--aku ... aku sudah menerima Leon." Ucap nya tergagap.


Alan mendengus kasar, "Kau fikir aku akan percaya dengan mudah?"


"Terserah, aku tidak memintamu untuk percaya."


"Aku hanya melihat data dan fakta, dan kau baru saja berbohong!" ujar nya dengan meninggalkan Dinda begitu saja.


Alan kembali berbalik, "Dan jangan berfikir aku mempunyai perasaan terhadapmu, aku sama sekali tidak menyukaimu."


Alan kembali melangkah, dengan tangan mengepal.


Bodoh sekali kau Alan. Bodoh


Bodoh sekali apa yang aku lakukan? Bukankah ini mau mu.


Dinda berjalan menuju lift, lalu menekan tombol naik, dengan wajah yang semakin muram dan menghela nafas panjang.


Sudahlah lebih baik begini saja bukan? Agar aku tidak terus sakit hati.


Ting


Dinda masuk kedalam Lift, dengan menyandarkan punggungnya disudut di dinding lift, namun saat lift tertutup seseorang merangsek masuk mengagetkannya.


"Kau....?"


"Se--sedang apa kau disini?"


"Katakan itu tidak benar?" ujar Alan dengan tangan mengguncang bahunya.


"Aa-apa?"